NovelToon NovelToon
Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah
Popularitas:987
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan ganggu Rania!

“Lo di mana?” ucap Adrian pada Azran melalui telepon.

“Gue di rumah. Kenapa lo?” tanya balik Azran.

“Gue ada rencana,” jawab Adrian.

“Rencana apa lagi? Jangan bilang lo mau rampas duit Rania lagi,” tebak Azran.

“Gue gak mau merampas. Gue mau culik dia,” ucap Adrian santai, membuat Azran langsung terkejut di seberang telepon.

“Ngadi-ngadi lo, ya. Nyulik anak orang,” ucap Azran.

“Gue mau culik Rania, lalu minta tebusan pada orang tuanya. Lo harus tahu, ternyata Rania anak orang miliarder,” jelas Adrian. Ia kemudian melanjutkan dengan nada semakin serius, “Kalau kita bisa menculik dia, kita bisa minta uang tebusan dari bokapnya. Gue yakin bokapnya bakal kasih kita duit, yang penting anak kesayangannya kita bebaskan.”

“Kalau kita masuk kantor polisi gimana? Pasti keluarga Rania punya kekuasaan,” ucap Azran dengan nada ragu.

“Kita ancam mereka pakai Rania. Kalau mereka lapor atau bawa polisi, kita ancam bakal ngapa-ngapain Rania,” ucap Adrian dengan dingin. “Gimana? Lo mau gak?”

“Gue mau sih… tapi gue takut,” jawab Azran jujur.

“Alah, cemen lo. Rania itu gak jago bela diri. Lo jangan khawatir,” ucap Adrian meremehkan.

“Gimana ya…” gumam Azran terdengar bingung.

“Kalau lo gak mau ya udah. Tapi kalau sampai rencana gue berhasil, lo jangan minta sepeser pun,” ancam Adrian.

Azran tampak berpikir cukup lama di ujung telepon.

“Lo ajak Roni gak?” tanya Azran akhirnya.

“Iya, gue udah kasih tahu dia. Dia setuju. Tinggal lo,” jawab Adrian.

Azran menarik napas berat sebelum akhirnya berkata, “Oke, gue ikut. Tapi kalau ada apa-apa, lo tanggung jawab.”

“Iya, iya. Bawel banget sih lo. Sebelum pulang sekolah lo ke sini bareng Roni,” ucap Adrian.

“Oke.”

Setelah panggilan itu berakhir, Adrian menurunkan ponselnya dan tersenyum miring.

“Gak apa-apa gak balikan sama Rania. Yang penting duitnya harus masuk ke dompet gue,” gumamnya puas sebelum keluar dari toilet sekolah.

Namun tanpa Adrian sadari, ada seseorang yang sejak tadi berdiri di dekat wastafel dan mendengar sebagian percakapannya.

Revano.

Awalnya Revano memang tidak berniat menguping. Ia hanya kebetulan berada di sana. Biasanya ia juga malas ikut campur urusan orang lain.

Namun saat ia mendengar nama Rania disebut—dan rencana penculikan itu—tangannya langsung mengepal tanpa sadar.

Tatapan matanya berubah tajam.

“Apa dia mantan Rania?” gumamnya pelan.

Beberapa detik kemudian rahangnya mengeras.

“Gue harus lindungi Rania dari si brengsek itu.”

~~

“Akhirnya pulang juga,” ucap Lara saat bel tanda pulang sekolah terdengar nyaring di seluruh kelas. Ia langsung merapikan buku-bukunya dengan cepat.

Lara kemudian melirik ke arah Rania yang masih asyik bermain ponsel.

“Ran, gak pulang lo?”

“Bentar,” jawab Rania tanpa menoleh dari layar ponselnya.

“Gue duluan ya, Lar. Ran,” sahut Bintang yang sudah berdiri sambil menyampirkan tas di bahunya.

“Iya, hati-hati, Bin,” ucap Lara.

Bintang mengangguk kecil lalu meninggalkan kelas lebih dulu.

“Gue juga duluan ya, Ran,” ucap Lara lagi.

“Hati-hati,” jawab Rania singkat, masih fokus pada gamenya.

Tak lama kemudian Lara juga pergi, meninggalkan Rania sendirian di kelas yang mulai sepi.

Beberapa menit kemudian, Rania akhirnya menyelesaikan gamenya. Ia menyimpan ponselnya, lalu mulai merapikan buku-bukunya ke dalam tas. Setelah itu ia berdiri, menyampirkan tasnya, dan berjalan keluar kelas.

Saat tiba di halaman sekolah, suasana sudah jauh lebih sepi. Hanya beberapa murid yang masih terlihat berjalan menuju gerbang.

Rania melanjutkan langkahnya menuju parkiran.

Di kejauhan, Adrian memperhatikan setiap gerak-gerik Rania dengan tatapan licik. Ia memang sudah menunggu momen ini.

Ia langsung menyalakan motornya dan diam-diam mengikuti Rania.

~~

“Berhenti, Rania!” teriak Adrian dari belakang motor Rania.

Rania yang mendengar suara itu langsung melirik ke kaca spion. Ketika melihat Adrian mengejarnya, ia langsung menancap gas. Ia benar-benar tidak ingin berurusan lagi dengan laki-laki itu.

Beberapa meter di depan terlihat sedikit kemacetan. Rania langsung melihat sebuah gang sempit di sisi jalan. Tanpa ragu ia membelokkan motornya masuk ke gang tersebut.

Melihat itu, Adrian justru tersenyum puas.

Ia menghentikan motornya sebentar, lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya.

“Rania udah masuk ke gang itu. Keluar, hadang dia,” perintahnya singkat sebelum menutup telepon sepihak.

Sementara itu, setelah keluar dari gang, Rania menghembuskan napas lega. Ia kembali melirik kaca spion—Adrian tidak terlihat lagi.

Namun saat menatap sekeliling, ia sadar tempat itu cukup sepi. Rumah penduduk hanya ada beberapa, bahkan jalanan terasa lengang.

Tiba-tiba…

Cittt!

Rania langsung mengerem motornya mendadak ketika seseorang menghadangnya dari depan.

“Turun lo!” bentak orang itu.

Rania menatapnya tajam. Dari suaranya, ia merasa suara itu cukup familiar.

“Gak mau!” bantah Rania tegas.

Brum… brum…

Suara motor lain terdengar dari belakang.

Rania menoleh. Adrian baru saja menghentikan motornya.

Sekejap Rania langsung paham.

“Cih… ide murahan,” gumam Rania.

“Turun!” perintah Adrian.

“Nggak mau. Lo siapa, hah? Nyuruh-nyuruh gue,” balas Rania dingin.

“Dasar ngeyel,” geram Azran.

Adrian tersenyum miring. “Gue akuin keberanian lo, Ran. Ya udah, gue langsung ke inti. Lo mau balikan sama gue atau gak?”

Rania ikut tersenyum miring.

“Tentu tidak.”

“Terpaksa lo harus ikut gue,” ucap Adrian sambil berusaha menarik tangan Rania.

Namun sebelum tangannya sempat menyentuh Rania,

Dugh!

Rania lebih dulu menendang perut Adrian dengan keras hingga laki-laki itu terjungkal ke tanah.

“Kurang ajar!” geram Azran sambil langsung menyerang dari samping.

Namun Rania sudah lebih dulu menghindar. Ia melompat turun dari motornya lalu membalas dengan pukulan keras.

Bugh! Bugh!

“Arghh!” teriak Azran kesakitan.

“Dasar cemen, mainnya sama cewek,” ucap Rania sinis.

Adrian perlahan bangkit dan kembali menyerang. Azran juga ikut membantu.

Namun mereka tidak tahu satu hal—

Sejak kecil, Rania sudah dilatih bela diri.

Bugh!

Bugh!

“Arghh!” Azran kembali terjatuh saat tendangan Rania mengenai wajahnya.

“Kuat juga dia,” gumam Adrian dalam hati. Ia benar-benar tidak menyangka Rania bisa bertarung sebaik ini.

Saat Adrian sedikit lengah—

Rania langsung mengambil kesempatan.

Dugh!

“Uhuk!”

Adrian terjatuh sambil batuk darah.

Namun dari belakang…

Roni diam-diam mendekat membawa balok kayu.

Ia mengangkat balok itu tinggi-tinggi dan—

Bragh!

Namun yang terjatuh bukan Rania.

Melainkan Roni sendiri.

Rania menoleh ke belakang dengan kaget.

Roni sudah mencium tanah dengan balok di tangannya.

“Cih… dasar bajingan. Mainnya keroyokan.”

Suara dingin itu membuat Rania menoleh.

Revano berdiri di sana dengan tatapan tajam, tangan masih menggenggam balok kayu yang baru saja ia rebut dari Roni.

Tatapannya kemudian beralih pada Rania.

“Lo gak apa-apa?” tanyanya singkat.

Rania mengangguk.

“Sekarang lo pergi dari sini. Biar gue urus brengsek-brengsek ini,” ucap Revano dingin.

Rania terdiam sejenak. Ia menatap Adrian dan teman-temannya yang masih tergeletak.

“Pergi!” ulang Revano.

Entah kenapa, nada dingin itu membuat Rania menuruti.

“Baiklah,” ucapnya.

Ia langsung naik ke motornya dan pergi meninggalkan tempat itu.

Setelah Rania pergi, Revano menatap tiga orang di depannya yang mulai bangkit dengan susah payah.

Adrian yang dipenuhi emosi langsung menyerang lebih dulu.

Namun sebelum pukulannya mengenai—

Dugh!

Tendangan Revano menghantam kepala Adrian hingga ia kembali jatuh.

Roni mencoba menyerang dari samping.

Bugh!

Revano menghantam perutnya dengan siku hingga Roni terkapar lagi.

Azran yang tersisa mencoba memukul dari depan, namun Revano dengan mudah menangkis lalu membalas dengan pukulan telak.

Bugh!

Azran jatuh tersungkur di tanah.

Kini ketiganya tergeletak di tanah dengan wajah babak belur.

Revano berdiri tegak menatap mereka dengan dingin.

“Kalian jangan ganggu Rania lagi,” ancamnya.

Adrian yang masih menahan sakit menatapnya dengan marah.

“Emang lo siapa?” ucap Adrian pelan sambil memegangi perutnya.

Revano menatapnya tanpa ekspresi.

“Lo gak perlu tahu siapa gue.”

Ia melangkah mendekat sedikit.

“Yang perlu lo ingat… cuma ancaman gue.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!