Dikhianati... Kemudian dibunuh...
Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.
Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.
"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.
"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Kesepakatan
Aura dingin dalam mansion itu meningkat drastis. Angkasa duduk di sofa dengan menyilangkan kaki, satu tangannya bertumpu pada lengan sofa, pandangannya tertuju pada Lea yang berdiri beberapa langkah dari tematnya duduk.
Tenang, santai, tanpa rasa takut, namun kilatan kewaspadaan di mata Lea terlihat jelas di mata Angkasa.
"Jadi ...selama beberapa waktu terakhir, kau menipuku?" tembak Lea tanpa basa-basi.
Lea berdiri dengan dagu terangkat, kedua tangannya masuk ke dalam saku jaketnya, netranya menatap Angkasa datar. Ia tidak sadar, kalimat yang baru saja ia ucapkan terasa seperti makam yang siap ditinggali bagi mereka yang mendengarnya.
Marco berdeham dengan wajah pucat, usaha menghilangkan ketegangan yang gagal ia lakukan. Maid yang berdiri beberapa langkah dari tempat Angkasa duduk mematung, nyalinya untuk menyuguhkan kopi yang ada di tangannya lenyap, terlalu takut untuk mendekat. Tidak menyangka akan ada seseorang yang berani berbicara demikian kepada majikannya, dan itu seorang wanita.
"Kelihatannya, sikapku terakhir kali membuat nyalimu membesar," sindir Angkasa dingin.
"Aku bahkan tak peduli dengan bagaimana kamu bersikap." Lea mengangkat singkat kedua bahunya.
Grep
Lea merasakan cengkraman kuat pada bahunya, cukup kuat hingga ia bisa mengukur seberapa kuat sosok pria yang kini berdiri tepat di belakangnya: Marco.
"Jaga sikapmu," desis Marco penuh ancaman. "Kau tidak sadar atau bodoh dengan siapa kau sedang berhadapan."
Lea menoleh singkat, tidak menepis, tidak melawan balik. "Dari segi kekuatan, aku memang kalah. Tapi aku bisa membuatmu lumpuh tanpa tenaga."
Cengkraman Marco di bahu Lea melonggar. Suara yang baru saja ia dengar bukanlah gertakan kosong, tapi pernyataan mutlak.
"Singkirkan tanganmu," tekan Lea.
Angkasa berdeham pelan, memberikan isyarat pada bawahannya untuk menurunkan tangan sekaligus meminta maid yang sebelumnya akan mendekat untuk pergi.
Lea kembali menatap Angkasa. "Aku tahu persis siapa yang ada di hadapanku. Hanya saja ...sebelumnya, yang aku tahu adalah nama tanpa wajah."
Tentang siapa Angkasa memang sudah Lea ketahui dari percakapannya bersama Donantello malam itu. Hanya saja, Donantello tidak begitu mengenali wajah asli Angkasa. Setiap kali pertemuan dilakukan, seseorang yang datang dengan wajah berbeda mengaku sebagai Angkasa termasuk Angkasa sendiri.
"Kau tahu siapa aku, tapi tetap nekat mencariku. Apa kau sengaja ingin mengantarkan nyawamu?" tanya Angkasa.
"Aku ingin memberimu penawaran," ucap Lea tanpa mengubah posisi berdirinya.
Sebelah alis Angkasa terangkat. "Kau masuk ke kandangku dan berani bernegoisasi? Sepertinya kau tidak menyayangi nyawamu sama sekali."
"Kenapa tidak? Aku bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa orang lain lakukan-..."
"Dan kau hampir mati kehabisan oksigen jika aku tidak mencegahnya," potong Angkasa tajam.
Lea menyeringai tipis. "Apakah menurutmu, aku datang tanpa persiapan? Aku bahkan bisa menghilangkan fungsi kedua kaki orang yang berdiri di belakangku saat ini saat dia menyentuhku beberapa saat lalu dalam waktu kurang satu menit."
Lea menoleh singkat ke belakang tanpa membalikan badan, lalu kembali menatap Angkasa. "Dia menggunakan otot, aku menggunakan otak. Aku ahli racun yang belum dikenal oleh siapapun, aku tahu tentang sistem saraf manusia lebih baik dari siapapun yang kau bayar saat ini. Membuat seseorang yang mungkin menjadi seorang pengkhianat lumpuh permanen bukan hal sulit bagiku."
Angkasa terdiam, menimbang tawaran itu. Ia memang membutuhkan seseorang yang bisa mambantu dirinya mengenali pengkhianat yang berada di sekitarnya, siapa yang menjadi musuh dalam selimut, menangkap seseorang yang sudah mengkhianatinya di sarang musuh. Dan Lea ...dia cocok. Tidak ada satupun musuhnya yang mengenali Lea. Cantik, cerdik dan berbahaya. Itu aset.
"Sebagai gantinya, apa yang kau inginkan?" tanya Angkasa datar.
"Kekuasaanmu," jawab Lea cepat. "Aku ingin kamu menyelidiki kematian seseorang yang terjadi lebih dari dua bulan lalu. Gunakan kekuasaanmu untuk mencari kebenaran di balik insiden itu. Andai itu kecelakaan murni, aku tidak akan menuntut apapun. Dan jika itu kesengajaan, temukan orangnya."
"Siapa?" tanya Angkasa.
"Kedua orang tuaku," jawab Lea.
"Aku terima," sahut Angkasa. "Tapi, aku perlu tahu satu hal."
"Katakan."
"Jika aku memintamu untuk membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" tanya Angkasa datar, tatapannya menggelap.
Lea tersenyum tipis, namun cukup untuk membekukan siapa saja yang melihatnya dan membuat alarm bahaya menyala.
"Jadikan aku tangan kananmu, maka aku akan melakukan semua perintahmu tanpa terkecuali."
Angkasa tersenyum meremehkan. "Posisi itu bukan untuk orang lemah sepertimu. Kau cukup menjadi anjing setiaku."
"Setidaknya otakku tidak lemah," ketus Lea. "Dan aku bukan anjing."
"Terserah. Tapi posisi itu bukan posisi yang bisa kuberikan pada sembarang orang. Dan kau perlu ingat satu hal. Jika kau berani berkhianat, lehermu akan patah tanpa peringatan," tekan Angkasa dipenuhi ancaman.
"Tenang saja, aku tidak tertarik bersekutu pada orang yang tidak berguna," sahut Lea santai.
"Kesepakatan ini selesai. Aku memberimu waktu bebas tiga hari, setelahnya kau tinggal di sini," ucap Angkasa final.
.
.
.
"Ahh ...!"
Thalia menjerit pelan ketika tiba-tiba seseorang membalikkan tubuhnya dengan kasar dan membenturkan punggungnya ke pintu rumah Lea yang masih terkunci.
"Sam ..." Thalia mendesis kesal setelah tahu siapa pelakunya. "Kau gila!"
"Berisik!" geram Samuel mengurung Thalia di antara kedua tangannya.
"Katakan di mana Lea?"
"Memangnya kau siapa? Ayahnya? Kekasihnya juga bukan," sindir Thalia.
Samuel mendengus. Tanpa peringatan mencengkram leher Thalia.
"Jawab saja, di mana Lea?" tanya Samuel berbahaya.
"Ugh!" Thalia terbatuk, tangannya reflek mencakar lengan Samuel yang kini mengunci saluran pernapasannya.
Thalia meronta, mengap-megap berusaha mencari udara yang mulai meninggalkan paru-parunya perlahan
"Atau kau lebih suka umurmu berakhir hari ini?" mata Samuel berkilat buas, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai kejam.
. .. .
. . . .
To be continued...