NovelToon NovelToon
Will You Marry Me

Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 10

Lokasi pembibitan itu terletak di pinggiran kota, sebuah hamparan hijau luas yang kontras dengan abu-abunya aspal Jakarta. Arlan berlari kegirangan di antara barisan polibag yang berisi bibit pohon ulin dan meranti, tangannya yang mungil sesekali menyentuh daun-daun muda dengan penuh rasa ingin tahu.

"Hati-hati, Lan, jangan ditarik ya," ujar Andi sambil berjongkok di samping putranya. Ia mengambil segenggam tanah humus yang gembur. "Lihat ini, dari tanah yang kecil ini nanti bisa tumbuh pohon yang tingginya sampai ke langit. Seperti gedung-gedung di kantor Bunda, tapi ini bernapas."

Arlan mendongak, matanya berbinar. "Pohonnya bernapas, Ayah?"

"Iya, mereka yang kasih kita udara segar supaya Arlan bisa lari-lari tanpa sesak," Andi menjelaskan dengan bahasa yang paling sederhana, lalu melirik Siska yang berdiri tak jauh dari mereka, sedang memperhatikan daftar inventaris bibit di tabletnya.

Siska menurunkan tabletnya, menghirup aroma tanah basah dan dedaunan yang menenangkan. "Tahu tidak, Ndi? Rasanya jauh lebih melegakan melihat angka-angka ini berubah jadi bibit nyata, daripada hanya melihatnya di laporan tahunan."

Andi berdiri, membersihkan sisa tanah di tangannya. "Ini yang tidak dipahami Pak Burhan dan yang lainnya. Mereka hanya melihat biaya per bibit, tapi mereka tidak melihat nilai dari setiap oksigen yang dihasilkan. Aku senang kamu tetap keras kepala di rapat tadi."

Siska berjalan mendekat, menyampirkan rambutnya yang tertiup angin ke belakang telinga. "Kadang keras kepala itu perlu, apalagi kalau tujuannya untuk sesuatu yang akan dinikmati Arlan tiga puluh tahun lagi. Aku tidak mau dia hanya mewarisi tumpukan saham, tapi dia tidak punya bumi yang sehat untuk dipijak."

Tiba-tiba, Arlan menarik ujung celana Andi. "Ayah, Arlan mau tanam satu! Boleh?"

Andi menatap Siska, meminta persetujuan. Siska mengangguk sambil tersenyum hangat. Mereka bertiga kemudian berjalan ke sebuah sudut area tanam yang memang disediakan untuk edukasi. Dengan bantuan tangan Andi yang besar dan bimbingan lembut Siska, Arlan memasukkan sebuah bibit kecil ke dalam lubang tanah yang sudah disiapkan.

"Nah, sekarang ini pohon milik Arlan," kata Siska sambil membantu putranya menepuk-nepuk tanah di sekitar bibit. "Setiap kali Arlan ke sini, Arlan harus lihat perkembangannya, ya?"

"Iya, Bunda! Arlan kasih nama... Jaka!" seru anak itu riang, memberikan nama yang entah dari mana asalnya.

Tawa Andi dan Siska pecah di tengah keheningan sore itu. Di tempat ini, gelar CEO dan Arsitek Kepala benar-benar luntur. Mereka hanyalah sepasang orang tua yang sedang menanamkan nilai paling dasar pada anak mereka: rasa hormat pada kehidupan.

"Ndi," panggil Siska pelan saat mereka berjalan kembali menuju mobil, sementara Arlan sudah digendong oleh Andi karena mulai mengantuk.

"Ya?"

"Aku baru sadar, jembatan yang kita bangun ini ternyata tidak punya ujung. Kita akan terus membangunnya, dari satu generasi ke generasi berikutnya."

Andi merangkul bahu Siska, menariknya mendekat. "Dan itu tidak masalah, Sis. Selama kita tidak berjalan sendirian, jembatan sepanjang apa pun tidak akan terasa melelahkan."

Matahari terbenam di ufuk barat, membiaskan warna ungu dan jingga yang indah di atas persemaian bibit itu. Sebuah awal baru telah ditanam, bukan di atas kertas kontrak, melainkan langsung di jantung bumi.

"Jaka," Andi menggumamkan nama itu sambil menatap bibit yang baru saja tertanam. "Nama yang bagus, Lan. Kuat dan sangat Indonesia."

Siska merapikan ujung blazer birunya yang sedikit terkena tanah, namun ia sama sekali tidak tampak keberatan. Ia justru merasa lebih terhubung dengan realitas dibandingkan saat duduk di kursi kulit ruang rapatnya. "Aku akan meminta tim dokumentasi untuk memotret koordinat pohon ini. Biar Arlan punya catatan digitalnya saat dia besar nanti."

Andi berjalan di samping Siska, membiarkan Arlan yang sudah terkantuk-kantuk menyandarkan kepalanya di lehernya. "Kamu tahu, Sis? Tadi di rapat, Ayahmu tidak hanya setuju karena argumenmu soal masa depan. Dia setuju karena dia melihat tatapan matamu."

Siska mengangkat alis. "Tatapan mataku?"

"Iya. Tatapan yang sama seperti saat kamu menolak dijodohkan dengan Mahesa. Tatapan seseorang yang sudah tidak bisa lagi didekte oleh ketakutan akan kehilangan harta," Andi tersenyum tipis. "Ayahmu sebenarnya bangga, meski gengsinya setinggi gedung pusat kita."

Siska tertawa pelan, suaranya berbaur dengan desau angin di antara ribuan bibit pohon. "Mungkin. Tapi bagiku, persetujuan itu adalah pintu masuk ke beban kerja yang jauh lebih besar. Proyek Kota Hutan ini akan diawasi oleh banyak pihak, Ndi. Salah langkah sedikit saja, kompetitor akan menyebut ini sebagai greenwashing atau sekadar proyek pencitraan."

"Makanya kita tidak akan melakukannya setengah-setengah," sahut Andi mantap. "Minggu depan aku harus terbang lagi ke lokasi. Mahesa sudah mengirim koordinat baru untuk pusat persemaian di sana. Dia ingin sistem AI-nya memantau kesehatan setiap pohon secara real-time."

Siska terhenti sejenak, menatap suaminya dengan saksama. "Kamu baru pulang dua hari, Ndi. Arlan pasti akan merindukan 'insinyur kepalanya'."

Andi menghela napas, menatap wajah putranya yang sudah terlelap dalam gendongannya. "Itulah harga yang harus kita bayar untuk membangun warisan, kan? Tapi kali ini beda, Sis. Aku pergi bukan untuk membangun monumen ego, tapi untuk memastikan Arlan punya dunia yang lebih hijau."

Siska meraih tangan Andi, meremasnya lembut. "Bawa aku dan Arlan bulan depan kalau kamp di sana sudah lebih stabil. Aku ingin Arlan melihat 'Jaka' versi besar di hutan yang sebenarnya."

Andi mengangguk, lalu mengecup kening Siska. "Janji. Kita akan menunjukkan padanya bahwa jembatan yang kita bangun kali ini benar-benar menghubungkan kita dengan alam."

Mereka sampai di mobil, perlahan meletakkan Arlan di kursi anak. Saat mobil mulai meluncur meninggalkan area pembibitan, Siska melihat kembali ke arah hamparan hijau yang mulai memudar ditelan senja. Ia tahu, di antara ribuan bibit itu, ada satu yang akan tumbuh bersama anaknya—sebuah simbol bahwa cinta mereka tidak hanya berhenti pada kata-kata, tapi tumbuh mengakar di bumi yang mereka perjuangkan bersama.

"Jadi," Andi memecah keheningan saat mereka memasuki jalan raya. "Setelah ini, apakah sang CEO ingin makan malam romantis di rumah, atau kita pesan martabak kesukaanmu sambil menonton film kartun bersama Arlan yang pasti akan bangun saat mencium bau makanan?"

Siska tertawa, rasa lelahnya menguap. "Martabak kedengarannya jauh lebih mewah daripada makan malam di hotel bintang lima manapun saat ini."

Seminggu kemudian, deru mesin pesawat kecil yang membawa Andi mendarat di landasan tanah merah di jantung Kalimantan. Udara panas dan lembap langsung menyergapnya begitu ia melangkah turun, namun aroma tanah basah dan hutan primer yang pekat memberikan energi yang tak ia temukan di Jakarta.

Mahesa sudah menunggu di pinggir landasan dengan mobil kabin ganda yang penuh percikan lumpur. Penampilannya benar-benar kontras dengan Mahesa yang dulu; kini ia mengenakan rompi teknisi dan memegang tablet yang layarnya penuh dengan barisan kode dan peta topografi.

"Selamat datang kembali di realitas, Andi," sapa Mahesa sambil menjabat tangan Andi kuat-kuat.

"Bagaimana progresnya? Siska terus menanyakan laporan mingguanmu," ujar Andi sambil melempar tasnya ke kursi belakang.

Mahesa menghidupkan mesin, lalu mengarahkan mobil masuk lebih dalam ke area proyek Kota Hutan. "Sistem sensor AI sudah terpasang di Zona A. Tapi kita punya masalah kecil. Beberapa sensor kelembapan di area rawa mengirimkan data yang tidak konsisten. Aku curiga ada interferensi dari satwa liar atau memang kalibrasinya yang terganggu oleh cuaca ekstrem kemarin."

Mereka sampai di pusat kendali sementara—sebuah kontainer yang diubah menjadi ruang kerja canggih dengan deretan monitor. Mahesa menunjukkan titik-titik merah di layar.

"Lihat ini. Seharusnya area ini stabil, tapi datanya melompat-lompat. Jika kita salah membaca data, sistem pengairan otomatis akan membanjiri bibit yang baru ditanam, atau justru membiarkannya kering," jelas Mahesa serius.

Andi mendekat, meneliti grafik tersebut. "Bukan kalibrasi, Mahesa. Lihat pola frekuensinya. Ini getaran fisik. Ada sesuatu yang menyentuh perangkat kerasnya secara berkala."

"Maksudmu?"

"Mari kita periksa langsung ke lokasi. Ambil perlengkapanmu."

Mereka berjalan kaki menembus rimbunnya hutan menuju titik sensor 07. Di sana, mereka menemukan jawabannya. Sebuah keluarga orang utan sedang bermain di dekat tiang sensor, dan salah satu anak orang utan tampak sangat tertarik dengan kabel pelindung yang terbuat dari bahan daur ulang yang mengkilap.

Mahesa tertegun, lalu tertawa pelan sambil menggelengkan kepala. "Ternyata musuh terbesar AI-ku bukan bug perangkat lunak, tapi rasa penasaran penduduk asli hutan ini."

Andi tersenyum, memperhatikan interaksi primata itu dari jarak aman. "Itu artinya proyek kita berhasil, Mahesa. Mereka tidak merasa terancam dengan keberadaan alat kita. Tapi kita harus mendesain ulang pelindung sensornya agar tidak menarik perhatian mereka."

Mahesa mencatat sesuatu di tabletnya. "Aku akan meminta tim desain untuk menggunakan material yang lebih menyatu dengan warna kulit pohon. Kita harus beradaptasi dengan mereka, bukan sebaliknya."

Sore itu, mereka duduk di depan kontainer sambil memandang hamparan hutan yang mulai tertutup kabut. Andi mengeluarkan ponselnya, melihat foto Siska dan Arlan yang baru saja dikirimkan istrinya lewat pesan singkat.

"Siska menitipkan pesan," ujar Andi. "Dia bilang, jangan hanya fokus pada teknologi. Pastikan 'nyawa' dari proyek ini tetap terjaga. Dia ingin membawa Arlan ke sini bulan depan."

Mahesa menatap horizon yang luas. "Dulu aku berpikir kesuksesan adalah saat namaku terpampang di puncak gedung tertinggi. Sekarang, melihat sensor itu bekerja dan melihat keluarga orang utan tadi tetap punya rumah... rasanya jauh lebih membanggakan."

Andi menepuk bahu Mahesa. "Kamu sudah belajar banyak, Ma. Siska benar, kamu memang punya potensi kalau mau berusaha sendiri."

Malam turun di belantara Borneo. Di tengah suara serangga hutan yang bersahut-sahutan, kedua pria yang dulunya adalah rival itu kini bekerja berdampingan—membangun sebuah masa depan di mana teknologi tidak lagi merusak alam, melainkan menjadi penjaganya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!