NovelToon NovelToon
Susahnya Jadi Mantan Pacar

Susahnya Jadi Mantan Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / CEO
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1

Novita Sari Anggraeni, gadis berusia dua puluh tujuh tahun, berdiri di depan gedung tinggi yang menjulang dengan arsitektur modern. Penampilannya rapi dan anggun. Rambutnya ditata sederhana, kemeja putihnya disetrika licin, dan rok hitam yang ia kenakan memberi kesan profesional. Di tangannya ia menggenggam map berisi berkas lamaran yang sudah ia siapkan sejak beberapa hari lalu.

Di hadapannya berdiri salah satu perusahaan besar yang namanya dikenal luas di Indonesia bahkan hingga luar negeri PT Kencana Samudra Jaya. Perusahaan itu memiliki berbagai produk, mulai dari makanan hingga minuman ringan yang hampir selalu ditemukan di setiap toko dan supermarket.

Novita menatap gedung itu dengan perasaan campur aduk antara gugup dan kagum.

"Kalau aku bisa bekerja di sini…" gumamnya pelan. "Gajinya pasti besar… karierku juga bisa bagus."

Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri, lalu melangkah menuju pos penjagaan di depan gerbang.

Seorang satpam menyapanya ramah. "Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa dibantu?"

"Pagi, Pak. Saya Novita Sari Anggraeni. Saya ada jadwal wawancara kerja hari ini," jawabnya sopan.

Satpam itu mengangguk sambil memeriksa daftar di tangannya. "Oh iya, Mbak Novita. Silakan masuk ke gedung utama. Bagian HRD ada di lantai tiga. Nanti akan diarahkan oleh resepsionis."

"Baik, Pak. Terima kasih."

Novita berjalan masuk dengan langkah yang sedikit tegang namun penuh harapan.

Begitu memasuki lobi, matanya langsung terpukau. Ruangan itu sangat luas dengan lantai marmer yang mengilap. Beberapa karyawan berlalu-lalang dengan pakaian rapi, sementara di sudut ruangan terdapat sofa empuk untuk tamu.

"Besar sekali…" bisiknya dalam hati.

Setelah melapor ke resepsionis, Novita diarahkan menuju ruang HRD. Tak lama kemudian, seorang wanita berusia sekitar empat puluhan menyambutnya dengan senyum profesional.

"Selamat pagi. Anda Novita Sari Anggraeni?" tanyanya.

"Iya, Bu."

"Saya Rika, dari bagian HRD. Silakan duduk."

Novita duduk dengan punggung tegak, berusaha menampilkan kesan percaya diri meskipun jantungnya berdetak cepat.

Bu Rika membuka map berisi berkas Novita, lalu mulai mengajukan beberapa pertanyaan.

"Baik, Novita. Saya ingin tahu, apa alasan Anda ingin bekerja di perusahaan kami?"

Novita sempat berpikir sejenak sebelum menjawab.

"Karena PT Kencana Samudra Jaya adalah perusahaan yang sangat berkembang, Bu. Produknya dikenal luas dan terus berinovasi. Saya ingin menjadi bagian dari perkembangan itu dan belajar sebanyak mungkin di bidang pemasaran."

Bu Rika mengangguk kecil.

"Lalu, apa pencapaian yang ingin Anda raih jika bekerja di sini?"

"Saya ingin berkembang menjadi tenaga pemasaran yang mampu membawa dampak nyata bagi perusahaan," jawab Novita mantap. "Bukan hanya sekadar bekerja, tetapi juga membantu memperluas pasar produk perusahaan."

Beberapa pertanyaan lain pun menyusul. Tentang pengalaman, cara menghadapi tekanan kerja, hingga bagaimana ia bekerja dalam tim.

Novita menjawab semuanya dengan tenang dan meyakinkan.

Setelah beberapa saat, Bu Rika menutup mapnya dan tersenyum.

"Jawaban Anda cukup baik, Novita. Saya suka sikap optimis Anda."

Novita menahan napas, menunggu kalimat berikutnya.

"Selamat. Kami memutuskan menerima Anda untuk bergabung di divisi pemasaran."

Mata Novita langsung membesar.

"S-serius, Bu?"

Bu Rika tertawa kecil. "Tentu saja. Anda bisa mulai bekerja minggu depan."

"Terima kasih banyak, Bu!" kata Novita dengan wajah berseri-seri.

Ia hampir tidak percaya dengan kabar baik itu.

Setelah semua proses selesai, Novita keluar dari gedung perusahaan dengan langkah ringan. Rasanya dunia tiba-tiba terlihat lebih cerah.

Sesampainya di kamar kost, ia langsung membuka lemari pakaian.

"Aku harus menyiapkan baju kerja yang paling rapi," katanya pada diri sendiri.

Ia memilih beberapa kemeja terbaiknya, menyetrikanya kembali, lalu menyiapkan tas kerja dan sepatu yang akan ia gunakan nanti.

Sore harinya, perasaan bahagia itu membuatnya ingin berbagi kabar dengan seseorang.

Ia mengambil ponsel dan menghubungi sahabat lamanya.

"Desi!" katanya begitu telepon diangkat. "Aku diterima kerja!"

"Hah? Serius?" suara Desi terdengar kaget sekaligus senang.

"Serius!"

"Wah, hebat kamu!"

Novita tertawa kecil. "Ayo kita rayakan. Makan mie ayam favorit kita."

"Aku mau! Tapi tunggu sebentar ya. Aku masih kerja di toko baju. Nanti setelah selesai aku langsung ke sana."

"Oke. Aku tunggu."

Novita segera bersiap. Ia mengambil jaket, lalu keluar dari kamar kostnya.

Motor matiknya melaju menyusuri jalanan sore yang mulai ramai. Tak lama kemudian, ia tiba di warung mie ayam langganan mereka sejak dulu.

Warung itu sederhana, tetapi selalu ramai.

Novita duduk di salah satu meja dan memesan minuman terlebih dahulu.

"Es teh manis satu, ya, Pak," katanya pada penjual.

"Baik, Mbak."

Sambil menunggu Desi, ia memperhatikan suasana di sekelilingnya.

Di meja sebelah, sebuah keluarga kecil sedang makan bersama. Ayah, ibu, dan seorang anak laki-laki yang tampak ceria.

Mereka tertawa sambil saling berbagi cerita.

Pemandangan sederhana itu entah kenapa membuat hati Novita terasa sedikit perih.

Ia teringat masa kecilnya.

Dulu, saat masih SD, ia juga sering makan bersama kedua orang tuanya.

Namun semuanya berubah ketika ia masuk SMA.

Ayahnya ketahuan berselingkuh.

Pertengkaran besar terjadi di rumah mereka, hingga akhirnya ibunya memutuskan untuk bercerai.

Sejak saat itu, kehidupan mereka tidak pernah sama lagi.

Ibunya berubah menjadi sosok yang mudah marah.

Kadang tanpa alasan jelas, ia melampiaskan kemarahannya kepada Novita.

"Semua ini gara-gara kamu!" teriak ibunya suatu malam.

Novita kecil hanya bisa menangis.

"Kalau saja dulu aku tidak hamil… hidupku tidak akan begini!"

Kata-kata itu masih terngiang di kepala Novita hingga sekarang.

Ibunya hamil saat masih sekolah SMA dan akhirnya menikah dengan ayahnya. Awalnya mereka saling mencintai, tetapi seiring waktu hubungan itu berubah menjadi kebencian.

Novita menarik napas pelan.

"Tidak ada cinta yang benar-benar tulus…" gumamnya dalam hati.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Ia cepat-cepat mengambil tisu dan menghapus air mata yang hampir jatuh.

"Hei!"

Suara ceria tiba-tiba terdengar di depannya.

Novita mendongak.

Desi sudah berdiri di sana sambil tersenyum lebar.

"Kamu sudah lama nunggu?" tanya Desi sambil duduk.

"Tidak kok. Baru saja," jawab Novita, mencoba kembali ceria.

Desi langsung mencondongkan badan dengan wajah penasaran.

"Serius deh, aku masih tidak percaya. Gimana kamu bisa diterima di perusahaan sebesar itu?"

Novita tersenyum tipis.

"Aku juga hampir tidak percaya."

"Jujur saja," kata Desi sambil menyipitkan mata. "Aku saja jangankan diterima… dipanggil wawancara saja tidak pernah."

Novita terdiam sejenak sebelum menjawab.

"Sebenarnya… aku dapat rekomendasi dari orang dalam."

Desi langsung membelalakkan mata.

"Hah? Orang dalam? Siapa?"

Novita hanya tersenyum misterius.

"Nanti aku ceritakan. Sekarang kita makan dulu. Aku lapar sekali."

Penjual mie ayam datang membawa dua mangkuk mie yang masih mengepul.

Aroma gurih langsung memenuhi meja mereka.

Desi tertawa kecil. "Baiklah. Tapi setelah makan kamu harus cerita semuanya."

Novita mengangguk sambil mengambil sumpit.

"Tenang saja," katanya ringan. "Cerita ini masih panjang."

1
Siti Nugraheni
seneng aja bacanya, kosakatanya rapi, alur ceritanya menarik buat dibaca, dan selalu bikin penasaran lanjutan ceritanya
gaby
Resign dong. Bukannya wkt itu Novita bikin beberapa surat lamaran. Masa iya satu pun ga ada yg manggil. Atau jgn2 othornya lupa sm jalan critanya. Gimana nasib surat lamaran itu smua
Black Rascall: mengingatkan saat itu belum ada 19 JT lapangan pekerjaan jadi susah nyari dan Novita bisa kerja berkat om Danu yang merekomendasikan Novita ke HRD jadi tunggu ya kak 19 JT lapangan pekerjaannya 🙏🙏🙏
total 1 replies
falea sezi
bos kurang ajar mundur aja resain
Black Rascall: tunggu 19 JT lapangan pekerjaan dulu kak baru resain
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending
Black Rascall: gak yakin karena baru pertama kali nulis genre seperti ini jadi mohon maklum
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!