NovelToon NovelToon
The Queen With 4 Servents

The Queen With 4 Servents

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Fantasi Isekai
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4. Jamuan di Atas Bara Api

Aira melangkah menyusuri lorong menuju ruang makan utama dengan tungkai yang masih terasa sedikit lemas.

Ciuman Julian di ruang mandi tadi masih menyisakan rasa manis melati yang beracun di bibirnya, sebuah tanda kepemilikan yang membuatnya merasa lebih seperti tawanan daripada seorang majikan.

Di belakangnya, Dante berjalan dengan langkah yang begitu teratur dan sunyi, memberikan tekanan psikologis yang tak kasat mata.

Dante membukakan pintu ganda raksasa dari kayu mahoni. "Mereka sudah menunggu, Nyonya. Saya harap selera makan Anda lebih baik daripada suasana hati Anda yang... tidak stabil pagi tadi."

Aira masuk ke ruangan yang didominasi oleh kemewahan gotik yang mencekam. Sebuah meja panjang yang mampu menampung tiga puluh orang membentang di tengah, namun hanya lima kursi yang disiapkan di ujung meja.

Cahaya dari chandelier kristal raksasa di atas mereka memantul pada peralatan makan perak dan gelas-gelas kristal yang berkilauan seperti mata yang mengawasi.

Di sana, tiga pria lainnya sudah menunggu.

Di sisi kiri, Kael duduk dengan posisi bersandar yang tidak sopan, memutar-mutar pisau daging di tangannya dengan gerakan yang sangat mahir.

Bekas tamparan Aira tadi pagi sudah menghilang, namun matanya yang tajam berkilat penuh tantangan saat melihat Aira masuk.

Di sisi kanan, duduk Julian. Ia tersenyum sangat manis—senyum yang baru saja digunakan untuk membungkam Aira di ruang mandi. Ia tampak sangat tenang, seolah botol biru misterius yang ia sembunyikan di saku jasnya tidak pernah ada.

Dan di ujung meja yang paling gelap, duduk Zane. Pria yang paling pendiam, pengawal pribadi dengan rahang yang sangat tegas dan mata yang dingin. Ia tidak menatap makanan di depannya; ia hanya menatap setiap rahasia yang disembunyikan gadis itu di balik gaun hitamnya yang elegan.

Aira duduk di kursi utamanya—singgasana merah yang empuk namun terasa seperti kursi pesakitan.

Dante berdiri tepat di belakangnya, tangannya yang bersarung tangan putih bersandar pada sandaran kursi, memberikan kesan bahwa ia adalah penguasa bayangan di ruangan itu.

"Kenapa suasana hari ini begitu sunyi?" Kael memecah keheningan dengan suara tajam. Ia melemparkan pisaunya ke atas meja hingga menimbulkan suara denting yang keras.

"Biasanya Nyonya akan mulai mengeluh tentang koki, atau mungkin... mulai menghina cara kami bernapas di hadapannya. Kenapa hari ini Anda tampak begitu tenang, Isabella?"

Aira menggenggam serbet di pangkuannya hingga jemarinya memutih.

"Aku hanya sedang ingin menikmati makananku dengan tenang, Kael. Apakah itu dilarang?"

Julian terkekeh pelan, suara tawanya terdengar seperti melodi yang indah namun beracun. Ia condong ke depan, menatap tepat ke mata hijau Aira.

"Menikmati ketenangan? Itu kata yang sangat asing keluar dari bibir Anda. Apakah jatuh dari tangga kemarin benar-benar mengubah isi kepala Anda? Atau... apakah Anda baru saja menemukan sesuatu yang lebih menarik di kamar mandi tadi?"

Darah Aira terasa membeku. Julian sedang memancingnya di depan Dante.

"Aku tidak tahu apa maksudmu, Julian," sahut Aira, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.

"Ah, benarkah?" Julian menyesap anggur merahnya perlahan.

"Karena saya mencium aroma yang sangat asing di ruang mandi tadi. Bukan aroma mawar, tapi sesuatu yang lebih... berbahaya. Sesuatu yang biasanya hanya Anda gunakan saat ingin 'menyingkirkan' seseorang dari mansion ini secara diam-diam."

Suasana seketika menjadi sangat tegang. Kael berhenti bermain dengan pisaunya, dan Zane kini mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya yang tajam mengunci pandangan Aira.

"Penyusup di perbatasan hutan tadi sore juga mencari sesuatu yang serupa," Zane tiba-tiba angkat bicara.

Suaranya rendah dan dalam, membuat bulu kuduk Aira berdiri.

"Seseorang di rumah ini sedang berkomunikasi dengan pihak luar. Dan saya rasa, Nyonya kita tahu persis siapa orangnya."

Aira merasakan tekanan yang luar biasa. Ia dikepung oleh empat pria yang masing-masing memiliki alasan untuk mencurigainya, membencinya, atau bahkan menghancurkannya.

Dante, yang sedari tadi diam, tiba-tiba membungkuk. Hawa napasnya yang hangat terasa di dekat telinga Aira.

"Nyonya Isabella," bisik Dante dengan nada yang sangat lembut namun penuh ancaman.

"Anda tidak sedang menyembunyikan 'naskah' rahasia itu sendirian, kan? Karena jika ya... kami mungkin harus menggunakan cara yang lebih intim untuk membuat Anda bicara. Julian bilang tehnya membantu Anda menjadi lebih 'jujur'."

Tangan Dante merayap turun dari sandaran kursi, menyentuh bahu Aira yang terbuka dan menekan jemarinya sedikit lebih dalam ke kulit porselen gadis itu.

Di bawah meja, Aira merasakan kaki Kael dengan sengaja menyentuh ujung sepatunya, sebuah kontak fisik yang penuh dengan provokasi dan rasa lapar yang tertahan.

Aira menyadari satu hal: sentuhan ini bukan lagi tentang rayuan, melainkan tentang perburuan. Dan malam ini, ia adalah mangsa yang sedang dinilai oleh empat predator yang sangat lapar.

"Makanannya sudah dingin," ujar Aira dengan nada yang ia usahakan tetap angkuh, meskipun suaranya bergetar.

"Dan aku tidak butuh interogasi saat sedang makan. Zane, urus penyusup itu. Kael, belajar cara bersikap di meja makan. Julian, tutup mulut manis-mu. Dan Dante..."

Aira berbalik sedikit, menatap mata biru es Dante yang sangat dekat. "Lepaskan tanganmu. Aku tidak memberimu izin untuk menyentuhku malam ini."

Ketegangan di ruang makan itu begitu padat hingga Aira merasa oksigen di sekitarnya menipis.

Setiap kali ia menyuapkan sepotong daging kecil ke mulutnya, ia bisa merasakan empat pasang mata menguliti gerakannya.

Kael yang berada di kirinya, terus menatapnya dengan seringai yang tak kunjung hilang, seolah ia sedang menunggu Aira melakukan satu kesalahan kecil lagi agar ia punya alasan untuk meledak.

"Anda tidak menyentuh anggur Anda, Nyonya," suara Dante terdengar tepat di atas kepala Aira, dingin dan otoriter. "Apakah Anda takut ada sesuatu di dalamnya? Atau mungkin... Anda lebih percaya pada racikan teh Julian daripada pilihan saya?"

Aira melirik gelas kristal berisi cairan merah pekat di samping piringnya. Di bawah cahaya lampu kristal, cairan itu tampak berkilau seperti darah segar.

Kata-kata Dante mengandung sindiran tajam tentang "percakapan pribadi" yang dilakukan Aira dan Julian di ruang mandi tadi. Dante bukan orang bodoh; dia adalah penguasa bayangan di mansion ini, dan tidak ada satu pun napas yang keluar dari penghuni rumah ini yang luput dari pengawasannya.

"Aku hanya sedang tidak ingin minum, Dante," sahut Aira, mencoba terdengar sedingin mungkin.

Tiba-tiba, Julian yang duduk di seberangnya tertawa pelan. Ia menyeka sudut bibirnya dengan serbet sutra putih, lalu menatap Aira dengan binar jenaka yang mematikan di matanya.

"Ah, Dante, jangan terlalu keras padanya. Mungkin Nyonya kita sedang menyimpan tenaganya untuk... sesuatu yang lebih penting malam ini. Bukankah begitu, Isabella?"

Julian meraba saku jasnya secara terang-terangan, sebuah gerakan yang hanya bisa dilihat oleh Aira. Ia tahu botol biru itu ada di sana. Julian sedang memerasnya secara mental di depan pelayan lainnya.

"Cukup, Julian," potong Zane tiba-tiba. Suaranya yang berat dan datar seketika membungkam tawa Julian.

Zane adalah pelayan yang paling sedikit bicara, namun kehadirannya adalah yang paling menekan.

"Kita punya masalah yang lebih besar daripada sekadar anggur dan teh. Penyusup yang kutemukan di perbatasan hutan membawa lencana keluarga Raven. Seseorang dari luar sedang mencoba menarik paksa Nyonya kita kembali ke ibu kota."

Mendengar kata "ibu kota", Kael langsung menegakkan duduknya. Kemarahannya yang tadi terpendam kini mulai meluap.

"Kembali? Setelah apa yang dia lakukan pada kita? Jika dia menginjakkan kaki di ibu kota, dia akan segera menjual kita ke pasar budak lagi untuk menutupi hutang judinya. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

Kael condong ke depan, tangannya yang besar mencengkeram tepian meja hingga kayu mahoni itu berderit.

"Kau tidak akan pergi ke mana-mana, Isabella. Jika kau berani melangkah keluar dari gerbang mansion ini, aku sendiri yang akan merantai kakimu di ruang bawah tanah."

Aira merasa dunianya berputar. Ia menyadari bahwa di dunia film ini, Isabella bukan hanya jahat, tapi juga seorang manipulator yang terpojok oleh hutang dan politik.

Dan keempat pria tampan di sekelilingnya ini adalah korban sekaligus penjaganya. Mereka tidak melayaninya karena cinta; mereka melayaninya karena mereka terikat oleh rantai dendam dan obsesi yang sama kuatnya.

Dante meletakkan tangannya di pundak Aira, namun kali ini cengkeramannya jauh lebih kuat, hampir menyakitkan.

"Kael benar untuk satu hal, Nyonya. Anda adalah milik The Velvet Manor. Dan apa pun yang ada di dalam mansion ini—termasuk rahasia di dalam botol biru itu—adalah milik kami berempat untuk diputuskan."

Dante menunduk, bibirnya hampir menyentuh pelipis Aira.

"Sekarang, habiskan makan malam Anda. Karena setelah ini, kita akan pergi ke perpustakaan. Ada naskah lama yang perlu Anda jelaskan pada kami... atau Zane akan mulai menggunakan metode interogasinya yang paling tidak menyenangkan."

Aira menelan ludah yang terasa pahit.

Perjamuan ini bukan lagi tentang makanan, tapi tentang siapa yang akan bertahan paling lama sebelum mereka semua saling mencabik. Situasi ini mulai berubah menjadi bara api yang siap menghanguskan apa saja.

 

Halo readers semuanya, jangan lupa like, subscribe dan komen ya... 🤗

1
Syifa234
semuanya ada, kecuali Kael. Jangan diskriminasi Kael Thor. mentang-mentang dia yang paling petantang, petenteng
Syifa234
Plot twist banget et dah/Scowl//Sob/
Senja_Puan
makasih kakak-kakak sayang😍
Anisa675
min jadi double ngasih cermin nya
Senja_Puan: lah iya yah kak😄 makasih kak Anisa
total 1 replies
Anisa675
Typo thor😄

btw udah lama Kael tidak menampakkan diri Thor...
Senja_Puan: Makasih kakak sayang🤭 Suka kalau ada yang jeli dan kasih masukan😍
total 1 replies
Irsyad layla
si kael dimana thor?
Anisa675: wkwkw nah loh ditagih Mulu thor🤭
total 2 replies
Irsyad layla
kael mana?
Anisa675: wah ada yang sama sadar juga atas ketiadaan Kael
total 2 replies
Airin
makasih thooor. semangat
Anisa675
Widiiiih badas
Anisa675
gilaaaa, jadi Isabella udah meninggal??
Senja_Puan: nah kaget kaaaaan
total 1 replies
Anisa675
mantap Aira
Anisa675
wah mantap Thor. kebayang badan luka-luka, mandi air garam
Senja_Puan: Jangan dibayangin kak. cukup mereka aja yang rasain😄
total 1 replies
.
Kaya cerita Anime ya,
Lanjuutt
Anisa675: Iya bener, kayanya bakal lebih seru tambah visualnya thor
total 1 replies
Eka Putri Handayani
lebih bnyk lg up nya kak
Airin: selalu Thor. semangat
total 4 replies
Yasa
semangat updatenya thor
Senja_Puan: Makasih kakak😍 semangat juga bacanya
total 1 replies
Anisa675
nah kan bener
Anisa675
jadi curiga sama Isabella asli
Anisa675
Bahaya ini, dari awal Zane yang paling punya insting kuat, dan cara dia eksekusi Aira itu udah bener-bener bikin deg-degan
Senja_Puan: Nah, adakan perkembangannya😄
total 1 replies
Anisa675
suka, karakternya jadi kuat
Anisa675
ngerii-ngeri sedap Aira
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!