"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Pengaruh Obat
Mobil Reno melaju cepat membelah jalanan malam dengan angin malam itu.
Napasnya masih memburu, rahangnya mengeras. Amarahnya belum sepenuhnya reda setelah kejadian di hotel.
Tangannya menggenggam setir kuat, "Fiona brengs*ek! wanita pelac*r!" gumamnya.
***
Masih di dalam kamar hotel yang sama, Fiona sudah meracau tidak jelas, bahkan ia sudah menjilat dan menyapu bibir bodyguardnya dengan penuh nafsu.
"Reno... tolong dinginkan aku... aku sudah... sudah tidak kuat lagi! akh!" Fiona menyerang laki-laki bertubuh besar itu.
"Nona Fiona jangan lakukan itu... saya... saya bukan Tuan Reno." bodyguard itu jelas menolak lalu mendorong tubuh Fiona. Ia melirik pada kedua temannya yang sama-sama bingungnya itu.
"Kamu bohong ya... aku pengen! hiks... aku sudah tidak tahan Reno! kamu... ganteng!" ucap Fiona frustasi sambil mengibaskan rambut panjangnya, "Panas, akh!" jeritnya.
"Tidak ada obat penyembuhnya selain melakukan hal itu, lakukanlah Tristan, biar aku dan Felix keluar dari sini. Kasihan Nona muda, dia bisa mat*i jika hasratnya tertahan." ucap Grow lalu menarik tangan Felix agar keluar dari kamar itu dan menunggunya di depan ruangan.
"Reno! panas! tolong aku!" ucap Fiona lagi. Bahkan ia sudah mendudukkan dirinya di pangkuan Tristan, bodyguard pribadinya.
Mau tak mau, akhirnya pertahanan Tristan luluh juga digoda manja seperti itu. Tristan juga takut jika Nona mudanya akan mengenaskan jika hasratnya tertahan. Bisa-bisa mat*i konyol.
Tristan langsung mengulum bibi mungil Fiona dan melum*atnya dengan lembut dan pelan. Tristan mulai melepas bajunya dan mulai menjelajahi tubuh seksi milik Fiona yang sudah terbuka setengah itu.
"Oh Sh*it!" Tristan mende*sah kenikmatan saat Fiona berhasil menjepit miliknya ke dalam intinya.
Tristan mengelap peluh Fiona, "Nona, kita main santai saja, tidak perlu terburu-buru." ucap Tristan dengan mata yang merem melek menahan kenikmatan yang tiada tara.
"Ougghh... akhh!! Reno... ini nikmat sekali!" jerit Fiona memanggil nama Reno dengan keadaan dibawah kendali obat set*annya.
Fiona bermain cukup lihai karena ia sudah terbiasa melakukannya dengan para mantan-mantannya. Dunia malam sudah khatam baginya, tidak perlu dicontohkan.
Hampir enam kali pelepasan, Fiona tumbang di pelukkan tubuh Tristan yang masih mengerang, mengeluarkan benih-benihnya ke dalam rahim Fiona.
"Owwhh... euummmhh!" desis Tristan lalu mencabut miliknya dari dalam inti Fiona yang sudah terasa sangat lebar dan bengkak membiru itu.
Tristan lelah, ia membaringkan diri di samping Fiona.
Terlihat Fiona juga sudah mulai memejamkan matanya karena kelelahan bermain dengan ritme buas dan hampir dua jam lamanya.
***
Keesokan harinya....
Fiona bangun lebih dulu, ia merasakan sangat sakit dan pening di kepalanya, "Kamu?! kenapa kamu?! bukan kah Reno yang sudah menggagahiku semalaman?!" teriak Fiona membuat Tristan yang sedang menikmati tidurnya itu seketika terbangun.
"Nona maafkan saya...." Tristan berusaha untuk bangun, "Tuan Reno kabur dan memaksa Anda untuk meminum minumannya. Anda dipengaruhi obat, jadi tidak ada cara lain untuk mengatasinya selain bermain denganku. Maafkan saya...."
Fiona mulai mencoba mengingatnya, "Baj*ingan!" Fiona murka, "Di mana Reno?!" tanyanya.
"Tuan Reno... sejak malam sudah pergi."
Fiona mendengus kesal. Ia sudah ke beberapa kalinya dibuat kesal oleh Reno.
"Pergi kamu!" jerit Fiona menendang tubuh gagah milik Tristan.
"Baik Nona." Tristan merapihkan rambutnya sesaat, lalu memakai bajunya dan keluar dari ruangannya.
"Kurang ajar kamu Reno!" Fiona mengacak rambutnya kasar. Gagal sudah rencana yang sudah ia susun rapih-rapih itu. Ternyata Reno juga pandai.
***
Di sisi lain, pagi-pagi Reno sudah berada di depan rumah Deana.
Deana sudah bersiap akan berangkat kerja, tapi Reno menahannya.
"Tuh kan Ibu bilang juga apa, pasti Nak Reno sebentar lagi datang." ujar Ibu Hesti yang memastikan perkataannya benar dengan kedatangan Reno yang membawa motor moge itu di halaman rumahnya.
Deana mendengus kesal, ia terlambat. Seharusnya ia lebih dulu pergi kerja agar Reno tidak menemuinya.
"Ibu, Reno izin membawa Deana pergi." ucap Reno lalu memandangi Deana.
"Ayo." ajaknya.
Deana menghela napasnya berat, "Ya." balasnya cuek.
"Iya, kalian hati-hati." ucap Ibu Hesti, "Nak Reno tidak mampir dulu? Mau ngeteh atau ngopi? Nanti Ibu buatkan." tawar Ibu Hesti.
Reno menoleh, ia menggeleng, "Tidak Bu, terima kasih. Reno buru-buru, pukul sepuluh, Reno harus sudah berangkat kerja." Reno tersenyum tipis lalu kembali datar.
"Saya juga kerja...." potong Deana.
"Saya sudah meminta izin pada Tresha, kamu bisa berangkat jam satu siang." balas Reno.
Deana mengernyit keheranan. Ia mendengus pelan, kenapa Reno selalu mengetahui kehidupannya.
"Tresha atasanmu, kan?" tebak Reno.
Ya, kemarin malam, Reno sudah menghubungi Jordi, meminta Jordi mengurusi pekerjaan Deana agar bekerja mulai di sip siang. Tentu saja dengan sedikit sogokan uang.
Deana tidak menjawabnya karena malas, lalu ia berbalik badan dan menaiki motornya.
Reno menahannya lalu mengambil kuncinya dan menyodorkannya pada Ibu Hesti, "Biar Deana pergi denganku."
Deana menahan napasnya, emosinya sudah diubun-ubun, tapi tetap ia tahan.
Ibu Hesti terkekeh, "Iya, kalian bersama saja, masa harus dua motor." komentarnya.
Akhirnya, Deana mengalah dan pergi berboncengan dengan Reno. Deana sangat menjaga jaraknya, begitu juga dengan Reno, Reno bahkan sudah memakai masker wajah dan helm full face agar semua orang tidak mengenalinya.
Selama di perjalanan, tidak ada obrolan apapun, hening. Hanya terdengar suara knalpot motornya yang besar itu.