Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rick Nolan
Di dalam kereta, Fred sudah bukan Fred.
Ia duduk tenang dengan punggung tegak, memandang jendela seperti orang yang punya tujuan jelas. Tapi di balik mata yang tampak santai, pikirannya mengulang kalimat-kalimat yang Mercer latihkan berhari-hari—bukan sekadar kalimat, melainkan ritme bicara, jeda, ekspresi wajah, bahkan cara menahan napas saat berbohong.
Mercer pernah bilang: di dunia ini, kebohongan yang paling meyakinkan adalah kebohongan yang kamu percaya duluan.
Dan Fred sudah memaksa dirinya percaya bahwa “Fred Tucker” kini terkubur di rumah ladang bersama bunyi monitor dan masa lalu. Yang duduk di kursi kereta ini adalah orang baru.
Rick Nolan.
Nama itu terasa asing di lidah, tapi Mercer sudah menempanya sampai terasa wajar. Mercer memberi KTP dan SIM baru—dokumen yang terlalu sempurna untuk ditanyakan asalnya. Fred tidak pernah bertanya “dari mana.” Ada hal-hal yang lebih aman untuk tidak diketahui.
Dan Mercer menegaskan satu hal sebelum Fred berangkat:
“Meskipun kafe itu milikku, tidak ada kolusi di dalamnya. Kamu tidak akan ‘dibantu’ masuk.”
Mercer menatap Fred waktu itu seperti hakim.
“Kalau kamu tidak dapat kontrak,” kata Mercer, “itu artinya kamu gagal. Artinya kamu tidak meyakinkan. Artinya kamu mati lebih cepat saat kamu mencoba lagi.”
Jadi Rick Nolan harus masuk dengan dirinya sendiri.
Penampilan sudah disusun seperti kostum yang harus pas, tidak boleh kebesaran, tidak boleh kekecilan.
Rambut rapi, tapi tidak terlalu rapi—rapi orang yang terbiasa bertemu orang penting, bukan rapi anak baik-baik yang baru potong rambut.
Setelan jas tidak mahal, tapi bermerek—cukup untuk terlihat “punya akses”, tidak cukup untuk terlihat “anak orang kaya.”
Kacamata hitam. Sebatang rokok. Bau aftershave tipis. Jam tangan sederhana.
Semua demi satu hal: percaya duluan.
Rick Nolan memandang pantulan dirinya di kaca jendela kereta. Wajahnya tampak lebih tajam dibanding empat tahun lalu. Tubuhnya atletis, bahu tegas. Mata lebih tenang. Dan kini, dengan setelan yang pas, ia bahkan terlihat… meyakinkan.
Namun, di bawah semua itu, ada satu rasa yang tidak bisa disamarkan: ketegangan.
Karena Rick Nolan akan masuk ke tempat yang menilai manusia bukan dari cerita hidupnya, tapi dari apakah ia berguna untuk membunuh.
Kereta berhenti. Pintu terbuka. London menyambut dengan udara dingin yang lebih menggigit daripada Prancis. Rick Nolan turun tanpa terburu-buru, berjalan seperti orang yang tidak takut.
Ia menuju kafe Mercer.
Bel pintu berbunyi ketika ia masuk.
Hangat kopi, aroma roti, dan musik pelan menyambut—semuanya normal, semuanya nyaman, semuanya palsu. Rick Nolan tidak menoleh kanan-kiri terlalu lama. Ia berjalan langsung ke bar, seperti orang yang sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Petugas bar bukan orang yang ia lihat sebelumnya. Wajah baru. Mata baru. Itu bagus. Artinya jaringan bergerak, dan orang lama tidak lagi bisa dipercaya.
Rick Nolan memesan minum dengan nada santai, lalu—sambil meletakkan uang—ia menyelipkan selembar kertas kecil di atas meja.
Di kertas itu hanya ada satu kata:
KURIR.
Petugas bar melihat sekilas, nyaris tidak bereaksi. Tapi mata orang itu berubah sepersekian detik—bukan terkejut, melainkan “mengerti.”
Ia mengambil kertas itu seperti mengambil struk, lalu menghilang ke belakang sebentar.
Minuman datang. Rick Nolan mengambil gelasnya, menyesap sekali, lalu berjalan ke meja dekat kaca—meja yang pernah diduduki Maëlle.
Ia duduk di posisi yang sama. Punggung dekat dinding. Pandangan bisa menangkap pintu masuk dan pantulan kaca.
Rick Nolan menghembuskan napas pelan.
Sekarang tunggu.
Tidak lama kemudian, pintu belakang terbuka.
Seorang wanita keluar.
Bukan wanita gemuk seperti sebelumnya. Wanita ini berbeda total—cantik, tubuh ramping, pinggangnya tegas, dan cara jalannya percaya diri seperti orang yang tahu ia selalu diperhatikan. Ia memakai apron tapi apron itu terlihat seperti aksesori mahal, bukan seragam kerja.
Wajahnya ramah, tapi—Rick Nolan langsung menangkapnya—ramah yang terkontrol. Senyum yang tidak berlebihan. Mata yang menilai.
Wanita itu duduk tepat di depan Rick Nolan, persis seperti adegan Maëlle dulu—hanya saja versi yang lebih halus, lebih modern, dan lebih berbahaya.
“Pernah jadi kurir sebelumnya?” tanya wanita itu, suaranya ringan.
Rick Nolan menahan diri agar tidak terlalu cepat menjawab.
“Pernah,” jawabnya akhirnya, datar.
Wanita itu mengangkat alis, seolah ingin detail. “Lewat penghubung?”
Rick Nolan menggeleng. “Langsung. Face to face.”
Kalimat itu sengaja.
Artinya: Rick Nolan bukan orang yang “dibesarkan” oleh organisasi ini. Bisa jadi amatir. Bisa jadi liar. Bisa jadi punya jalur sendiri.
Wanita itu menatapnya lebih lama, menimbang.
“Siapa penerimanya?” tanya si cantik, dengan nada seperti bertanya tentang paket.
Rick Nolan tahu maksudnya.
Korbannya.
Rick Nolan menatap gelasnya sebentar, lalu menjawab satu kata yang Mercer latih berkali-kali karena terdengar rendah, murah, dan tidak mengundang pertanyaan moral:
“Pecandu.”
Wanita itu mengangguk kecil, seolah itu jawaban yang nyaman. “Pernah dapat penerima yang jadi penyalur narkoba?”
Rick Nolan menggeleng. “Tidak.”
Wanita itu tidak tersenyum. Ia hanya mengeluarkan ponsel kecil—bukan ponsel biasa, lebih seperti perangkat—dan mencatat data Rick Nolan. Ia meminta dokumen identitas.
Rick Nolan menyerahkan KTP dan SIM palsu itu dengan gerakan tenang, seolah ia sudah melakukannya puluhan kali.
Wanita itu memeriksa cepat, lalu berdiri.
“Tunggu.”
Ia masuk ke belakang.
Rick Nolan menahan napas.
Sepuluh menit terasa seperti satu jam. Ia menahan diri untuk tidak memeriksa ruangan terlalu sering. Tidak menatap kamera. Tidak menatap orang-orang.
Ia hanya minum perlahan, menyalakan rokok, dan terlihat seperti pria yang sedang menunggu “kesempatan.”
Satu hal yang Mercer tekankan: orang yang terlihat terlalu butuh pekerjaan itu mencurigakan.
Rick Nolan harus terlihat seperti orang yang bisa pergi kapan saja.
Akhirnya wanita itu kembali, membawa sebuah map tipis.
Ia duduk lagi, meletakkan map di meja seperti meletakkan menu.
“Ini pengantaran mudah,” katanya, suaranya tetap ringan. “Untuk kurir tidak berpengalaman.”
Rick Nolan merasakan jantungnya melonjak—tapi wajahnya tetap tenang.
“Bayaran murah,” lanjut wanita itu, seolah menegaskan bahwa ini bukan kehormatan.
Rick Nolan mengangguk seperti tidak peduli soal uang.
Padahal di dalam dadanya, ada api kecil menyala: aku masuk.
Wanita itu mendorong map sedikit ke arah Rick Nolan.
“Ambil atau tinggalkan,” katanya.
Rick Nolan mengambil map itu tanpa terburu-buru, merasakan berat kertas di tangannya seperti berat pintu yang baru terbuka.
Ia menahan senyum.
Namun di dalam dirinya, rasa puas mengalir liar: pekerjaan pertama. Tanda pertama bahwa ia berhasil meyakinkan jaringan itu.
Rick Nolan menatap wanita cantik itu dan berkata dengan nada yang Mercer ajarkan—nada orang yang tidak terlalu ingin, tapi juga tidak menolak:
“Mana alamatnya?”
Wanita itu tersenyum tipis. “Di dalam.”
Rick Nolan mengangguk, berdiri, merapikan jasnya.
Di luar, London tampak sama seperti sebelumnya—orang berjalan, mobil lewat, langit kelabu.
Tapi bagi Rick Nolan, dunia barusan bergeser satu sentimeter lagi.
Ia sudah masuk ke dalam.
Dan sekarang… ia harus tetap hidup cukup lama untuk melihat siapa yang menarik tali.