Karya terbaru Gurania Zee yang menceritakan tentang gadis tidak peka dan cinta segitiga antara Aluna, Arsen dan Prasha Arzelio.
memiliki kisah yang sedikit rumit perihal rahasia misteri kematian ayahnya dan adanya permainan bisnis yang menjadikannya sebuah kunci utama dari misteri tersebut. dan Cinta yang mulai tumbuh perlahan. Aluna seorang gadis yang polos tanpa sadar menjadi pusat permainan dalam dunia bisnis mendiang ayahnya. yang jauh lebih besar dari semua intriks itu bahkan paling tidak menyadari akan hal yang paling sederhana yaitu, perasaannya sendiri. karena terkadang misteri dalam hidup, bukanlah rahasia dari kisah masa lalu melainkan hati yang terlambat menyadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Mobil melaju membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang. Lampu kota makin jarang, dan suara mesin menjadi satu satu ya yang terdengar di dalam kabin saat itu.
Aluna duduk dibagian kursi dibelakang, tangannya saling bertaut, sesekali menarik nafas panjang seolah ingin menenangkan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Di depan matanya ada Prasha yang sedang menyetir tanpa banyak bicara, sesekali ponselnya berdering menerima panggilan telpon dari Arden yang meminta solusi perihal aksinya dalam menyelesaikan masalah Lola. Dan keduanya saling berkabar satu sama lain.
Sambil menyetir dan menyimak suara Arden dibalik telpon tersebut yang ia pasang earphone kadang Arsen yang penasaran segera menyuruh Prasha mengaktifkan mode speaker agar ia mendengarnya secara seksama.
Meskipun begitu tatapannya Prasha sesekali melirik pada Aluna lewat kaca tengah pada mobil tersebut demi memastikan Aluna baik baik saja. Walaupun tatapannya lurus ke depan tetap saja pikirannya tidak karuan, pikirannya tidak sesederhana itu seolah berkelakar kemana mana.
Arsen yang duduk disamping Prasha, menyandarkan kepalanya ke jendela saat itu. Dalam diam dan terus fokus berpikir keras perihal masalah keluarga Lola. mengalihkan pikirannya yang tidak tega melihat Aluna saat ini.
Dalam suasana sunyi didalam mobil itu yang tidak biasanya seperti itu, tidak seheboh dan berisik seperti biasanya terjadi.
"Lun" tanya Prasha pelan.
"Sahut Aluna Mengangkat wajahnya sedikit.
"Kalau kamu capek atau enggak laper, haus bilang ya, kita bisa berhenti dulu buat cari kafe atau warung"
"Iya mas, santai aja, lanjut aja biar cepet sampai bandara, Luna kuat kok."
"Iya Mase lanjut, dltenang Mase Darto sudah bawa minum sama stok camilan yang tadi Darto dan mas Arsen beli di minimarket depan rumah, iya kan mas Arsen" celetuk Darto menimpali yang duduk dipojokan bagian belakang. Walaupun Darto sopir pribadinya tapi tidak melulu Darto yang selalu menyetir. Adakalanya mereka bergantian jika rasa kantuk melanda. Agar tetap aman terkendali acapkali perjalanan yang menempuh jarak yang lumayan jauh.
Mendengar ucapan Luna akan hal itu Arsen hanya tersenyum tipis, dan dalam hatinya ia berbisik. "Terkadang cewek bilang kuat itu hanya untuk menutupi kerapuhannya" Arsen.
*Flashback on
Awalnya Arden kekeh ingin ikut, tapi langsung ditolak Arsen telak, "Gue ikut ya."
"Kagak, mending elo fokus urus masalahnya Lola."
"Tapi masalahnya Lola enggak enteng Jo,"
"Iya gue tau, justru itu, kalo enggak cepet elo mau Lola kenapa napa ntar kita semua nyesel satu nyesel Kabeh."
"Kita enggak bisa fokus cuma ke satu arah den." Arden hanya menelan ludahnya dengan susah payah setelahnya ia menarik nafas pasrah dan langsung berlari menuju mobilnya.
"Yasudah gue cabut kalo gitu, hati hati sampein ke Luna kalo gitu."
"Pasti, kalo ada apa apa kabari Den." ucap Prasha. Arden hanya menepok bahunya seraya mengangguk pelan.
"Piye toh mas kasian juga neng Lola, emangnya neng Lola kenopo yo Mase."
Arsen dan Prasha hanya saling melirik sambil menarik nafas sabar seraya elus dada. Dan mengabaikan ucapan Darto.
#Flashback off
Arden Sanjaya berdiri didepan rumah Lola saat itu, kali ini ia tidak mundur, tidak lagi melihat dari arah jauh. Ia nekat berjalan mendekat setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan berliku.
Lalu mengetuk pintu rumah Lola "Tok,..Tok,..Tok! Langkah kaki terdengar dari arah dalam. Tak lama deritan pintu terdengar pelan dan terbuka.
Ayah Lola langsung berdiri dan menatapnya tajam. Melihat penampilan Arden yang biasa saja, begitu mudahnya ayah Lola meremehkan Arden saat itu. apalagi tidak ada mobil yang terparkir di area dekat rumahnya.
Melihat penampilan Arden yang hanya memakai kaos dan celana jeans saja tidak ada yang istimewa yang ia lihat pada pemuda nekat itu.
Apalagi saat itu Arden memakai jaket ojol yang ia sewa pada sopir ojol sebelum mendekat rumah Lola. Ia rela merogoh demi menyewa jaket itu dengan beberapa lembar pecahan merah, siapa yang tidak mau jaman sekarang kan.
Saat ditatap segitunya oleh bapak Lola, ia pun menatap balik tanpa ragu atau pun takut, walaupun jantungnya seakan mau melompat saking deg degannya.
"Saya tidak pesan makanan jadi pergilah." ucap bapak Lola.
"Maaf Om saya kesini ingin bertemu Lola," mendengar namanya disebut Lola yang sedang berada di dapur ia langsung mengikat rambutnya asal dan memastikan siapa yang datang mencarinya.
Melihat ada Arden yang dikenalnya memakai jaket ojol tentu saja ia sangat terkejut, mau ngakak tapi suasana sedang tegang yasudah ia mencoba mencairkan suasana.
"Pak, biarkan saja, dia teman Lola."
"Benar?."
"Iya Om."
"Kamu siapanya anak saya hm?."
"Teman Om,"
"Hanya teman?."
"I,..iya Om."
"Masuk kak Arden."
"Iya thanks La, elo nggak ngabarin kita sih makanya gue nekat kesini La, gue enggak mau elo nyimpen masalah sendirian La."
"Maksud kamu mengatakan itu apa pada anak saya!, kamu tau masalah anak saya?."
"Iya Om, saya tau, makanya saya kesini untuk memastikan kalau anak om baik baik saja."
"Saya tidak mau Lola anak Om dipakai untuk menutupi semuanya!."
"Berani sekali kamu berkata seperti itu pada saya hah, siapa kamu, kerjaan kamu saja hanya sopir Ojol, sombong sekali kamu bicara begitu pada saya, dia anak saya, terserah saya mau gimanain anak saya faham kamu!."
"Terlepas dari itu Om, segini kan total utang om pada orang itu!,"
Betapa terkejutnya Lola dan bapak Santoso ketika melihat data yang diperoleh Arden saat itu. "Lancang kamu terlalu ingin ikut campur dengan masalah saya hah, bisa bantu apa kamu!"
"Nih Om sekian ratus juta sudah ada ditas saya lunasi!, tapi biarkan Lola pergi dari rumah ini, saya tidak terima dan tidak rela jika Lola anak Om menjadi santapan pria bejat seperti Mr Hendrik itu, dia bukan orang sembarangan om!."
Seketika bapak Lola tertegun dan tersentak melihat gepokan uang cash yang banyaknya bukan main.