NovelToon NovelToon
Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sadar

Laila tersadar dari tidurnya. Ruangan serba putih yang sangat asing baginya. Tak ada satu pun orang yang dikenali olehnya saat ini.

Seorang perawat masuk ke dalam kamar VIP milik Laila. Saat hendak menganti infus Laila.

"Suster, aku dimana?"

"Nyonya sekarang sedang berada di Rumah Sakit," jawab perawat itu.

"Terus aku kenapa?"

Laila masih bingung, kepalanya masih terasa pusing. Berusaha mengingat-ingat apa yang sedang terjadi.

"Maaf nyonya, anda datang dalam keadaan tak sadarkan diri. Dokter Tyo, dokter yang paling profesional pun sudah berusaha semaksimal mungkin dan sayang sekali, dia tak bisa selamatkan bayi anda," terang sang perawat hati-hati. Khawatir jika sang pasien drop kembali.

Namun Laila hanya terpaku diam, hanya air mata saja yang mengalir deras di pipinya. Penantian selama lima tahun pernikahan harus sirna dalam hitungan jam. Dan dia kehilangan darah dagingnya oleh karena ulah suaminya sendiri.

Laila meremas erat kain sprei putihnya. Tangannya gemetar, napasnya terasa berat seolah ada sesuatu yang menekan dadanya.

“Bayi…?” suaranya lirih, hampir tak terdengar.

Perawat itu menatapnya dengan ragu, lalu mengangguk pelan. “Iya, Nyonya. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi… kondisinya waktu itu sangat kritis.”

Laila menutup mata rapat-rapat. Air mata yang tadi hanya mengalir kini semakin deras.

“Lima tahun…” bisiknya pelan. “Aku nunggu lima tahun…”

Perawat itu terdiam, tak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa berdiri di samping ranjang, membiarkan Laila meluapkan emosinya.

“Tapi… kenapa harus sekarang…” Laila tersenyum pahit. “Kenapa pas aku akhirnya hamil… malah…” suaranya terputus.

Perawat itu akhirnya duduk di kursi samping ranjang. “Nyonya, tolong jangan terlalu dipikirkan dulu. Kondisi Nyonya masih lemah. Kalau terlalu banyak pikiran, nanti bisa drop lagi.”

Laila menggeleng pelan. “Bukan soal lemah atau kuat, Sus… Ini… ini anakku…” tangannya berpindah ke perutnya yang kini terasa kosong. “Dia bahkan belum sempat aku tahu… belum sempat aku jaga…”

Tangisnya pecah. Sunyi ruangan VIP itu kini dipenuhi isak yang tertahan.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka perlahan.

Seorang pria tinggi dengan jas rapi masuk ke dalam ruangan. Langkahnya terhenti saat melihat Laila yang sedang menangis.

“Suster, bisa tinggalkan kami sebentar?” ucap pria itu dengan suara tenang tapi tegas.

Perawat itu langsung berdiri. “Baik, Tuan.” Ia menatap Laila sebentar dengan simpati, lalu keluar dari ruangan.

Kini hanya tersisa Laila dan pria itu.

Laila yang masih menunduk perlahan mengangkat wajahnya. Matanya membengkak, penuh air mata. Saat pandangannya bertemu dengan pria di depannya, ia sedikit terkejut.

“Zayn…?” suaranya serak.

Pria itu mendekat, lalu berdiri di samping ranjang. “Iya… ini aku.”

Laila menatapnya cukup lama, seolah memastikan bahwa ini bukan mimpi. “Aku… di rumah sakit?”

“Iya.”

“Kamu… yang bawa aku ke sini?”

Zayn mengangguk pelan. “Aku nemuin kamu di depan gerbang rumah itu. Kamu… dalam kondisi yang sangat buruk, Laila.”

Laila terdiam. Ingatannya mulai kembali sedikit demi sedikit. Tarikan kasar. Bentakan. Lantai keras. Dan rasa sakit yang luar biasa.

Tangannya mengepal.

“Mereka…” suaranya bergetar. “Mereka buang aku… kayak sampah…”

Zayn menghela napas dalam. Rahangnya mengeras menahan amarah. “Aku tahu.”

“Kamu tahu?” Laila menatapnya bingung.

“Aku sudah minta orang untuk cari tahu semuanya,” jawab Zayn singkat. “Dan aku juga tahu… apa yang mereka lakukan ke kamu.”

Laila menunduk lagi. “Aku bodoh ya…” gumamnya pelan.

Zayn langsung menggeleng. “Jangan bilang gitu.”

“Aku bertahan lima tahun… berharap dia berubah…” Laila tertawa kecil, tapi terdengar menyakitkan. “Ternyata aku cuma… beban buat dia.”

“Kamu bukan beban.”

“Dia bilang aku nggak berguna,” lanjut Laila, seolah tidak mendengar. “Nggak bisa kasih anak…” ia terdiam sejenak, lalu tersenyum pahit. “Padahal aku lagi hamil…”

Zayn mengepalkan tangannya.

“Dan sekarang… anak itu udah nggak ada,” lanjut Laila pelan. “Karena dia…”

Suasana kembali hening.

Zayn akhirnya duduk di kursi dekat ranjang. Ia menatap Laila dengan serius.

“Laila.”

Perempuan itu menoleh pelan.

“Mulai sekarang… kamu nggak perlu kembali ke sana.”

Laila terdiam.

“Maksud kamu…?”

“Kamu akan tinggal di tempat yang aman. Di bawah perlindunganku,” jawab Zayn tegas.

Laila langsung menggeleng. “Nggak… aku nggak mau ngerepotin kamu.”

“Kamu nggak ngerepotin.”

“Aku ini siapa buat kamu, Zayn?” tanya Laila lirih.

Pertanyaan itu membuat Zayn terdiam sejenak.

Ia menatap Laila dalam-dalam, lalu berkata pelan, “Seseorang yang penting.”

Laila mengernyit. “Penting?”

Zayn tersenyum tipis. “Dari dulu… kamu selalu penting.”

Laila terlihat bingung. “Aku nggak ngerti…”

Zayn menghela napas. “Nggak apa-apa. Kamu nggak perlu ngerti sekarang.”

Ia berdiri, lalu merapikan jasnya sedikit. “Yang jelas, aku nggak akan biarin kamu sendirian lagi.”

Laila menatapnya. Ada sesuatu di matanya yang berbeda. Ketegasan. Kepedulian. Bahkan… kemarahan yang belum sepenuhnya hilang.

“Kamu… marah?” tanya Laila pelan.

Zayn tersenyum tipis, tapi matanya dingin. “Sangat.”

Laila menelan ludah.

“Tapi bukan ke kamu,” lanjut Zayn. “Ke mereka.”

Suasana kembali hening sejenak.

“Zayn…” panggil Laila pelan.

“Iya?”

“Aku capek…” ucapnya jujur. “Aku capek jadi orang yang selalu disalahin… selalu dianggap nggak cukup…”

Zayn menatapnya dengan lembut. “Sekarang kamu nggak perlu lagi jadi orang itu.”

Laila terdiam.

“Kamu cuma perlu istirahat. Sembuhin diri kamu,” lanjut Zayn. “Sisanya… biar aku yang urus.”

Laila menatapnya cukup lama. Ada rasa hangat yang perlahan muncul di hatinya, meski masih dibalut rasa sakit yang dalam.

“Tapi… mereka…” Laila ragu. “Mereka pasti nggak akan tinggal diam.”

Zayn tersenyum miring. “Bagus.”

Laila mengernyit. “Maksudnya?”

“Aku justru nunggu mereka bergerak,” jawabnya santai.

Laila benar-benar tidak mengerti sekarang. “Kamu ini sebenarnya siapa sih…”

Zayn tertawa kecil. “Nanti juga kamu tahu.”

Ia melirik jam tangannya. “Sekarang kamu istirahat dulu. Dokter bilang kondisi kamu masih lemah.”

Laila mengangguk pelan. Tubuhnya memang masih terasa berat.

Zayn berjalan menuju pintu, tapi langkahnya terhenti saat Laila memanggil lagi.

“Zayn…”

Ia menoleh.

“Terima kasih…” ucap Laila tulus.

Zayn menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. “Sama-sama.”

Setelah itu, ia keluar dari ruangan.

Begitu pintu tertutup, wajah Zayn langsung berubah dingin.

Asistennya yang sudah menunggu di luar langsung mendekat. “Tuan.”

“Semua sudah siap?” tanya Zayn tanpa basa-basi.

“Sudah, Tuan. Instruksi Anda akan dijalankan. Tinggal menunggu perintah langsung dari nyonya Laila. Semua kerja sama dengan Gion Wijaya akan segera dibatalkan. Yang akan membuat beberapa partner lain pasti menarik diri.”

Zayn mengangguk pelan. “Bagus.”

“Dan…” asistennya ragu sejenak. “Ada kabar bahwa pihak perusahaan mulai panik.”

Zayn tersenyum tipis. “Baru mulai.”

Ia berjalan pelan menyusuri koridor rumah sakit.

“Ini baru permulaan,” lanjutnya dingin. “Aku ingin mereka merasakan… bagaimana rasanya kehilangan segalanya dalam satu malam.”

“As you wish, Tuan.”

Zayn berhenti sejenak, menatap ke arah jendela besar. Kota terlihat sibuk seperti biasa, tapi baginya… ada sesuatu yang sedang berubah.

“Gion Wijaya…” gumamnya pelan. “Kamu pikir kamu menang?”

Senyumnya perlahan terangkat.

“Kita lihat… siapa yang akan tertawa terakhir.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!