Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.
Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puncak Awan Bergetar
Sinar matahari sore menembus celah-celah awan yang menyelimuti Puncak Awan Awan. Angin gunung berhembus membawa hawa dingin, menyapu dedaunan bambu yang gugur di halaman gubuk.
Jian Chen mendarat dengan ringan di atas sebidang tanah datar. Usai membuat gempar di pelataran Paviliun Kitab Suci, ia langsung kembali ke puncak terlarang ini tanpa hambatan. Tidak ada satu pun penjaga atau murid yang berani mengikutinya setelah melihat Token Emas Tetua Tertinggi mematahkan lutut Tetua Kuang.
Ia duduk bersila di atas sebuah batu pualam besar, memejamkan mata, dan menyelam ke dalam Lautan Kesadaran-nya.
Di dalam ruang batinnya yang tanpa batas, dua gulungan cahaya keemasan melayang terang. Itulah Langkah Bayangan Ilusi dan Seni Tebasan Kehancuran Bintang, dua mahakarya tingkat Bumi yang telah ia salin.
Mari kita mulai dari langkah kakinya, gumam Jian Chen dalam hati.
Di masa lalu, sebagai Kaisar Pedang, ia telah menembus misteri kehampaan. Langkah Bayangan Ilusi meminjam elemen bayangan untuk menipu mata musuh, tetapi itu terlalu kasar. Jian Chen mulai mempreteli untaian Qi dalam teknik itu, membuang bagian yang tidak berguna, dan menyatukannya dengan pemahamannya akan kehampaan.
Dalam waktu kurang dari waktu membakar sebatang dupa, teknik baru telah lahir: Langkah Hantu Kekosongan.
Jian Chen membuka matanya dan berdiri. Ia tidak mengalirkan Qi dalam jumlah besar, melainkan hanya seutas tenaga yang sangat tipis ke telapak kakinya.
Ia melangkah ke depan.
Dalam pandangan fana, tubuh Jian Chen tidak bergerak. Namun, sehelai daun bambu yang jatuh melewatinya tiba-tiba terbelah menjadi dua, seolah menembus udara kosong. Sedetik kemudian, bayangan tubuhnya perlahan memudar layaknya asap yang tertiup angin, sementara wujud aslinya telah berdiri tenang di dahan pohon bambu yang berjarak tiga puluh langkah dari tempat asalnya.
Tidak ada suara gesekan angin. Tidak ada debu yang terangkat. Semuanya terjadi dalam keheningan yang mematikan.
"Sempurna. Tanpa suara, tanpa jejak. Bahkan ahli Pembentukan Fondasi tidak akan bisa mengunci pergerakanku dengan mata fisik mereka," Jian Chen mengangguk puas.
Ia kemudian melompat turun dari dahan pohon, mendarat tanpa suara. Tangannya meraih gagang pedang di punggungnya.
Sring!
Pedang Penguasa Kosong dicabut. Bilah hitam pekatnya yang selebar telapak tangan pria dewasa memancarkan hawa dingin yang menekan jiwa. Pedang ini memiliki berat delapan ratus kilogram. Di tangan kultivator biasa, mengangkatnya saja sudah membuat tulang punggung remuk.
Namun, di tangan Jian Chen yang memiliki tenaga murni empat ribu empat ratus kilogram, pedang ini terasa sangat pas.
Ia menggenggam gagang pedang dengan kedua tangannya. Matanya berubah tajam bagai rajawali yang mengunci mangsa. Urat-urat menonjol di lengan dan lehernya layaknya akar pohon beringin kuno, menyalurkan tenaga fisiknya yang mengerikan hingga ke ujung bilah pedang.
Bersamaan dengan itu, pusaran di Dantiannya berputar liar. Qi Tingkat Tujuh meledak dan mengalir membanjiri meridiannya, menyatu dengan kekuatan ototnya.
"Seni Tebasan Kehancuran Bintang!"
Jian Chen mengayunkan pedang hitam raksasa itu ke arah sebuah tebing batu giok setinggi sepuluh tombak di sisi timur halaman. Ia tidak menebas udara, ia memaksakan kehendaknya untuk menekan dan menghancurkan ruang di depannya!
Sebuah busur cahaya pedang berwarna kelam, setipis helaian rambut namun memancarkan niat penghancuran yang menentang surga, melesat keluar dari ujung pedang.
WUSSH!
Cahaya pedang itu tidak menghasilkan suara ledakan saat tercipta. Ia seolah menelan semua suara di sekitarnya.
Namun, ketika tebasan kelam itu menyentuh tebing batu giok yang sekeras besi...
BOOOOOOM!!!
Ledakan yang mengguncang langit dan bumi meletus!
Tebing setinggi sepuluh tombak itu tidak terbelah, melainkan meledak dari dalam ke luar! Pecahan batu seukuran kepalan tangan berhamburan ke segala arah bagai badai hujan meteor. Seluruh Puncak Awan Awan berguncang hebat layaknya dilanda gempa bumi yang dahsyat. Debu tebal membumbung menutupi matahari sore.
Dari dalam gubuk utama di puncak gunung, sosok Feng Wuya terbang keluar dengan wajah pucat pasi. Labu araknya nyaris terjatuh dari tangannya.
"Bocah gila! Musuh mana yang menyerang gunungku?!" teriak Feng Wuya, janggutnya berdiri tegak karena terkejut.
Namun, ketika debu perlahan menipis, Feng Wuya tidak melihat musuh mana pun. Ia hanya melihat murid pribadinya berdiri membelakangi matahari terbenam, menyarungkan kembali pedang hitam raksasanya ke punggung dengan napas yang sedikit memburu.
Di hadapan pemuda itu, tebing batu giok yang telah berdiri selama ratusan tahun kini telah lenyap tanpa sisa, digantikan oleh sebuah kawah raksasa yang masih mengepulkan asap kelam.
Mata Feng Wuya melotot hampir lepas dari rongganya. Ia segera mengenali sisa-sisa pola tebasan di kawah itu. Mulutnya terbuka dan tertutup beberapa kali sebelum akhirnya bisa mengeluarkan suara.
"Itu... itu adalah Seni Tebasan Kehancuran Bintang! Teknik cacat dari lantai lima yang hampir membunuh Tetua Ketiga lima puluh tahun lalu karena beban balik gayanya meremukkan organ dalamnya!" Feng Wuya menunjuk Jian Chen dengan jari gemetar. "K-Kau baru saja pergi ke Paviliun Kitab Suci setengah hari yang lalu! Bagaimana kau bisa mempelajarinya, menyempurnakannya, dan menggunakannya tanpa muntah darah?!"
Jian Chen menoleh, menatap gurunya dengan pandangan datar. "Teknik itu tidak cacat, Guru. Hanya saja, para tetua di masa lalu terlalu lemah untuk menanggung bebannya. Fisik fana mereka tidak terbuat dari tempaan darah dan tulang yang benar."
Feng Wuya terdiam. Ia meneguk araknya dalam-dalam untuk menenangkan jantung tuanya yang berdebar kencang. Menguasai teknik tingkat Bumi dalam waktu setengah hari adalah keajaiban yang melanggar hukum langit. Bahkan para jenius di sekte besar ibu kota pun butuh waktu setidaknya tiga bulan untuk sekadar memahaminya!
Pria tua itu menghela napas panjang, menatap kawah yang masih berasap.
"Bocah, kekuatanmu saat ini terlalu buas. Jika kau terus berlatih membelah gunung di sini, Puncak Awan Awan ini akan rata dengan tanah sebelum Pertarungan Enam Sekte dimulai," Feng Wuya tersenyum kecut, namun matanya berkilat penuh rencana licik. "Lebih dari itu, menebas batu mati tidak akan mengasah insting membunuhmu. Pedangmu butuh minum darah."
Jian Chen mengangkat sebelah alisnya. "Apa Guru menyuruhku turun gunung dan membantai murid-murid pelataran dalam yang tidak tahu diri?"
"Jangan gila! Tetua Penegakan Hukum pasti akan memohon pada Kepala Akademi untuk memenggal kepalaku jika kau melakukannya," Feng Wuya mendengus kesal. Ia berjalan mendekat dan menepuk bahu Jian Chen.
"Dengarkan baik-baik. Jauh di bawah tanah Ibu Kota Kerajaan ini, terdapat sebuah kawasan yang tak tersentuh oleh cahaya matahari maupun hukum kerajaan. Tempat itu dikelola oleh jaringan persekutuan gelap dan para pembelot sekte. Namanya adalah Kota Dosa."
Feng Wuya menatap tajam ke mata muridnya. "Di pusat Kota Dosa itu, terdapat Arena Asura. Itu adalah arena pertarungan hidup dan mati. Tidak ada aturan. Tidak ada batasan usia. Binatang buas, kultivator liar, buronan berdarah dingin... semuanya bertarung di sana demi Batu Spiritual dan pil pusaka."
Mendengar kata "pertarungan hidup dan mati" dan "Batu Spiritual", mata Jian Chen yang hitam pekat memancarkan kilatan ketertarikan yang sangat kuat. Ia sangat membutuhkan darah dan musuh kuat untuk terus memberi makan teknik Melahap Surga-nya.
"Banyak kultivator jenius yang turun ke sana dengan sombong, hanya untuk kembali sebagai mayat tanpa kepala. Arena itu adalah ujian neraka yang sebenarnya," Feng Wuya tersenyum menyeringai. "Gunakan topeng, ubah namamu, dan turunlah ke sana. Jika kau bisa memenangkan seratus pertarungan beruntun dan mendapatkan gelar Raja Asura, tidak akan ada satu pun jenius di Pertarungan Enam Sekte yang mampu menahan tatapan matamu kelak."
"Arena Asura..." Jian Chen menggumamkan nama itu. Sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyuman dingin yang mengerikan.
Bagi orang lain, itu adalah ladang pembantaian dan kuburan yang menakutkan. Tapi bagi Kaisar Abadi yang pernah merangkak dari lautan mayat di alam dewa, itu hanyalah meja perjamuan yang telah disiapkan untuknya.
"Beri aku arah menuju gerbangnya, Guru," kata Jian Chen, mencengkeram erat gagang Pedang Penguasa Kosong di punggungnya. "Sudah lama pedangku tidak merasakan darah yang pantas."