NovelToon NovelToon
Ramalan Cinta Yang Terkunci

Ramalan Cinta Yang Terkunci

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi Wanita / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:437
Nilai: 5
Nama Author: Jasmine Oke

Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI

Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.

~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~

Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.

▪︎Objek Utama:

- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.

- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).

- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.

.
.
.
.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Hantu Masa Lalu dan Kebangkitan Sumur Kehidupan

Berjalan di Alam Mimpi Buruk Jiwa Sumur adalah pengalaman yang menyesakkan. Setiap langkah dipenuhi dengan bisikan kesedihan, jeritan ketakutan, dan bayangan-bayangan penderitaan dari masa lalu Avalon. Elara dan Kael harus mengerahkan seluruh kekuatan batin mereka agar tidak ikut terseret dalam keputusasaan yang begitu pekat.

"Ada sesuatu yang aneh," kata Elara. "Mimpi buruk ini bukan hanya tentang penderitaan. Ada rasa penyesalan yang sangat dalam."

Kael mengangguk. "Ya. Ini bukan sekadar ketakutan. Ini adalah ingatan yang terkunci. Ingatan akan sebuah kesalahan besar."

Mereka akhirnya tiba di pusat Alam Mimpi Buruk. Di sana, mereka menemukan Jiwa Sumur, Sang Penjaga, yang masih meringkuk. Namun kali ini, ia tidak sendiri. Di sekelilingnya, menari-nari bayangan-bayangan hitam yang terus-menerus membisikkan kata-kata celaan dan kutukan.

Bayangan-bayangan itu adalah ingatan pahit yang terus menghantui Jiwa Sumur, membuatnya enggan bangun.

"Kau gagal!" desis salah satu bayangan. "Kau tidak bisa melindungi mereka!"

"Kau lemah!" sahut bayangan lain. "Kau penyebab kehancuran!"

Jiwa Sumur itu terus merintih, mencoba menutupi telinganya, namun bisikan-bisikan itu semakin kuat.

"Itu adalah kesalahan yang terjadi ribuan tahun yang lalu," kata Kael. "Saat Avalon hampir hancur karena perang antar penyihir. Jiwa Sumur itu terlalu muda dan lemah untuk menghentikannya. Ia merasa bertanggung jawab atas kehancuran itu, padahal bukan salahnya."

"Kita harus menghapus bayangan-bayangan ini," kata Elara. "Dan menggantinya dengan kebenaran."

Elara melangkah maju. Cahaya dari tubuhnya memancar kuat, menembus kegelapan mimpi buruk itu.

"Hentikan kebohongan itu!" teriak Elara pada bayangan-bayangan. "Dia tidak gagal! Dia adalah pahlawan! Dia melindungi apa yang tersisa dari Avalon saat kalian saling membunuh!"

Bayangan-bayangan itu mendesis marah, mencoba menyerang Elara. Namun, Kael melesat maju. Dengan pedang kristalnya, ia menebas setiap bayangan yang mendekat. Setiap bayangan yang dihancurkan Kael, memudar menjadi debu, dan kekuatannya tidak bisa lagi mengganggu Jiwa Sumur.

Saat Kael sibuk bertarung, Elara mendekati Jiwa Sumur. Ia menyentuh dahi wanita itu dengan lembut.

"Dengarkan aku," kata Elara, menyalurkan semua ingatan dan kekuatannya. "Kau adalah pelindung. Kau adalah harapan. Ribuan tahun sudah berlalu, dan Avalon telah sembuh. Tapi kau harus bangun. Bangunlah dan lihat keindahan yang telah kau lindungi!"

Elara menunjukkan padanya kilasan-kilasan masa kini: Avalon yang hijau, para penyihir yang damai, dan tawa anak-anak yang bermain di hutan.

Perlahan, mata Jiwa Sumur itu terbuka. Matanya yang tadinya kosong dan sedih, kini mulai memancarkan cahaya hijau yang jernih.

Aura gelap di sekelilingnya menghilang.

"Aku... mengingatnya," bisik Jiwa Sumur. "Aku... mengingat semuanya. Perang itu... tapi juga... kebangkitan."

"Ya," kata Kael, kembali setelah menghancurkan bayangan terakhir. "Avalon membutuhkanmu. Bangunlah. Ambil kembali tempatmu."

Jiwa Sumur itu perlahan berdiri. Tubuhnya yang tadinya meringkuk kini tegak perkasa. Aura kekuatannya tumbuh, namun kali ini bukan kekuatan yang menyedot, melainkan kekuatan yang memberi dan menyembuhkan.

"Aku akan kembali," kata Jiwa Sumur. "Terima kasih, kalian berdua. Kalian telah membebaskan aku dari penjara ini."

Saat Kael dan Elara membuka mata, mereka kembali berada di dasar Sumur Kehidupan. Namun kali ini, pemandangannya sangat berbeda.

Air di danau itu tidak lagi bergolak liar, melainkan tenang dan jernih. Inti kristal di tengahnya bersinar dengan cahaya yang sangat terang dan stabil.

Dan di atas kristal itu, berdiri Jiwa Sumur. Ia tersenyum kepada mereka.

"Terima kasih," katanya. "Karena kalian, Avalon akan hidup kembali."

WUUUSSHHH!

Tiba-tiba, energi sihir yang kuat melonjak dari sumur. Air hijau zamrud itu mulai naik, dan dari dalam air, muncul pilar-pilar cahaya yang menembus langit-langit gua.

Cahaya itu terus naik, menembus lapisan-lapisan bumi, menembus kabut tebal Avalon, hingga mencapai langit terbuka.

Di atas, di menara pengamat, Morwen yang sedang berdoa merasakan getaran kuat dari bawah. Ia mengangkat kepalanya.

Di hadapannya, kabut yang selama ribuan tahun menyelimuti Avalon mulai menipis dan menghilang. Langit biru cerah terlihat kembali, dan matahari bersinar terang!

Pohon-pohon yang tadinya layu kini berdaun lebat dan segar. Bunga-bunga bermekaran di mana-mana. Aroma sihir dan kehidupan kembali memenuhi udara.

"Mereka berhasil!" teriak Morwen, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. "Mereka berhasil!"

Beberapa jam kemudian, Kael dan Elara kembali muncul dari sumur, disambut oleh Morwen dan semua penyihir yang berkumpul. Mereka semua berlutut, mengucapkan terima kasih tak terhingga.

"Avalon berhutang budi pada kalian," kata Morwen. "Kami tidak akan pernah melupakan jasa kalian."

"Bumi ini sudah sembuh," kata Elara sambil tersenyum. "Kalian bisa menjaga sisanya. Dan sekarang... giliran kami yang harus pergi."

"Kemana tujuan kalian selanjutnya?" tanya Morwen.

Kael memejamkan mata, membiarkan nalurinya membimbing.

"Aku merasakan panggilan dari sebuah dunia yang sangat tua. Dunia yang terbentuk bukan dari materi, tapi dari mimpi dan ilusi. Dunia yang penuh dengan makhluk-makhluk tak berwujud dan rahasia yang tersembunyi."

"Sebuah dunia yang hanya bisa dijangkau oleh mereka yang berani melangkah di antara realitas dan imajinasi," tambah Elara.

Mereka pun berpamitan. Kali ini, mereka tidak naik naga atau kapal kristal. Mereka hanya melangkah maju, dan saat mencapai batas kabut Avalon, tubuh mereka bergetar dan menghilang, seperti ilusi yang lenyap ditelan angin.

Mereka menuju Dunia Mimpi.

(Bersambung ke Bab 36...)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!