Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.
Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.
Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.
Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dingin
Manusia adalah entitas yang cacat sekaligus mulia. Tubuhnya bisa bertahan dari berbagai kekurangan tetapi nalarnya tak pernah mengenal kata 'cukup'. Di dalam sanubari yang gelap itu, tidak ada saraf vagus yang berbisik "cukup." Yang ada hanyalah gema abadi dari sebuah pertanyaan yang terus menghantui: "Lalu apa selanjutnya?"
Gelap di langit Citywon mulai retak perlahan, memancarkan cahaya pertama yang pucat dan tanpa janji kehangatan. Sinar matahari pagi itu merambat dengan malas di atas atap-atap rumah yang masih membeku. Itu bukan hanya cahaya biasa; itu seperti hipokampus raksasa yang membangkitkan memori.
Setiap sudut kota yang disentuhnya seakan kembali diingatkan pada bentuk aslinya yang tersembunyi di bawah salju, pada janji hari ini yang mungkin tak akan pernah terpenuhi, pada sejarah kelam yang tertimbun di bawah lapisan putih yang rapuh.
Tok, Tok, Tok...
Suara ketukan di pintu kayu itu bagaikan seekor nyamuk yang terbang dengan mengganggu di dekat telinga—kecil, menyebalkan, dan tak henti-hentinya mengusik ketenangan.
"Hmm... Ya, siapa di luar?" gumam gadis itu dengan suara serak dan berat oleh sisa-sisa tidur yang masih membelenggu. Tubuhnya masih terbenam nyaman di dalam selimut wol yang hangat dan tebal, matanya tertutup rapat.
Tok, Tok, Tok...
Ketukan itu berlanjut dengan ritme yang sama persis. Merasa frustrasi oleh kejelasan ketukan itu, Eliana mengerang pelan panjang, lalu dengan keengganan yang luar biasa mendorong selimutnya ke samping. Tubuhnya yang masih kaku bangkit dengan postur membungkuk, dunia di sekelilingnya masih tampak kabur.
"Sudah kukatakan, siapa?" ucapnya lagi, kali ini lebih keras. Dia menghela napas panjang yang segera berubah menjadi kabut putih tebal di udara dingin kamarnya. "Kenapa semakin lama, dunia ini semakin kehilangan sopan santun?" gerutunya untuk diri sendiri sambil mengucek mata.
Dia menyusuri kamarnya yang sederhana namun rapi, kaki telanjangnya yang putih merasakan dengan jelas dinginnya lantai kayu yang menusuk hingga ke tulang. Saat sampai di depan pintu, dia menariknya dengan kasar, siap memarahi siapa pun yang berani mengganggu tidurnya.
Di depannya, lorong kosong melompong. Hanya bayangan panjang yang terbentuk dari sinar matahari pagi dari jendela di ujung koridor yang terbentang di lantai kayu.
"Huh? Apa-apaan sih?"
Perasaan campur aduk antara kesal dan bingung langsung menyergapnya. Dia menoleh dengan cepat ke kiri dan kanan, namun tak melihat siapa-siapa. Barulah kemudian pandangannya jatuh ke lantai, tepat di depan ambang pintu tempatnya berdiri. Di sana, tergeletak selembar kertas putih yang dilipat menjadi persegi kecil.
"Surat?" bisiknya pelan. Dia lalu berlutut di lantai dingin untuk mengambilnya. "Apa ini surat cinta dari seseorang yang diam-diam mengagumiku? Kuharap ini dari Master kalau memang begitu."
Rasa penasarannya yang membara mengalahkan kewajaran untuk masuk ke dalam kamar dulu dan membaca di tempat yang lebih hangat. Berdiri di ambang pintu dengan kedinginan yang mulai merayap naik dari lantai ke betisnya, dia membuka lipatan kertas itu dengan hati-hati. Matanya yang merah delima menyapu cepat tulisan di dalamnya.
Dan tubuhnya langsung membeku.
"I-ini...?" Tangannya yang tadinya tenang kini bergetar hingga kertas itu ikut berdesah gemetar.
Isinya singkat:
Kuharap kau baik-baik saja, Eliana. Sekarang, datanglah ke losmen saat pertama kali ingatanku terbuka. Sendiri.
Tidak ada tanda tangan di bagian bawah. Tidak perlu. Jantung Eliana berdebar begitu kencang hingga hampir melompat keluar dari rongga dadanya. Itu dari dia. Orang yang dia puja setinggi langit. Orang yang telah lama menghilang dari hidupnya.
"Master..." bisiknya. Sudut bibirnya perlahan terangkat. "Akhirnya... setelah sekian lama, kau memanggilku lagi."
...****************...
Kota yang dijuluki 'Kota Kemenangan' itu perlahan-lahan diserbu oleh sinar matahari yang semakin meninggi. Dan seperti ritual yang tak terelakkan dalam siklus kehidupan, manusia-manusia di dalamnya bangkit dari peristirahatan malam mereka.
Mereka bersiap-siap untuk hari yang baru. Dan kemudian mereka beraksi, mengalir ke jalanan seperti sungai yang mulai mencair setelah musim dingin yang panjang.
Pasar-pasar kembali dipenuhi oleh lautan manusia yang bergerak. Tubuh-tubuh berdesakan tanpa ampun, bahu saling bersenggolan dengan keras, napas membentuk awan-awan uap putih yang saling bertabrakan dan bercampur di atas keramaian.
Inilah manusia: makhluk yang tak bisa hidup sendiri. Di sana, para pedagang yang mungkin lebih miskin dari pembelinya berteriak sekeras-kerasnya menawarkan barang dagangan. Mereka tetap dibutuhkan. Dan di situlah letak daya tarik manusia yang sesungguhnya: dalam ketergantungan yang saling menguntungkan dan sekaligus saling menindas dalam satu tarikan napas yang sama.
Di tengah keriuhan pasar, Eliana berjalan dengan santai. Rambut hitamnya yang lurus dan panjang terurai bebas tanpa diikat hingga menyentuh punggungnya, bergerak-gerak lembut tertiup angin pagi.
"Losmen waktu itu, ya... tempat pertama kali aku bertemu Master setelah dia menghilang," gumamnya pelan, senyum itu masih setia tak lepas dari bibirnya.
Terlalu larut dalam imajinasinya sendiri, dia baru tersadar sepenuhnya saat kakinya yang bergerak otomatis sudah membawanya ke ujung jalan yang sepi, jauh dari keramaian. Di depannya, berdiri losmen yang kini terabaikan dan tak terurus. Kayu-kayunya yang lapuk dan menghitam, jendela-jendelanya yang pecah dan gelap, menatapnya kembali dengan sorot mata kosong yang mengerikan.
Dia menatap bangunan itu lama, dan perasaan aneh yang sulit dijelaskan merayap naik di dadanya. Bahagia, karena ini adalah tempat yang dipilih Master untuk bertemu. Khawatir, karena tempat ini membawa aura suram.
Dan saat pikirannya tenggelam dalam kontemplasi antara dua perasaan yang bertolak belakang itu, sebuah sentuhan tiba-tiba terasa di bahunya.
Sentuhan itu menyadarkannya dengan begitu keras. Dunia imajinasinya runtuh seketika, digantikan oleh realitas pagi yang dingin dan menusuk. Perlahan, dengan jantung yang tiba-tiba berdetak lebih kencang dari sebelumnya, dia berbalik.
Dan di sana, berdiri tegak di hadapannya.
Tuannya. Orang yang dia puja. Iago.
Namun, wajah yang dia lihat di depannya kini bukanlah wajah yang dia ingat dari tiga tahun lalu. Wajah di depannya sekarang adalah topeng kelelahan yang memprihatinkan.
Lingkaran hitam yang mengukir kantung di bawah matanya, kelopak matanya yang terlihat berat dan setengah tertutup.
"Master?" Tangannya secara refleks hampir terangkat, ingin menyentuh, tapi dia menahannya. "Apa... apa yang terjadi dengan Anda?"
"Aku sudah mendengar semuanya dari Otto." Suara Iago memotong kekhawatirannya. "Sekarang beritahu aku. Di mana Eldric dan anggota lainnya bersembunyi?"
"Mereka..." Eliana menelan ludah. "Mereka saat ini sedang berada di Gunung Penyihir, Master."
"Begitu," gumam Iago. "Aku punya tugas untukmu, Eliana."
"Tugas?" ulang Eliana. "Silakan beritahu saya, Master. Saya akan berusaha yang terbaik."
"Aku ingin kau mencari Sang Bayangan. Pencuri legenda itu."
Suasana tiba-tiba hening sejenak. Mulut Eliana ternganga dan matanya membelalak menatap Iago.
"Mencari Sang Bayangan?!" serunya akhirnya dengan suara lebih nyaring dari yang dia rencanakan.
"Ya. Atau tepatnya, seorang pria tua yang mungkin adalah dia. Ciri-cirinya memakai mantel abu-abu lusuh dan tas perjalanan besar."
"Tunggu, tunggu sebentar, Master." Eliana mengangkat kedua tangannya. "Anda bilang dia memakai mantel abu-abu lusuh... dan juga membawa tas perjalanan kulit yang besar?"
"Tepat."
Jawaban singkat Iago itu seperti kunci ajaib yang membuka peti kenangan terkunci di kepalanya. Sebuah bayangan kabur muncul di pelupuk matanya, semakin lama semakin jelas. Wajah seorang pria tua dengan senyumnya, yang dulu mengaku bernama Synel.
"Sepertinya... aku pernah bertemu dan berpapasan dengannya, Master."
"Kapan tepatnya? Di mana?"
"Itu..." Eliana memicingkan matanya dengan kuat. "Kalau tak salah ingat, sekitar dua minggu yang lalu, saat aku bersama Otto. Di pasar dekat perbatasan timur kota, tempat para pedagang dari berbagai wilayah berkumpul."
"Bagus." Iago mengangguk singkat. "Temukan dia lagi. Itu adalah prioritas utamamu saat ini. Jangan gagal."
"Ba-baiklah, Master. Aku akan berusaha." Tapi kemudian Eliana ragu, matanya yang merah menatap Iago yang tiba-tiba berbalik, bersiap untuk pergi meninggalkannya. "Anda mau ke mana, Master? Apa Anda tidak ikut mencari bersama? Mungkin bisa lebih cepat."
"Aku tak bisa mengerti tujuan sebenarnya dari Sang Bayangan," jawab Iago, tanpa menoleh sedikit pun. "Aku harus menghilang sepenuhnya untuk sementara waktu. Mengamati dari kejauhan."
Tepat setelah kata-kata terakhir itu terucap, dia melangkah lagi, meninggalkan Eliana yang berdiri terpaku di tempatnya. Kaki-kakinya seakan-akan tiba-tiba tertanam dan membeku di atas salju tebal. Gadis itu tidak pernah menyangka, bahwa pertemuan yang dia nanti-nantikan ini akan berlangsung begitu... transaksional.
"Master..." Suaranya keluar sangat pelan, namun entah bagaimana berhasil menghentikan langkah Iago yang baru beberapa meter di depannya.
Iago berhenti. Namun dia tetap tidak menoleh.
"Apa... apa hanya itu yang ingin Master katakan padaku, setelah sekian lama kita tidak bertemu?" tanya Eliana dengan suara mulai bergetar. "Aku pikir... Anda akan berbicara tentang hal lain."
Iago tetap diam membatu, punggungnya tegak. Hanya bahunya yang tampak sedikit menegang.
"Aku pikir..." lanjut Eliana, suaranya semakin kecil. Air mata tanpa dia sadari mulai menggenang di sudut matanya. "Aku akan mendapatkan... setitik saja kehangatan darimu. Seperti si gadis berambut merah itu..."
"Eliana." Nama itu akhirnya diucapkan Iago. Masih dengan punggung menghadap, masih tanpa menoleh. "Jika kau benar-benar menyukaiku, maka buktikan dengan melaksanakan tugasmu. Tanpa banyak bertanya. Tanpa mengeluh. Tanpa mengharapkan imbalan perasaan apa pun."
Kata-kata itu menghujam seperti pisau yang diputar perlahan di dalam luka yang sudah lama menganga. Mereka menusuk tepat di jantung semua harapan kecil Eliana yang selama ini dia pelihara.
Mata Eliana membelalak lebar, air matanya yang selama ini tertahan dengan susah payah akhirnya meluber, mengalir membasahi pipinya yang pucat. Mulutnya terbuka sedikit, bergetar hebat, mencoba membentuk kata-kata tapi tak ada suara yang mampu keluar.
Kemudian Iago melanjutkan, "Apa kau tahu seberapa menjengkelkan dirimu saat kau bersikap seperti ini, Eliana? Haruskah aku menarik kembali tugas ini dan menyerahkannya pada Otto saja?"
"Ti-tidak!" teriak Eliana dengan suara yang pecah. Dia segera merangkul tubuhnya sendiri dengan erat. "A-aku... Aku akan segera melakukannya, Master! Tolong, maafkan aku... Aku hanya... terbawa perasaan. Aku salah. Sangat salah. Aku akan fokus penuh pada misi."
"Ya, fokuslah pada misimu," potong Iago. "Dan ingat ini baik-baik, Eliana: jika suatu saat kau berani mengancam atau menyakiti kakak beradik itu lagi, kau bisa menganggap bahwa hidupmu sudah berakhir."
Dengan ancaman terakhir yang menggantung berat di udara yang tiba-tiba terasa jauh lebih beku dari sebelumnya, Iago kembali melanjutkan langkahnya. Kali ini, tanpa henti lagi.
Eliana berdiri sendirian, terpaku. Lututnya yang lemah tertekuk, dan dia terjatuh berlutut di atas salju yang dingin dan basah. Tangannya yang gemetar menopang tubuhnya yang limbung, nyaris ambruk. Air matanya yang tadinya hanya mengalir, kini semakin deras tak terbendung, jatuh berbutir-butir ke hamparan putih di bawahnya.
Sementara gadis itu kalah telak oleh lautan perasaannya sendiri yang bergelora, Iago terus berjalan menjauh. Langkahnya tetap terukur, stabil, tidak melambat walau sedikit pun, tidak pula mempercepat. Dia tidak menoleh ke belakang. Tidak berhenti. Tidak menunjukkan tanda-tanda keraguan.
Setelah jarak yang dirasa cukup aman, setelah melewati beberapa tikungan yang memutuskan garis pandang dan suara, barulah tubuh Iago menunjukkan sedikit reaksi. Tangannya yang selama ini tergenggam erat dan kaku di samping tubuh, perlahan terangkat. Telapak tangan kirinya yang pucat menutupi dahi dan matanya dengan keras.
Untuk sesaat yang terasa seperti selamanya, dia berdiri terpaku di tengah jalan kecil yang sepi dan tak banyak dilalui orang. Dunia di sekelilingnya seakan-akan kehilangan semua suaranya. Tidak ada kicau burung yang berani muncul di musim dingin, tidak ada gemericik salju yang jatuh dari atap, tidak ada teriakan pedagang dari kejauhan. Hanya keheningan total yang mencekik dan menyesakkan.
Lalu, di balik telapak tangannya yang menutupi wajah, sesuatu yang telah lama dipendam akhirnya terjadi. Rahangnya yang tegang mengeras semakin kuat. Dan meskipun dia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya, sebuah tetesan air mata merayap perlahan dari bawah telapak tangannya yang dingin, mengalir membasahi pipinya. Lalu diikuti oleh tetesan berikutnya. Dan berikutnya.
Dunia ini terlalu kejam. Di saat-saat seperti inilah, dia harus melukai seseorang yang sangat setia padanya, demi bisa melindungi orang lain yang telah dia lukai dengan kepergiannya yang tiba-tiba.
Dia menyadari: maju terus adalah satu-satunya pilihan yang tersisa. Meskipun setiap langkah yang dia ambil terasa seperti menginjak-injak pecahan kaca tajam dari hati orang-orang yang dia tinggalkan dan sakiti. Meskipun tidak ada jaminan sama sekali bahwa akan ada kemenangan.
Dan dalam kesepian yang paling dalam, di tengah jalan sepi Citywon dengan air mata di pipinya, sebuah kebenaran akhirnya mengkristal dengan keras di benaknya, tak terbantahkan dan abadi.
Manusia adalah makhluk yang terkutuk. Terkutuk oleh kapasitasnya yang besar untuk merasa, untuk peduli begitu dalam, dan untuk harus terus-menerus berada dalam posisi memilih mana yang harus dilukai demi menyelamatkan yang lain. Sebuah lingkaran setan tanpa akhir.