Q adalah makhluk hidup. Q adalah esensi alam semesta.
Dengan semakin berkembangnya tenaga uap dan mesin, siapa yang bisa mendekati sosok Master Q? Terselubung dalam kabut dan kegelapan, siapa atau apa kejahatan yang mengintai dan berbisik di telinga kita?
Terbangun dengan serangkaian kebingungan dan misteri, Bagas Pratama mendapati dirinya bereinkarnasi ke tubuh seorang remaja bernama Rostav Zertu di dunia yang dipenuhi oleh lautan dan dikuasai oleh mesin uap, bajak laut, meriam, serta Ramuan, Q, dan Anomali.
Ikuti kisah Rostav Zertu dalam menghadapi bahaya dan misteri yang mengincarnya, saat terlibat dengan organisasi-organisasi rahasia yang ada di dunia.
Ini adalah kisah dari "Kapten Mawar Hitam".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DaoisttjmlCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - Ikan Tanpa Sisik
Rostav merinding tanpa sadar saat membaca nama itu. "Laut Mayat? Nama itu terdengar sangat mengerikan. Apakah kapal ini benar-benar sedang berlayar di perairan berbahaya? Warna langit dan air laut yang merah seperti darah membuatnya semakin masuk akal."
Tapi, Rostav bertanya-tanya, apakah nama "Laut Mayat" hanya diambil dari warnanya yang mengerikan itu, atau ada sesuatu yang lebih kelam di baliknya?
"Atau mungkin dulu pernah terjadi pertumpahan darah besar di tempat ini. Begitu banyak nyawa melayang hingga dasar laut dipenuhi mayat. Karena itulah orang-orang menamainya Laut Mayat?" Rostav menggelengkan kepalanya, tidak ingin memikirkannya terlalu jauh, dia kemudian mengambil kompas dan melihat sebuah angka kordinat di sana, dan dia pun mencocokkannya di peta.
"Hm, lokasiku berada di sini," dia menunjuk suatu titik lokasi di peta menyesuaikan angka kordinat di kompas dengan yang ada di peta. "Aku masih berada di tengah-tengah lautan, hanya saja lokasiku paling dekat dengan Hutan Akar Malam Abadi. Aku tidak tahu ingin pergi ke sana atau tidak, tapi kurasa tidak ada salahnya untuk pergi ke tempat ini. Hanya saja, aku tidak tahu butuh waktu berapa lama untuk pergi ke sana, dari peta ini, lokasinya berada di barat laut.
"Dan jika melihat kompas, aku sedang bergerak ke arah selatan, sepertinya aku harus putar arah. Hanya saja aku tidak tahu bagaimana cara memutar arah kapal ini. Setahuku di film-film, seseorang hanya perlu mengatur arah layar dan memutar roda kemudi. Tapi kurasa itu akan jauh lebih menyulitkan jika dilakukan, apalagi aku hanya seorang diri, juga aku tidak tahu apakah Hutan Akar Malam Abadi tempat yang aman atau berbahaya, jadi pilihan yang paling baik adalah tetap mengikuti arus. Tapi mungkin jika ke depannya aku berubah pikiran, aku akan mencoba untuk mengendalikan kapal ini," Rostav menganggukkan kepala, bangga dengan pemikirannya sendiri.
Dia menggulung peta itu dan meletakkannya dengan rapi di atas meja, sementara kompas itu dia kaitkan dengan rantai di celananya. Kompas sangat berharga di tempat yang sulit untuk menentukan arah seperti lautan, dengan ini dia tidak perlu terlalu khawatir akan tersesat, ditambah dia juga memiliki sebuah peta, hampir mustahil dia akan tersesat.
"Oh ya, ngomong-ngomong, bukankah aku tanpa sengaja menjadi Master Q? Apa itu artinya aku bisa menggunakan sihir? Hehe," Rostav terkekeh, merasa geli dengan pikirannya sendiri. Dia sedang berimajinasi bahwa dirinya bisa mengeluarkan tebasan angin, atau memanggil hewan sihir.
Rostav berdiri dan melangkah menuju tengah ruangan. Dia memejamkan matanya, mencoba mengimajinasikan bentuk sihir yang pernah dia lihat di film. Ketika sudah mengimajinasikan sepenuhnya, dia membuka matanya dan menaikkan satu jarinya.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Hanya keheningan yang memenuhi ruangan itu, tidak ada sihir yang keluar. Tentu saja hal itu membuat Rostav menjadi kecewa, dia bergumam pada dirinya sendiri, "apa aku salah dalam menggunakannya? Bukankah kalau di film aku hanya perlu mengimajinasikan bentuk sihirnya. Dan aku melakukannya, aku mengimajinasikan bola api di jari telunjuk. Apa sistem sihir di dunia ini berbeda? Lalu apa sebenarnya Master Q itu?"
Kepala Rostav dipenuhi oleh pertanyaan mengenai Master Q dan Ramuan. 'Jika syarat untuk meminum sebuah Ramuan adalah melakukan sebuah ritual, itu artinya Master Q adalah sosok yang hebat dan mungkin saja dihormati. Bahan-bahan untuk membuat Ramuan-nya mungkin langka dan mahal. Jika syarat menjadi Master Q harus serumit ini, lalu kenapa aku tidak bisa langsung menggunakan sihir? Apakah ada kondisi khusus yang harus kulewati agar bisa menggunakan sihir?'
Rostav awalnya berpikir negatif tentang Master Q, syaratnya cukup rumit tapi dia tidak bisa menggunakan sihir. Tapi walaupun begitu, dia tidak bisa menghiraukan fakta bahwa setelah meminum Ramuan dia menjadi lebih kuat. 'Walaupun begitu, kekuatan tubuhku telah meningkat berkali lipat setelah meminum Ramuan. Dan pertanyaan yang paling utama adalah, siapa yang membuat Ramuan itu, siapa yang menyimpan peti itu, siapa yang menulis secarik kertas itu dan menjelaskan tata caranya?'
Rostav melangkah ke arah kasur dan berbaring. Dia terlalu lelah setelah mengalami banyak hal pagi ini, juga dia lelah karena kepalanya selalu dipenuhi oleh pertanyaan yang belum memiliki jawaban. Jadi, dalam waktu kurang dari lima menit, dia tertidur.
Waktu berlalu dengan cepat dan tanpa sadar telah berubah menjadi sore. Langit kini berwarna merah darah dengan kabut putih merah pucat, matahari yang hampir terbenam di ufuk barat menampakkan pemandangan yang indah, di sekelilingnya sebuah cahaya oranye keemasan bersinar menyinari langit jauh di sana, sementara kapal antah berantah masih tetap setiap mengarungi lautan merah darah ini.
Rostav terbangun dari tidurnya karena merasa pusing dan lapar. Dia melakukan pemanasan selama beberapa menit sebelum akhirnya pergi ke ruang penyimpanan untuk mengambil sepuluh roti keras. Dia hanya memakan lima roti keras tadi pagi, dan tertidur sampai sore hari, hal itu membuat perutnya kosong.
Dia pergi ke dek kapal dan berdiri di pinggir, memakan roti keras sambil menikmati matahari terbenam di barat. Angin hari ini terasa dingin dan kuat, mengibarkan rambut serta jubah Rostav dengan liar. Tapi dia tidak menghiraukannya dan tetap menikamati makanannya sambil menikmati matahari terbenam. Setelah semua makanannya habis dimakan, dia tidak langsung kembali ke kamarnya, melainkan dia memilih untuk duduk di ujung dek sambil menikmati sore hari di tempat yang terlihat berbahaya ini.
'Walaupun tempat ini disebut Laut Mayat, tapi udaranya sungguh bersih, tidak ada bau amis atau busuk, hanya kesegaran alami. Ah, sudah lama tak kurasakan sensasi ini di Bumi, terakhir kali mungkin beberapa bulan lalu saat aku naik ke puncak gunung,' Rostav merasakan nikmatnya udara sore hari, membiarkan angin menerpa wajahnya.
Ketika matahari telah sepenuhnya tenggelam, Rostav akhirnya turun dan pergi ke ruangannya dan melanjutkan tidurnya.
.....
Dua hari telah berlalu dengan cepat, dan aktivitas yang Rostav lakukan hanyalah berdiam diri di kamar, mengawasi peta dan kompas, memakan roti keras, tidur hingga sore hari, memakan roti keras sambil menikmati sore hari. Sesekali dia juga berusaha untuk mengeluarkan sihir, tapi sayangnya dia selalu gagal.
Pagi hari ini Rostav duduk di kursinya, dia memandangi beberapa roti keras di mejanya yang sudah tertumpuk rapi seperti tower. Hanya saja, bukannya berselera, hal itu malah membuat Rostav mual, akhir-akhir ini dia merasa muak harus memakan roti ini. Tidak hanya teksturnya yang keras, tapi rasanya juga tidak enak. Dia meletakkan kepalanya di meja sambil menghela napas pasrah.
"Tunggu, bukankah di ruang penyimpanan ada alat pancing?" Rostav mengangkat kepalanya dengan cepat, dan tanpa sadar menggebrak meja. "Ya, kenapa aku bisa melupakannya? Dengan memancing, aku tidak harus memakan roti keras ini lagi."
Rostav dengan semangat yang membara berdiri dari kursinya dan menuju ruang penyimpanan setelah menyimpan roti keras di sakunya. Dia mengambil alat pancing di sudut ruangan dan segera menuju dek kapal.
Di pinggiran dek, dia menyiapkan alat pancingnya, dan tidak lupa menggunakan roti keras sebagai umpannya. Dia melemparkan alat pancingnya dan benang berwarna perak itu meluncur dengan kecepatan tinggi ke kejauhan, jatuh ke lautan dengan suara clup yang dapat didengar oleh Rostav.
'Kumohon, kumohon, makanlah, ikan! Dengan kau memakan umpannya, aku tidak perlu memakan roti keras itu lagi,' Rostav menunggu dengan sabar, dia memandangi ujung pancingannya dengan teliti, menunggu tertarik.
Dan, setelah menunggu selama kurang lebih sepuluh menit, umpannya ternakan!
Rostav dengan cepat menarik benangnya, hanya saja tarikan ikan ini begitu kuat hingga Rostav hampir terdorong jatuh ke dalam lautan. Untung saja terdapat sebuah penyangga di setiap sisi dek kapal, memungkinkan Rostav untuk bertarung dengan lebih serius.
'Ini adalah tarikan ikan paling kuat yang pernah kurasakan,' dia menarik benangnya dengan sekuat tenaga, tapi ikan itu juga tidak mau menyerah. Dia bergerak dengan kecepatan dan kekuatan yang tak terduga, membuat Rostav sangat kesulitan untuk menariknya.
Tapi, ketika dia melihat sebuah tombol di sistem penarik dengan mesin uap, dia tersenyum dan langsung menekannya. Pada momen itu, alat pancing bergetar dan gir-gir kecil yang ada di alat pancing berputar. Awalnya pelan, tapi kemudian berputar dengan lebih cepat. Suara desisan uap terdengar dari dalam, dan dari mesin uap itu, uap putih keluar tipis. Pada momen itu, benangnya segera tertarik dengan kecepatan tinggi yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia, dan ketika jaraknya sudah pas, mesin uap berhenti dan Rostav segera menariknya dengan kuat ke atas dek kapal.
Ikan raksasa berwarna merah yang tidak memiliki sisik, hanya daging yang berdenyut melayang di udara, partikel air menghujani tubuh Rostav. Ikan itu terbanting di atas dek kapal.