Di dunia di mana gerbang dimensi terbuka dan monster mulai menginvasi bumi, garis antara pahlawan dan penjahat menjadi kabur. seorang pria yang terjebak dalam takdir sebagai antagonis, raja naga kehancuran terbangun di tubuh manusia bumi bernama voltra.
Sang Raja Naga Kehancuran, entitas yang ditakdirkan menjadi villain sejati, kini terjebak dalam raga manusia yang lemah. Alih-alih menghancurkan dunia, ia justru terikat oleh tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan: seorang adik perempuan dan kewajiban menjadi seorang Hunter.
Terjebak dalam dilema antara identitas aslinya sebagai penghancur dan peran barunya sebagai kakak sekaligus pembasmi monster. Memilih antara harapan atau kehancuran?.
-LATAR CERITA DI INDONESIA
-KARAKTER PENTING ADA ILUSTRASI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Natelashura7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6 tes peringkat hunter
Kaki voltra melangkah menuju ke arah ruangan khusus untuk mengunjungi kemampuan seorang hunter. Udara didalam ruangan terasa dingin, volume melemaskan lehernya, dia tidak tau akan di uji dalam bidang apa kali ini.
"Tuan voltra, ada sensor dibawah kakimu. Ini adalah tes kecepatan seorang hunter, hanya perlu berlari untuk menekan Tomb diujung ruangan" ucap petugas menjelaskan.
"Maksudnya mu yang merah itu" ujar voltra melihat benda berwarna merah di ujung.
"Benar sekali" Jawab sang petugas.
"Kau tidak perlu memaksakan diri, bukannya aku sombong. Tapi, aku adalah hunter rank s tercepat di Indonesia" ucap Alina membanggakan diri.
"Yah itu bagus untuk naga betina" Balas voltra entah pujian atau ejekan.
"Berhentilah memanggil ku naga betina" Kesal Alina.
Hembusan nafas terdengar dari mulut voltra. Dia tidak yakin sekuat apa tubuh ini sekarang, ia juga tidak tahu batas kecepatannya saat ini. Energinya mana mengalir ke dalam kakinya, namun untuk beberapa alasan kondisi tubuhnya sangat baik hari ini.
Voltra melesat cepat membuat partikel debu terbang dibelakangnya dan menciptakan angin kencang. Alina dan seluruh petugas Asosiasi hunter terpaku melihat kecepatan itu, tangannya menyentuh tombol merah dengan pelan, voltra hanya berhati-hati agar tidak merusaknya seperti bola terakhir.
"Berapa kecepatan ku?" Tanya voltra.
"Skornya 1708, setara dengan nona Alina" Jawab petugas.
"Kurasa aku bisa lebih cepat lagi. Tapi naga betina biasanya akan marah jika pencapaian mereka terlewati, jadi kurasa sudah cukup" Batin voltra melirik Alina.
"Apa dia benar-benar seorang mage dengan kecepatan itu" Batin Alina heran.
Mata voltra menatap Alina baik-baik, dia bisa melihat potensi wanita itu bahkan belum maksimal. Tentu saja manusia tidak akan tahu batasan mereka sendiri seperti apa, tapi voltra bisa menyadari hal tersebut hanya sekali lihat.
"Kurasa itu sudah cukup" ucap voltra pada petugas.
"Baik, tes terakhir. Ini hanya sinilah virtual, akan ada monster yang tercipta di ruangan, anda hanya perlu menghancurkan monster itu" ujar petugas menjelaskan. "Staff kami akan memberikan senjata sesuai keinginan anda" Lanjutnya memberitahu.
"Tidak perlu, saat ini aku tidak ingin memakai apapun" Tolak volume malas. "Lakukan saja, aku ingin cepat pulang" Lanjutnya mengeluh..
Petugas hanya mengangguk lalu menekan tombol. Seekor monster kadal penyembur api muncul, meraung keras, meskipun begitu serangan tidur nyata karena ini hanyalah Virtual semata. Tubuh Virtual itu dilengkapi sensor serangan, ia akan menghitung jumlah kerusakan.
"Mainan yang bagus" ucap voltra melompat dan meninju.
Kadal virtual itu pecah berkeping-keping. Alina tercengang, apa-apaan itu. Mana nya melampaui batas seorang mage, kecepatan seperti swordman, sekarang kekuatan seorang tanker.
"ini tidak cukup untuk latihan" gumam voltra. "sekarang apa?" lanjutnya bertanya.
"ikuti aku" seru alina membimbing.
Mereka berjalan menuju ruang administrasi tingkat tinggi. Di sana, seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi dan itu adalah Ketua Asosiasi Hunter, sudah menunggu dengan wajah yang sulit diartikan. Ia menatap hasil tes Voltra yang tertulis 'ERROR/Rank S'.
"Jadi, ini pemuda yang merusak properti miliaran rupiah milik negara dalam waktu lima detik?" tanya sang Ketua sambil menatap Voltra tajam.
Voltra baru saja ingin membalas dengan kata-kata sombong, namun Alina menyikut rusuknya dengan keras. Voltra mendengus, namun ia melipat tangannya dan tetap diam.
"Diamlah sebentar jika kau ingin pajakmu benar-benar turun" bisik Alina tajam.
"Ketua, dia memiliki anomali mana yang belum pernah kita temui. Aku menjaminnya secara pribadi," ucap Alina tegas.
Sang Ketua menghela napas, lalu menyodorkan sebuah kartu emas gelap dengan ukiran naga, yang membuat Voltra sedikit tersenyum puas melihat logonya. Sedikit mengingatkan pada salah satu bawahan paling setia.
"Ini kartu lisensi Hunter Rank S milikmu. Dengan ini, kau bebas pajak untuk semua penukaran magic stone di bawah grade S, dan kau mendapatkan tunjangan bulanan sebesar 500 juta rupiah dari pemerintah" ujar Ketua asosiasi memberikan.
"500 juta? Per bulan? Hanya dengan memegang benda plastik ini?" Tanya voltra kagum dan tak percaya.
"Itu kecil dibanding tanggung jawabmu" sahut sang Ketua. "Tapi ada syaratnya. Karena kau Rank S baru, kau wajib ikut dalam ekspedisi 'Labyrinth of Death' di Kalimantan minggu depan bersama Alina. Kami butuh kekuatanmu untuk menekan angka kematian Hunter" Lanjutnya mengingat gate.
menimbang-nimbang. 500 juta cukup untuk membelikan Vanya istana kecil (atau setidaknya apartemen yang tidak bocor), stok ceker ayam pedas seumur hidup, dan mungkin sebuah televisi yang lebih besar agar ia bisa menonton sinetron dengan lebih megah.
"Baiklah, aku terima kesepakatan ini, Manusia Tua" ucap Voltra sambil mengambil kartu emas itu.
"jangan bertindak tidak sopan" Kesal Alina.
"seterah ku, aku hidup bebas" cuek voltra
********
sore harinya di apartemen Voltra pulang dengan langkah ringan. Ia mampir ke toko elektronik dan membeli TV layar lebar terbaru serta sekotak besar martabak manis paling mahal. Begitu pintu terbuka, ia melihat Vanya sedang sibuk dengan buku pelajarannya di meja makan yang sempit.
"Vanya! Lihat apa yang dibawa oleh Kakakmu yang Agung ini!" seru Voltra dengan nada sombong yang khas.
Vanya menoleh, matanya membelalak melihat TV besar dan bau harum martabak. Kebetulan juga setelah pulang sekolah ia sedikit lapar karena belajar dengan keras.
"Kak?! Dari mana kau dapat uang sebanyak itu?! Jangan bilang kau ikut hunter ilegal lagi?!" tanya vanya terkejut, dari kemarin voltra memiliki banyak uang.
Voltra dengan gaya dramatis mengeluarkan kartu emas Rank S-nya dan menjepitnya di antara dua jari. Meskipun masih dirahasiakan, kemunculan hunter rank s selalu dirahasiakan selama beberapa minggu agar tidak membuat keributan di publik.
"Ilegal? Itu untuk amatir. Kakakmu ini sekarang adalah aset negara. Mulai besok, kita pindah ke tempat yang lebih layak" ujar voltra tersenyum.
Vanya mengambil kartu itu, membacanya dengan teliti, lalu tiba-tiba wajahnya berubah gelap. Ia berdiri dan menjewer telinga Voltra dengan kekuatan penuh.
"ADUH! APA LAGI?! AKU SUDAH KAYA SEKARANG!" teriak Voltra kesakitan.
"Kaya kepalamu! Tadi ada surat dari sekolah! Kau lupa menjemputku dan malah pergi dengan mobil mewah bersama wanita cantik? Kau membiarkan adikmu jalan kaki pulang sekolah sementara kau asyik berkencan?!" Balas vanya mengingat.
"Itu bukan kencan! Itu urusan politik antar naga!"sangkal voltra. "Gadis bodoh seperti mu, mana tahu tentang hal itu" Lanjutnya tertawa.
"Bohong! Cuci piring sekarang! Aku tidak peduli kau Rank S atau Rank Dewa, di rumah ini kau tetap asisten rumah tanggaku!" Balas vanya menyuruh.
Voltra, sang Raja Naga yang sanggup menghancurkan dunia, hanya bisa menghela napas pasrah sambil berjalan menuju wastafel. Tangannya menyalakan keran air dan mulai mencuci piring.
"Sialan... kenapa naga betina di dunia ini semuanya sangat galak?" Gumam voltra merasa terhina.