Di buang ke Desa Kenangan, tempat Oma-nya menghabiskan sisa umur. Nero Vano Christian malah tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis manis bernama Ainun Salsabila Adiakara. Gadis yang awalnya hanya sekedar mengusik hati.. Lalu menjadi alasan untuk Nero mulai mengenal Tuhan.
Ikuti kisahnya~
Happy Reading ><
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 30: PULANG
Jalan panjang itu sudah ramai ketika mereka tiba. Puluhan motor sport nangkring di pinggir jalan, lampu-lampu setelahnya menyala terang. Bau knalpot bercampur dengan bau sate dan kopi dari penjual kaki lima yang sudah bersiaga.
"Ini masih hidup ternyata," komentar Nero sambil melihat sekeliling.
"Masih, bahkan tambah rame," kata Dika bangga. "Sekarang ada anak-anak baru dari Cikarang juga. Kenceng-kenceng motornya."
Seorang cowok muda dengan jaket kulit hitam menghampiri Dika. "Bang, lawan siapa nih malam ini? Yang R25 itu?"
"Bukan," Dika menggeleng. "Ini temen lama gue. Mau lihat-lihat aja."
Cowok jaket hitam itu melirik Nero dengan tatapan meremehkan. Pakaian Nero yang rapi dan bersih kontras sekali dengan suasana malam itu. "Bukan pembalap, Bang?"
"Pembalap," jawab Nero tenang. "Tapi udah pensiun."
"Dari dulu kami tidak pernah bertanding, mas. Memangnya kamu siapa?"
Robby yang dari tadi diam tiba-tiba tertawa keras. "Heh, bocah. Lo tau siapa ini? Ini Nero Vane Christian. Juara balap liar se-Jabodetabek 2014. Yang rekor waktu tercepat di tol Cikampek masih belum ada yang ngalahin sampai sekarang."
Cowok itu mendadak pucat. "Nero yang... yang kecelakaan dulu?"
"Yang bangkit lagi," kata Nero sambil tersenyum.
Cowok itu langsung mundur pelan, tidak berani berkata-kata lagi.
Dika menghela napas. "Maafin dia, Ro. Anak baru. Masih ge-er."
"Biarin. Gue dulu juga kayak gitu."
.
.
.
Balapan dimulai sekitar pukul 11 malam. Start dari lampu merah pertama, finish di lampu merah keempat. Jaraknya sekitar 2 kilometer. Tidak resmi. Tidak aman. Tapi itulah yang membuat adrenalin memuncak.
Nero duduk di atas kap mobil Robby sambil menyaksikan. Matanya mengikuti setiap motor yang melesat. Telinganya mendengar suara mesin yang dulu membuat jantungnya berdebar.
Tapi sekarang, dadanya tenang.
"Ro," Robby bergabung duduk di sampingnya. "Lo nggak kangen sama sekali?"
"Kangen," Nero mengakui. "Tapi kangen itu kayak minta jatah ama mantan. Nggak sehat."
Robby tertawa. "Gila sih lo. Dulu paling ugal-ugalan sekarang malah jadi ustad."
"Iya dong. Gue ustad gaul. Ustad yang pernah ngebut 280 km per jam di jalan tol."
"Mantap."
Mereka terdiam beberapa saat. Suara knalpot brong terdengar dari kejauhan. Salah satu pembalap sedang melesat sendirian, memamerkan kecepatannya.
"Bang," Nero memecah keheningan. "Lo serius tadi ngomong soal... soal takut Tuhan nggak nerima?"
Robby menghela napas panjang. "Serius, Ro. Gue tuh... gue tau gue banyak dosa. Tato gue di mana-mana. Minum gue udah kayak ikan. Gue pernah mukul orang sampe masuk ICU."
"Gue juga pernah."
"Lo? Lo dulu brutal sih, tapi nggak kayak gue."
"Pernah, Bang. Cuma gue nggak cerita."
Robby menatap Nero. "Terus lo gimana bisa... lo gimana bisa yakin kalau Tuhan nerima lo?"
Nero menatap langit malam Jakarta yang tidak berbintang. "Gue nggak yakin, Bang. Gue cuma percaya."
"Percaya sama apa?"
"Percaya bahwa Tuhan itu Rahman dan Rahim. Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bukan Maha Pembenci. Bukan Maha Pemarah. Dia nunggu kita balik. Bahkan ketika kita masih jauh, Dia udah nyiapin lampu teras."
Robby tidak menjawab. Tapi Nero bisa melihat. Mata cowok gondrong itu berkaca-kaca.
"Lo nggak perlu berubah dalam semalam, Bang," Nero melanjutkan. "Lo cuma perlu mulai. Satu langkah. Gue janji, nanti lo bakal nemuin sendiri jalannya."
"Gimana caranya mulai?"
"Besok Subuh. Gue ajak lo ke masjid deket sini. Lo nggak usah shalat. Lo cukup duduk. Lihat. Rasain."
Robby terdiam lama. Lalu ia mengangguk. "Gue coba."
Kevin dan Dika bergabung setelah balapan selesai. Kevin kelihatan gelisah. Sesuatu yang aneh karena biasanya ia adalah orang paling santai di antara mereka.
"Vin, kenapa lo?" tanya Nero.
Kevin menggigit bibir bawahnya. "Ro... gue tadi nguping lo ngomong ama Robby."
"Terus?"
"Gue... gue juga pengen ikut. Besok Subuh. Ke masjid."
Nero tersenyum. "Lo serius?"
"Gue bingung, Ro. Gue Islam tapi gue nggak tau apa-apa. Gue malu. Gue takut salah. Tapi gue... gue capek juga jadi orang yang cuma jalan di tempat."
Dika yang dari tadi diam tiba-tiba bersuara. "Gue ikut juga."
Nero menoleh. "Lo, Dik?"
"Gue juga manusia," Dika mengangkat bahu. "Gue juga punya masalah. Dan gue denger... gue denger cerita lo soal Tuhan yang nggak pernah nutup pintu. Gue pengen cobain. Ngetok pintunya."
Nero menatap ketiga sahabatnya. Tiga orang yang dulu sama-sama hancur dengannya. Tiga orang yang dulu ia anggap sebagai teman maksiat, ternyata juga sedang mencari jalan pulang.
"Besok Subuh," kata Nero. "Kita balapan."
"Balapan?" Robby bingung.
"Balapan ke masjid. Siapa yang paling duluan sampai di shaf depan, gue traktir bubur ayam paling enak se-Jakarta."
Mereka bertiga tertawa. Tapi tawa itu berbeda. Bukan tawa sinis yang biasa mereka gunakan untuk menutupi rasa sakit. Tapi tawa harapan.
.
.
.
Subuh masih dua jam lagi ketika Nero pulang ke rumah kontrakannya di kawasan Cinere. Rumah sederhana dengan dua kamar, ruang tamu kecil, dan satu sajadah yang sudah agus lusuh di sudut ruangan.
Ia membuka ponselnya dan melihat pesan terakhir dari Habib Ali sebelum ia berangkat dari Yaman:
"Nero, jangan pernah berpikir kau harus jadi orang lain untuk mengajak orang baik. Cukup jadilah dirimu yang terbaik. Karena cahaya tidak perlu berteriak untuk menerangi."
Nero tersenyum. Ia membalas:
"Habib, saya baru ngajak tiga orang Subuh ini. Mereka bekas kawanan saya sendiri."
Pesan balasan datang lima menit kemudian:
"Maka engkau tidak pulang sendirian, Nak. Engkau membawa pulang kawananmu. Itulah dakwah yang paling murni."
Nero meletakkan ponsel. Ia mengambil wudhu, merasakan air dingin menyentuh wajahnya yang bersih. Bukan bersih karena sabun, tapi bersih karena niat yang baru.
Ketika ia bersujud di sepertiga malam terakhir, ia berbisik:
"Ya Allah, dulu aku kira kebebasan itu ada di jalanan. Sekarang aku tahu, kebebasan itu ada saat aku bersimpuh di hadapan-Mu. Terima kasih telah menungguku pulang. Dan terima kasih... karena Engkau izinkan aku tidak pulang sendirian."