Apa yang kita rencanakan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Takdirkan yang akan membawa kita ke jalan yang sudah di gariskan.
Lidia tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah kejadian malam itu. Niat ingin membantu malah berakhir jadi hal buruk yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Mahkota yang ia jaga di renggut paksa oleh Panca suami sahabatnya sendiri. Semenjak itu ia tak bisa lepas dari jeratan Panca. Sekeras apapun ia menolak ia tak bisa mengelak akan pesona panca yang notabene adalah atasannya sendiri.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah sahabatnya akan mengetahui perbuatan buruknya dan bagaimana kisah anatara dirinya dan panca?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Lidia merasa lelah dengan kehidupannya saat ini. Beban bathin membuatnya terasa lebih berat. Kebohongan demi kebohongan untuk menutupi hubungan terlarang antara dirinya dan Panca, merupakan atasnya sekaligus suami sahabatnya.
Semenjak ia tau jika dirinya tidak lagi sendiri, Lidia selalu di bayangi bagaimana bencinya Wulan, sahabatnya tau jika dirinya adalah musang berbulu domba. Rasa bersalah itu makin memuncak dan terasa sangat menyakitkan.
"Aku ga boleh begini, aku harus bertindak sebelum semakin jauh. Aku ga mau jadi penghancur rumah tangga orang lain apalagi Wulan itu adalah teman yang sudah banyak membantu hidup aku."
Lidia bukan orang kaya, ia hanya gadis miskin yang beruntung karna punya teman yang baik. Teman yang tak pandang status dalam pertemanan dan membantu tanpa pamrih. Selalu ada saat di butuhkan.
"Kamu ga malu berteman dengan aku?" tanya Lidia saat mereka istirahat.
"Kenapa?" tanya Wulan singkat sambil terus memakan baksonya.
"Kamu kan tau sendiri, Wulan. Kamu itu orang kaya sedangkan aku orang miskin. Kayanya ga pantas kita berteman. Kalau kata orang zaman sekarang ga selevel." ungkap Lidia mengeluarkan unek - uneknya.
"Ga usah dengar kata orang, berteman itu bisa dengan siapa saja. Yang terpenting kita merasa nyaman, aku ga suka berteman dengan orang yang muna. Mau kaya atau miskin bagi aku sama saja."
Begitulah Wulan tak mau pusing dengan status sosial Lidia baginya berteman itu tergantung hati bukan status yang jadi patokan.
Merka sudah bersahabat sedari putih abu - abu hingga sekarang. Dan berita Wualn juga Lidia bisa bekerja di kantor Panca.
Lidia harus mengambil keputusan besar demi menyelamatkan rumah tangga sahabatnya. Ia harus segera mengakhiri semunya. Pergi jauh astaga jalan satu - satunya.
"Ya aku harus pergi yang jauh dimana tidak ada seorang pun yang tau. Aku ga mau mengecewakan sahabatku sendiri." Lidia mengemasi barang - barang nya. Tidak semua yang ia bawa, ia hanya membawa seperlunya saja.
Lidia sebenarnya tak punya tujuan yang jelas. Ia hanya berjalan .mengikuti kata hati. Di pandangi apartemen yang banyak meninggalkan kenangan. Ia sudah menemukan orang yang mau menyewa. Tadinya ia berniat menjualnya tapi belum ketemu harga yang cocok, jadi untuk sementara di seakan aja dulu.
Setelah mengurus semunya, Lidia perlahan mendorong kopernya menuju terminal.. Ia pergi tanpa ada yang mengetahuinya. Ponselnya sengaja di matikan agar tak ada yang menghubunginya.
"Selamat tinggal semunya." ucap Lidia sedih saat bus yang ia masuki mulai berjaln meninggalkan terminal. Tak terasa sudut matanya memanas. Buru - buru Lidia menghapus air matanya sambil berkata.
"Kamu harus kuat Lidia, ga boleh cengeng." Lidia mencoba mengsuges diri sendiri.
"Permisi, boleh saya duduk di sini?" seirang wanuta paruh baya meminta ijin duduk di bangku kosong sebelah Lidia.
"Silahkan bu." Lidia mengeset duduknya untuk memberi tempat pada ibu itu.
"Mau kemana nak?" tanya ibu itu.
"Belum tau."
"Kamu ga punya tujuan?"
"Ga." geleng Lidia.
"Sendiri?"
"Hmm...."angguk Lidia lagi. Keduanya sih ngobrol hingga tak terasa Lidia merasa nyaman berbincang dengan buk Sum nama wanita itu.
"Gimana kalau kamu ikut ibu aja?"
"Emang boleh, bu?" ada binar harapan di mata Lidia.
"Kalau kamu mau." Lidia akhinya menemukan tujuan, meski baru saling kenal tapi entah kenapa Lidia merasa bik Sum itu orangnya baik makanya ia mau menerima tawaran ini Sum. Sepanjang jalan mereka berdua asik ngobrol tentang banyak hal hingga sampai di tujuan.
...****************...
Assalamualaikum kk terimakasih supportnya dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 😘👍🙏
atau adit br dipindah ke kantor nya panca?
atau adit atau lidia ga pernah saling cerita mrk kerja dimana?