NovelToon NovelToon
Yakusoku No Mirai

Yakusoku No Mirai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
​Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21.Arena Final Yang Membara

Fajar di Kota Karasu pecah dengan semburat warna ungu dan jingga yang memantul di permukaan teluk. Namun, ketenangan pagi itu kontras dengan atmosfer di Alun-Alun Pusat Kota. Sebuah panggung raksasa telah berdiri, dikelilingi oleh ribuan penonton yang antusias dan puluhan layar LED besar yang menyiarkan setiap detail gerakan di atas meja dapur.

Ren berjalan memimpin timnya memasuki arena. Di bahunya, ia memikul sebuah peti kayu tradisional yang tertutup kain lembap—berisi teripang yang telah mereka jaga semalaman. Di belakangnya, Hana dan Yuki berjalan dengan langkah mantap meski lingkaran hitam tipis di bawah mata mereka tidak bisa disembunyikan. Mereka mengenakan seragam koki putih bersih dengan bordir kecil bunga sakura di kerah, pemberian dari Sakura-sensei.

"Ren, lihat itu," bisik Hana, jemarinya meremas ujung apronnya.

Di sisi lain panggung, Tim Asuka Jaya telah bersiap. Ryuji berdiri di sana dengan keangkuhan yang tak tergoyahkan. Di belakangnya, deretan mesin ultrasonic cleaner, tabung nitrogen cair, dan pemanggang induksi presisi tinggi berkilauan tertimpa cahaya lampu panggung. Ryuji mengenakan sarung tangan hitam, menatap Ren seolah pemuda itu hanyalah debu yang lewat.

"Selamat datang di pengadilanmu, Akira," ucap Ryuji saat mereka berpapasan di tengah panggung untuk jabat tangan formal. Suaranya rendah, hanya bisa didengar oleh Ren. "Aku sudah melihat rekaman intelijenku. Kamu menghabiskan malam dengan membakar kayu di dapur tua? Menyedihkan. Kamu sedang melawan masa depan dengan cara prasejarah."

Ren tidak segera melepaskan jabat tangan itu. Ia menatap Ryuji, bukan dengan amarah, melainkan dengan tatapan tenang yang membuat Ryuji sedikit tidak nyaman.

"Masa depan tanpa akar adalah benda mati, Ryuji," balas Ren. "Kamu punya mesin, tapi aku punya janji yang harus ditepati kepada kota ini."

Ren melepaskan tangannya dan kembali ke stasiun nomor satu.

Suasana di tribun penonton semakin riuh. Bu Keiko duduk di barisan depan bersama Kudo dan Rin. Kudo tampak gelisah, sesekali membetulkan letak topinya, sementara Keiko hanya diam dengan tangan terlipat, matanya terus mengamati pergerakan tangan Ren. Ia tahu bahwa satu kesalahan kecil dalam mengolah teripang yang sudah melunak itu akan menghancurkan seluruh teksturnya.

"Waktu kalian adalah sembilan puluh menit!" suara pembawa acara menggelegar, memicu sorak-sorai penonton. "Tentukan siapa yang akan menjadi penguasa rasa di Kota Karasu! MULAI!"

Seketika, irama dapur dimulai. Di stasiun Asuka Jaya, suara desis mesin dan denting logam terdengar mekanis dan cepat. Ryuji bergerak dengan efisiensi robotik, memerintah asistennya dengan kode-kode singkat.

Namun, di stasiun Tim Sakura Harapan, suasananya berbeda. Ren mengambil teripang dari peti kayu. Teksturnya kini kenyal sempurna, bergoyang halus saat disentuh. Ia menatap Hana dan Yuki.

"Hana, mulai tumis bumbu dasarnya. Gunakan api kecil dulu, biarkan aroma kemiri dan jahe meresap ke dalam minyak. Jangan terburu-buru," perintah Ren. Suaranya tenang, menjadi jangkar bagi Hana yang mulai gugup karena sorotan kamera.

"Yuki, siapkan kaldu penyiramnya. Ingat, hanya gunakan air laut yang sudah kita murnikan semalam. Rasa asin alaminya adalah kunci," lanjut Ren.

Hana mulai bekerja. Saat ia memegang spatula, ia merasakan panas yang merambat dari kompor. Ia teringat latihan di hutan semalam, saat tangannya dibimbing oleh Ren di depan tungku batu. Rasa takutnya perlahan menguap, digantikan oleh fokus yang tajam. Ia menatap Ren sekilas, dan saat mata mereka bertemu, Ren memberikan sebuah anggukan kecil—sebuah validasi yang membuat jantung Hana berdegup lebih kencang, bukan karena takut, tapi karena semangat.

"Aku mengerti, Kapten," gumam Hana dengan senyum kecil.

Ren mulai membelah teripang itu. Pisau gyuto-nya bergerak dengan ritme yang hampir puitis. Ia tidak memotong dengan kasar; ia mengikuti alur serat kolagen yang sudah melunak. Setiap irisan memiliki ketebalan yang sama persis, memastikan saus akan meresap hingga ke inti terdalam bahan.

Kemistri di antara mereka bertiga di atas panggung itu terasa sangat nyata. Yuki selalu berada di sana untuk menyeka keringat Ren sebelum butirannya jatuh, sementara Hana selalu menyiapkan alat yang dibutuhkan Ren bahkan sebelum pemuda itu memintanya. Mereka bergerak dalam sebuah tarian tanpa kata, sebuah harmoni yang lahir dari malam-malam tanpa tidur dan perjuangan bersama.

Di tengah waktu pertandingan, Ryuji mulai melakukan teknik flash-freeze pada teripangnya, menciptakan efek asap nitrogen yang dramatis di atas panggung. Penonton berdecak kagum melihat kemewahan visual tersebut.

"Jangan terpengaruh," ucap Ren tanpa menoleh, seolah bisa membaca pikiran Hana dan Yuki yang sempat teralih. "Asap tidak punya rasa. Fokus pada apa yang ada di depan kalian."

Ren mengambil sebuah botol kecil dari sakunya—ekstrak jeruk nipis liar dari hutan Karasu yang ia peras sendiri. Ia meneteskan sedikit ke dalam kuali tumisan Hana. Seketika, aroma segar yang sangat kuat meledak dari stasiun mereka, menembus aroma kimiawi dari nitrogen milik Ryuji. Para juri di meja depan secara serempak mendongak, hidung mereka kembang kempis menghirup aroma yang sangat familiar namun terasa baru itu.

"Ini... aroma ini..." gumam salah satu juri senior, matanya mulai berkaca-kaca. "Ini adalah aroma Karasu tiga puluh tahun yang lalu."

Ren terus mengaduk, tangannya stabil meski keringat sudah membasahi punggungnya. Ia tahu bahwa babak final ini bukan lagi sekadar kompetisi. Ini adalah pernyataan perang terhadap mereka yang ingin menghapus jiwa dari sebuah rasa.

1
Jack Strom
Cerita yang cukup menarik. Namun saya cukup aneh dengan lokasi cerita, kota Jayapura-Indonesia, tapi tokoh dan cerita ala Jepang??? 😁
Jack Strom
Owalah... Ngaku banyak uang, tapi masih main sabotase segala... Pengecut!!! 😁
Jack Strom
Oh, ini tentang rasa dan keahlian memasak toh..? Mantap mantap mantap!!! 😁
Jack Strom
Halah... Modus!!! 😁
Jack Strom
Wow... Betul² kosong!!? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!