Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 – Bima
Bab 6 – Bima
“Kayaknya hari ini elu semangat banget!” kata Celsi begitu menutup pintu mobil, sambil melirik ke arahku. “Dari tadi meeting soal teater, semuanya elu bilang bagus, nice, good job!”
“Ke kantor, Dan?” tanya Pak Mardi yang duduk di depan.
“Iya,” jawab aku dan Celsi berbarengan.
“Emang kalau semangat, nggak boleh?” kataku sambil membuka ipadku, membuka email, lalu melihat naskah yang dikirimkan Jaka Awan. “Lagian emang teaternya bagus, kok.”
“Naskah Bang Jaka bagus banget ya?” Celsi mendekatkan dirinya ke arahku, kepalanya sampai menutupi ipadku.
“Ngalangin aja! Elu kan bisa baca sendiri ceritanya,” kataku menggeser kepala Celsi dari ipadku. Aku menggeser posisi duduku agar menjauhi Celsi.
“Biasanya, kalau elu lagi semangat, entah karena dapat cerita bagus, atau dapat cewek cantik! Karena masalah cewek itu nggak mungkin terjadi. Jadi pasti karena cerita bagus, bener kan?”
“Nggak. Ini ceritanya biasa aja,” jawabku sambil membaca naskah di ipad.
“Kalo biasa, kenapa diambil?”
“Emang ada pilihan cerita lain?” tanyaku menatap Celsi yang kemudian nyengir.
“Ya sih, belum ada tawaran lain. Sori.”
Aku kembali menatap ipadku, “Masa ada cerita buaya menghantui penghuni rumahnya. Kan aneh. Kalau pun mau, harusnya buayanya menghantui si pembuat real estatenya, bukan si penghuninya, dong.”
“Elu bilang nggak, kalau itu aneh?”
“Bilang.”
“Terus Bang Jaka bilang apa?”
“Ya itu lah dunia. Hukumnya tabur tuainya kadang disemai orang lain.”
“Aduh, pake bahasa sederhana aja deh, jangan pake bahasa filmmaker!” Celsi menggaruk poninya yang hampir menutupi matanya.
“Maksudnya. Emang yang salah si pembuat real estate, tapi yang kena justru penghuninya. Artinya manusia sering kali berbuat salah, tapi yang kena tulahnya orang lain.”
“Ya tetep aja, enak dong si pembuat real estate nggak kena tulah?”
“Kena tulah, tapi nggak secara langsung. Pembuat real estate kena tulah karena perbuatan dzalim orang lain. Jadi kaya domino gitu.”
“Hem!” Celsi menatap ke arah jalanan, bengong.
“Ya udah, nggak usah dipikirin. Susah emang pikiran sutradara horror nomor satu di Indonesia!”
“Ya gue nggak mikirin itu, tapi jadi mikir. Kalau bukan karena cerita yang bikin elu semangat, berartu karena cewek?” Celsi tidak percaya.
Aku terdiam. Fokus menatap layar ipad. Meski sudah tua, Pak Mardi sangat pandai menyetir. Kalau bukan karena jalanan yang emang super jelek, tidak akan ada getaran mobil yang terasa mengganggu kalau lagi membaca.
“Yang bener? Gara-gara Mutia?” Celsi memicingkan mata sambil memiringkan kepala, melihat ke jalanan.
“Nggak lah!”
“Wuits! Ngegas amat,” Celsi menoleh ke arahku. “Ada cewek … lain?”
Aku kembali fokus menatap ipadku. Tidak mau terpancing untuk menceritakan soal Naya, perempuan yang sudah membuatku tidak bisa tidur selama seminggu belakangan ini. Kalau aku cerita ke Celsi, pasti nanti ibu juga tahu. Kalau ibu tahu, aku bisa makin stress menghadapi tekanan, kapan nikah, siapa dia, dan lainnya.
“Ibu lu tuh neleponin gue terus. Dia minta selipin waktu buat elu ketemuan sama Mutia!” Celsi membuka ponselnya, melihat jadwal. “Nanti malem kan elu ada janji sama dia jam 7”
“Astagfirullah alazim!” Aku langsung mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada Mutia, untuk membatalkannya.
“Kenapa?” Celsi menatapku heran.
“Gue ada janji sama orang.”
Celsi merebut ponselku, “Siapa!”
Aku menelan ludah. “Ada lah, kenalan.”
“Siapa!” Celsi menjauhkan badannya dari aku yang ingin merebut ponselku balik.
“Please. Masih belum jelas kok. Kalau udah jelas, gue bakal ceritain.”
Celsi mengembalikan ponselku sambil berkata dengan cemas, “Tapi elu harus tetep ketemuan sama Mutia! Ntar ibulu ngomel lagi sama gue!”
“Iya, ini gue minta ketemuan sama Mutia jam lima aja. Abi situ gue ketemuan sama temen gue.”
“Siapa sih?” Celsi penasaran.
“Udah sampe tuh!” aku menunjuk ke arah jalanan. Mobil sudah berhenti di kantor agensi milik Celsi.
Celsi cemberut, nggak mau turun.
“Nanti gue jelasin. Udah sana turun!” aku dorong bahu Celsi, sehingga akhirnya Celsi yang memakai celana aladin dan baju kimono turun dari mobil. Pintu mobil tertutup. “Pak, mampir ke Toko Coklat Mewah dulu ya?”
“Siap, Dan!”
--
Di sebuah kafe kecil, Mutia yang memakai terusan selutut dan blazer yang terbuka sehingga belahan dadanya terlihat jelas, duduk sendirian di sebuah kursi. Aku masuk ke kafe, membawa paperbag berisi coklat mewah. Dia langsung melambaikan tangan sambil tersenyum. Bibirnya yang tebal seperti tersengat lebah, membuat senyumnya terlihat sangat lebar, sehingga bisa memakan meja yang ada di depannya.
“Sori, harus reschedule!” kataku sambil memberikan coklat padanya.
“Ini apa?”
“Cuma coklat aja.”
“So sweet banget kamu!” suaranya yang cempreng melengking, menggema ke seluruh kafe yang sebagian besar terbuat dari kaca. Semua orang yang ada di kafe itu, menatap kami berdua.
“Sori juga, aku nggak bisa lama. Udah ada janji meeting sama orang.”
“Yaaah, buru-buru amat sih!”
“Sori ya, lain kali aja kita cari waktu lagi.”
“Bener ya? Janji!” Mutia mengulurkan jari kelingking kanannya.
Ingin membuat janji seperti anak kecil? Aku menelan ludah, tidak mungkin aku mengaitkan kelingkingku di situ. Tapi matanya Mutia menatapku seperti anak kecil yang berharap dapat coklat dari ibunya.
Terpaksa, aku kaitkan kelingkingku sebentar saja, lalu kutarik dengan cepat.
“Padahal banyak loh yang mau aku ceritain sekarang,” katanya sambil membuka paper bag dan mengeluarkan coklat dari kantungnya.
“Oh, ya? Apa?”
Sambil makan coklat, Mutia cerita panjang lebar entah apa. Aku seperti tidak bisa mendengarnya. Mulutnya terlalu cepat bergerak. Coklat yang dimakannya jadi membuat noda di giginya. Tiba-tiba datang pelayan.
“Maaf, Kak. Di sini nggak boleh makan makanan dari luar,” kata Pelayan dengan ramah ke arah Mutia.
Wajah Mutia langsung memerah, malu, dan marah, “Masa cuma gini doang nggak boleh?”
“Maaf ya, Kak.” Pelayan membungkukkan badan.
Tidak mau terlibat malu, aku bangkit dan pamit, “Sori, supirku sudah menunggu. Aku nggak bisa lama. Sori ya!” Aku bergegas meninggalkan Mutia yang masih ditegur pelayan sambil berusaha menghilangkan noda coklat di mulutnya.
--
Seperti habis melihat api, ketemu air. Mataku merasa sangat teduh melihat Naya duduk sendirian di sebuah meja. Dengan kemeja putih, celana bahan warna biru muda dan kerudung yang senada, dia terlihat seperti buih ombak yang menyejukan pasir pantai yang panas. Kakiku melangkah pasti ke arahnya.
Dia mendongak melihatku, lalu berdiri.
Aku berusaha untuk tidak senyum berlebihan, tapi sepertinya otot bibirku tidak bisa diajak bekerja sama.
“Halo,” katanya sambil mengulurkan tangannya.
Aku bisa bersalaman lagi, kataku dalam hati, lalu menyambut tangannya sambil berkata, “Sori, udah nunggu lama?”
“Nggak. Baru, kok.”
“Udah pesan?” kataku sambil menyuruhnya duduk.
“Belum.”
“Aku pesan dulu ya. Mau kopi susu atau apa?”
“Ehm, es lemon tea aja boleh?”
“Oke. Sebentar,” aku bergegas pergi ke kasir, memesan, lalu kembali ke kursi di hadapannya. Aku duduk dan tersenyum menatapnya.
Dia seperti orang bingung, bengong menatapku.
Aku membalasnya hanya dengan senyuman.
“Sori, jadi kita ketemuan untuk apay a?” tanyanya dengan suara formal.
“Oh! Sori!” aku menepuk jidatku. Norak banget, udah lama nggak pedekate sama cewek, jadi kaku banget kaya gini! Aduh, aku harus ngomong apa? kataku dalam hati sambil melirik matanya yang berwarna coklat. “Hem, jadi gini…, ehm.”
“Kamu mau pesan acara pernikahan sama WO aku?” tanyanya mencairkan suasana.
“Oh. Nggak!”
“Jadi?”
“Aku…,” apa ya? Aku apa ya? Ya udah lah ya, jujur aja?
Naya menggerakkan kepalanya, menunggu jawaban dariku.
“Aku pengen kenalan aja sama kamu.”
Naya terpaku, bengong. Pelayan datang memberikan pesanan kami, lalu pergi. Naya masih bengong menatapku.