Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Hanya ingin keluar, malah melihat hal yang seharusnya tidak dilihat
Malam hari setelah itu.
Wang Chan tidak tidur.
Ia berbaring di ranjangnya selama berjam-jam, matanya terbuka menatap langit-langit kayu yang gelap.
Suara jangkrik dari luar terdengar sayup, bercampur dengan dengusan pelan Qing Yi dari lantai atas yang sudah terlelap.
Tapi pikirannya tidak bisa tenang.
Bisikan itu masih bergema di kepalanya.
'Temui aku...'
Setelah memastikan bahwa seluruh rumah sudah sunyi, Wang Chan bangkit dari ranjang. Kaki telanjangnya menyentuh lantai bambu yang dingin.
Dengan gerakan yang lincah dan tanpa suara, kemampuan yang ia asah selama sebulan, ia melangkah menuju pintu.
Jika ia terlihat oleh Liu Chiyang atau Qing Yi, mereka pasti akan curiga.
Qing Yi mungkin akan bertanya dengan polos dan tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban.
Liu Chiyang... lain lagi. Wanita itu bisa membaca kebohongan dari jarak satu mil. Dan Wang Chan tidak ingin memberi tahu siapa pun tentang wanita berambut putih itu.
'Ini urusanku sendiri,' pikirnya. 'Setidaknya sampai aku tahu apa yang sebenarnya terjadi.'
Langkahnya membawanya menyusuri lorong sempit menuju ruang tamu. Hanya beberapa langkah lagi menuju pintu depan. Kebebasan.
Lalu—
"Ng-nghh..."
Wang Chan membeku.
Suara itu pelan, tertahan, seolah berusaha menekan sesuatu yang ingin keluar dengan paksa.
Tapi Wang Chan mengenalnya. Ia tinggal di rumah ini. Ia tahu siapa yang memiliki suara itu.
Matanya menelusuri kegelapan ruang tamu. Cahaya rembulan masuk lewat celah-celah jendela, cukup untuk membentuk siluet.
Liu Chiyang duduk di kursi panjang anyaman bambu yang biasa ia tempati setiap sore. Tapi tidak seperti biasanya.
Kini, di larut malam begini, wanita itu tidak sedang minum teh atau membaca gulungan kuno.
Pakaian tidurnya yang tipis, warna putih gading dengan tali di bahu, telah melorot hingga ke pinggang.
Wang Chan membeku di tempatnya.
'Sial, apa yang dia lakukan... kenapa dia belum tidur?'
Bukan waktunya untuk bertanya-tanya. Bukan tempatnya untuk mengawasi.
Tapi kakinya tidak bisa bergerak.
"Khhh... A-ah!"
Suara itu keluar lagi. Kali ini lebih keras. Lebih jelas. Lebih... basah.
Wang Chan membalikkan badannya dengan cepat. Punggungnya menempel pada dinding kayu yang dingin.
Dadanya naik turun, jantungnya berdegup kencang, bukan karena ketakutan, tapi karena keterkejutan murni.
Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan, menahan napas, berusaha membuat sekecil mungkin suara.
Di sudut matanya, ia bisa melihat gerakan Liu Chiyang. Tangan kanan wanita itu berada di antara kedua pahanya yang terbuka lebar.
Jubahnya sudah tersingkap sempurna, memperlihatkan seluruh tubuhnya dari dada hingga ke bawah.
Puncak kembarnya yang montok bergoyang pelan mengikuti gerakannya, putingnya yang merah muda tegang dan menonjol di udara malam yang dingin.
Dan di bawah sana...
Wang Chan memejamkan mata. Cepat. Tidak perlu melihat lebih jauh.
'Dia masturbasi? Serius?!'
Selama sebulan tinggal bersama, Wang Chan tidak pernah membayangkan sisi Liu Chiyang yang ini.
Baginya, Liu Chiyang adalah guru yang anggun walau kadang aneh, kultivator tangguh dengan senyum misterius yang sedikit menakutkan.
Wanita yang selalu tampak tenang, terkendali, tidak terjamah oleh hal-hal duniawi.
Ternyata, di malam hari, dia sama seperti manusia lainnya.
Wang Chan menggigit bibirnya. Ini bukan waktunya untuk terkejut.
Ia punya urusan lain yang lebih penting.
'Sudahlah...'
Dengan gerakan sekecil mungkin, Wang Chan merayap mundur.
Bukan ke arah pintu depan yang akan memaksanya melewati ruang tamu, tapi ke arah belakang, menuju dapur.
Jalan memutar, lebih panjang, tapi lebih aman.
Kakinya melangkah pelan di atas lantai bambu. Nafasnya ditahan.
Bahunya merapat, mengecilkan tubuhnya agar tidak menyentuh apa pun.
Di belakangnya, suara Liu Chiyang semakin tidak terkendali. Napasnya memburu, kadang diselingi desahan kecil yang tertahan.
Wang Chan tidak menoleh.
Ia masuk ke dapur, melewati rak-rak bumbu dan tungku tanah liat yang masih mengeluarkan aroma samar ayam goreng.
Pintu belakang dapur terbuka dengan bunyi pelan, Wang Chan menahan napas lagi.
Beruntung, suara itu tertutup oleh desahan Liu Chiyang yang semakin keras.
Langkahnya melesat keluar.
Angin malam menyambutnya, dingin, menusuk pori-pori, tapi menyegarkan.
Wang Chan mengambil napas panjang setelah sekian lama menahannya. Dadanya terasa lega, tapi ada sisa canggung yang masih melekat di sekujur tubuhnya.
Ia menghela napas pelan sambil berjalan menjauh dari rumah.
Kepalanya masih dipenuhi oleh bayangan yang tidak ia minta, Liu Chiyang dengan jubah melorot, tubuh putihnya yang berkilau oleh keringat, suaranya yang terputus-putus.
'Tidak diperlukan sama sekali,' gumamnya kesal. 'Bisa-bisanya untuk keluar saja aku malah melihat... itu.'
Wang Chan menggeleng-gelengkan kepala, berusaha mengusir bayangan itu.
Tapi seperti tinta yang tumpah di atas kain putih, bekasnya sulit hilang.
'Untung saja dia tidak melihatku.'
Jika Liu Chiyang tahu bahwa ia menyaksikan, meskipun tidak sengaja, Wang Chan yakin wanita itu tidak akan pernah bisa menatap matanya lagi.
Atau sebaliknya, ia akan menatapnya dengan senyum misterius yang membuat Wang Chan semakin tidak nyaman.
Entah mana yang lebih buruk.
Wang Chan mempercepat langkahnya. Kini ia sudah jauh dari rumah, memasuki jalan-jalan kecil Kota Jiang yang sepi di malam hari.
Lentera-lentera di tiang-tiang kayu berkedip redup, hampir padam, menunggu fajar untuk diganti.
Dan di dalam dadanya, sesuatu mulai berdenyut.
Seperti kompas. Seperti peta hidup yang terbuka di dalam kesadarannya.
Wang Chan tahu, ia sedang menuju ke suatu tempat. Tidak tahu di mana. Tidak tahu seberapa jauh. Tapi ia tahu jalannya.
Kanan di perempatan berikutnya. Lurus melewati pasar ikan yang sudah tutup. Belok kiri di depan toko jamu tua.
Ia mengikuti saja.
Seperti mimpi berjalan. Seperti ditarik oleh tali dari dalam dadanya yang tidak terlihat tapi tak terputuskan.
'Ke mana kau membawaku?'
Tidak ada jawaban.
Tapi langkahnya tidak berhenti.
Menuju sesuatu yang belum ia ketahui.
Menuju jawaban yang mungkin tidak ia sukai.
Tapi ia tetap melangkah.
Karena bisikan itu tidak memberinya pilihan.