NovelToon NovelToon
Perjodohan Berbalut Dendam

Perjodohan Berbalut Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.

Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.

Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang Masa Depan

Suara pintu ruangan besar itu tertutup rapat, meninggalkan keheningan yang kembali menyelimuti Dewa Angkasa Buwana. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar samar, berpacu dengan kekacauan emosi yang bergemuruh di dalam dada pria itu. Ia masih berdiri di dekat jendela kaca raksasa, menatap bayangannya sendiri yang terpantul di kaca gelap itu. Di sana terpampang sosok pria yang tampan, berkuasa, dan ditakuti oleh seluruh isi kota. Namun, di balik kemegahan itu, tersembunyi luka lama yang membusuk dan dipelihara dengan penuh kebencian selama lebih dari sepuluh tahun.

Dewa kembali menatap foto Naura yang masih tergeletak di atas meja kerjanya. Tangannya yang besar dan kasar meraih bingkai itu kembali, mengangkatnya setinggi mata. Wajah wanita itu begitu damai, begitu bersih, dan begitu bahagia dalam foto itu. Senyum itu... senyum yang seolah tidak pernah tersentuh oleh kejahatan dunia. Senyum yang sangat kontras dengan kehidupan kelam yang ia jalani selama ini.

"Kau tidak tahu apa yang menunggumu, Naura," gumam Dewa pelan, suaranya berat dan penuh tekanan. Jari telunjuknya menyentuh kaca di atas wajah wanita itu, seolah ingin menyentuh kulitnya yang halus. "Kau pikir kau akan menikah dengan pria kaya yang akan menjagamu? Kau pikir kau akan hidup seperti putri raja? Kau salah besar. Kau akan masuk ke nerakaku. Dan aku akan memastikan kau merasakan setiap tetes rasa sakit yang keluargamu berikan padaku dulu."

"Kau akan menjadi ujian terberat bagiku, Naura," bisiknya lagi. "Dan aku berjanji, aku tidak akan memberimu ampun sedikit pun."

Sementara itu, di dalam mobil mewah yang melaju membelah jalanan ibu kota yang mulai sepi, Pak Hadi Zafira duduk bersandar di kursi belakang dengan tubuh yang masih gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin masih menetes di dahinya meski suhu pendingin udara di dalam mobil cukup dingin. Ia menatap kosong ke arah jendela kaca yang menampilkan pemandangan gedung-gedung tinggi yang berderet rapi, namun matanya tidak benar-benar melihat apa pun. Pikirannya melayang jauh, terjebak dalam rasa bersalah yang luar biasa berat.

Aku sudah menjualnya... Aku sudah menjual putriku sendiri ke tangan iblis itu, batin Pak Hadi meratap dalam hati. Rasa sakit menyayat hatinya begitu hebat, seolah ada pisau tajam yang berputar-putar di dalam rongga dadanya.

Pak Hadi turun dari mobil dengan langkah yang terhuyung-huyung. Ia menatap rumah besar itu dengan pandangan yang berkabut. Di dalam sana, ada cahaya yang paling terang dalam hidupnya. Dan sebentar lagi, ia harus memadamkan cahaya itu, menyerahkannya ke dalam kegelapan yang paling pekat.

Dengan langkah berat, Pak Hadi melangkah masuk ke dalam rumah. Suasana di dalam ruang tamu tampak hangat dan damai. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya kuning keemasan, aroma bunga segar memenuhi udara, dan suara musik klasik terdengar samar dari ruang tengah.

Dan di sana, duduk di sofa panjang sambil memegang sebuah buku tebal, ada Naura.

Wanita muda itu sedang tersenyum manis sambil membaca, rambut hitam panjangnya terurai indah jatuh menutupi bahu. Ia mengenakan gaun tidur berwarna krem yang sederhana namun tetap terlihat anggun. Cahaya lampu jatuh tepat di wajahnya, membuat kulitnya tampak bersinar lembut.

Mendengar suara langkah kaki ayahnya, Naura mengangkat wajah, menutup bukunya perlahan, lalu tersenyum lebih lebar saat melihat sosok ayahnya. Senyum yang begitu tulus, begitu penuh kasih sayang, senyum yang selalu mampu mencairkan hati siapa pun yang melihatnya. Namun malam ini, senyum itu justru menjadi tusukan tajam yang menyakitkan bagi hati Pak Hadi.

"Ayah sudah pulang?" sapa Naura ramah, ia bangkit berdiri dan berjalan menghampiri ayahnya, lalu mencium punggung tangan lelaki tua itu dengan sopan. "Kok pulangnya agak malam? Ibu sudah menunggu di ruang makan, katanya mau menunggu Ayah makan malam bersama."

Suara Naura lembut, tenang, dan penuh kehangatan. Sangat berbeda dengan suara berat, dingin, dan mengancam milik Dewa Angkasa Buwana yang masih bergaung di telinga Pak Hadi.

Pak Hadi menatap wajah putrinya lekat-lekat. Ia menatap mata cokelat bening itu, mata yang polos dan penuh kepercayaan. Rasa bersalah itu kembali meledak hebat di dadanya. Ia ingin sekali berlutut di hadapan putrinya, meminta maaf sebesar-besarnya, dan menceritakan semuanya. Ia ingin berteriak bahwa ia salah, bahwa ia pengecut, bahwa ia telah menjual masa depan putrinya demi menyelamatkan diri sendiri.

Namun, rasa takut akan ancaman Dewa kembali menghantam pikirannya. Ia ingat ucapan pria itu: Jangan beritahu alasan sebenarnya. Biarkan dia datang dengan hati bersih, agar aku bisa menghancurkannya perlahan.

Jika Naura tahu bahwa pernikahan ini murni karena dendam, mungkin gadis itu akan menolak, mungkin gadis itu akan lari, dan hal terburuknya... Dewa akan marah besar dan menghancurkan mereka semua tanpa ampun. Lebih baik Naura membenci ayahnya karena masalah bisnis, daripada Naura harus menghadapi bahaya maut yang jauh lebih besar.

"Ayah? Kenapa diam saja?" Naura mengerutkan keningnya sedikit, khawatir melihat ekspresi ayahnya yang aneh dan pucat. Ia menyentuh lengan ayahnya pelan. "Ayah sakit? Atau ada masalah besar di kantor?"

"Ayah baik-baik saja, Sayang," jawab Pak Hadi dengan suara yang berusaha ia buat setenang mungkin, meski sedikit bergetar. Ia mengelus kepala putrinya dengan tangan yang gemetar. "Ayo, kita duduk dulu. Ada hal penting yang harus Ayah bicarakan padamu... dan pada Ibumu."

Naura semakin bingung, namun ia mengangguk patuh. Ia mengantar ayahnya duduk di sofa, lalu memanggil ibunya yang sedang ada di dapur. Tak lama kemudian, Ibu Lina datang dengan wajah yang sedikit penasaran, melihat suaminya yang tampak begitu kacau dan serius.

"Ada apa, Yah? Wajahmu kok pucat sekali?" tanya Ibu Lina sambil duduk di sebelah suaminya, meraih tangan suaminya yang dingin dan lembap oleh keringat.

"Naura... Ibu..." suara Pak Hadi terdengar berat dan parau. Ia menelan ludah susah payah sebelum melanjutkan. "Ayah punya kabar... sebuah keputusan yang sudah diambil, dan tidak bisa diubah lagi."

Naura memiringkan kepalanya sedikit. "Keputusan apa, Yah? Tentang apa?"

"Tentang masa depanmu, Naura," jawab Pak Hadi pelan. Ia memejamkan matanya sesaat, lalu kembali membukanya dengan tatapan yang sudah pasrah. "Ayah sudah menjodohkanmu. Dan dalam waktu tiga hari lagi... kau akan menikah."

Keheningan mendadak menyelimuti ruangan itu. Hening yang begitu tebal hingga suara detak jam dinding terdengar begitu nyaring dan mengganggu.

Mata Naura terbelalak lebar, mulutnya sedikit terbuka karena keterkejutan yang luar biasa. Ia menatap ayahnya, lalu ibunya, bergantian. Ia mengira ia salah dengar. Menikah? Dalam tiga hari? Dengan siapa?

"Menikah?" ulang Naura pelan, suaranya terdengar bingung dan tidak percaya. "Ayah... bercanda kan? Ini bukan waktunya bercanda. Aku belum siap, Yah. Aku masih mau melanjutkan kuliahku, aku masih punya banyak rencana. Dan... dan dengan siapa? Siapa pria yang Ayah pilihkan untukku?"

Air mata mulai menggenang di sudut mata Naura, bukan karena sedih, tapi karena kaget dan bingung. Ia tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Ia selalu berpikir ia akan menikah dengan orang yang ia cintai, dengan orang yang ia pilih sendiri, dan di waktu yang tepat saat ia sudah siap.

"Siapa dia, Yah?" tanya Naura lagi, suaranya mulai bergetar.

Pak Hadi menghela napas panjang, lalu menjawab dengan tegas namun penuh rasa sakit. "Dewa Angkasa Buwana."

Naura pernah mendengar bisik-bisik orang dewasa tentang pria itu. Pria yang tidak pernah tersenyum, pria yang tidak pernah gagal mendapatkan apa yang ia inginkan, pria yang bisa membuat orang lain hancur hanya dengan satu jentikan jari.

"Dewa Angkasa Buwana?" ulang Naura, matanya memanas. "Yah... itu orang yang sama sekali tidak kukenal. Orang yang... yang katanya kejam dan mengerikan itu? Kenapa Ayah memilih dia? Kenapa harus dia? Ayah tahu kan apa kata orang tentang dia? Dia bukan orang baik, Yah!"

Naura bangkit berdiri, emosinya mulai naik. Ia tidak bisa menerima ini. Ia tidak mau dijodohkan dengan pria yang bahkan tidak ia kenal, apalagi pria yang reputasinya seburuk itu.

"Ayah tidak mau, Naura percayalah..." kata Pak Hadi, suaranya mulai meninggi karena kepedihan yang tertahan. Ia pun bangkit berdiri, menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. "Tapi Ayah tidak punya pilihan lain. Perusahaan Ayah sedang dalam masalah besar, Naura. Hutang Ayah menumpuk, dan satu-satunya orang yang bisa menolong kita, yang mampu menyelamatkan nama baik keluarga kita dari kehancuran total... hanyalah dia. Dewa Angkasa Buwana."

"Jadi... aku ini cuma jaminan hutang?" tanya Naura, air matanya akhirnya jatuh membasahi pipi cantiknya. Hatinya terasa sakit sekali, sakit yang tak terlukiskan. Selama ini ia pikir ia adalah putri kesayangan, anak yang dibanggakan. Tapi ternyata, di saat kritis, ia hanyalah barang tukar untuk menyelamatkan harta dan nama baik keluarga.

"Bukan begitu, Nak..." isak Ibu Lina yang sejak tadi diam, kini ikut menangis dan berusaha merangkul putrinya. "Ibu mohon mengertilah. Ini demi kebaikan kita semua. Jika kau tidak mau, kita semua akan hancur. Kita akan jatuh miskin, kita akan dihina, dan mungkin... hal yang lebih buruk akan terjadi pada kita. Dewa Angkasa Buwana bukan orang yang bisa ditolak permintaannya."

"Jadi aku harus mengorbankan kebahagiaanku demi kebahagiaan kalian?" tanya Naura pelan, suaranya bergetar namun tetap terdengar tegas. "Aku harus hidup dengan pria yang kejam, yang tidak aku cintai, yang mungkin akan menyakitiku... hanya demi menyelamatkan harta kita?"

"Naura, tolong pahami posisi Ayah..." Pak Hadi mencoba meraih tangan putrinya, namun Naura menarik tangannya.

"Aku paham, Yah," potong Naura. Ia mengusap kasar air matanya, lalu menegakkan tubuhnya. Sifat tegas dan ketangguhan yang tersembunyi dalam dirinya mulai muncul, meski hatinya sedang hancur berkeping-keping. "Aku paham sekarang. Tidak ada gunanya aku menolak. Aku tahu betul siapa Dewa Angkasa Buwana. Jika aku menolak, dia akan menghancurkan kita semua. Ayah sudah membuat keputusan, dan keputusan itu sudah final, bukan?"

Pak Hadi hanya bisa menunduk diam, tidak sanggup menatap mata putrinya lagi. Diamnya itu adalah jawaban yang paling menyakitkan.

"Baiklah," kata Naura pelan. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Wajahnya yang semula penuh air mata kini perlahan berubah menjadi datar dan dingin. "Kalau itu memang keinginan Ayah dan Ibu... kalau itu memang satu-satunya jalan untuk menyelamatkan keluarga ini... aku akan melakukannya. Aku akan menikah dengan Dewa Angkasa Buwana."

Kedua orang tuanya mendongak kaget, tidak menyangka putri mereka yang biasanya lembut itu akan menerima nasib seberat ini dengan kepala tegak.

"Tapi ingat satu hal, Yah..." Naura menatap ayahnya tajam, matanya yang bening kini memancarkan ketegaran yang luar biasa. "Aku melakukannya bukan karena aku takut pada pria itu. Dan bukan karena aku rela dijual begitu saja. Aku melakukannya karena aku anakmu. Tapi aku berjanji... aku tidak akan membiarkan siapa pun memperlakukanku sembarangan. Termasuk Dewa Angkasa Buwana. Aku bukan boneka yang bisa dipermainkan."

Naura berbalik, berjalan menjauh menuju tangga yang mengarah ke kamarnya. Sebelum menghilang di balik pintu kamarnya, ia berhenti sejenak dan berkata tanpa menoleh ke belakang.

"Silakan atur semuanya, Yah. Tiga hari lagi, kan? Aku akan siap. Tapi mulai hari ini... jangan harap kau melihatku tersenyum lagi seperti dulu. Karena senyum itu sudah kau jual bersamaku."

Pintu kamar tertutup rapat dengan suara klik yang lembut namun terdengar begitu mengerikan bagi hati Pak Hadi dan Ibu Lina. Mereka duduk kembali di sofa, menangis dalam diam, menyadari bahwa mereka baru saja kehilangan putri mereka yang berharga, meski putri itu masih hidup dan berada di bawah atap yang sama.

Di dalam kamar, Naura bersandar di balik pintu, lalu meluruh ke lantai. Ia memeluk kedua lututnya erat-erat, membiarkan tangisnya meledak lepas. Rasa sakit, rasa takut, rasa kecewa, dan rasa bingung bercampur aduk menjadi satu.

Dewa Angkasa Buwana... nama itu terngiang terus di kepalanya.

Ia tidak tahu apa yang menunggunya. Ia tidak tahu seperti apa wajah pria itu. Ia hanya tahu bahwa pria itu adalah iblis yang ditakuti seluruh kota. Pria yang dingin, kejam, dan berkuasa.

"Kau ingin aku, Tuan Buwana?" bisik Naura di antara isak tangisnya. Ia mengangkat wajahnya, menatap cermin besar di sudut ruangan dengan sorot mata yang mulai berubah. Rasa takut perlahan berganti menjadi rasa tantangan.

"Kau mengira aku akan menjadi wanita lemah yang akan menangis dan memohon belas kasihan padamu? Kau keliru besar. Aku Naura Aulia Zafira. Dan aku tidak akan membiarkanmu menghancurkanku semudah itu. Jika kau mengira aku akan menjadi bayang-bayang di duniamu... kau salah. Aku akan menjadi mimpi buruk terbesarmu."

Di seberang kota, di puncak gedung tertinggi itu, Dewa Angkasa Buwana sedang menatap langit malam yang gelap. Ia tersenyum miring, seolah bisa merasakan emosi yang sedang bergolak di dalam hati wanita yang akan menjadi istrinya itu.

Tiga hari lagi.

Dua dunia yang sangat berbeda akan bertemu. Dunia cahaya dan dunia kegelapan. Dunia kebencian dan dunia kasih sayang. Dan di antara keduanya, terjalin sebuah ikatan yang dibangun di atas tumpukan masa lalu yang kelam.

 

1
Rara M.
wow 💗🎈👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!