Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XVII
Saat kesadarannya pulih, Luna perlahan bangun dari tempat tidur dan melangkah keluar. Rumah ini terasa tak asing baginya, seolah ia pernah menginjakkan kaki di sini dulu. Langkahnya terhuyung dan tertatih karena tubuhnya masih sangat lemah. Melihat itu, Anran segera menghampiri dan berniat membantu. Kali ini Luna tidak menolak, ia membiarkan Anran menopang tubuhnya dan membantunya duduk di kursi.
“Nona,” sapa Anran singkat, lalu ia menatap wanita itu dengan tatapan serius. “Memang kita sudah sering bertemu sebelumnya, tapi kali ini aku akan bicara terus terang saja. Siapa namamu? Di mana tempat tinggalmu? dan apakah ada orang tua atau saudara yang bisa kami kabari?”
Luna diam sejenak, lalu menjawab dengan suara terbata-bata, masih terdengar berat dan belum lancar. “Namaku Luna… aku tidak punya tempat tinggal… aku juga tidak punya keluarga.”
Anran terdiam sesaat, menatap wajah Luna yang masih tampak pucat dan tak berdaya.
“Baiklah Luna… kalau begitu kau boleh pergi sekarang, aku tak akan menahanmu,” ucap Anran cepat, lalu nada bicaranya berubah menjadi peringatan keras. “Tunggu.. Ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan, dan kau harus ingat kata-kata ini: kalau sampai kau terluka lagi, tak ada yang mau mengobatimu. Saat itu tiba, kau takkan lama lagi di dunia ini,” ucapnya sambil menunjuk ke langit-langit rumah, seolah menunjuk kematian yang sedang menanti.
Luna mendongak mengikuti arah telunjuk itu, lalu mengangguk pelan. Ia kemudian berdiri dan sedikit menundukkan kepalanya tanda terima kasih, lalu berbicara dengan nada lirih dan sedikit memelas. “Terima kasih… sudah membantuku.”
Ia pun hendak melangkah pergi, namun Anran tiba-tiba kembali bertanya, “Sekarang… kau mau pergi ke mana?”
Luna hanya menatapnya dengan pandangan yang begitu sedih dan kosong, lalu kembali menunjuk ke arah langit-langit dengan gerakan lambat.
Melihat itu, hati Anran seketika tercengang. Ia langsung bangkit berdiri, menarik lengan Luna hingga wanita itu kembali terduduk di kursi.
“Jangan bilang… kau berniat bunuh diri?!” bentak Anran kaget.
Luna hanya mengangguk pelan, tanpa rasa takut atau ragu.
“Dasar bodoh!” Anran menatapnya tajam dan tegas. “Bukankah kau iblis? Kalau kau bunuh diri, jiwamu pasti langsung dilempar ke neraka paling dasar! Apa kau sama sekali tidak takut?”
Namun Luna kembali menggeleng pelan, seolah tempat tergelap sekalipun jauh lebih baik daripada hidup yang sedang ia jalani sekarang.
Melihat ketetapan hati itu, Anran akhirnya menghela napas pasrah. “Tunggu di sini dulu. Tetaplah tinggal sebentar, aku harus bicara dulu dengan Kakakku. Kau diam di rumah ini saja, jangan pergi ke mana pun, kau mengerti?”
Luna hanya menatapnya, lalu mengangguk tanda setuju dan akan menuruti perkataannya.
Anran pun segera mendatangi Mu Chen yang sedang berada di kedai makannya. Saat itu, Mu Chen sedang sibuk melayani pembeli dengan sigap, namun tiba-tiba Anran datang dan langsung menarik lengan kakaknya dengan tergesa-gesa.
“Tunggu sebentar, aku sedang melayani pembeli,” tolak Mu Chen sambil berusaha melepaskan tangannya.
“Tidak ada waktu untuk menunggu! Aku mau bicara hal yang sangat penting sekarang juga!” desak Anran tak mau kalah.
Mau tak mau, Mu Chen pun akhirnya mengajak adiknya pindah ke ruang belakang kedai agar tidak mengganggu pelanggan.
“Ada apa? Cepat katakan,” ucap Mu Chen singkat.
“gadis itu sudah sadar,” jawab Anran cepat.
“Oh syukurlah, berarti dia bisa pergi dari sini sekarang,” sahut Mu Chen santai, berpikir masalahnya selesai begitu saja.
Anran kembali menarik tangan kakaknya, wajahnya tampak serius sekali. “Bukan itu maksudku. Ada hal lain… Ternyata gadis itu bernama Luna, dia sama sekali tidak mempunyai tempat tinggal, juga tak punya keluarga ataupun saudara. Kak… bisakah kita menampungnya, biarkan dia tinggal bersama kita untuk sementara waktu?” tanya Anran terus terang, tanpa merasa ragu sedikit pun.
Mendengar permintaan itu, Mu Chen langsung menatap tajam, kesal bercampur tak percaya.
“Tidak bisa! Apa kau mau menampung semua orang yang kau temui di dunia ini? Kalau begitu biarkan saja semua orang yang tidak memiliki rumah tinggal di rumah kita, nanti giliran kita yang harus pergi mengembara dan jadi gelandangan!” ejek Mu Chen dengan nada tinggi.
“Kak, aku bicara sungguh-sungguh! Jangan bercanda begini!” potong Anran dengan nada yang makin lembut namun mendesak. “Aku sungguh kasihan padanya. Tahu tidak? Dia tadi berniat mengakhiri hidupnya… Sayang sekali kalau wanita yang begitu cantik dan kuat itu harus mati sia-sia.” Sambil bicara, Anran menatap kakaknya dengan tatapan penuh curiga, seolah tahu ada perasaan tersembunyi di balik hati Mu Chen.
Melihat pandangan itu, Mu Chen langsung memukul pelan kepala adiknya dengan tangannya.
“Kau ini sembarangan bicara yang bukan-bukan!” bentaknya, meski nada suaranya tak sekeras sebelumnya.
“Kak.. tolong izinkan dia tinggal bersama kita, ya Kak?” pinta Anran lagi dengan nada memelas.
“Kita ini tidaklah cukup kaya untuk menanggung makan dan biaya hidup orang lain lagi! Tidak, aku tidak mau dan tidak setuju!” tolak Mu Chen tegas, lalu segera mengusir adiknya keluar. “Sudah, pergilah sana! Kita bicarakan hal ini nanti saja!”
Anran pun kembali berjalan pulang, hatinya terasa kecewa dan berat karena permintaannya ditolak mentah-mentah oleh kakaknya. Sesampainya di rumah, ia mendapati suasana begitu sunyi dan kosong, tak ada siapa-siapa di sana.
“Luna… Luna! Di mana kau?!” teriaknya memanggil berulang kali, namun tak ada sahutan sedikit pun. Ia berkeliling ke setiap sudut rumah, tetapi sosok wanita itu benar-benar sudah hilang.
Dengan cemas, Anran segera mendatangi tetangga-tetangga di sekitar rumah, bertanya apakah ada yang melihat seorang gadis pergi. Namun semuanya menggeleng, tak satu pun yang melihat gadis itu melangkah keluar dari halaman. Ia pun terus mencari hingga sampai ke tempat biasa Lulu dan kawan-kawannya bermain, namun anak-anak itu pun sama sekali tidak melihat keberadaan Luna.
Rasa takut perlahan merayap di hati Anran. Ia berdiri terpaku, pikirannya langsung tertuju pada satu hal yang paling ia khawatirkan: Apakah dia benar-benar pergi untuk mengakhiri hidupnya?
Di Sungai..
Luna ternyata pergi ke sungai. Di tepi sungai itu, ia berdiri sendirian, dengan tatapan kosong dan hampa. Ia menatap jari kelingking tangan kirinya yang hilang, lalu tangannya perlahan bergerak meraba perutnya, yang masih terasa perih dan nyeri akibat jahitan itu.
Di dalam hatinya, pikiran itu terus bergema: Apakah aku memang sebaiknya mati saja? Tanganku ini sudah begitu penuh dengan darah, ada banyak nyawa orang yang telah kubunuh dengan kedua tanganku ini. Aku ini hanya beban, makhluk kotor yang tak pantas hidup di dunia ini.
Langkahnya makin mendekat ke arah air, hingga kakinya sudah terendam dinginnya aliran sungai. Ia memejamkan mata pasrah, membiarkan tubuhnya melangkah terus masuk, membiarkan arus mulai menyeretnya perlahan menjauh ke tengah. Namun tepat saat air hampir menutupi seluruh tubuhnya, sepasang tangan kuat tiba-tiba menyambar dan menariknya mundur dengan sangat cepat, menyelamatkannya sebelum arus deras membawa ia hilang selamanya.
Saat Luna membuka matanya yang kabur, ia melihat wajah Mu Chen yang tampak lega namun juga penuh amarah. Ternyata dia yang datang tepat pada waktunya.
Mu Chen menampar wajah Luna dengan keras, suara tamparan itu menggema di tepi sungai. Ia meledak dalam kemarahan.
“Kau ini gila ya?! Kenapa setiap kali kau ada, kau hanya membawa masalah bagi ku?!” bentaknya dengan suara gemetar.
Di balik amarah yang meluap, terlihat jelas di dalam matanya rasa takut. rasa takut membayangkan seandainya ia terlambat sedetik saja. Namun ia berusaha keras menyembunyikannya di balik sikap kasarnya.
Sementara itu, Luna hanya terpaku diam, tubuhnya lemas kaku, tak bergerak sedikit pun, bahkan tak berani menatap wajah pria itu. Ia menerima segala kemarahan dan pukulan itu dengan pasrah, seolah memang itulah yang pantas ia terima.
Mu Chen terus mengguncang tubuh Luna dengan kasar, matanya memerah menahan amarah sekaligus rasa panik yang luar biasa. "Kenapa?! Katakan padaku, kenapa kau melakukan hal bodoh ini?!" jeritnya berulang kali, suaranya menggema di tepi sungai.
Tak lama kemudian, Anran datang berlari mendekati mereka, napasnya terengah-engah. Ia langsung mendekat dan memeluk tubuh Luna yang basah kuyup dan dingin itu dengan erat. "Luna! Kau tidak apa-apa kan? Lihat aku, jawab aku!" tanyanya penuh kekhawatiran. Namun Luna hanya diam terpaku, tatapannya kosong dan hampa persis seperti orang yang sudah mati. Baru saat pandangannya jatuh pada wajah Anran yang tampak cemas itu, Luna seketika menangis. Air matanya keluar membasahi pipi, dan ia pun menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Anran, melepaskan segala rasa sakit, penyesalan, dan kepedihan yang selama ini ia pendam di lubuk hatinya. Anran terus mengusap punggung dan rambutnya dengan lembut, berbisik menenangkan dan memintanya agar tak perlu takut lagi.
Flashback...
Saat menyadari Luna menghilang dan tak ditemukan di mana pun, rasa cemas Anran makin menjadi-jadi. Ia segera berlari ke kedai makan kakaknya, memohon agar Mu Chen mau ikut membantu mencarinya. Awalnya Mu Chen menolak dingin, menganggap itu bukan urusannya dan tak mau ambil pusing. Namun wajah Anran tampak sangat ketakutan saat berkata dengan nada gemetar, "Kita harus mencarinya, Kak, kita benar-benar harus menolongnya... Bisa jadi dia benar-benar berniat mengakhiri hidupnya sendiri."
Kalimat itu seolah menampar keras hati Mu Chen. Tanpa sadar dan tanpa menunggu lama lagi, ia langsung meninggalkan kedai dan pelanggannya begitu saja, lalu ikut pergi mencari Luna ke seluruh penjuru kota dengan tergesa-gesa. Hingga akhirnya kakinya membawanya ke tepi sungai, dan ia melihat pemandangan yang membuat jantungnya hampir berhenti, dimana Luna sudah melangkah masuk ke dalam air, membiarkan arus membawanya pergi.
Berkat ketangkasannya, ia datang tepat waktu dan berhasil menarik Luna kembali ke tepi, menyelamatkan nyawanya dari kematian yang sudah begitu dekat.