Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Ratu dan Sang Mawar Mungil
Langkah kaki Chloe terasa sangat berat saat dia menuruni undakan tangga melingkar berbahan marmer putih yang menghubungkan lantai dua dengan aula utama mansion. Jantungnya bertalu-talu begitu kencang, menciptakan sensasi ngilu yang samar di rongga dadanya. Di belakangnya, Bi Mirna berjalan dengan langkah anggun yang konstan, memberikan kehadiran yang menenangkan meskipun tidak bisa menghapus seluruh kabut kecemasan di benak Chloe.
Begitu kakinya menginjak lantai dasar, pandangan Chloe langsung tertuju pada ruang tamu utama. Ruangan luas yang biasanya sepi itu kini dipenuhi oleh atmosfer yang teramat pekat dan mengintimidasi. Kehadiran tiga orang wanita yang sedang duduk di sofa beludru mewah berbentuk melingkar itu seolah menyerap seluruh pasokan udara di sekitarnya.
Kesan pertama yang tertangkap oleh indra penglihatan Chloe adalah: mereka sangat mirip dengan Asher.
Ketiganya mewarisi garis wajah Sterling yang tegas, bangsawan, dan tanpa cela. Dan yang paling membuat Chloe merinding adalah aura yang mereka pancarkan. Ada ketegasan yang mutlak, dingin, dan tatapan mata yang seolah bisa menguliti isi kepala seseorang dalam sekali lihat—persis seperti tatapan mata kelabu milik Asher yang selalu sukses membuat Chloe membeku ketakutan.
"Nona Besar, Nyonya Muda Chloe sudah tiba," ucap Bi Mirna dengan nada suara yang teramat formal sembari membungkuk hormat sekilas sebelum mundur ke sudut ruangan.
Mendengar ucapan Bi Mirna, ketiga pasang mata yang ada di sofa itu serentak menoleh. Gerakan mereka begitu sinkron dan anggun, namun sorot mata mereka langsung mengunci sosok Chloe dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan menilai itu terasa begitu dingin, membuat Chloe refleks meremas jemarinya sendiri di depan gaun rajut kremnya.
Wanita yang duduk di tengah—yang Chloe duga sebagai Victoria, si sulung—menegakkan punggungnya. Dia mengenakan setelan blazer formal berwarna merah marun yang sangat tajam, memancarkan aura seorang penguasa bisnis internasional.
"Jadi, kau yang bernama Chloe?" suara Victoria memecah keheningan. Nadanya datar, rendah, dan sedingin es, sangat mirip dengan cara Asher berbicara saat mengintimidasi bawahannya. "Duduklah. Jangan berdiri di sana seperti pelayan."
Chloe menelan ludahnya dengan susah payah. Dengan langkah yang diatur seanggun mungkin untuk menyembunyikan lututnya yang gemetar, dia berjalan mendekat dan menduduki sofa tunggal yang berhadapan langsung dengan ketiga wanita itu.
Wanita di sebelah kiri Victoria—Cassandra, si anak kedua—melipat kedua tangannya di depan dada. Dia mengenakan gaun sutra hitam dengan aksen perhiasan zamrud yang mencolok. Sepasang matanya yang tajam bak elang menatap lekat-lekat ke arah wajah Chloe tanpa berkedip.
"Asher menikahi seorang gadis dalam waktu kurang dari seminggu tanpa memberi tahu kami," Cassandra membuka suara, nada suaranya ketus dan sarat akan interogasi yang dingin. "Katakan padaku, apa motifmu mendekati adik laki-laki kami? Di mana kalian pertama kali bertemu? Mengapa semuanya terkesan begitu terburu-buru hingga tidak ada pesta keluarga yang layak?"
Rentetan pertanyaan bernada dingin dan menuntut itu menghantam Chloe bertubi-tubi. Chloe merasa lidahnya mendadak kelu. Dia tidak mungkin mengatakan kebenaran bahwa dia adalah seorang tawanan yang dijadikan barang tebusan akibat utang judi ayahnya. Jika dia mengatakan hal itu, apakah ketiga wanita berkuasa ini akan langsung melemparkannya ke luar mansion, atau justru menghukumnya lebih kejam?
Sebelum Chloe sempat merangkai kata untuk menjawab, wanita ketiga—Eleanor, si bungsu dari tiga bersaudara—ikut angkat bicara. Eleanor mengenakan gaun berwarna pastel yang tampak lembut, namun tatapan matanya tidak kalah menyelidik. "Keluarga Sterling bukan keluarga sembarangan yang bisa dimasuki oleh sembarang wanita, Chloe. Kami perlu tahu latar belakangmu, dan apa yang membuatmu berpikir bahwa kau pantas berdiri di samping seorang Asher Sterling."
Ruang tamu itu mendadak terasa seperti ruang sidang yang mencekam. Chloe menundukkan kepalanya sedikit, menatap jemarinya yang saling bertaut erat. Suasana ini benar-benar sesuai dengan apa yang dia takuti: mereka tampak sangat bengis, angkuh, dan tidak tersentuh, persis seperti replika Asher dalam versi wanita.
Chloe menarik napas dalam-dalam, mencoba mengingat pesan Bi Mirna untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Dia kembali mendongak, menatap ketiga kakak perempuan suaminya dengan tatapan mata rusanya yang jernih, meskipun sisa-sisa ketakutan masih membayang di sana.
"S-Saya..." Chloe memulai, suaranya sedikit bergetar namun dia mencoba untuk tetap terdengar sopan. "Saya tahu pernikahan ini terjadi dengan sangat mendadak, dan saya tahu saya tidak berasal dari kalangan yang sama dengan keluarga Anda yang terhormat. Tetapi... saya berada di sini sekarang sebagai istri Tuan Asher, dan saya hanya ingin... menjalani takdir saya dengan baik."
Keheningan yang mencekam kembali meraja setelah Chloe menyelesaikan kalimatnya. Victoria, Cassandra, dan Eleanor saling melempar pandangan satu sama lain selama beberapa detik yang terasa seperti siksaan abadi bagi Chloe. Wajah mereka tetap datar tanpa ekspresi, membuat Chloe bersiap untuk mendengar penolakan atau makian yang kejam.
Namun, detik berikutnya, sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal terjadi.
"Oh my God... She is so precious!"
Pekikan itu keluar dari mulut Cassandra. Wajahnya yang tadinya bengis dan ketus mendadak mencair seutuhnya, digantikan oleh binar mata yang dipenuhi oleh rasa gemas yang luar biasa. Dia langsung melepaskan lipatan tangannya dan mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Kak Vic, El, lihat dia! Dia jauh lebih mungil dan cantik daripada yang ada di foto dokumen pernikahan kemarin!" seru Cassandra lagi, nada suaranya berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sangat ceria dan heboh, menghilangkan seluruh aura dingin mafianya dalam sekejap.
Victoria yang tadinya tampak seperti hakim yang kejam, kini mengembuskan napas panjang sembari menyandarkan punggungnya ke sofa, dan seulas senyuman lebar yang sangat hangat terukir di bibirnya. "Kau benar, Cass. Anak itu... bagaimana bisa Asher yang sekaku batu itu mendapatkan mawar kecil yang secantik dan semurni ini?"
Chloe mengerjapkan matanya berulang kali, benar-benar syok dan bingung dengan perubahan drastis yang terjadi di depannya.
Eleanor, si anak ketiga, bahkan langsung berdiri dari sofanya dan melangkah cepat mendekati Chloe. Tanpa ragu, dia mendudukkan diri di lengan sofa tunggal tempat Chloe duduk, lalu mengelus lembut rambut cokelat panjang Chloe dengan tatapan yang sangat mengagumi.
"Maafkan kami ya, Chloe sayang," ucap Eleanor dengan suara yang kini terdengar sangat lembut, hangat, dan keibuan. "Kami sengaja memasang wajah dingin dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan itu tadi hanya untuk mengujimu. Kami ingin melihat bagaimana reaksimu. Dan ternyata, kau benar-benar sangat polos dan menggemaskan! Kami semua sangat mengagumimu sejak pertama kali melihatmu melangkah turun dari tangga tadi."
"K-Mengujiku...?" tanya Chloe dengan suara yang mencicit, masih berusaha mencerna situasi kegilaan ini.
"Tentu saja!" Cassandra ikut berdiri dan mendekat, duduk di sisi lain sofa Chloe. "Adik laki-laki kami, Asher, adalah pria paling membosankan dan menyeramkan di planet ini. Kami bertiga hampir frustrasi mengira dia akan melajang seumur hidup atau menikah dengan senjatanya. Jadi, saat mendengar dia tiba-tiba menikah secara resmi, kami langsung terbang dari luar negeri hari ini juga karena tidak percaya. Dan melihatmu... oh, kami sangat bahagia! Kau tampak sangat murni, sangat kontras dengan Asher yang penuh kegelapan."
Victoria ikut bangkit dari duduknya, berjalan mendekat dengan keanggunan seorang kakak tertua. Di tangannya, dia membawa tiga buah kotak eksklusif yang sejak tadi diletakkan di meja samping sofa. "Sebagai kakak-kakak perempuan Asher, dan sekarang sebagai kakak-kakakmu juga, kami tidak boleh datang dengan tangan kosong setelah melewatkan upacara pernikahan kalian kemarin."
Victoria meletakkan kotak pertama yang berukuran paling besar di atas pangkuan Chloe. Kotak itu beludru hitam dengan logo desainer perhiasan legendaris di Prancis. "Ini hadiah dariku, Chloe. Selamat datang di keluarga Sterling."
Chloe dengan tangan gemetar membuka kotak tersebut. Detik berikutnya, dia menahan napas. Di dalam kotak itu, terletak sebuah kalung berlian dengan potongan emerald-cut yang luar biasa besar dan berkilau, dikelilingi oleh ratusan berlian kecil yang memancarkan pendar kemewahan yang tidak ternilai harganya.
"Itu berlian langka dari tambang keluarga kami di Afrika Selatan," jelas Victoria dengan senyuman bangga. "Hanya wanita Sterling yang pantas memakainya, dan sekarang kalung itu milikmu."
Belum sempat Chloe mengucapkan terima kasih, Cassandra sudah menyodorkan sebuah kotak kedua yang berukuran persegi panjang. "Dan ini dariku! Jangan menolak, ya!"
Saat Chloe membukanya, di dalamnya terdapat sebuah kunci emas dengan gantungan berlogo merek mobil sport mewah buatan Italia, lengkap dengan dokumen kepemilikan atas nama 'Chloe Sterling'. "Aku tahu kau mungkin lebih suka diantar jemput, tapi seorang istri Sterling harus memiliki kendaraan terbaiknya sendiri. Mobilnya sudah terparkir di garasi belakang, warna putih mutiara, sangat cocok dengan keanggunanmu," ujar Cassandra sembari mengedipkan sebelah matanya dengan jenaka.
Terakhir, Eleanor memberikan sebuah kotak kecil berbahan kayu cendana yang wangi. Saat dibuka, berisi sebuah kartu hitam eksklusif tanpa batas (unlimited black card) dan sebuah akta kepemilikan sebidang tanah vila peristirahatan di tepi pantai Maladewa. "Ini dariku, Chloe. Kartu itu terhubung langsung dengan rekening pribadiku, gunakanlah untuk membeli apa pun yang kau suka tanpa perlu meminta izin pada Asher yang pelit itu. Dan vila itu adalah tempat pelarianmu jika adikku itu mulai bersikap menyebalkan di rumah ini."
Chloe menatap ketiga hadiah mewah yang kini menumpuk di pangkuannya dengan pandangan yang benar-benar kosong karena terlalu syok. Ribuan dolar utang fasilitas yang semata-mata digunakan Asher untuk mengikatnya, kini terasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kemurahan hati dan hadiah bernilai jutaan dolar yang diberikan oleh ketiga kakak perempuan suaminya dalam waktu kurang dari satu jam.
Air mata haru dan kebingungan perlahan menggenang di pelupuk mata rusa Chloe. Dia menoleh ke arah Bi Mirna yang berdiri di sudut ruangan, dan melihat pelayan tua itu sedang tersenyum lebar sembari menganggukkan kepalanya, seolah ingin mengatakan 'Sudah kubilang, kan?'.
"T-Terima kasih... Terima kasih banyak, Kak Victoria, Kak Cassandra, Kak Eleanor..." ucap Chloe dengan suara yang bergetar lembut, untuk pertama kalinya memanggil mereka dengan sebutan kakak sesuai permintaan mereka. "Hadiah ini... ini terlalu mewah untuk saya."
"Tidak ada kata terlalu mewah untuk adik ipar kami yang sangat cantik ini," balas Victoria sembari mengacak pelan rambut Chloe dengan gemas.
Malam hari dan ketakutan yang mencekam di dalam mansion ini mendadak sirna, digantikan oleh kehangatan keluarga yang tidak pernah Chloe duga akan dia temukan di dalam sarang mafia. Di tengah hancurnya dunianya karena pengkhianatan sang ayah, Chloe seolah diberikan sebuah oase baru melalui kehadiran tiga ratu Sterling yang kini siap menjadi perisai pelindungnya dari kedegilan adik laki-laki mereka sendiri.