Ryan adalah seorang mekanik yang sangat mencintai Arini namun karena status yang sangat jauh sehingga arina tak mau membuat Ryan kecewa karena Arini sudah di jodohkan dengan pemuda lain pilihan orangtuanya.Bagaimana kisah lengkapnya,ayo kita simak bersama perjuangan Ryan !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anto Sabar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian yang Disengaja
Siang itu—
bengkel masih ramai.
Suara mesin, alat, dan percakapan bercampur jadi satu.
Namun di salah satu sudut—
ada satu titik yang terasa berbeda.
Lebih hening.
Lebih tegang.
Ryan berdiri di depan mobil hitam itu.
Mobil milik pria misterius tadi pagi.
Dari luar—
mobil itu terlihat sempurna.
Tidak ada goresan.
Tidak ada kerusakan.
Namun Ryan tahu—
justru itu yang aneh.
Ia membuka kap mesin.
Matanya langsung fokus.
Tangannya mulai bergerak pelan.
Memeriksa satu per satu.
Dan semakin ia melihat—
semakin jelas sesuatu.
“Disengaja…” gumamnya pelan.
Salah satu pekerja mendekat.
“Bang, kenapa?”
Ryan tidak langsung menjawab.
Ia menunjuk salah satu bagian.
“Lihat ini.”
Pekerja itu mengernyit.
“Kayaknya normal, bang.”
Ryan menggeleng.
“Kelihatannya saja.”
Ia mengambil alat.
Membuka bagian kecil dengan hati-hati.
Dan—
klik.
Bagian itu terbuka.
“Ini…”
Pekerja itu terkejut.
Ada komponen yang dimodifikasi.
Namun bukan untuk meningkatkan performa—
melainkan…
untuk menyulitkan.
“Siapa yang bikin beginian…” gumamnya.
Ryan tersenyum tipis.
“Orang yang mau ngetes.”
Ia melanjutkan pemeriksaan.
Dan hasilnya sama.
Satu demi satu—
ditemukan kejanggalan.
Semua terlihat rapi.
Namun penuh jebakan.
“Kalau salah sedikit…” kata Ryan pelan.
Pekerja itu menelan ludah.
“Bisa rusak total?”
Ryan mengangguk.
“Bahkan bisa lebih.”
Suasana langsung berubah.
Ini bukan pekerjaan biasa.
Ini—
ujian.
“Bang… kita tolak saja?” tanya salah satu dari mereka.
Ryan menggeleng.
“Tidak.”
Jawaban itu cepat.
Dan tegas.
“Kalau kita mundur sekarang…”
Ia menatap mobil itu.
“…berarti kita memang belum layak.”
Ia menarik napas.
Lalu berkata,
“Kerjakan seperti biasa.”
“Jangan terburu-buru.”
“Dan jangan ada yang sentuh tanpa instruksi.”
“Paham?”
“Paham, bang!”
Semua langsung bergerak.
Namun kali ini—
lebih hati-hati.
Lebih serius.
Ryan kembali fokus.
Namun di dalam pikirannya—
ada hal lain.
Pria itu.
Dan pertanyaannya tadi.
Tentang Arini.
“Siapa sebenarnya dia…” gumamnya.
Sore hari—
matahari mulai turun.
Namun pekerjaan belum selesai.
Ryan masih di sana.
Tidak beranjak.
Tiba-tiba—
ponselnya bergetar.
Ia melirik.
Nama yang muncul—
membuatnya diam sejenak.
Arini.
Beberapa detik—
ia hanya menatap layar.
Lalu akhirnya—
mengangkat.
“Halo.”
Di seberang—
hening.
“Ryan…”
Suara itu pelan.
Namun terdengar… berbeda.
Tidak seperti biasanya.
“Iya.”
“Kamu lagi sibuk?”
Ryan melirik mobil di depannya.
“Lumayan.”
Arini terdiam sejenak.
Seolah ragu.
“Aku… cuma mau tanya.”
Ryan menunggu.
“Pagi tadi… ada seseorang datang ke kamu?”
Ryan langsung mengerti.
“Iya.”
Jawaban singkat.
“Dia bilang apa?”
Ryan tersenyum tipis.
“Lumayan banyak.”
“Termasuk tentang kamu.”
Arini terdiam.
Dan kali ini—
heningnya lebih lama.
“Ryan…” suaranya kembali terdengar.
Lebih serius.
“Hati-hati sama dia.”
Ryan menyandarkan tubuhnya.
“Aku juga mikir begitu.”
Arini menarik napas.
“Dia bukan orang biasa.”
Ryan menjawab tenang,
“Kelihatan.”
“Tapi masalahnya…” Arini berhenti.
“…dia terlibat dalam keputusan keluargaku.”
Kalimat itu pelan.
Namun cukup untuk membuat suasana berubah.
Ryan mengernyit.
“Maksudnya?”
Arini tidak langsung menjawab.
Namun akhirnya—
ia berkata,
“Aku dijodohkan.”
Sunyi.
Ryan tidak langsung bereaksi.
Namun tangannya sedikit mengepal.
“Dengan dia?”
Arini menjawab pelan,
“Iya.”
Beberapa detik—
tidak ada suara.
Hanya napas.
Ryan menutup mata sebentar.
Lalu membuka lagi.
“Apa kamu mau?”
Pertanyaan itu—
sederhana.
Namun berat.
Di seberang—
Arini tidak langsung menjawab.
Dan itu sudah cukup—
untuk menjelaskan segalanya.
“Aku tidak punya pilihan, Ryan.”
Kalimat itu seperti…
mengakhiri sesuatu.
Ryan tersenyum tipis.
Namun kali ini—
terasa pahit.
“Selalu ada pilihan.”
Arini hampir menangis.
Namun ia menahannya.
“Tidak semua orang sekuat kamu.”
Ryan tidak menjawab.
Karena ia tahu—
ini bukan soal kuat atau tidak.
Ini soal keadaan.
“Aku cuma mau bilang…” Arini melanjutkan.
“Hati-hati.”
“Dia tidak akan main biasa.”
Ryan menatap mobil di depannya.
“Sudah kelihatan.”
“Ryan…”
“Iya?”
Arini terdiam lagi.
Namun kali ini—
lebih berat.
“Maaf.”
Sambungan terputus.
Ryan masih memegang ponsel itu.
Namun perlahan—
ia menurunkannya.
Ia menatap mobil di depannya.
Lalu berkata pelan,
“Berarti ini bukan cuma soal kerjaan…”
Ia mengambil alat.
Matanya berubah.
Lebih tajam.
Lebih fokus.
“Ini soal harga diri.”
Di tempat lain—
pria misterius itu duduk di dalam mobilnya.
Menatap layar ponsel.
Ada satu foto di sana.
Ryan.
Ia tersenyum tipis.
“Menarik…”
“Kita lihat… seberapa lama kamu bisa bertahan.”