Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamar yang Sunyi dan Laporan Aleta
Malam telah larut, namun keheningan di dalam kamar tidur Alisha terasa begitu pekat. Gadis itu duduk di tepi tempat tidur, memeluk kedua lututnya sendiri sambil menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan pekatnya langit malam Kota Bandung. Energi mentalnya hari ini benar-benar terkuras habis, menyisakan kekosongan yang menyesakkan di dalam dada.
Alisha mengembuskan napas berat, mencoba menepis bayangan wajah Rendy dan cowok-cowok kelasnya tadi siang. Kalimat-kalimat beracun itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
“Secara fisik kan kalian jauh banget. Aleta itu putih, cantik, luwes. Lah lo? Kulit gelap, kuper...”
Alisha menggigit bibir bawahnya, merasakan matanya mulai memanas. "Padahal udah biasa diginiin dari dulu," bisik Alisha pada kesunyian kamar. "Tapi kenapa... kenapa rasanya tetep sesakit ini, sih?"
Sejak kecil, perbedaan fisik antara dirinya dan Aleta memang selalu menjadi bahan perbandingan orang-orang. Alisha selalu mencoba tegar, membentengi dirinya dengan tumpukan buku dan nilai-nilai akademik yang sempurna. Ia mengira tameng otaknya sudah cukup kuat. Namun ternyata, ketika tameng itu dihantam secara terang-terangan di depan umum, rasanya tetap saja mampu membuat pertahanannya runtuh tak bersisa.
Di luar kamar, Aleta berdiri di depan pintu yang tertutup rapat itu. Tangannya yang memegang sebuah buku latihan matematika kelas sepuluh menggantung di udara. Ia berniat mengetuk pintu untuk meminta bantuan Alisha menyelesaikan soal logaritma yang rumit.
Namun, Aleta mengurungkan niatnya. Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, ia bisa melihat siluet kakaknya yang duduk meringkuk dengan bahu yang bergetar samar. Tidak ada tawa geli, tidak ada omelan ketus yang cerdas, dan tidak ada sambutan hangat. Alisha yang ada di dalam sana tampak begitu murung dan rapuh—pemandangan yang sangat asing bagi Aleta.
Aleta menurunkan buku tugasnya. Dadanya mendadak ikut merasa sesak. Ia tahu ada yang tidak beres dengan kakaknya sejak pulang sekolah tadi.
Tanpa suara, Aleta membalikkan badan. Alih-alih memaksakan diri masuk, langkah kaki juatru bergerak cepat menuju ke arah dapur, tempat di mana Kak Aryan biasanya sedang membuat kopi setelah pulang dari shift malam di pabrik.
"Kak... Kak Aryan," panggil Aleta dengan suara setengah berbisik begitu sampai di ambang pintu dapur.
Aryan yang sedang mengaduk kopi instannya langsung menoleh. Ia mengernyitkan dahi melihat wajah adik bungsunya yang tampak cemas, tidak ada sisa-sisa kehebohan seperti malam sebelumnya. "Kenapa, Ta? Belum tidur? Itu buku matematika ngapain dibawa-bawa?"
Aleta berjalan mendekat, lalu duduk di salah satu kursi meja makan dengan lesu. "Kak, kak Alisha..."
Gerakan tangan Aryan yang memegang sendok spontan terhenti. Radar protektifnya sebagai abang tertua langsung aktif. "Alisha kenapa?"
"kak Alisha dari sore pulang sekolah murung banget, Kak. Gak kayak biasanya," adu Aleta dengan nada suara yang bergetar cemas. "Tadi aku mau nanya tugas matematika, tapi pas liat dari celah pintu, kak Alisha lagi melamun sendirian kayak mau nangis. Kamarnya sengaja digelapin."
Aryan terdiam, rahangnya sedikit mengeras. Pikirannya langsung melayang pada obrolannya dengan Alisha di dapur ini tadi malam, tentang bagaimana Risa meminta dirinya untuk menjaga ketat rasa percaya diri Alisha dari omongan orang luar.
"Dia gak cerita apa-apa sama kamu?" tanya Aryan, suaranya memberat.
Aleta menggeleng pelan. "Enggak. Tapi aku yakin pasti ada kejadian buruk di sekolahnya tadi siang. Kak Alisha kan tipe orang yang kalau punya masalah apa-apa pasti dipendam sendiri, Kak. Aku takut Kak Alisha di-bully lagi kayak waktu itu..."
Aryan mengembuskan napas panjang, meletakkan cangkir kopinya yang belum sempat diminum ke atas meja. Ia menepuk pundak Aleta dengan lembut untuk menenangkan adiknya.
"Yaudah, tugas matematikanya taruh sini. Biar Kakak yang bantu kerjain sebisanya," ucap Aryan tenang namun tegas. "Soal Alisha, kamu gak usah panik. Biar nanti Kakak yang cari tahu dan beresin."
Keesokan paginya, suasana fajar di sudut Kota Bandung terasa begitu dingin dan berkabut. Di meja makan, Ibu sudah menyiapkan sarapan nasi goreng sederhana. Aleta sudah rapi dengan seragam putih abu-abunya, duduk diam sambil mengunyah makanannya tanpa banyak tingkah—sesuatu yang sangat tidak biasa untuk seorang Aleta.
Tak lama kemudian, Alisha keluar dari kamar. Seragamnya sudah rapi, namun wajahnya terlihat pucat dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya. Ia duduk di kursi meja makan, hanya mengaduk-aduk nasi gorengnya tanpa selera.
Aryan yang baru selesai bersiap-siap untuk berangkat kerja, berjalan menghampiri meja makan. Cowok bertubuh tegap itu tidak langsung duduk. Ia berdiri di dekat kursi Alisha, melipat tangan di dada, lalu menatap adik perempuannya itu dengan sorot mata menyelidik yang tajam.
"Sha," panggil Aryan, suaranya berat memecah keheningan pagi.
Alisha mendongak pelan. "Kenapa, Kak?"
"Kamu ada masalah apa di sekolah kemarin?" tanya Aryan langsung tanpa basa-basi. Tatapannya begitu lurus, membuat Ibu yang sedang berada di dapur langsung menghentikan aktivitasnya dan ikut menoleh.
Alisha mengembuskan napas pendek. Ia tahu ini pasti ulah laporan Aleta semalam. Mengingat kejadian kemarin siang di kelas membuat emosi Alisha yang belum stabil mendadak naik ke permukaan. Ada rasa sesak, malu, sekaligus risih karena privasi kesedihannya diusik, bahkan oleh keluarganya sendiri.
"Gak ada apa-apa, Kak. Cuma capek aja karena materi olimpiade kemarin numpuk," jawab Alisha, mencoba terdengar datar walau nadanya sedikit bergetar.
"Jangan bohong sama Kakak, Alisha," sergah Aryan, nadanya meninggi satu oktav, menuntut kejujuran. "Aleta liat kamu nangis semalem. Kalau ada cowok atau siapapun di sekolah yang macem-macem atau ngomong yang nggak-ngggak soal fisik kamu lagi, bilang sama Kakak. Biar Kakak yang dateng ke sekolah kamu sekarang."
Kekhawatiran Aryan yang terlalu protektif itu justru menjadi pemantik bagi emosi Alisha yang sudah berada di ambang batas sejak kemarin. Alisha meletakkan sendoknya dengan bunyi ting yang cukup keras di atas piring. Ia berdiri dari kursinya, menatap Aryan dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena perpaduan rasa sedih, marah, dan frustrasi yang campur aduk.
"Kak Aryan bisa stop gak, sih?!" seru Alisha, suaranya bergetar emosional, membuat seisi ruangan tengah seketika membeku.
Aleta refleks mencicit ketakutan di kursinya, sementara Ibu hanya bisa mematung.
"Alisha dibilang gapapa ya gapapa! Alisha gak butuh Kak Aryan dateng ke sekolah dan bikin heboh!" Alisha menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan air mata yang mendesak keluar. Kalimat berikutnya keluar dengan begitu tegas dan dingin, mengunci mulut semua orang di ruangan itu.
"Alisha bukan anak kecil lagi, Kak. Kalaupun emang ada apa-apa... Alisha bisa ngurus diri Alisha sendiri!"
Setelah melontarkan kalimat menohok itu, Alisha langsung menyambar tas sekolahnya di atas kursi, berbalik dengan cepat, dan melangkah lebar meninggalkan rumah, membanting pintu depan hingga menimbulkan suara dentuman keras yang menggema di kesunyian pagi.
Aryan hanya bisa terpaku di tempatnya, menatap pintu yang tertutup rapat dengan rahang mengeras dan perasaan campur aduk, menyisakan ketegangan pekat yang belum terselesaikan.