"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."
Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.
Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.
Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.
Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: KUNCI YANG HIDUP
Deru mesin kapal feri kayu yang membawa mereka dari Batam menuju pelabuhan tikus di Jakarta Utara terdengar seperti batuk tua yang tak kunjung sembuh. Bau solar yang menyengat bercampur dengan aroma amis garam laut, memenuhi kabin sempit tempat Saga, Sakti, dan Nikolai bersembunyi. Bramasta duduk di pojok, memangku laptopnya yang layarnya redup, terus memantau pergerakan sinyal GPS yang mereka pasang di jalur logistik Waskita.
Saga menatap pantulan wajahnya di kaca jendela yang buram. Ia tidak lagi melihat gadis yang ketakutan di Singapura. Rambutnya kini dipotong pendek kasar, dan ia mengenakan jaket hoodie kumal untuk menyamarkan identitasnya. Ia kembali ke Jakarta bukan sebagai pewaris, bukan sebagai putri Sokolov, melainkan sebagai hantu yang menuntut balas.
"Kita akan mendarat di Marunda dalam tiga puluh menit," Sakti berbisik, tangannya yang masih dibalut perban mencengkeram gagang belati di balik jaketnya. "Bong sudah menyiapkan rumah aman di pemukiman padat. Polisi tidak akan berani masuk ke sana tanpa pasukan penuh."
Nikolai, yang sejak tadi membersihkan senjatanya dalam diam, mendongak. "Viktor sudah mengirim tim taktis ke Jakarta. Dmitri juga. Mereka tidak akan lewat pelabuhan tikus seperti kita. Mereka akan mendarat dengan jet pribadi di Halim, menggunakan jalur diplomatik. Kita berpacu dengan waktu, Saga."
"Aku tahu," jawab Saga pendek. "Tapi mereka mencari kunci fisik Protokol Garuda di tempat-tempat mewah. Mereka tidak akan mencarinya di tempat di mana kemiskinan menyembunyikan rahasia."
Rumah aman itu terletak di sebuah gang sempit yang lebarnya tak lebih dari satu meter. Air selokan yang hitam mengalir tenang di bawah papan-papan kayu yang menjadi jalan. Di sini, suara tangis bayi dan denting piring bersahutan dengan suara radio tua. Bong, pria bertubuh tambun dengan tato naga yang memudar di lengannya, menyambut mereka dengan wajah tegang.
"Nona, Anda gila kembali ke sini," ujar Bong sambil mengunci pintu triplek rumah itu dari dalam. "Seluruh Jakarta sedang dibersihkan. Orang-orang Romo yang tersisa bekerja sama dengan aparat untuk mencari 'gadis bermata abu-abu'. Mereka membakar tiga gudangku hanya untuk mencari informasi."
"Maafkan aku, Bong. Tapi ini harus berakhir di sini," Saga duduk di kursi plastik yang reyot. "Agatha bilang Wirya menyembunyikan kunci fisik Protokol Garuda. Kamu tahu sesuatu tentang itu? Kamu adalah orang kepercayaan ayah angkatku dalam urusan logistik gelap."
Bong terdiam sejenak, ia menyesap rokok kreteknya dalam-dalam. "Tuan Wirya tidak pernah mempercayai benda mati, Nona. Dia selalu bilang bahwa kode digital bisa diretas, dan brankas baja bisa diledakkan. Tapi kesetiaan... kesetiaan adalah kunci yang paling sulit ditembus."
Bong berdiri dan berjalan menuju bagian belakang rumahnya yang gelap. Ia menggeser sebuah lemari tua, menyingkapkan sebuah pintu kecil yang menuju ke ruang bawah tanah yang lembap.
"Ikut aku," perintah Bong.
Saga mengikuti Bong menuruni tangga kayu yang berderit. Di bawah sana, di sebuah ruangan kecil yang diterangi lampu bohlam kuning tunggal, duduk seorang pria paruh baya yang punggungnya bungkuk. Pria itu sedang memperbaiki sebuah jam dinding tua dengan tangan yang gemetar.
Saga menghentikan langkahnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Pria itu berbalik perlahan, meletakkan kacamatanya.
"Tuan... Gunawan?" suara Saga tercekat di tenggorokan.
Dokter Gunawan. Pria yang selama ini dianggap telah tewas dalam ledakan klinik di awal konflik Janardana vs Waskita. Pria yang merupakan sahabat paling setia Wirya Janardana.
"Sasmita..." Gunawan tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. "Kamu tumbuh persis seperti Ratna. Maafkan aku karena harus 'mati' untuk menjagamu tetap hidup."
"Bagaimana mungkin? Sakti melihat klinik itu rata dengan tanah!" seru Saga, ia menoleh ke arah Sakti yang juga tampak terpaku di ambang pintu.
"Itu adalah bagian dari rencana Wirya," Gunawan menjelaskan, ia mempersilakan Saga duduk di sebuah peti kayu. "Wirya tahu bahwa jika dia mati, Agatha akan memburu semua orang yang memegang akses ke Protokol Garuda. Jadi, dia memerintahkan Bong untuk memalsukan kematianku. Sejak hari itu, aku hidup di bawah tanah ini, menjaga satu hal yang paling diinginkan dunia."
"Kunci fisik Protokol Garuda?" tanya Nikolai, ia melangkah maju dengan tatapan penuh selidik.
Gunawan mengangguk. Ia meraih sebuah kotak kayu kecil dari kolong mejanya. Namun, di dalam kotak itu bukan berisi flash drive atau kartu akses biometrik. Di dalamnya terdapat sebuah mikroskop saku dan beberapa slide kaca berisi sampel cairan bening.
"Protokol Garuda bukan sekadar sistem pencucian uang, Saga," ujar Gunawan dengan nada serius. "Itu adalah sistem enkripsi molekuler. Wirya menanamkan kode aksesnya ke dalam struktur DNA sebuah virus yang sudah dilemahkan. Kuncinya tidak ada di dalam benda, tapi di dalam darah."
Saga membelalak. "Maksudmu...?"
"Kunci fisik itu adalah dirimu sendiri, Saga," Gunawan menatapnya dengan dalam. "Wirya tidak hanya menyuntikkan vitamin ke tubuhmu saat kamu kecil. Dia menyuntikkan kode enkripsi hidup ke dalam sumsum tulang belakangmu. Itulah alasan kenapa darahmu memiliki antibodi aneh terhadap neurotoksin Aris. Itu bukan kebetulan biologis dari Sokolov, tapi itu adalah sistem pertahanan yang dirancang Wirya agar kuncinya tidak bisa diambil oleh orang yang membunuhmu."
Ruangan itu mendadak sunyi. Sakti jatuh terduduk, ia baru menyadari beban rahasia yang selama ini ia jaga tanpa ia ketahui. Bramasta menutup laptopnya, menyadari bahwa teknologi secanggih apa pun tidak akan bisa meretas kunci ini.
"Jadi..." Saga berbisik, tangannya gemetar. "Selama ini, aku adalah brankas berjalan bagi triliunan rupiah milik Waskita dan Sokolov?"
"Ya," jawab Gunawan. "Agatha tahu sebagian, tapi dia tidak tahu cara mengekstraknya tanpa merusak kodenya. Itulah sebabnya dia menginginkanmu tetap hidup sebagai pion. Tapi Viktor... ayahmu... dia mungkin tahu lebih banyak tentang teknologi ini daripada Agatha."
Saga teringat tatapan Viktor di kapal The Volkov. Tatapan itu bukan tatapan kasih sayang seorang ayah, melainkan tatapan seorang kolektor yang baru saja menemukan barang berharga yang hilang.
"Lalu apa yang harus aku lakukan, Dok?" tanya Saga. "Jika aku adalah kuncinya, maka aku akan selamanya diburu."
"Ada satu cara untuk mematikan Protokol Garuda secara permanen," Gunawan mengambil sebuah jarum suntik. "Kita harus melakukan 'format ulang' pada protein di darahmu. Ini akan menghapus kodenya selamanya, tapi risikonya... kamu mungkin akan kehilangan sebagian besar kekebalan tubuhmu, atau bahkan nyawamu jika sistem sarafmu menolak prosesnya."
Tiba-tiba, suara ledakan terdengar dari atas. Atap triplek rumah Bong hancur berantakan. Asap dan debu memenuhi ruangan bawah tanah.
"MEREKA DI SINI!" teriak Nikolai sambil melepaskan tembakan ke arah tangga.
Sekelompok pria berseragam taktis hitam—bukan tim Waskita, tapi tim elit Sokolov—terjun dari lubang di atap. Mereka bergerak dengan efisiensi yang mengerikan. Salah satu dari mereka memegang perangkat pemindai biometrik jarak jauh yang langsung berbunyi kencang saat diarahkan ke Saga.
"TARGET TERKONFIRMASI! KUNCI ADA DI DALAM DARAH!" teriak pemimpin tim tersebut dalam bahasa Rusia.
Nikolai berdiri di depan Saga, menembaki setiap orang yang mencoba mendekat. "Gunawan! Bawa Saga keluar lewat jalur selokan! Aku akan menahan mereka di sini!"
"Nikolai, tidak! Kamu akan mati!" teriak Saga.
"Ini tugasku, Saga! Pergi!"
Sakti menyambar lengan Saga dan menyeretnya menuju lubang drainase di sudut ruangan. Gunawan mengikuti dengan membawa tas medisnya. Bramasta merangkak di belakang mereka, mencoba menyelamatkan data terakhirnya.
Saat Saga masuk ke dalam selokan yang sempit dan gelap, ia melihat Nikolai dikepung oleh lima orang. Nikolai tersenyum tipis ke arah Saga, lalu ia menarik pin dua granat di sabuknya.
BUM!
Ledakan itu meruntuhkan seluruh rumah aman Bong, mengubur Nikolai dan tim elit Sokolov di bawah puing-puing. Getarannya terasa hingga ke dalam selokan, membuat Saga terjatuh ke dalam air limbah yang dingin.
"Nikolai..." Saga terisak, namun Sakti terus menariknya maju.
"Jangan berhenti, Nona! Kita harus sampai ke penjara Agatha sebelum Viktor menutup seluruh kota!"
Mereka merangkak menembus labirin bawah tanah Jakarta yang bau dan pengap. Di atas sana, mereka bisa mendengar suara helikopter yang meraung-raung, mencari keberadaan mereka. Kota ini telah menjadi medan perang global, dan Saga berada tepat di tengah-tengahnya.
Pukul 03.00 dini hari. Mereka keluar dari manhole di belakang Lapas Wanita Tangerang. Gunawan tampak sangat pucat, napasnya tersengal-sengal.
"Dengarkan aku, Saga," Gunawan memegang tangan Saga. "Di dalam tas ini ada serum penghapus. Jika kamu berhasil menemui Agatha, tanyakan padanya tentang 'Pintu Belakang Garuda'. Dia memegang kode perintahnya. Begitu kamu mendapatkan kode itu, suntikkan serum ini ke nadimu. Itu akan memicu penghapusan massal di seluruh server bank dunia. Uang itu akan hilang, dan kamu akan bebas."
"Tapi bagaimana dengan Anda, Dok?"
"Aku sudah tua, Sasmita. Tugasku sudah selesai saat aku melihatmu kembali ke sini," Gunawan batuk darah, rupanya ia terkena serpihan ledakan tadi. "Pergilah. Sakti akan membantumu menyusup ke dalam."
Saga menatap gedung penjara yang angker di depannya. Di sana, di dalam sel yang dingin, Agatha Waskita sedang menunggunya. Dan di luar sana, Viktor Sokolov sedang mendekat dengan seluruh pasukannya.
Saga mengambil tas medis itu dan berdiri tegak. Air selokan membasahi bajunya, tapi matanya menyala dengan tekad yang belum pernah terlihat sebelumnya. Ia tidak lagi mengejar harta, ia tidak lagi mengejar pengakuan. Ia mengejar satu hal yang selama ini dirampas darinya: Kebebasan untuk menjadi manusia biasa.