NovelToon NovelToon
Susahnya Jadi Mantan Pacar

Susahnya Jadi Mantan Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / CEO
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12

Pembicaraan tentang Novita yang terus-menerus disuruh melakukan berbagai pekerjaan oleh Andra akhirnya sampai juga ke telinga Bu Dewi. Sebagai penanggung jawab staf administrasi, ia tidak bisa lagi berpura-pura tidak tahu. Sudah beberapa hari ia memperhatikan bagaimana gadis baru itu dipanggil berkali-kali ke ruangan direktur administrasi hanya untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya bukan bagian dari pekerjaannya.

Mengantarkan kopi.

Merapikan berkas yang sebenarnya sudah rapi.

Mengambil dokumen yang bahkan bisa diambil sendiri oleh siapa pun.

Awalnya Bu Dewi mencoba berpikir positif. Mungkin itu hanya kebetulan. Mungkin Andra memang sedang membutuhkan bantuan tambahan.

Namun setelah hampir seminggu melihat hal yang sama terjadi berulang kali, perasaan tidak nyaman mulai muncul di dalam hatinya.

Novita baru bekerja genap satu minggu.

Dan bagi Bu Dewi, tekanan seperti itu tidaklah wajar.

Sore itu, setelah cukup lama mempertimbangkan, Bu Dewi akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu ia sukai: berbicara langsung dengan Andra.

Langkahnya berhenti di depan pintu ruang direktur administrasi. Ia menarik napas pelan sebelum mengetuk pintu.

Tok… tok…

“Masuk,” suara Andra terdengar dari dalam.

Bu Dewi membuka pintu perlahan lalu masuk ke ruangan yang luas dan tertata rapi itu. Andra sedang duduk di kursinya, menatap layar laptop dengan ekspresi datar. Beberapa berkas tersusun di meja kerjanya.

Ia melirik sekilas ketika melihat siapa yang datang.

“Oh, Bu Dewi.”

Bu Dewi menutup pintu di belakangnya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Andra singkat.

Bu Dewi berdiri beberapa langkah dari meja itu. Ia mencoba menjaga nada suaranya tetap tenang.

“Pak Andra, saya sebenarnya ingin membicarakan sesuatu.”

Andra bersandar di kursinya, menatapnya dengan alis sedikit terangkat.

“Silakan.”

Bu Dewi sempat terdiam sebentar, seolah memilih kata-kata yang tepat.

“Ini tentang Novita.”

Nama itu langsung membuat mata Andra menyipit tipis.

“Kenapa dengan dia?”

Bu Dewi menghela napas pelan.

“Dia baru bekerja satu minggu di sini, Pak. Saya melihat beberapa hari ini dia sering dipanggil ke ruangan Bapak untuk berbagai pekerjaan.”

Andra menatapnya tanpa ekspresi.

“Lalu?”

“Menurut saya… mungkin sebaiknya tidak terlalu banyak memberikan tekanan pada pegawai baru,” lanjut Bu Dewi dengan hati-hati. “Apalagi pekerjaan yang bukan bagian dari tugas utamanya.”

Suasana di ruangan itu tiba-tiba terasa lebih dingin.

Andra menautkan kedua tangannya di atas meja.

“Tekanan?” ulangnya.

“Iya, Pak.”

Andra mengeluarkan napas pendek, lalu tersenyum tipis—senyum yang tidak benar-benar hangat.

“Bu Dewi, Anda sudah bekerja di kantor ini berapa lama?”

“Hampir dua belas tahun.”

“Berarti Anda seharusnya tahu bagaimana ritme kerja di perusahaan ini.”

Bu Dewi menahan diri untuk tetap tenang.

“Saya tahu, Pak. Tapi—”

“Kalau begitu Anda juga seharusnya tahu,” potong Andra, “bahwa pekerjaan di sini tidak ringan.”

Nada suaranya mulai berubah.

“Orang yang tidak tahan tekanan tidak akan bertahan lama.”

Bu Dewi menggeleng pelan.

“Saya setuju pekerjaan di sini berat. Tapi apa yang Bapak lakukan pada Novita bukan cara yang tepat untuk membentuk mental pegawai.”

Andra menatapnya lebih tajam.

“Menurut Anda begitu?”

“Iya.”

Bu Dewi akhirnya berkata terus terang.

“Memberi tekanan tanpa alasan yang jelas bukan latihan mental. Itu hanya akan membuat pegawai merasa dipermainkan.”

Ruangan itu mendadak hening.

Andra menatapnya cukup lama sebelum akhirnya tertawa kecil.

“Menarik.”

Ia bersandar lebih santai di kursinya.

“Bu Dewi, saya pikir sebagai pegawai senior Anda seharusnya mendukung keputusan manajemen.”

“Saya mendukung perusahaan,” jawab Bu Dewi tegas. “Justru karena itu saya bicara.”

Alis Andra sedikit terangkat.

“Begitu?”

“Saya tidak ingin staf di bawah saya diperlakukan tidak adil.”

Andra menghela napas pelan, seolah mulai kehilangan kesabaran.

“Bu Dewi.”

Suaranya kini lebih rendah.

“Apa yang saya lakukan adalah cara membentuk mental pegawai. Dunia kerja tidak selalu nyaman.”

“Saya tahu itu.”

“Kalau mereka tidak tahan dengan tekanan kecil seperti ini, bagaimana mereka bisa bertahan ketika menghadapi masalah yang lebih besar?”

Bu Dewi menatapnya lurus.

“Pak Andra, tekanan kerja seharusnya datang dari tanggung jawab pekerjaan, bukan dari perlakuan yang sengaja dibuat menyulitkan.”

Kalimat itu membuat Andra sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.

“Jadi Anda mengajari saya cara memimpin?”

“Saya hanya menyampaikan pendapat.”

“Pendapat yang cukup berani.”

Bu Dewi tetap berdiri tegak.

“Saya hanya melakukan tanggung jawab saya sebagai penanggung jawab staf administrasi.”

Andra menghela napas panjang.

Untuk beberapa detik, ia tampak berpikir. Namun kemudian wajahnya berubah menjadi dingin.

“Baiklah.”

Nada suaranya berubah jauh lebih tajam.

“Kalau Anda merasa apa yang saya lakukan salah, Anda bebas tidak setuju.”

Bu Dewi menunggu kelanjutannya.

Namun kata-kata berikutnya membuat jantungnya sedikit berdebar.

“Tapi jangan lupa satu hal.”

Andra berdiri dari kursinya.

“Di kantor ini, saya adalah direktur administrasi.”

Ia berjalan pelan mengitari meja kerjanya.

Langkahnya berhenti beberapa meter di depan Bu Dewi.

“Dan bukan hanya itu.”

Tatapannya kini jauh lebih menekan.

“Saya juga putra ketiga presiden direktur PT Kencana Samudra Jaya.”

Kalimat itu jatuh seperti batu.

“Kalau Anda ingin melawan keputusan saya,” lanjut Andra pelan, “saya tidak akan segan-segan memecat Anda dari kantor administrasi ini.”

Ruangan itu langsung sunyi.

Bu Dewi terdiam.

Selama dua belas tahun bekerja di perusahaan itu, ia sudah menghadapi banyak situasi sulit. Namun ancaman seperti ini tetap saja terasa berat.

Ia tahu Andra tidak bercanda.

Satu kata darinya bisa mengakhiri kariernya di tempat itu.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Akhirnya Bu Dewi menundukkan sedikit kepalanya.

Bukan karena ia setuju.

Tetapi karena ia tahu perdebatan ini tidak akan membawa hasil apa pun.

“Saya mengerti, Pak.”

Suaranya pelan, namun tetap tenang.

Andra menatapnya beberapa saat sebelum kembali ke meja kerjanya.

“Bagus kalau begitu.”

Bu Dewi berdiri diam sebentar.

Di dalam hatinya ada perasaan tidak nyaman yang sulit dijelaskan.

Sebagai seorang yang sudah lama bekerja, nalurinya mengatakan bahwa apa yang terjadi pada Novita tidak benar.

Namun di sisi lain ia juga sadar.

Melawan Andra hanya akan berakhir dengan satu hal.

Kehilangan pekerjaannya.

Dan jika itu terjadi, ia tidak akan bisa membantu siapa pun.

Akhirnya ia menarik napas pelan.

“Kalau tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, saya permisi kembali bekerja.”

Andra melambaikan tangan dengan santai.

“Silakan.”

Bu Dewi berjalan menuju pintu.

Tangannya sudah menyentuh gagang pintu ketika suara Andra kembali terdengar dari belakang.

“Oh ya, Bu Dewi.”

Ia berhenti dan menoleh sedikit.

Andra sedang duduk kembali di kursinya.

“Mulai sekarang,” katanya ringan, “jangan membuat masalah hanya karena seorang staf.”

Ia berhenti sebentar sebelum menambahkan dengan nada dingin.

“Pegawai seperti dia bisa saya ganti kapan saja.”

Kalimat itu membuat dada Bu Dewi terasa berat.

Namun ia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Ia hanya membuka pintu dan keluar dari ruangan itu.

Pintu tertutup pelan di belakangnya.

Di koridor kantor administrasi, suasana masih seperti biasa. Beberapa staf sibuk bekerja di meja mereka.

Namun langkah Bu Dewi terasa sedikit lebih berat dari biasanya.

Ia tahu satu hal dengan jelas.

Ia mungkin tidak bisa melawan Andra secara langsung.

Tetapi hati nuraninya juga tidak bisa terus-menerus melihat Novita diperlakukan seperti itu.

1
viellia
next yuuuk kaaak
Siti Nugraheni
seneng aja bacanya, kosakatanya rapi, alur ceritanya menarik buat dibaca, dan selalu bikin penasaran lanjutan ceritanya
gaby
Resign dong. Bukannya wkt itu Novita bikin beberapa surat lamaran. Masa iya satu pun ga ada yg manggil. Atau jgn2 othornya lupa sm jalan critanya. Gimana nasib surat lamaran itu smua
Black Rascall: mengingatkan saat itu belum ada 19 JT lapangan pekerjaan jadi susah nyari dan Novita bisa kerja berkat om Danu yang merekomendasikan Novita ke HRD jadi tunggu ya kak 19 JT lapangan pekerjaannya 🙏🙏🙏
total 1 replies
falea sezi
bos kurang ajar mundur aja resain
Black Rascall: tunggu 19 JT lapangan pekerjaan dulu kak baru resain
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending
Black Rascall: gak yakin karena baru pertama kali nulis genre seperti ini jadi mohon maklum
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!