“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
Tetap jadi musuh di kantor.
Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
Dilarang jatuh cinta!
Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMBANTU DALAM KESULITAN
Malam itu, hujan turun dengan intensitas yang tidak biasa di Jakarta. Petir sesekali menyambar, menciptakan kilatan putih yang memantul di kaca jendela apartemen unit 1205. Di dalam, suasana relatif tenang. Jingga sedang berada di ruang tengah, asyik mengutak-atik laporan draf vendor yang sempat tertunda karena insiden "kunci ganda" tadi sore di kantor. Sementara itu, Sinta berada di kamarnya, mencoba memejamkan mata setelah hari yang sangat melelahkan secara mental.
Crrrtt... JEDARRR!
Suara guntur yang menggelegar itu diikuti oleh suara dengung listrik yang aneh. Sedetik kemudian, seluruh apartemen mendadak senyap. Lampu gantung di ruang tamu padam, televisi mati, dan pendingin ruangan berhenti berhembus. Kegelapan total menyergap seisi ruangan, hanya menyisakan keremangan dari pantulan lampu jalan di kejauhan yang tertutup tirai tipis.
"Sialan, mati lampu," gumam Jingga pelan. Dia meraba-raba meja kopi untuk mencari ponselnya. "Woi, Sinting! Lu di dalem? Jangan tidur dulu, ini listrik kayaknya korslet gara-gara petir tadi."
Tidak ada jawaban.
Jingga mengaktifkan fitur senter di ponselnya. Cahaya putih tajam membelah kegelapan. Dia berjalan menuju kamar Sinta, berniat mengejek wanita itu karena mungkin dia sedang bermimpi buruk. Namun, saat dia membuka pintu kamar Sinta, suara yang dia dengar bukanlah gerutuan kesal yang biasa, melainkan napas yang tersengal-sengal dan sangat cepat.
"Sinta?" Jingga mengarahkan senternya ke arah tempat tidur.
Sinta tidak sedang tidur. Dia duduk meringkuk di sudut tempat tidur, memeluk lututnya erat-erat. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak ketakutan menatap kegelapan yang mengepungnya. Tubuhnya gemetar hebat, seolah-olah bayangan di sudut ruangan adalah monster yang siap menerkamnya.
"Sinta! Lu kenapa?" Jingga panik. Dia segera mendekat dan duduk di pinggir kasur.
"Matiin... jangan... gelap..." suara Sinta nyaris tidak terdengar, parau karena ketakutan yang mencekat kerongkongan.
Jingga baru menyadari sesuatu yang selama ini terlewatkan. Selama tiga bulan tinggal bersama, Sinta tidak pernah mematikan lampu kamar sepenuhnya saat tidur. Dia selalu menyisakan lampu tidur yang terang atau membiarkan lampu kamar mandi menyala. Sinta mengidap achluophobia—ketakutan akut pada kegelapan total—dan rahasia itu baru saja terbongkar di depan pria yang paling sering mengejeknya.
"Eh, oke, oke. Tenang, Sin. Gue di sini," ucap Jingga, suaranya mendadak melunak, kehilangan nada narsis dan angkuhnya.
Dia mencoba meletakkan ponselnya di atas nakas dengan posisi senter menghadap ke langit-langit agar cahayanya menyebar ke seluruh kamar. Namun, bayangan yang dihasilkan justru membuat Sinta semakin histeris. Sinta menutup matanya rapat-rapat, tangannya meraba-raba udara dengan panik sampai akhirnya dia menemukan lengan kemeja Jingga.
Sinta mencengkeram lengan Jingga dengan kekuatan yang mengejutkan. Dia menarik tubuh Jingga agar lebih dekat, seolah-olah pria itu adalah satu-satunya tiang gantungan di tengah badai.
"Jangan pergi, Jing... tolong... jangan tinggalin gue di sini," isak Sinta. Air mata mulai mengalir di pipinya yang dingin.
Jingga membeku. Selama ini, dia mengenal Sinta sebagai wanita karir yang tangguh, galak, dan bermulut pedas yang selalu punya jawaban untuk setiap ejekannya. Melihat Sinta yang begitu rapuh dan hancur di depannya membuat jantung Jingga berdenyut aneh. Rasa protektif yang muncul tadi sore di kantor saat menyelamatkan kunci, kini kembali hadir dengan intensitas sepuluh kali lipat.
Tanpa sadar, Jingga mengulurkan tangannya dan menarik Sinta ke dalam pelukannya. Dia membiarkan kepala Sinta bersandar di dadanya.
"Gue nggak ke mana-mana, Sin. Gue di sini. Napas pelan-pelan, ikuti detak jantung gue," bisik Jingga lembut. Dia mengelus punggung Sinta dengan gerakan ritmis, mencoba menenangkan badai kepanikan di dalam diri wanita itu.
BRAKK!
Suara dahan pohon yang patah dan menghantam balkon apartemen terdengar sangat keras. Sinta tersentak dan membenamkan wajahnya lebih dalam ke ceruk leher Jingga. Dia gemetar hebat.
"Cuma pohon, Sin. Cuma pohon. Gue bakal jagain lu. Nggak bakal ada apa-apa yang bisa nyentuh lu selama gue ada di sini," ucap Jingga tegas.
Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Jingga sendiri terkejut mendengar betapa tulus suaranya terdengar. Biasanya, dia akan memberikan komentar sarkastik tentang betapa penakutnya Sinta, tapi malam ini, egonya seolah menguap terbawa angin hujan. Dia merasa bertanggung jawab sepenuhnya atas keselamatan wanita di pelukannya.
Waktu seolah melambat di dalam kamar yang gelap itu. Aroma parfum Jingga yang maskulin bercampur dengan aroma sabun mandi Sinta menciptakan keintiman yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Sinta perlahan-lahan mulai tenang. Napasnya tidak lagi sependek tadi, meskipun dia tetap tidak mau melepaskan pelukannya pada Jingga.
"Sori... gue... gue emang payah kalau gelap," bisik Sinta setelah beberapa menit keheningan. Suaranya masih bergetar.
"Enggak payah kok. Semua orang punya ketakutan masing-masing. Gue aja takut kalau saldo rekening gue nol," canda Jingga kecil, mencoba mencairkan suasana.
Sinta melepaskan tawa kecil yang terdengar seperti rintihan. "Lu emang Anjing, Jing. Masih sempet-sempetnya bercanda."
"Nah, kalau udah bisa ngatain gue Anjing, berarti lu udah mendingan," Jingga sedikit melonggarkan pelukannya, tapi Sinta kembali menariknya.
"Bentar lagi... tolong. Sampai lampunya nyala," pinta Sinta.
"Iya, tenang aja. Gue temenin sampai pagi kalau perlu," sahut Jingga.
Mereka akhirnya duduk bersandar di kepala tempat tidur, bahu mereka bersentuhan erat. Jingga tetap membiarkan Sinta menggenggam tangannya. Dalam kegelapan itu, mereka mulai mengobrol—bukan tentang kantor, bukan tentang warisan, dan bukan tentang sandiwara di depan Luna.
Sinta bercerita sedikit tentang trauma masa kecilnya saat pernah terkunci di gudang sekolah yang gelap selama berjam-jam. Dan Jingga, secara mengejutkan, bercerita tentang tekanan yang dia rasakan sebagai anak tunggal yang harus selalu terlihat sukses di mata ibunya yang perfeksionis.
"Gue sering ngerasa kalau gue gagal jaga penyamaran kita di kantor, gue bukan cuma kehilangan warisan, tapi gue bakal ngecewain Nyokap banget," gumam Jingga pelan.
Sinta meremas tangan Jingga. "Lu hebat kok tadi sore. Lu tenang banget pas ngadepin Luna. Kalau bukan karena lu, mungkin kita udah diusir dari sini sekarang."
Jingga menoleh ke arah Sinta. Meski gelap, dia bisa melihat siluet wajah Sinta yang terkena sedikit pantulan cahaya ponsel. Matanya terlihat besar dan tulus.
"Kita itu tim yang aneh ya, Sin?" tanya Jingga.
"Banget. Tim paling berantakan yang pernah ada," jawab Sinta.
Hampir satu jam berlalu sampai akhirnya terdengar suara bzzzt dan lampu-lampu di apartemen kembali menyala terang benderang. Sinta segera menutup matanya karena silau, lalu perlahan membukanya dan menyadari posisi mereka yang sangat intim.
Dia masih memeluk lengan Jingga, dan Jingga masih merangkul bahunya. Mereka berdua tersentak dan segera melepaskan diri satu sama lain dengan gerakan yang sangat kikuk.
"Eh... lampunya udah nyala. Bagus deh," ucap Jingga sambil berdeham keras, mencoba mengembalikan kewibawaannya. Dia berdiri dan merapikan kemejanya yang berantakan.
Sinta membenahi rambutnya, wajahnya mendadak memerah sampai ke telinga. "Iya. Makasih ya... Jing. Lu udah... ya pokoknya makasih."
"Jangan dipikirin. Gue cuma nggak mau lu pingsan terus gue harus repot manggil ambulans," kilah Jingga, kembali ke mode defensifnya. "Gue balik ke ruang tengah ya. Masih ada kerjaan."
"Jingga?" panggil Sinta saat Jingga sudah sampai di ambang pintu.
Jingga menoleh. "Apa?"
"Lu beneran nggak bakal ceritain soal ini ke siapa pun di kantor? Terutama Luna?" tanya Sinta dengan nada khawatir.
Jingga menatap Sinta lama. Dia melihat sisa-sisa air mata di pipi Sinta dan tatapan memohon yang sangat jarang ada di sana.
"Rahasia lu aman sama gue, Sinting. Lagian, kalau gue ceritain, mereka nggak bakal percaya kalau 'Sinta yang Galak' ternyata takut sama gelap," Jingga memberikan seringai kecilnya, tapi kali ini seringai itu tidak terasa menyebalkan.
Begitu Jingga keluar dan menutup pintu, Sinta menjatuhkan dirinya kembali ke bantal. Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena takut kegelapan lagi. Ada perasaan hangat yang menjalar di dadanya—sebuah rasa aman yang baru saja dia temukan dari orang yang paling tidak dia harapkan.
Di ruang tamu, Jingga duduk di sofa dan menatap tangannya yang tadi digenggam erat oleh Sinta. Dia menyadari bahwa malam ini, hubungan mereka telah melewati sebuah garis batas yang tidak terlihat. Mereka bukan lagi sekadar rekan kontrak yang saling memanfaatkan. Ada sebuah kepercayaan yang baru saja lahir di tengah kegelapan, sebuah ikatan yang jauh lebih nyata daripada sandiwara pernikahan mana pun yang pernah mereka perankan.