NovelToon NovelToon
Pucuk Indah Harapan

Pucuk Indah Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Karir
Popularitas:853
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belajar Memanggil Nama

Sinar matahari pagi menyusup melalui celah gorden, menyinari sisa-sisa kelopak mawar yang kini telah layu dan tersebar tak beraturan di atas seprai sutra. Nara terbangun dengan rasa hangat yang asing di pinggangnya. Saat ia mencoba berbalik, ia menyadari bahwa lengan kokoh Arga melingkar di sana, menahannya dalam posisi yang sangat intim.

Nara menahan napas, takut gerakan sekecil apa pun akan membangunkan pria yang masih terlelap di sampingnya itu. Namun, memori tentang pembicaraan semalam—tentang Rio dan "revisi kontrak"—kembali berputar di kepalanya.

"Sudah bangun?" suara serak khas orang bangun tidur itu menggetarkan bantal.

Nara tersentak kecil. Arga sudah membuka matanya, menatap Nara dengan pandangan yang lebih lembut dari biasanya, tanpa kacamata yang menjadi tameng profesionalnya.

"Ehm, sudah," jawab Nara canggung. "Tanganmu... Arga."

Arga tidak langsung menarik tangannya. Ia justru menatap Nara lekat-lekat selama beberapa detik sebelum akhirnya melepaskan pelukannya perlahan. "Maaf. Sepertinya efek jamu Ibu membuat tidur saya terlalu nyenyak."

Arga duduk di tepi ranjang, menyugar rambutnya yang berantakan. "Nara, ada satu hal lagi. Mengingat Ibu dan Tante Sarah akan berada di sini seharian, kita harus mengubah cara kita berkomunikasi. Tidak ada lagi 'Pak Arga' atau panggilan formal lainnya."

Nara ikut duduk, menarik selimut untuk menutupi bahunya. "Lalu? Kamu mau aku panggil apa? 'Sayang'?" tanya Nara dengan nada sedikit sarkastik untuk menutupi kegugupannya.

Arga menoleh, satu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang hampir tidak terlihat. "Kalau kamu sanggup, silakan. Tapi setidaknya, mulailah dengan memanggil nama saya tanpa embel-embel jabatan. Dan saya... saya akan memanggilmu Nara. Hanya Nara."

Nara menelan ludah. Kedengarannya sederhana, namun bagi mereka yang selama ini membangun dinding lewat formalitas, menyebut nama tanpa gelar terasa seperti menanggalkan pakaian pelindung.

"Coba katakan," perintah Arga, kembali ke nada menuntutnya, meski kali ini terdengar lebih seperti ajakan.

"Sekarang?"

"Sekarang."

Nara berdeham, mencoba membasahi tenggorokannya yang kering. "Arga."

"Ulangi. Tanpa nada ragu."

Nara menarik napas dalam, menatap langsung ke mata pria itu. "Arga. Kita harus turun sekarang, Arga."

Ada kilatan kepuasan di mata Arga. Ia berdiri dan berjalan menuju lemari, namun sebelum masuk ke kamar mandi, ia berhenti. "Bagus, Nara. Biasakan itu. Di rumah ini, di depan Ibu, dan mungkin... saat kita hanya berdua."

---

Di meja makan, suasananya jauh lebih cair. Widya dan Tante Sarah tampak sangat puas melihat "kerapian" kamar yang mereka intip tadi saat pintu terbuka sedikit (meskipun itu hanya akting Arga yang sengaja meninggalkan pintu sedikit terbuka).

"Nah, gitu dong. Wajahnya segar-segar semua pagi ini," goda Widya sambil menyodorkan piring berisi nasi uduk. "Gimana, Arga? Jamu Ibu manjur, kan?"

Arga melirik Nara yang sedang sibuk mengaduk tehnya dengan wajah memerah. "Sangat manjur, Bu. Membuat saya merasa lebih... fokus."

"Fokus pada apa dulu nih?" sahut Tante Sarah sambil tertawa.

"Fokus pada istri saya," jawab Arga datar, namun tangannya di bawah meja mencari tangan Nara dan menggenggamnya erat.

Nara hampir menjatuhkan sendoknya. Ia menoleh ke arah Arga, namun pria itu sedang asyik menyantap nasi uduknya seolah baru saja mengucapkan kalimat paling biasa di dunia.

"Nara, kamu kok diam saja? Cobain sambalnya, itu pedasnya pas," kata Widya.

Nara mencoba menenangkan detak jantungnya. "Iya, Bu. Ini... ini enak banget. Makasih ya, Arga, sudah minta Ibu masak ini."

Nama itu meluncur dengan lebih alami kali ini. Widya dan Tante Sarah saling berpandangan, senyum kemenangan terpancar di wajah mereka. Mereka merasa misi "mencairkan es" ini berhasil sepenuhnya.

Namun bagi Nara, setiap kali ia menyebut nama "Arga", ia merasa sebuah benang tipis mulai terikat di antara mereka. Benang yang tidak tertulis di kontrak, benang yang tidak bisa diputus dengan sekadar tanda tangan di atas materai. Mereka sedang belajar memanggil nama, tapi secara tidak sadar, mereka juga sedang belajar untuk mengakui bahwa dunia mereka kini tak lagi bisa dipisahkan dengan mudah.

---

Genggaman tangan Arga di bawah meja tidak segera terlepas. Justru, jemarinya menyelip di antara jemari Nara, mengunci dengan erat seolah sedang memastikan bahwa Nara tidak akan lari dari "pelatihan" panggil nama ini.

"Arga, tanganmu..." bisik Nara sangat pelan, hampir tidak terdengar oleh siapa pun kecuali pria di sampingnya.

"Lanjutkan sarapanmu, Nara," jawab Arga tanpa menoleh, suaranya tetap tenang sementara ia menyuap nasi uduknya dengan tangan kiri—sesuatu yang sangat tidak biasa bagi seorang Arga yang perfeksionis.

Widya yang memperhatikan gerak-gerik mereka hanya bisa menahan senyum di balik cangkir tehnya. "Oh iya, Ibu lupa bilang. Nanti siang Ibu sama Tante Sarah mau mampir ke kantor Arga sebentar ya. Mau antar bekal makan siang buat kalian berdua."

Nara tersedak kerupuk. "Ke kantor, Bu? Tapi kan kantor jauh, nanti Ibu capek."

"Nggak apa-apa, sekalian mau lihat lobi baru yang kalian kerjakan itu. Katanya sudah mau jadi?" Tante Sarah menimpali dengan semangat.

Arga akhirnya melepaskan tangan Nara, namun hanya untuk mengelap sudut bibirnya dengan serbet kain. "Boleh. Nanti biar Bayu yang jemput Ibu di lobi bawah jam dua belas."

---

Perjalanan menuju kantor pagi itu terasa berbeda. Di dalam mobil, tak ada lagi suasana tegang yang mencekam. Arga menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengetuk setir mengikuti irama musik instrumen yang mengalun rendah.

"Kamu serius membiarkan mereka ke kantor?" tanya Nara memecah keheningan.

"Kalau dilarang, mereka akan semakin curiga. Biarkan saja mereka melihat kita bekerja," sahut Arga. Ia melirik Nara sejenak. "Ingat kesepakatan tadi pagi. Di depan mereka, panggil nama. Jangan sampai lidahmu tergelincir memanggilku 'Pak' lagi."

Nara mengangguk kecil. "Aku usahakan, Arga."

Begitu sampai di lobi kantor, suasana profesional kembali menyergap. Namun, baru saja mereka melangkah keluar dari lift di lantai direksi, mereka berpapasan dengan Rio yang sedang membawa setumpuk draf material.

"Pagi, Mbak Nara! Pagi, Pak Arga!" sapa Rio dengan ceria seperti biasanya. "Mbak Nara, bisa ke ruangan saya sebentar? Ada sampel marmer yang baru datang dari gudang."

Nara hendak mengangguk, namun ia merasakan aura di sampingnya mendadak mendingin. Ia teringat ucapan Arga semalam tentang menjaga jarak.

"Bawa saja ke ruang kerja Nara, Rio," potong Arga sebelum Nara sempat menjawab. "Kami ada rapat koordinasi sebentar lagi."

Rio tampak sedikit bingung dengan nada bicara Arga yang lebih tajam dari biasanya. "Oh, baik Pak. Saya bawa ke sana sekarang."

Saat Rio menjauh, Nara menoleh ke arah Arga. "Kamu nggak perlu seprotektif itu di depan karyawan."

"Saya hanya menjalankan revisi kontrak kita," Arga membalas datar. Ia mulai berjalan menuju ruangannya, namun ia berhenti sejenak dan menoleh. "Dan Nara... jangan lupa makan vitamin yang tadi Ibu masukkan ke tasmu."

Nara terpaku. Beberapa staf yang lewat di koridor sempat melambatkan langkah, mata mereka membulat mendengar bos mereka yang biasanya hanya bicara soal angka kini menyebut nama vendornya dengan nada yang... sangat personal.

"Iya... Arga," sahut Nara sedikit canggung, menyadari bahwa beberapa pasang mata sedang memperhatikan mereka.

Arga mengangguk puas, seolah ia baru saja memenangkan sebuah tender besar. Ia masuk ke ruangannya, meninggalkan Nara yang kini harus menghadapi bisikan-bisikan halus dari para staf administrasi yang lewat.

Panggilan nama itu ternyata memiliki kekuatan lebih dari yang Nara bayangkan. Itu bukan sekadar kata, melainkan sebuah pengakuan kepemilikan yang secara perlahan mulai meruntuhkan tembok profesionalitas yang mereka bangun. Di satu atap mereka mulai berbagi perasaan, dan kini di satu kantor, dunia mereka mulai benar-benar melebur menjadi satu.

---

Nara melangkah menuju ruang kerjanya dengan perasaan campur aduk. Suara "Iya, Arga" tadi masih terasa aneh di lidahnya, seperti mencicipi buah yang belum pernah ia kenal rasanya—sedikit getir karena canggung, namun manis karena ada keberanian di baliknya. Ia bisa merasakan tatapan tajam dari meja sekretaris dan para manajer yang kebetulan lewat. Di kantor ini, Arga adalah pusat gravitasi; apa pun yang menyentuh orbitnya akan menjadi bahan pembicaraan dalam hitungan detik.

Di dalam ruangan, Rio sudah menunggu dengan beberapa keping marmer di atas meja. Wajah pria muda itu tampak penuh selidik.

"Mbak Nara," Rio memulai sambil menggeser sebuah keping marmer berwarna abu-abu. "Tadi itu... Pak Arga tumben banget ya? Maksud saya, biasanya dia panggil 'Ibu Nara' atau malah cuma 'Vendor'. Kok tadi kayak..."

"Kayak apa, Rio?" potong Nara cepat, mencoba fokus pada tekstur batu di depannya.

"Kayak orang yang nggak mau istrinya—maksud saya, rekan kerjanya—diganggu," Rio terkekeh, meski matanya tetap mengamati reaksi Nara. "Dan Mbak Nara juga panggil namanya langsung. Wah, progres proyek ini bener-bener bikin kalian jadi... akrab ya?"

Nara merasakan telinganya memanas. "Kita ini profesional, Rio. Panggilan itu cuma biar komunikasinya lebih luwes. Sudah, jangan bahas itu. Mana sampel yang katamu paling bagus?"

Nara berusaha keras untuk tetap profesional, namun pikirannya terus terbagi. Setiap kali pintu ruangannya terbuka, ia setengah berharap—atau mungkin setengah takut—bahwa itu adalah Arga yang datang untuk "memeriksa" lagi.

Dunia kantor yang biasanya kaku kini terasa berbeda bagi Nara. Setiap sudut gedung ini kini mengingatkannya pada Arga. Di ruang rapat, ia teringat debat mereka. Di lift, ia teringat bisikan Arga. Dan di tangannya, ia masih bisa merasakan sisa genggaman tangan Arga saat sarapan tadi.

Pukul sebelas lewat empat puluh lima menit, ponsel Nara bergetar. Sebuah pesan singkat dari Arga.

> Arga:

> Ibu dan Tante Sarah sudah di lobi. Turunlah sekarang. Dan ingat, jangan biarkan lidahmu tergelincir kembali ke formalitas.

Nara menghela napas panjang, merapikan rambutnya di cermin kecil di atas meja. Ia menatap pantulan dirinya sendiri. "Belajar memanggil nama," bisiknya pada diri sendiri. "Hanya sebuah nama, Nara. Jangan biarkan hatimu ikut terpanggil."

Ia keluar dari ruangannya dan menuju lift. Di lobi utama yang masih dalam tahap renovasi itu, ia melihat Widya dan Tante Sarah sedang berdiri mengagumi kerangka desain yang mulai terbentuk. Di samping mereka, Arga berdiri dengan tangan terlipat di dada, tampak seperti pemimpin yang sedang mengawasi wilayahnya, namun wajahnya langsung melunak saat melihat Nara keluar dari lift.

"Nara, di sini!" Widya melambai dengan semangat, mengangkat sebuah tas jinjing besar berisi rantang makanan.

Nara berjalan menghampiri mereka. Ia bisa merasakan puluhan pasang mata karyawan yang sedang jam istirahat tertuju pada mereka. CEO mereka, vendor mereka, dan dua ibu yang terlihat sangat akrab.

"Sudah lama, Bu? Tante?" tanya Nara lembut.

"Baru saja sampai, Sayang. Arga tadi sudah tunjukkan beberapa bagian. Bagus sekali ya kalau sudah jadi," puji Tante Sarah.

Arga melangkah mendekat, secara alami menempatkan tangannya di pinggang Nara—sebuah gerakan yang kini terasa lebih spontan daripada sekadar akting. "Ayo kita makan di ruangan saya saja. Di sini terlalu berdebu untuk Ibu."

"Nah, Arga benar. Ayo, Nara," ajak Widya.

Saat mereka berjalan menuju lift, Arga membungkuk sedikit ke arah telinga Nara. "Kamu melakukannya dengan baik, Nara," bisiknya, suaranya hangat dan sangat dekat.

Nara menoleh, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu menjauh. Di tengah keramaian lobi kantor, di bawah tatapan penasaran para staf, dan di hadapan ibu mereka, panggilan nama itu bukan lagi sebuah beban. Itu adalah pengakuan yang mulai ia terima—bahwa di dalam dunia mereka yang berbeda, kini ada satu jembatan yang bernama perasaan, yang dibangun dari setiap kali mereka saling menyebut nama tanpa jarak.

---

Widya dan Tante Sarah berjalan mendahului dengan langkah riuh menuju lift pribadi, meninggalkan Arga dan Nara yang masih berada di lobi. Arga tidak melepaskan tangannya dari pinggang Nara. Tekanan jemarinya di sana terasa protektif, seolah ia sedang menegaskan pada seluruh isi gedung itu bahwa posisi Nara bukan lagi sekadar rekan bisnis.

"Arga, tanganmu," bisik Nara, melirik ke arah resepsionis yang matanya hampir keluar karena terkejut melihat pemandangan langka itu.

"Biarkan saja," jawab Arga tenang, suaranya tetap rendah. "Ibu masih melihat kita dari dalam lift. Jangan lepaskan peran ini sekarang."

Begitu pintu lift direksi tertutup dan mereka hanya berempat di dalam kotak besi yang berlapis cermin itu, suasananya mendadak terasa sangat sempit bagi Nara. Ia bisa melihat pantulan mereka di cermin: Arga yang tampak begitu gagah dengan setelan kantornya, dan dirinya yang bersandar pada lengan pria itu. Mereka terlihat seperti pasangan yang sangat ideal, sebuah ilusi yang mulai terasa terlalu nyata.

"Ibu senang sekali lihat kalian rukun begini di kantor," ujar Widya sambil menata rantang di tangannya. "Tadi Ibu sempat dengar staf di depan panggil kamu 'Ibu Nara', tapi Arga panggilnya cuma 'Nara'. Rasanya manis sekali."

Nara tersenyum kaku, sementara Arga hanya mengangguk tipis. "Komunikasi yang baik adalah kunci efisiensi kerja, Bu."

"Halah, efisiensi kerja atau memang nggak sabar mau panggil sayang?" goda Tante Sarah, membuat Nara refleks menunduk untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.

Pintu lift terbuka di lantai paling atas. Arga menggiring mereka masuk ke ruang kerjanya yang luas dan minimalis. Aroma kayu cendana dan parfum maskulin Arga kembali menyergap, bercampur dengan bau nasi hangat yang kini dikeluarkan Widya di atas meja rapat pribadi di sudut ruangan.

"Duduk, duduk. Ibu masak ayam pop sama sambal ijo kesukaan kamu, Arga. Dan ini ada sayur kapau buat Nara," Widya dengan cekatan menyiapkan piring.

Mereka pun duduk melingkar. Di ruangan yang biasanya digunakan untuk memutuskan kontrak bernilai miliaran ini, kini yang terdengar hanyalah suara denting sendok dan obrolan hangat tentang resep masakan. Arga tampak jauh lebih santai, ia bahkan tidak keberatan saat Widya mengomel karena ia jarang makan sayur.

"Nara, kamu yang harus paksa Arga makan sayur. Dia ini kalau sudah kerja suka lupa kalau tubuhnya bukan robot," pesan Widya sambil menyendokkan sayur ke piring Arga.

"Iya, Bu. Nanti Nara ingatkan," jawab Nara, mencoba membiasakan diri menyebut namanya sendiri dalam konteks "istri" di hadapan Arga.

Arga melirik Nara, lalu tanpa diduga, ia mengambil sepotong ayam dan meletakkannya di piring Nara. "Kamu juga harus makan yang banyak. Kemarin malam kamu tidur larut karena revisi itu."

Tindakan kecil itu membuat Widya dan Tante Sarah saling bertukar pandang penuh kemenangan. Keheningan sesaat menyelimuti ruangan, namun bukan keheningan yang dingin. Ada sesuatu yang cair di sana, sesuatu yang melampaui sekadar belajar memanggil nama. Di dalam ruang kerja yang biasanya menjadi medan perang logika Arga, kehadiran Nara dan kedua ibu mereka telah menciptakan satu dunia baru—dunia di mana perasaan mulai mendapatkan tempatnya di atas tumpukan dokumen-dokumen kaku.

Nara menatap potongan ayam di piringnya, lalu menatap Arga yang kembali tenang menyantap makanannya. Ia menyadari satu hal: memanggil nama hanyalah awal. Bagian yang paling sulit adalah mengendalikan hati agar tidak ikut terpanggil setiap kali Arga menatapnya seperti itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!