Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.
"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.
Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.
Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.
Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 9
Zenna merasa seperti salah dengar. Inti dadanya kian keras berdebar.
"Tuan... apa maksud Anda?"
Rendy terdiam sejenak. Sejurus kemudian, ia tergelak.
"Kamu kira aku serius? Aku hanya bercanda, Zenna," kata Rendy geli. "Aku mencoba mencairkan suasana gara-gara sikapmu dari tadi sekaku batu... maaf ya."
Zenna menjadi sangat salah tingkah. "Harusnya aku yang minta maaf, Tuan, aku tak bermaksud..."
"Lupakan saja," Rendy berdehem untuk menghentikan tawa, wajahnya kembali lurus ke arah Zenna. "Tapi aku serius saat mengatakan kamu tak bisa jadi pelayan di sini. Kapasitas karyawan di sini sudah penuh. Belum ada lowongan yang bisa dibuka lagi."
"Begitu, ya..."
Kekecewaan dan kesedihan kembali membenam dalam batin Zenna, menggantikan bahagia yang sempat membuncah sekejap mata.
"Kamu tak akan bekerja di restoran ini," kata Rendy sambil memandang lurus Zenna. "Tapi kamu akan bekerja di kantor pusat Wangsa Group sebagai sekretarisku. Bagaimana?"
Netra Zenna membola. Darahnya mendesir deras ke kepala.
"T-Tuan serius...?"
"Ya," angguk Rendy sungguh-sungguh. "Tetapi pekerjaan ini mungkin akan berat dan memiliki jam kerja panjang, apalagi aku harus menghadiri banyak rapat dan menandatangani banyak berkas hingga malam. Kamu siap untuk itu?"
Zenna mengangguk. "Ya, Tuan, saya akan bekerja keras membantu Anda... terima kasih sudah bersedia memberi saya pekerjaan, saya janji tak akan mengecewakan Anda."
Air mata mengalir di pipi Zenna tanpa bisa ia cegah. Rendy tersenyum lembut dan mengulurkan sehelai tisu kepada Zenna.
"Aku percaya kamu akan menepati janjimu," kata Rendy halus. "Sudah, jangan menangis lagi. Karena kamu sudah dapat pekerjaan, kamu bisa menghabiskan makananmu sekarang. Jangan khawatir, aku tak akan memotong gajimu untuk membayar semua menu mahal ini. Aku yang traktir."
Zenna tertawa di sela menghapus air mata--tawa pertama setelah berbulan-bulan ia berjuang mengarungi kesulitan hidup, sendirian dan tanpa kepastian. Rasa syukur dan bahagia yang terbit dengan tulus itu kembali membinarkan kecantikannya yang alami tanpa riasan. Aliran darah yang kian lancar membuat pipi dan bibir Zenna semakin merah laiknya mawar yang segar merekah.
Meresapi pemandangan itu, sesuatu dalam diri Rendy pun bangkit dan menggelora hebat.
Zenna Amalia... kelak kamu pasti akan jadi milikku seutuhnya. Aku bersumpah.
***
Sesuai kata-kata Rendy, pekerjaan baru Zenna menghabiskan jam kerja panjang. Nyaris setiap hari ia lembur, mengatur jadwal, mengurus data dan laporan yang seakan tak ada habisnya.
Namun, Zenna sama sekali tak mengeluh. Setelah berbagai kesulitan yang menimpanya di masa lalu, apa yang dialaminya sekarang adalah angin surga yang patut disyukuri.
Hampir sepanjang hari, Zenna selalu ada di sisi Rendy. Ia mengurus atasannya itu mulai dari perkara bisnis sehari-hari hingga pertemuan skala global, mulai dari hal kecil seperti memesankan kopi, makanan, hingga membantu memasangkan dasi sebelum rapat.
Anehnya, mengerjakan semua itu membuat hati Zenna terasa penuh dan bahagia. Barangkali karena Zenna merasa ia akhirnya bisa sedikit membalas budi atas kebaikan Rendy yang telah menyelamatkan hidupnya. Pengabdiannya pada Rendy adalah caranya berterima kasih dari lubuk hati paling dalam.
Namun tak bisa dipungkiri, hati Zenna bergetar jika ia terlalu dekat dengan Rendy. Selalu saja ada momen-momen mendekati intim, seperti ketika suatu malam ia dipanggil untuk merapikan penampilan bosnya itu usai berjam-jam berkutat dengan laporan dan rapat online ditemani bercangkir-cangkir kopi.
"Zenna..."
Zenna menengadah. Rendy tak melepaskan tatapannya, begitu dalam dan menggetarkan.
Kedua tangan Zenna yang tengah mengalungkan dasi di balik lipatan kerah Rendy pun membeku.
Rendy menarik lembut pinggang Zenna hingga tubuh mereka saling menempel. Rendy membelai wajah Zenna, lalu tanpa ragu mencium bibirnya.
Zenna terkesiap, seakan tersengat listrik. Ia refleks mendorong Rendy, batinnya menjerit bahwa ini keliru.
Tetapi Rendy malah memperkuat pelukannya. Ciumannya yang membawa harum kopi makin intens, sarat keinginan dan kerinduan.
Zenna menggigil namun tak bisa bergerak. Entah bagaimana, lumatan bibir Rendy di bibirnya dan sentuhan jemari Rendy di tubuhnya perlahan membangkitkan sesuatu yang telah ada dan seolah-olah purba dalam diri Zenna.
"T-tuan... mmhh...," Zenna mendesah di sela ciuman dan sentuhan panas itu. Begitu saja. Akalnya melayang hilang entah ke mana, entah mengapa.
"Aku mencintaimu, Zenna... jadilah milikku."
Rendy membaringkan Zenna dengan lembut di atas sofa. Terus mencium dan merabanya. Membuka kancing-kancing blusnya. Melolosi rok dan pakaian dalamnya. Dan mulai bergerak menuju titik yang lebih intim.
"Tu-Tuan...!"
Zenna berusaha menggapai kembali kewarasannya, tetapi darahnya telanjur memanas. Ada gairah yang meledak gila dalam jantungnya sekarang. Pinggulnya bahkan bergerak-gerak di luar kendali, seakan ingin segera dipertemukan dengan hujaman surgawi.
Ada apa denganku...?
Air mata Zenna menetes saat Rendy memasukkan dirinya ke dalam tubuh Zenna. Sesuatu terkoyak dan mengalirkan darah.
Batin dan raga Zenna berguncang. Rasa nyeri, bingung, bersalah, gairah, dan kenikmatan kian memuncak--semua meledak nyaris serentak dalam dirinya.
Rendy berteriak singkat saat meraih pelepasan. Matanya terpejam dan ia tersenyum puas.
Zenna bangkit perlahan dan mengenakan kembali pakaiannya dengan gemetar. Air matanya bercucuran.
"Jangan menangis, Zenna... bukankah kamu juga menginginkannya? Menikmatinya?" Rendy merengkuh Zenna dari belakang dan membelai pipinya.
"Ini salah, Tuan...," isak Zenna. "Tidak seharusnya kita... aku..."
"Jadi kamu tidak menginginkanku?" Raut wajah Rendy mendadak sarat lara. "Kamu membenciku? Seperti kebanyakan orang di luar sana membenciku?"
Zenna terperangah. "Tidak, Tuan, bukan itu yang kumaksud..."
"Jika bukan begitu, maka katakan kamu menginginkanku! Katakan kamu mencintaiku!"
Dering perintah dan tatapan amarah Rendy begitu mengejutkan. Ia seperti bukan lagi orang yang dikenal Zenna.
"Tuan..."
"Berhenti memanggilku Tuan! Panggil aku sebagai cintamu! Sayang! Buktikan jika kamu memang mencintaiku!"
Rendy seperti menggila. Zenna menciut dan mundur hingga punggungnya membentur pintu. Kalbunya remuk, menyaingi rasa sakit yang kini menusuk-nusuk bagian bawah tubuhnya.
"Kamu mencintaiku, Zenna! Seperti halnya aku mencintaimu! Katakan itu, Zenna! Katakan!"
Rendy tiba-tiba hilang kendali dan mulai melempar barang-barang di atas mejanya. Zenna terkejut setengah mati. Ia ingin lari namun tak bisa. Entah bagaimana, benak dan tubuhnya seakan lumpuh.
Yang bisa dia lakukan hanya merosot ke lantai, dan menangis sejadinya.
Tolong... apa yang harus kulakukan?
***