NovelToon NovelToon
Will You Marry Me

Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 29

Dua dekade berlalu, dan dunia di luar Arlan telah berubah menjadi rimba beton yang semakin sesak dan panas. Namun, di jantung Borneo, Arlan tetap menjadi oase yang tenang—sebuah prototipe kehidupan yang kini dipelajari oleh berbagai universitas dunia.

Arla kini telah tumbuh menjadi wanita muda yang mewarisi ketajaman berpikir ibunya dan ketenangan ayahnya. Ia baru saja kembali dari studinya di luar negeri, bukan membawa gelar MBA konvensional, melainkan membawa visi tentang "Ekonomi Sirkular Rimba".

"Ayah, Ibu," Arla memulai pembicaraan suatu sore di jembatan ulin yang kini sudah legendaris. "Dunia di luar sana sedang sekarat karena mereka tidak bisa berhenti mengonsumsi. Arlan Organics sudah berhasil, tapi aku ingin kita melangkah lebih jauh. Kita tidak hanya akan menjual produk, kita akan menjual 'Pengetahuan'."

Siska, yang kini rambutnya telah memutih sepenuhnya namun matanya tetap bersinar tajam, menatap putrinya dengan bangga. "Apa rencanamu, Sayang?"

"Aku ingin mendirikan Akademi Arlan," jawab Arla mantap. "Bukan sekolah tinggi yang kaku, tapi pusat inkubasi bisnis bagi pemuda-pemuda dari seluruh dunia. Mereka akan datang ke sini, tinggal bersama warga desa, belajar bagaimana membangun bisnis tanpa merusak satu akar pun. Kita akan mencetak ribuan 'Arlan Kecil' di seluruh belahan bumi."

Andi, yang sedang mengajari anak-anak desa (termasuk cucu dari teman-teman Dedi) cara mengukir kayu limbah, menghentikan pekerjaannya. "Itu tanggung jawab besar, Arla. Membawa orang luar dalam jumlah banyak bisa merusak ketenangan tempat ini."

"Kita akan batasi, Ayah. Seleksi ketat. Hanya mereka yang siap kotor tangannya dan bersih niatnya," Arla meyakinkan.

Maka, babak baru Arlan pun dimulai. Arlan tidak lagi hanya menjalin bisnis barang, tapi menjalin bisnis ideologi.

Para CEO muda dari startup teknologi, pewaris takhta korporat, hingga aktivis lingkungan, datang ke Arlan. Mereka tidak disambut dengan karpet merah, melainkan dengan tugas pertama: membantu Dedi memetakan kesehatan pohon ulin atau membantu Siti memanen madu hutan di ketinggian tiga puluh meter.

Banyak yang menyerah di minggu pertama karena tidak tahan dengan gigitan nyamuk atau ketiadaan sinyal internet berkecepatan tinggi. Namun, mereka yang bertahan pulang dengan sebuah kesadaran baru. Mereka kembali ke kota masing-masing dan mulai mengubah kebijakan perusahaan mereka—mengurangi plastik, memperbaiki rantai pasok, dan menghargai buruh mereka sebagai manusia, bukan angka.

"Arlan kini menjadi hulu dari ribuan sungai kebaikan di luar sana," ujar Mahesa lewat surat terakhirnya sebelum ia memutuskan untuk pensiun total dan kembali tinggal di Arlan.

Suatu malam, saat perayaan panen raya, Arla berdiri di samping Siti dan Dedi—tiga pilar baru yang kini memegang kendali. Di kejauhan, di bawah bayangan Si Mbah Jagat, Siska dan Andi duduk berdampingan, melihat bagaimana benih yang mereka tanam puluhan tahun lalu kini telah menjadi hutan inspirasi bagi dunia.

Bisnis Arlan bukan lagi tentang angka di rekening. Bisnis Arlan telah menjadi sebuah warisan. Sebuah bukti bahwa cinta, keberanian untuk gagal, dan rasa hormat pada alam adalah modal bisnis paling abadi yang pernah ada.

Malam itu, Borneo berbisik melalui anginnya, membawa pesan keberhasilan itu ke seluruh pelosok rimba. Arlan bukan lagi sebuah tempat pelarian, melainkan sebuah mercusuar bagi kemanusiaan.

Ekspansi bisnis Arlan tidak berhenti pada minyak atsiri atau akademi. Arla, dengan visi generasinya yang lebih digital namun tetap membumi, melihat peluang untuk merambah sektor yang lebih strategis: Ecotourism Eksklusif & Teknologi Restorasi.

Arla menyadari bahwa di dunia yang bising, keheningan adalah barang mewah. Ia membangun beberapa unit penginapan yang menyatu dengan kanopi hutan.

 * Konsep: Bukan hotel bintang lima, melainkan "bintang ribuan". Bangunan dibuat tanpa paku, hanya menggunakan teknik pasak kayu Andi.

 * Aturan Bisnis: Tamu dilarang membawa perangkat elektronik. Mereka membayar mahal bukan untuk fasilitas, melainkan untuk akses mendengarkan suara hutan dan bimbingan meditasi dari tetua desa.

 * Dampak: Bisnis ini menyerap tenaga kerja pemuda desa sebagai pemandu narasi alam, bukan sekadar pelayan.

Berangkat dari sensor yang dikembangkan Mahesa dan Siti, Arla menjalin kerja sama dengan perusahaan satelit global untuk meluncurkan Arlan OS.

 * Produk: Sebuah perangkat lunak berbasis AI yang bisa mendeteksi penebangan liar atau perubahan suhu hutan secara real-time melalui frekuensi suara hewan.

 * Bisnis: Arlan menjual lisensi teknologi ini kepada pemerintah negara-negara tropis lainnya.

 * Filosofi: "Kami tidak menjual data hutan kami, kami menjual cara untuk melindungi hutan Anda," tegas Arla saat peluncuran virtual dari jembatan ulin.

Di tengah maraknya perdagangan karbon yang sering kali hanya menjadi manipulasi korporat, Arlan meluncurkan standar sertifikasi sendiri.

 * Mekanisme: Perusahaan luar tidak bisa hanya "membeli" karbon Arlan. Mereka harus mengadopsi satu desa di sekitar kawasan Arlan untuk dibina menjadi desa mandiri pangan.

 * Bisnis Jasa: Arlan bertindak sebagai auditor independen. Jika perusahaan tersebut melanggar komitmen sosial atau lingkungan di tempat lain, sertifikasi "Akar Arlan" mereka dicabut secara publik.

Suatu sore, Andi melihat Arla sedang sibuk dengan tablet suryanya di teras, bernegosiasi dengan investor dari Skandinavia. Andi mendekat sambil membawa dua cangkir teh talang.

"Bisnis ini semakin besar, La. Kadang Ayah takut Arlan akan kehilangan jiwanya karena angka-angka ini," ujar Andi pelan.

Arla meletakkan tabletnya, menatap ayahnya dengan lembut. "Ayah, dulu Ayah membangun jembatan kayu untuk menghubungkan dua tepi sungai. Sekarang, aku membangun jembatan ekonomi untuk menghubungkan hutan ini dengan dunia yang sedang tersesat."

Ia menunjukkan laporan keuangan Arlan. Di sana, laba tidak lagi disebut "Profit", melainkan "Re-Investment for Earth".

"Lihat ini, Yah. 40% dari bisnis teknologi kita dialokasikan untuk membeli kembali lahan sawit yang sudah rusak di perbatasan utara untuk kita hutankan kembali. Kita tidak sedang merambah bisnis untuk menumpuk harta. Kita merambah bisnis untuk memperluas wilayah kekuasaan hutan."

Siska, yang baru kembali dari sekolah desa, ikut bergabung. Ia melihat cincin gaharu di jari Arla—cincin yang sama dengan miliknya, namun dengan desain yang lebih modern.

"Dulu, bisnis menghancurkan hidup kita di Jakarta," kenang Siska. "Tapi di sini, kita membuktikan bahwa bisnis bisa menjadi pelindung yang paling kuat. Selama akarnya tetap di tanah ini, pohonnya boleh setinggi langit."

Malam itu, mereka merayakan keberhasilan unit bisnis baru mereka dengan cara yang tetap sama: makan bersama warga desa di bawah sinar bulan. Arlan kini bukan lagi sekadar titik kecil di peta; ia adalah sebuah imperium hijau yang membuktikan bahwa kapitalisme bisa ditaklukkan oleh kesadaran.

Ekspansi bisnis Arlan kini memasuki wilayah yang lebih berani: Energi Terbarukan Mikro & Arsitektur Organik.

Arla bekerja sama dengan Dedi untuk memanfaatkan aliran sungai yang deras tanpa harus membangun bendungan besar yang merusak ekosistem. Mereka mengembangkan Turbin Arus Rendah yang desain sudu-sudunya terinspirasi dari bentuk sirip ikan sungai lokal.

 * Model Bisnis: Arlan tidak menjual listriknya, melainkan menjual cetak biru dan teknologi turbin tersebut ke desa-desa pedalaman di seluruh dunia.

 * Dampak: Desa-desa di pelosok kini memiliki listrik tanpa harus menebang pohon untuk tiang kabel atau bergantung pada solar. "Energi kami datang dari nafas sungai," ujar Dedi saat mempresentasikan alat itu di forum energi dunia.

Terinspirasi dari teknik pertukangan Andi yang legendaris, Arla meluncurkan unit bisnis konsultasi arsitektur. Mereka tidak membangun gedung, melainkan mendesain hunian yang "tumbuh" bersama alam.

 * Inovasi: Menggunakan material komposit dari limbah serat rotan dan jamur (mycelium) sebagai pengganti semen.

 * Pasar: Para miliarder dan resor mewah dari Maladewa hingga pegunungan Alpen mengantre untuk mendapatkan sentuhan desain Arlan yang menjanjikan bangunan yang bisa terurai kembali ke tanah dalam waktu 50 tahun jika tidak lagi digunakan.

Namun, merambahnya Arlan ke bisnis teknologi dan energi mulai memicu percikan di pasar global. Suatu malam, Mahesa menghubungi Arla melalui jalur enkripsi yang aman.

"Arla, keberhasilan Arlan OS dan turbin sungai kita mulai mengganggu raksasa energi konvensional. Mereka tidak lagi mencoba membeli kita, mereka mencoba mensabotase reputasi kita," Mahesa memperingatkan.

Beberapa hari kemudian, muncul kampanye hitam di media internasional yang menuduh bahwa kayu yang digunakan Arlan Living diambil secara ilegal dari kawasan lindung. Foto-foto manipulatif yang dihasilkan AI mulai beredar, menunjukkan area hutan Arlan yang gundul.

Arla terdiam di depan monitornya di laboratorium desa. Ia merasakan tekanan yang dulu pernah menghancurkan ibunya di Jakarta.

"Biarkan aku yang menangani ini, La," ujar Siska, masuk ke ruangan dengan ketenangan seorang veteran perang korporat. "Mereka lupa satu hal: Arlan bukan perusahaan publik yang takut pada harga saham. Arlan adalah sebuah komunitas."

Siska dan Arla tidak membalas dengan pengacara atau tuntutan hukum. Mereka membalas dengan transparansi total. Mereka membuka akses real-time satelit Arlan OS kepada publik dunia. Siapa pun, di mana pun, bisa melihat kondisi hutan Arlan secara langsung 24 jam sehari. Mereka juga mengundang jurnalis investigasi paling skeptis untuk datang dan tinggal selama sebulan di desa.

Hasilnya? Fitnah itu justru menjadi bumerang. Dunia justru semakin jatuh cinta pada kejujuran Arlan. Penjualan teknologi restorasi mereka justru melonjak tiga kali lipat sebagai bentuk dukungan moral dari masyarakat global.

Malam itu, Andi menemukan Arla sedang duduk sendirian di jembatan ulin, menatap arus sungai yang memutar turbin-turbin kecil di bawah sana.

"Lelah, Sayang?" tanya Andi lembut.

"Sedikit, Yah. Berbisnis dengan dunia luar ternyata jauh lebih bising daripada suara badai di hutan ini."

Andi duduk di sampingnya, menyerahkan sebuah ukiran kayu kecil berbentuk tunas ulin. "Itulah bedanya kita dengan mereka, La. Mereka membangun di atas pasir, kita membangun di atas akar. Selama akarmu kuat, biarkan angin itu berhembus sekencang apa pun."

Arla tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu ayahnya. Bisnis Arlan kini bukan lagi sekadar mencari nafkah; ia telah menjadi garda terdepan dalam perang melawan keserakahan. Dan di jantung Borneo, mereka tetap menang—bukan dengan senjata, tapi dengan integritas yang tidak bisa dibeli.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!