NovelToon NovelToon
Gara-gara Cinta Yang Mendua

Gara-gara Cinta Yang Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.

Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.

Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.

Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Petemuan dua tetangga itu diawali dengan ramah tamah, saling menanyakan kabar. Bu Meli menghela napas pelan. “Saya senang sekali ketemu kamu, Sekar. Saya juga lihat kehidupan kamu lebih baik. Saya bahkan tidak ragu meski kamu dikhianati. Tapi…” ia berhenti sejenak, ragu.

Jantung Sekar langsung berdegup lebih cepat.

“Tapi soal Aji…” Nama itu saja sudah cukup membuat suasana berubah.

“Kenapa, Bu?” tanya Sekar, suaranya lebih pelan dari sebelumnya.

Bu Meli menatapnya sejenak, seperti menimbang apakah ini perlu disampaikan atau tidak. Tapi akhirnya ia bicara juga. “Dia mau jual rumahnya.”

Sekar membeku. “Jual… rumah?” ulangnya pelan, seolah butuh memastikan ia tidak salah dengar.

Bu Meli mengangguk. “Iya. Katanya lagi butuh uang cepat. Sudah ada beberapa orang yang melihat rumah kalian, tapi belum ada yang cocok harganya. Kayaknya Aji butuh uang banyak."

Ada jeda. Dan entah kenapa, firasat buruk langsung merambat di dada Sekar. “Terus… Sea?” tanyanya hati-hati, hampir takut mendengar jawabannya.

Bu Meli menarik napas dalam. “Itu juga yang saya bingung…”

Sekar menatapnya, jantungnya kini berdetak tidak karuan.

“Sea sekarang… sudah nggak sekolah lagi.”

Dunia seolah berhenti. “Apa…?” suara Sekar nyaris tidak keluar.

“Katanya dipindahin lagi… tapi sampai sekarang saya nggak lihat dia berangkat sekolah,” lanjut Bu Meli pelan. “Seringnya di rumah saja. Terus sering ribut-ribut. Aji sama Mila. Kadang kedengaran suara Sea nangis. Pernah juga saya dengar dia teriak-teriak sambil nangis. Entah diapain sama Mila. Saya sempat videokan suara tangisnya, tapi cuma kevidio sedikit karena terlambat ngambil Hpnya."

Sekar mundur satu langkah tanpa sadar. Pikirannya langsung dipenuhi bayangan Sea yang dulu semangat sekolah, Sea yang cerita tentang teman-temannya, Sea yang menggenggam tas pink itu dengan bangga… Sekarang… tidak sekolah? Sekar semakin hancur hatinya saat mendengar penggalan video rekaman suara tangis Sea.

"Ya Allah ... Sea. Diapain?" Sekar panik.

"Entahlah. Saya nggak berani masuk, takut dikira ikut campur. Sudah saya laporkan ke Bu RT, tapi Bu RT bilang tunggu saja dulu." tambah Bu Meli.

Sekar panik, Lita menenangkannya.

“Dan Aji…” Bu Meli melanjutkan, suaranya makin pelan, “dia kena PHK. Total.” Kalimat itu seperti pukulan terakhir.

Sekar tidak langsung bereaksi. Tubuhnya kaku, tapi pikirannya berlari ke mana-mana. Rumah dijual. Aji kehilangan pekerjaan. Sea tidak sekolah.

Semua potongan itu mulai membentuk sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang berbahaya. “Bu… Sea baik-baik aja?” tanya Sekar akhirnya, suaranya gemetar.

Bu Meli tidak langsung menjawab. Dan justru itu yang membuat semuanya terasa jauh lebih menakutkan. “Saya… nggak tahu pasti,” katanya pelan. “Tapi… anak itu kelihatan lebih pendiam sekarang. Jarang juga keluar rumah."

Sekar menutup mulutnya dengan tangan. Napasnya mulai tidak teratur. Di sampingnya, Lita langsung memegang bahunya, memberi penopang sebelum Sekar benar-benar goyah. Untuk beberapa detik, Sekar tidak bisa berpikir jernih. Semua rasa takut yang dulu sempat ia tekan kembali muncul lebih besar, lebih nyata. Ini bukan lagi soal dirinya. Ini soal Sea. Dan untuk pertama kalinya sejak lama… Sekar tidak hanya merasa kehilangan. Ia merasa… waktu sudah hampir habis.

***

Mereka akhirnya duduk di bangku panjang di sudut mal yang agak sepi. Suasana di luar tetap ramai, tapi bagi Sekar, semuanya terasa jauh seperti suara-suara yang tenggelam di dalam kepalanya sendiri. Tangannya masih dingin, napasnya belum sepenuhnya teratur sejak mendengar kabar tentang Sea.

Lita tidak langsung bicara. Ia membiarkan Sekar tenggelam sebentar dalam pikirannya sendiri, sampai akhirnya ia berdiri tepat di depan Sekar, memaksanya untuk menatap. “Sekar.” Nada suaranya berbeda kali ini. Tidak hanya lembut tapi tegas.

Sekar mengangkat wajahnya perlahan. Matanya masih basah, tapi kali ini tidak hanya berisi luka… ada ketakutan yang jauh lebih besar. “Aku takut, Lit…” suaranya serak. “Kalau aku telat lagi… kalau aku kehilangan dia beneran…”

Lita menarik napas panjang, lalu berjongkok di hadapannya, menyamakan posisi. Tatapannya lurus, tidak memberi ruang untuk Sekar menghindar. “Denger aku baik-baik,” katanya pelan, tapi setiap katanya terasa kuat. “Ini bukan saatnya kamu takut.”

Sekar terdiam.

“Ini saatnya kamu bangkit.” Kalimat itu sederhana. Tapi cara Lita mengatakannya membuat dada Sekar terasa bergetar. “Kamu sudah cukup lama bertahan dalam posisi diserang, Sekar. Kamu diam, kamu mengalah, kamu mencoba ‘baik-baik saja’…” Lita menggeleng pelan. “Dan lihat apa yang terjadi sekarang.”

Sekar menunduk. Tangannya kembali saling menggenggam erat.

“Sea mulai dijauhkan. Hidupnya mulai tidak stabil. Dan kamu…” Lita menatapnya lebih dalam, “kamu masih berdiri di tempat yang sama, menunggu kesempatan datang sendiri.”

Sekar menutup matanya sejenak. Kata-kata itu menyakitkan tapi benar.

“Aku nggak bilang ini mudah,” lanjut Lita. “Aku tahu kamu capek. Aku tahu kamu takut. Tapi kalau kamu terus seperti ini…” Ia berhenti sebentar, memastikan Sekar benar-benar mendengarkan. “…kamu akan benar-benar kehilangan dia.”

Napas Sekar tertahan. Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini tidak selemah sebelumnya. Ada sesuatu yang mulai berubah di dalam dirinya, pelan, tapi terasa. “Terus aku harus gimana…?” bisiknya.

Lita langsung menjawab, tanpa ragu. “Kamu harus jadi kuat. Bukan setengah-setengah.”

Sekar menatapnya lagi.

“Secara finansial kamu sudah mulai. Buku kamu berhasil. Lanjutkan. Perkuat itu.”

“Secara mental kamu sudah jauh lebih stabil dari dulu. Tapi kamu harus berhenti meragukan dirimu sendiri.”

“Secara fisik kamu harus sehat. Kamu butuh tenaga untuk bertahan, bukan cuma nangis diam-diam.”

Dan yang terakhir “Secara emosi… kamu harus berhenti takut sama mereka.”

Sunyi. Kalimat itu seperti membuka sesuatu yang selama ini terkunci rapat. Sekar menelan ludah. “Aku… masih takut, Lit…”

Lita mengangguk. “Takut itu wajar.” Ia mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat. “Tapi jangan biarkan takut itu bikin kamu diam.” Jeda sebentar. Lalu Lita menambahkan, dengan suara yang lebih dalam “Karena sekarang… ini bisa jadi kesempatan kamu.”

Sekar mengernyit pelan.

“Aji kehilangan pekerjaan. Rumah mau dijual. Kondisi mereka tidak stabil,” jelas Lita. “Kalau selama ini kamu sulit bergerak karena posisi mereka lebih ‘kuat’…” Ia menatap Sekar tajam. “Sekarang tidak lagi.”

Jantung Sekar berdegup lebih kencang.

“Kamu punya penghasilan. Kamu punya bukti kamu mampu berdiri sendiri. Kamu mulai punya posisi.”

Sekar menarik napas dalam. Untuk pertama kalinya sejak kabar itu datang, ia tidak hanya melihat ketakutan… tapi juga kemungkinan. “Ini bisa jadi jalan kamu untuk mendapatkan Sea kembali,” kata Lita pelan, tapi pasti.

Kalimat itu menggantung di udara. Sekar menutup matanya sejenak. Membayangkan Sea. Wajah kecil itu. Suara lirihnya. Pelukan yang mulai menjauh. Perlahan, ia membuka matanya lagi. Tatapannya berubah. Masih ada luka. Masih ada takut. Tapi kali ini… ada sesuatu yang lain. Tekad. “Aku… nggak mau kehilangan dia lagi,” ucapnya pelan, tapi jelas.

Lita tersenyum kecil. “Bagus,” katanya. “Karena kali ini… kamu nggak akan cuma bertahan.” Ia menepuk pelan tangan Sekar. “Kamu akan maju.”

1
Uthie
Duhhhhh...susah banget sihhh buat mereka bersatu nya 😭😭😭
Uthie
masih konflik soal Anak 😌
Uthie
Duhhhhh... konflik nya masih aja terus di urusan "Sea" melulu dehhhh.....
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤

Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦‍♀️🤣
Uthie
si Sekar emang nyeyel sihhh di kasih Tauin sama ibunya berulang kali selalu gak ada mau dengar nya 😤😡😡😡
Uthie
Sekar terlalu lembek.. gak bisa tegas 😤😡
Uthie
mantan kurang ajar itu 😡
Uthie
Ahhhhh.... Sekar-Sekar... kalau mahhhh kau akan masuk dalam lubang kehidupan di keluarga Toxic itu lagiii 😤😡
Uthie
Yaaa... Damar malah menjauh ☹️
Uthie
Yeayyyy

.Damar 🤩🤗
Uthie
Cieee😁
Uthie
cinta yg sejati kadang hadir bukan dr cover yg terlihat bagus di awal 👍😁
Uthie
semoga jodoh 👍😁🤗
Uthie
Bagusssss 👍👍👍👍
Uthie
Bagussss Sekar 👍😡
THAILAND GAERI
maaf Thor...aq nyesel baca novel,,Sekar bodoh ga ketulungan,,ga ada greget nya sedikit pun terlalu monoton..maaf ,,tp ini ide othor sendiri..selamat menulis novelnya
THAILAND GAERI
ni Sekar JD org kok goblok banget ya...lawan kek maki kek,,mana ada org diinjak diam aja..
Uthie
semoga si Aji nyesel dibuat nyesel melepas istri sebaik Sekar👍😡
Uthie
Langsung sukkkaa cerita genre Pengkhianatan yg selalu menarik disimak 👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
kasian nya 😢
Uthie
dasar laki-laki yg bisa nya cuma mencari kebenaran untuk dirinya aja 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!