GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔
Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔
Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥
📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Di Ambang Gerbang Mimpi
Matahari baru saja mengintip naik ke ufuk timur, menyebarkan cahaya jingga keemasan yang indah banget di langit kota. Udara pagi itu terasa sangat sejuk, masih ada embun-embun kecil yang menempel di dedaunan pinggir jalan, bikin suasana rasanya damai dan segar banget. Bagi kebanyakan orang, pagi ini mungkin biasa aja, tapi bagi Luna... pagi ini adalah pagi paling bersejarah dalam hidupnya, setelah kepergian Ayah dan Ibu dulu.
Sejak jam 3 pagi, Luna udah bangun. Dia nggak bisa tidur lagi gara-gara deg-degan campur senang luar biasa. Jantungnya berdegup kencang banget, rasanya mau copot aja saking antusiasnya. Dia mandi dengan penuh semangat, menggosok badan sampai bersih banget, menyisir rambut hitam panjangnya sampai halus dan berkilau kena cahaya lampu temaram kamarnya. Hari ini dia mau ketemu pemilik kios, mau tanda tangan perjanjian sewa, dan mau resmi ambil alih tempat dagangan yang udah dia idam-idamkan dari setahun lalu.
Baju yang dia pakai pagi ini adalah baju terbaik dan terbagus yang dia punya. Tetap sederhana, katun polos berwarna putih bersih yang udah dia setrika licin banget, bawahan rok warna biru dongker, dan rambutnya dikuncir rapi ke belakang biar kelihatan sopan, rapi, dan meyakinkan. Dia mau tunjukin ke pemilik tempat kalau dia cewek yang jujur, serius, dan bertanggung jawab, biar dipercaya dikasih tempat itu.
Di dalam baju dalamnya, terselip aman banget kain pembungkus uang tabungan hasil keringat dia satu setengah tahun lebih ini. Dijahit rapat, diikat kencang, nempel banget di kulit dada sebelah kiri, persis di atas jantungnya yang berdebar kencang. Uang itu rasanya jadi bagian paling berharga dari tubuhnya sendiri. Tiap kali dia gerak atau napas, dia bisa ngerasa ada beban kecil di sana, tapi beban itu bukan beban berat... itu beban bahagia, beban harapan, beban mimpi yang sebentar lagi bakal jadi nyata.
Sebelum keluar dari kamar kontrakan sempitnya, Luna berhenti sebentar di depan pintu. Dia ambil foto kecil Ayah Haris sama Ibu Sumi dari saku bajunya, natap wajah mereka lama banget sambil senyum manis.
"Ayah... Ibu... lihat ya, hari ini hari besar kita. Hari ini langkah pertama kita jadi orang sukses dimulai. Doain Luna ya, semuanya lancar, pemiliknya baik, tempatnya cocok, dan rezekinya lancar jaya. Luna janji, nanti pas usahanya udah rame dan besar, Luna bakal ke makam kalian, bakal bawain makanan enak, bakal cerita semuanya," bisiknya pelan sambil cium foto itu sebelum disimpen lagi.
Luna tarik napas dalem-dalem, kuatin hati, terus melangkah keluar pintu. Udara pagi nyambut dia dengan hangat, burung berkicau riang seolah ikut senang sama kebahagiaannya. Langkah kakinya enteng banget, hampir kayak melayang. Dia jalan lewat jalan kecil yang kemarin dia temuin, jalan pintas yang lebih deket ke lokasi kios itu, jalan yang dia kira sepi, aman, dan tenang.
Di saat yang sama, di ujung jalan lain nggak jauh dari situ, suasana jauh lebih mewah dan dingin. Sebuah mobil sedan hitam besar mengkilap, merek langka yang harganya bisa buat beli puluhan rumah sekaligus, melaju pelan keluar dari gerbang perumahan elit yang dijaga ketat. Di dalam mobil itu, suasananya hening banget, ber-AC dingin, wangi parfum mahal yang bikin tenang.
Di kursi belakang, duduk Aditya Pratama. Dia lagi baca dokumen penting sambil satu tangannya menopang dagu, wajahnya datar banget, dingin, dan serius. Nggak ada ekspresi sedikit pun di wajah gantengnya itu, persis kayak patung pualam yang sempurna tapi kaku. Di sebelahnya ada tumpukan berkas-berkas kerjaan yang harus dia selesaikan pagi ini di kantor.
"Supir, agak dipercepat dikit. Ada rapat penting jam delapan kurang seperempat," perintah Aditya singkat, suaranya berat dan rendah.
"Siap, Tuan. Tapi jalan utama lagi agak macet dikit laporan radio, mungkin kita ambil jalan pintas aja ya Tuan? Jalan kecil di sebelah kanan ini, lebih cepat sampai katanya," jawab sopirnya dengan sopan dan hati-hati.
Aditya cuma angguk pelan tanpa ngangkat muka dari berkasnya. "Terserah. Yang penting cepet sampai."
Mobil mewah itu pun belok masuk ke jalan kecil yang lebih sempit itu, jalan yang sama persis sama jalan yang sedang dilalui Luna saat ini. Jalan beraspal bagus, tapi cuma muat dua mobil berpapasan, sepi banget, di kiri kanannya banyak tanaman hijau dan pagar tembok tinggi.
Sambil jalan ceria, Luna natap sekeliling dengan mata berbinar indah. Dia lihat pemandangan di sini asri banget, bersih, sepi, enak banget buat dipandang. Dia senyum-senyum sendiri, membayangkan nanti pas usahanya udah jalan dan sukses besar, dia bakal beli rumah di daerah sepi dan asri kayak gini. Dia bakal punya halaman luas, banyak bunga, tempat buat dia istirahat tenang jauh dari hiruk-pikuk kota.
"Nanti aku bakal tanam bunga melati kesukaan Ibu Sumi di halaman rumahku. Ayah Haris suka duduk santai di kursi bambu sambil ngopi... nanti aku bikinin teras luas buat santai-santai," batin Luna melamun jauh, tenggelam banget di dalam dunia indah khayalannya sendiri.
Dia jalan makin ceria, kadang sambil bersenandung pelan lagu-lagu desa yang dulu sering dia nyanyiin bareng Ibu. Dia sama sekali nggak waspada ke depan, matanya kadang natap langit, kadang natap tanaman pinggir jalan, kadang natap ujung sepatunya yang udah agak tipis tapak kakinya. Dia terlalu bahagia pagi ini, terlalu tenggelam sama mimpinya, sampai lupa kalau jalanan itu milik umum, dan banyak kendaraan lewat.
Di belakangnya, mobil hitam besar itu melaju lumayan kencang. Sopirnya hati-hati sih, tapi karena jalannya sepi dan lurus panjang, dia nambah kecepatan dikit. Dari balik kaca depan, sopir itu lihat ada cewek muda jalan di tengah trotoar, kelihatan dari punggungnya itu cewek kecil, kurus, pake baju putih bersih.
Aditya yang dari tadi diam dan fokus baca berkas, tiba-tiba aja gerahamnya mengeras. Ada rasa nggak enak yang tiba-tiba nyerang dadanya, rasa yang bikin dia nggak tenang. Dia angkat muka, natap keluar jendela, dan pandangannya langsung jatuh ke sosok cewek yang jalan di depan itu.
Punggung itu... cara jalan itu... gaya rambut itu...
Jantung Aditya berdegup kencang banget, rasanya aneh dan nggak wajar. Dia kenal banget punggung itu. Itu punggung cewek yang dia lihat di warung kemarin lusa! Cewek yang senyumnya tulus banget, cewek yang matanya bening banget, cewek yang dari kemarin nggak pernah hilang dari pikirannya.
"Pelan! Kurangi kecepatan!" perintah Aditya tiba-tiba keras banget, bikin sopirnya kaget setengah mati dan langsung injak rem dikit.
"Ba... baik, Tuan! Ada apa Tuan?" tanya sopirnya bingung setengah takut.
"Nggak ada. Hati-hati aja," jawab Aditya ketus, dia natap terus sosok itu dengan tatapan tajam dan penasaran. "Ngapain dia di sini? Jauh banget dari warungnya. Emangnya dia tinggal di sekitar sini? Atau mau ke mana?" pikirannya berisik banget.
Tanpa sadar, Aditya jadi ngawasin gerak-gerik Luna terus. Dia lihat cewek itu jalan ceria banget, senyum-senyum sendiri, kelihatan banget lagi bahagia luar biasa. Ada rasa hangat aneh di hati Aditya pas lihat senyum itu. Senyum yang tulus banget, senyum yang polos banget, senyum yang udah lama banget nggak dia lihat di sekitarnya. Semua orang yang dia kenal senyumnya selalu ada maunya, selalu palsu, selalu penuh kepentingan. Tapi senyum cewek ini... beda banget.
Tiba-tiba aja, kejadian itu terjadi secepat kilat, nggak ada yang nyangka, nggak ada yang sempat nahan.
Pas Luna lagi mau nyebrang dikit buat ngeliat bunga yang warnanya merah cerah di pinggir pagar, ada kucing kecil lari kencang banget dari semak-semak nyebrang jalan persis di depan kaki Luna. Luna kaget banget, refleks dia langsung melompat mundur ke tengah jalan buat ngindarin kucing itu.
"Eh, meonggg... awas ya!" seru Luna kaget.
Tapi pas dia melompat mundur itu, kakinya kepleset dikit kena kerikil jalan, badan dia oleng ke belakang, dan di saat yang sama... mobil mewah Aditya ada tepat di belakangnya, jaraknya udah deket banget karena tadi sopirnya sempat nambah kecepatan dikit.
"AWASSS!!!" teriak Aditya kaget banget, dia langsung maju ke depan bangku, matanya melotot ngeri.
Sopirnya langsung injak rem sekuat tenaga, ban mobil berdecit keras bikin telinga sakit, mobil itu tersentak hebat dan berhenti mendadak. Tapi... telat dikit.
Badan Luna yang oleng itu nyerempet ujung bumper depan mobil besar itu. Dia jatuh terjerembab ke samping, tapi tangannya yang refleks nahan jatuh malah menggores sekuat tenaga ke badan mobil yang mengkilap itu.
KREEETTTT...!!!
Suara gesekan besi bikin merinding kedengeran jelas banget. Luna jatuh duduk di aspal, kaget dan agak keseleo dikit kakinya. Dia pegang dadanya, napasnya tersengal kaget banget.
"Aduh... sakit..." rintihnya pelan, dia angkat muka mau minta maaf, pikirnya dia cuma nyerempet dikit aja, nggak bakal apa-apa.
Tapi pas dia natap ke badan mobil itu... darahnya langsung berhenti mengalir seketika.
Di badan mobil hitam yang mulus dan kinclong itu, ada goresan panjang banget, dalam banget, putih garisnya nyolok banget kena cat hitamnya. Goresan itu besar, jelas, dan rusak parah.
Dan di saat yang sama, pintu mobil terbuka lebar dari dalam. Aditya Pratama turun dengan wajah merah padam menahan amarah yang meledak seketika. Matanya melotot tajam banget, tatapannya nyeremin banget kayak mau membunuh orang. Wajah gantengnya berubah jadi mengerikan banget gara-gara marah besar.
Luna yang lihat sosok itu turun, langsung gemetar hebat, keringat dingin langsung keluar banjir. Jantungnya rasanya mau copot ketakutan.
"Tuan Aditya Pratama...!!! Orang itu pemilik mobil ini?! Ya Allah... kenapa harus dia?! Kenapa nasibku sial banget sih?!" jerit Luna dalam hati, rasanya pengen hilang ditelan bumi saat itu juga.
Aditya jalan tegap banget mendekati Luna yang masih duduk di aspal kaku ketakutan. Dia berhenti tepat di depan Luna, natap cewek itu dari atas ke bawah dengan pandangan benci dan marah luar biasa.
"Kamu...!!!" bentak Aditya keras banget, suaranya menggelegar bikin burung-burung di pohon terbang semua. "Kamu nggak punya mata ya?! Kamu tau berapa harga mobil ini?! Kamu tau berapa mahal cat ini?! Kamu tau berapa susah benerin goresan ini?!"
Aditya nunjuk badan mobilnya yang penuh goresan itu dengan tangan gemetar karena marah. Amarahnya bukan cuma karena barang mahalnya rusak, tapi juga karena dia udah takut setengah mati tadi mikir cewek itu bakal ketabrak parah. Campuran rasa takut lega dan marah bikin dia meledak jadi satu.
Luna bangkit berdiri dengan susah payah, kakinya gemetar bukan main, matanya berkaca-kaca takut banget. Dia tunduk dalam-dalam, tangan dia meremas ujung bajunya kencang banget.
"Ma... maafkan saya, Tuan... saya nggak sengaja... ada kucing lewat... saya kaget... saya minta maaf banget..." suaranya lirih, parau, dan takut banget.
"Maaf?!" seru Aditya sinis ketus, dia maju selangkah makin deket bikin Luna mundur ketakutan. "Maaf doang nggak cukup, Nona cantik! Kerusakan ini nilainya ratusan juta! Ratusan juta rupiah! Kamu kira barang aku ini barang rongsokan yang bisa kamu gores sembarangan?!"
Luna rasanya dunianya runtuh lagi, lebih parah daripada waktu Ayah Ibu meninggal. Ratusan juta?! Dia cuma punya uang tabungan beberapa juta aja buat buka usaha, itu aja udah mati-matian. Ratusan juta itu angka yang nggak pernah dia bayangin seumur hidupnya. Dia pucat pasi, wajahnya putih bersih jadi putih mayat saking kaget dan takutnya.
"Ra... ratusan juta...??" bisiknya nyaris nggak kedengeran, matanya kosong menatap lantai. "Sa... saya nggak punya uang sebanyak itu, Tuan... saya cuma anak miskin... saya nggak mampu bayar..."
Aditya tersenyum miring, senyum yang sama sekali nggak ramah, senyum serigala yang lagi dapet mangsa. Dia natap Luna yang gemetar ketakutan itu lekat-lekat. Dia inget cewek ini, dia tau cewek ini miskin, dia tau cewek ini nggak bakal mampu bayar. Dan momen ini... momen ini yang dia tunggu tanpa sadar. Momen di mana cewek itu ada di bawah kuasa dia sepenuhnya.
Aditya maju makin deket, membungkuk dikit sampe wajahnya sejajar sama Luna, matanya menatap tajam lurus ke manik mata bening Luna.
"Kalau gitu..." ucap Aditya pelan tapi berisi ancaman berat, suaranya dingin banget bikin tulang sumsum beku. "Kamu punya dua pilihan aja, Nona. Atau kamu ganti rugi lunas hari ini juga... atau kamu masuk penjara seumur hidup karena merusak harta milikku. Atau..."
Aditya diam sebentar, senyum makin lebar tapi makin nyeremin.
"Atau kamu ikut aku. Kamu jadi milikku. Kamu jadi pelayan pribadiku, kerja buat aku sampai hutang lunas. Pilih sekarang! Mau masuk penjara... atau jadi pelayan aku?!"
Luna ternganga nggak percaya, air matanya langsung tumpah deras. Di depan dia, mimpi indah buka usahanya hancur lebur. Di depan dia, ada dua pilihan yang sama beratnya. Penjara... atau jadi milik laki-laki paling dingin dan kejam sedunia.
(BERSAMBUNG)
📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷
Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰
Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷
Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷