NovelToon NovelToon
Legenda Api Yang Menghilang

Legenda Api Yang Menghilang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:625
Nilai: 5
Nama Author: Absonen

Di masa lalu, dunia pernah diselamatkan oleh para Grandmaster penyihir terkuat dari berbagai kerajaan yang menguasai elemen alam.
Di antara mereka, satu nama berdiri di puncak: Shiranui Akihara, Grandmaster Api dari Kerajaan Solvaria.
Setelah memimpin perang besar melawan pasukan iblis dan membawa kemenangan bagi umat manusia, ia tiba-tiba menghilang. Dunia percaya sang legenda telah gugur.
Namun kenyataannya, Akihara masih hidup.
Kini ia bersembunyi di sebuah desa terpencil, menjalani kehidupan damai sebagai orang biasa, berusaha meninggalkan masa lalu yang penuh perang dan kehilangan.
Tetapi kedamaian itu mulai runtuh ketika legenda tentang Neraka Iblis kembali muncul.
Raja Iblis Argiel Lucifer dikabarkan bangkit kembali, ditemani oleh sosok misterius bernama Railer Zernaldha.
Bersamaan dengan kebangkitan Tujuh Dosa Besar, dunia kembali berada di ambang kehancuran.
Kini Akihara harus memilih:
tetap hidup sebagai manusia biasa…
atau kembali menjadi legenda yang pernah menyelamatkan 🌏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Absonen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31 [Angin Yang Tidak Tenang]

Angin di utara… tidak pernah benar-benar diam.

Namun hari ini

Ia terasa berbeda.

Dingin.

Lebih tajam.

Dan… membawa sesuatu yang tidak seharusnya ada.

Salju tipis turun perlahan di atas benteng tinggi Kerajaan Velmora Zephyrian.

Langit pucat.

Tanah membeku.

Di tepi menara batu yang menjulang

Seorang gadis berdiri diam.

Rambutnya panjang, berwarna pucat seperti kabut musim dingin.

Matanya tenang.

Namun tidak kosong.

Kaelith Veyra

Angin berputar pelan di sekitarnya.

Seolah mendengarkan.

Seolah berbicara.

“…tidak stabil…”

bisiknya pelan.

Matanya mengarah jauh ke horizon.

Bukan ke salju.

Tapi ke sesuatu yang… tidak terlihat.

Beberapa jam sebelumnya

Alarm berbunyi di dalam kerajaan.

Bukan alarm perang besar.

Namun cukup untuk membuat penjaga bersiaga.

Makhluk muncul di batas wilayah.

Orc.

Goblin.

Namun…

Tidak seperti biasanya.

Gerakan mereka lambat.

Tidak menyerang secara terarah.

Tidak ada koordinasi.

Dan yang paling aneh

Tidak ada mana.

Kaelith berdiri di depan salah satu makhluk itu saat itu.

Tidak menyerang.

Hanya… mengamati.

Matanya menyipit.

“…kosong…”

Makhluk itu menyerang.

Namun gerakannya kaku.

Kaelith hanya mengangkat tangannya.

Angin berputar.

SHHHH-

Tubuh makhluk itu terpotong bersih.

Jatuh.

Namun saat ia mendekat

Tidak ada sisa mana.

Tidak ada inti.

Seperti…

Benda mati yang dipaksa bergerak.

“…ini bukan makhluk hidup…”

Kembali ke sekarang.

Angin semakin kencang.

Kaelith menutup matanya sebentar.

Dan merasakannya.

Jauh.

Sangat jauh.

Namun jelas.

Energi itu.

“…satu…”

Ia membuka mata.

“…tidak…”

Alisnya sedikit berkerut.

“…lebih dari satu…”

Langkah kaki terdengar dari belakang.

Seorang penjaga mendekat.

“Nona Kaelith.”

Ia berhenti beberapa langkah di belakang.

“Apakah Anda akan pergi?”

Kaelith tidak langsung menjawab.

Matanya masih ke depan.

Angin berputar di sekelilingnya.

“…aku harus memastikan sendiri.”

Penjaga itu menunduk.

“…sendirian?”

“…selalu begitu.”

Jawaban itu ringan.

Namun tidak dingin.

Penjaga itu terdiam.

Namun tidak berani menahan.

Karena ia tahu

Jika Grandmaster Angin memutuskan sesuatu…

Itu bukan tanpa alasan.

Kaelith berbalik.

Langkahnya ringan.

Namun pasti.

Saat ia berjalan melewati lorong istana

Pikirannya bergerak.

Semua Grandmaster…

Pasti merasakan ini.

Api.

Petir.

Air.

Batu.

Mereka akan bergerak.

Tanpa perlu dipanggil.

Menuju sumber yang sama.

Namu

Satu nama muncul.

Shiranui Akihara

Langkahnya melambat.

“…kalau dia masih hidup…”

Tatapannya sedikit turun.

“…dia pasti sudah di sana.”

Hening.

Kenangan muncul.

Api besar.

Langit merah.

Dan seseorang…

Berdiri di garis depan.

Tanpa mundur.

“…aku bahkan tidak sempat…”

Ia menutup matanya.

“…menyusul.”

Namun itu belum selesai.

Gambar lain muncul.

Seorang gadis.

Diam.

Namun air mata jatuh.

Liora Raizen

Kaelith membuka matanya.

“…dia yang paling terluka…”

Ia menghela napas pelan.

“…dan aku… tidak melakukan apa-apa.”

Langkahnya berhenti di gerbang utama.

Pintu besar terbuka.

Dan di sana

Seorang pria berdiri.

Berpakaian kerajaan.

Tatapan tenang.

Raja Velmora Zephyrian.

“Kau akan pergi lagi.”

Bukan pertanyaan.

Kaelith mengangguk pelan.

“…ini bukan patroli biasa.”

Raja itu menatapnya beberapa detik.

“…aku tahu.”

Hening.

Angin berhembus melewati mereka.

“Jangan mati.”

Sederhana.

Namun berat.

“Kerajaan ini masih membutuhkanmu.”

Kaelith menatapnya.

“…kalau aku tidak pergi…”

Ia menoleh ke arah horizon.

“…kita semua akan kehilangan lebih banyak.”

Tidak ada jawaban.

Raja itu hanya mengangguk pelan.

Dan memberi jalan.

Kaelith melangkah keluar.

Angin langsung menyambutnya.

Dan dalam satu langkah

Tubuhnya menghilang.

Seperti menyatu dengan udara.

Perjalanan dimulai.

Ia bergerak cepat.

Melewati salju.

Hutan.

Pegunungan.

Tidak berhenti.

Dan sepanjang perjalanan

Ia merasakan semuanya.

Sisa kehancuran.

Energi yang aneh.

Dan kekosongan.

“…ini menyebar…”

Matanya menyipit.

“…dan semakin dekat.”

Kerajaan Mushaf.

Atau yang tersisa.

Udara di sana… lebih berat.

Debu masih melayang.

Dan bau kehancuran… belum hilang.

Empat sosok berdiri di antara reruntuhan.

Shiranui Akihara

Liora Raizen

Galdros

Dan Zuwa.

Pertarungan telah selesai.

Namun bukan kemenangan.

Liora duduk pelan.

“…itu… cuma sisa…”

Galdros tertawa kecil.

“…kalau itu sisa…”

Ia melihat tangannya.

Masih bergetar.

“…aku tidak mau bayangkan yang aslinya.”

Zuwa diam.

Matanya tertuju pada Akihara.

“…Akira…”

Akihara tidak menoleh.

“…ya?”

“…kau… bukan orang biasa.”

Hening.

Liora menoleh cepat.

Namun Akihara hanya tersenyum tipis.

“…tidak ada yang biasa di sini.”

Zuwa tidak menjawab.

Namun matanya…

Masih memperhatikan.

Cara dia berdiri.

Cara dia bertarung tadi.

“…aneh…”

bisiknya pelan.

Liora berdiri.

“…kita tidak bisa diam di sini.”

Galdros mengangguk.

“…kalau ini menyebar…”

“…tempat lain pasti sudah kena.”

Akihara akhirnya berbicara.

“…arah barat.”

Liora menoleh.

“…Elf?”

Akihara mengangguk pelan.

“…kemungkinan besar.”

Hening.

Galdros menghela napas.

“…kalau begitu…”

“…kita harus bagi peran.”

Ia menatap reruntuhan.

“…aku tetap di sini.”

“…kalau ada yang tersisa… aku yang jaga.”

Liora mengangguk.

“…kami bergerak.”

Zuwa mencoba berdiri.

“…aku ikut-”

“tidak.”

Akihara memotong.

“…kau bertahan hidup dulu.”

Zuwa menggertakkan gigi.

Namun… tidak membantah.

Akihara mulai berjalan.

Liora menyusul.

Namun sebelum pergi

Zuwa berkata pelan:

“…aku pernah lihat orang sepertimu…”

Langkah Akihara berhenti sebentar.

“…jangan sampai kau juga… menghilang.”

Tidak ada jawaban.

Ia hanya melanjutkan langkah.

Langit mulai berubah.

Di utara

Angin bergerak.

Di selatan

Api berjalan.

Di tengah.

Petir menyambar.

Dan di barat

Sesuatu menunggu.

Tanpa mereka sadari

Semua langkah itu…

Menuju satu titik yang sama.

Dan saat mereka bertemu

Dunia ini…

Tidak akan pernah sama lagi.

1
ŇØŞŦŘΔĐΔΜỮŞ
flbck kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!