Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.
Semua terasa nyata. Terasa spesial.
Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.
Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.
Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan dan Sunyi
Sesampainya di rumah, suasana ruang tengah yang tadinya sepi mendadak ramai karena kedatangan kami. Kak Marisa langsung memanggil Mang Tatang untuk membantu mengangkat dus-dus berat berisi dumbbell dan tumpukan belanjaan ke kamarku di lantai atas.
"Aduh, Rendra... Kakak jompo beneran habis muter-muter tadi. Mau healing dulu di kamar, jangan diganggu ya!" seru Kak Marisa sambil merebahkan diri sejenak di sofa sebelum akhirnya naik ke kamarnya.
Aku mengangguk sambil membawa sisa kantong belanjaan. Di kamar, aku mulai membongkar semuanya. Sepatu biru elektrik kupajang di rak paling depan, alat-alat beban kususun di sudut ruangan, dan botol-botol skincare kuderetkan di atas meja rias yang selama ini kosong.
Sambil merapikan baju-baru ke lemari, otakku mulai bekerja. Aku mengambil HP, berselancar mencari tips latihan beban untuk pemula. "Otot butuh waktu pemulihan 24 hingga 48 jam," gumamku.
Aku pun menyusun jadwal mingguan: Minggu untuk punggung, Senin istirahat, Selasa bahu, Rabu perut, Kamis istirahat, Jumat dada, dan Sabtu kaki. Aku ingin semuanya teratur dan terukur.
Setelah semuanya rapi, aku merebahkan diri. Pandanganku beralih ke layar HP. Kosong. “Cila lagi apa ya…” pikirku. Rasa ingin tahu itu menyiksa, tapi nyaliku ciut. Aku ke balkon, menatap kamarnya. Tertutup rapat. Sepi. Akhirnya, rasa lelah mengalahkan gelisah. Aku terlelap.
Beberapa puluh menit kemudian, aku terbangun. Badan lebih segar, tapi pikiranku masih sama. "Ayo, Rendra. Jangan cuma wacana," bisikku. Aku membasuh muka dengan sabun baru, mengenakan setelan lari, dan mulai lari sore melewati rute yang dulu sering kulewati bersama Cila.
Napas memburu, keringat bercucuran membasahi kaos dry-fit baruku. Aku berhasil. Sesampainya di rumah, aku mandi dan memakai parfum Soft Attitude pilihan Kak Marisa. Refleks aku cek HP. Masih nol.
“Gimana kalau semua perubahan ini... tetap nggak berhasil menarik hati Cila?” Pertanyaan itu menggantung dingin di benakku.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti siklus. Aku disiplin latihan. Makan dada ayam hambar yang seratnya terasa tersangkut di tenggorokan. Ototku pegal bergantian, tapi perasaan kosong itu tetap yang paling terasa. HP-ku tetap sunyi. Cila benar-benar menghilang tanpa kabar.
Kamis, aku berdiri di depan pintu belakang yang menghubungkan rumah kami. Tanganku menggenggam besi dingin itu. “Aku cuma mau tanya kabarnya…” Tapi aku berhenti. “Jangan jadi pengemis perhatian,” bisikku lalu berbalik.
Jumat. Aku terbaring lemas setelah latihan berat. Lalu—tawa renyah itu terdengar dari arah dapur bawah. Aku membeku. "...Rendra ada di dalam?" Itu suara Cila.
Jantungku berdegup kencang. Aku panik, melihat cermin—acak-acakan dan berkeringat. Aku buru-buru cuci muka, menyisir rambut, dan menyambar parfum. Momen yang kutunggu akhirnya datang. Aku menemui Cila tepat saat Bi May hendak memanggilku.
Aku langsung turun ke bawah. Saat sampai di area dapur, aku melihat Cila sudah duduk santai di salah satu bangku tinggi di meja bar dapur, sambil memegang gelas sirup yang disiapkan Bi May.
“Kemana aja kamu? Kok nggak ada kabar?” Cila menyambar duluan dengan nada jutek yang dibuat-buat begitu melihatku muncul.
“Ee… ii… uu…” aku cuma bisa bergumam bingung sambil menarik kursi di sebelahnya.
Belum sempat aku menjawab, dia mencondongkan tubuh dari bangkunya, menatap wajahku dari dekat dengan mata berbinar nakal. “Perasaan kamu terlihat pangling sekarang. Perawatan ke salon, ya?”
Aku menggaruk kepala, tersenyum canggung di atas bangku kayu itu. “Eng… enggak lah, mungkin karena aku di rumah mulu.”
"Kamu keliatan keringetan gitu, abis ngapain sih?" tanya Cila keheranan menatap sisa peluh di pelipisku yang belum kering sempurna.
"Engga, abis... iseng aja," jawabku gugup, berusaha mengatur napas agar tidak terlihat terlalu mencurigakan.
Tiba-tiba Bi May yang sedang merapikan rak piring memotong, "Oo iya Dek Rendra, kemarin apa kapan ya, Bibi lihat pegang gagang pintu halaman belakang kayak bingung. Lagi ngapain sih, Dek?"
Deg. Jantungku serasa berhenti. Waduh, kok Bi May tahu pas aku lagi bimbang mau ke rumah Cila?
"Eee... enggak, waktu itu mau..." jawabku terbata-bata mencari alasan sambil memutar-mutar gelas kosong di meja dapur.
Cila langsung memasang wajah menggoda sambil tersenyum tipis. "Emang kenapa nggak jadi?"
Aku menghela napas pasrah. "Aku takut ganggu kamu," jawabku pelan sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Berarti kalau aku ke sini itu kadang ganggu kamu?" Cila membalikkan kata-kataku sambil menyesap sirupnya.
"Engga! Bukan begitu maksudnya," jawabku cepat membela diri.
Cila tertawa kecil, suara tawanya memantul di dinding dapur yang sunyi. "Lain kali kalau lagi bosen di rumah, main aja ke rumah aku. Santai aja, Ren."
Kami terdiam beberapa saat, duduk bersisian di bangku dapur. Hanya suara denting jam dinding dan Bi May yang mulai sibuk di tempat cuci piring. Cila akhirnya membuka suara lagi.
“Eh… dua hari lagi MOS, ya?” katanya sambil mengetuk-ngetukkan jari di permukaan meja kayu.
Aku mengangguk. “Iya… deg-degan juga sih… baru SMA, semua baru…”
Dia memutar posisi duduknya di bangku tinggi itu, menghadapku sepenuhnya dengan mata nakal. “Hah… kamu deg-degan gitu? Biasanya nggak keliatan, Ren.”
Aku menggaruk kepala, wajah terasa panas. “Eh… ya… biasa lah… kan… ya… deg-degan aja.”
Cila menatapku serius tapi matanya tetap berbinar. “Hmm… kayaknya kamu kayak… nggak sabar gitu ya?”
Aku tersentak sedikit, pandangan langsung beralih ke ubin lantai. “Eh… nggak juga… ya… enggak… cuma… ya, biasa aja.”
Dia menepuk bahuku pelan, tersenyum geli dari bangkunya. “Hehe… kamu emang gampang keliatan gugupnya, ya.”
Aku menelan ludah, masih merasa canggung di bawah tatapannya. “Iya… ya… mungkin… iya lah…”
Cila tersenyum lagi, suaranya terdengar lebih lembut di tengah keheningan dapur. “Tenang aja, Ren. MOS nanti santai kok. Kita bisa bareng-bareng nyasar juga, sama-sama masih baru kan?”
Aku mengangguk lega. “Iya… iya… makasih.”
Dia mencondongkan wajah sedikit lebih dekat ke arahku, tatapannya masih menyimpan sifat nakal yang khas. “Eh… tapi jangan cuma fokus ke guru doang ya, Ren. Teman baru juga penting, lho.”
Aku tersenyum kaku, menunduk lagi menatap meja dapur. “Iya… aku bakal coba.”
Cila tertawa pelan, lalu berdiri dari bangkunya. “Sip. Dua hari lagi MOS… siap-siap jadi siswa SMA sejati, Ren.”
Aku hanya mengangguk, hati campur aduk. Akhirnya ketemu juga… tapi aku tetap harus terlihat santai di depannya. Jangan sampai rasa malu ini kelihatan terlalu jelas.