"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."
Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.
Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengambilan
“Cuma kamu yang berani bermalam sama aku!”
Pengakuan Arlan membuat Mika hampir tak percaya. Namun, jika melihat sikap Arlan terhadap semua orang, bahkan terhadap calon tunangannya, perkataan itu terasa masuk akal.
“Kalau calonmu tau gimana? Ya ampun, aku jadi pelakor dalam hubungan orang!” tangis Mika terdengar penuh penyesalan.
Arlan hanya menghela napas pendek. Salah satu alisnya terangkat, menandakan ia heran melihat reaksi Mika.
“Eh, tunggu sebentar!” Mika tiba-tiba teringat sesuatu. Ia melihat pakaian yang dikenakannya sekarang. Bukan pakaian yang ia pakai semalam.
“Pakaianku ... kenapa aku pakai baju piyama?” tanyanya.
Pandangan Mika perlahan mengarah ke Arlan. Matanya langsung membesar.
“Aaaa ... kamu yang ganti bajuku?”
Arlan tidak menjawab. Ia berdiri, lalu melangkah menuju pintu kamar. Saat tangannya hampir membuka pintu, Arlan menoleh sedikit ke arah Mika.
“Tubuh kecil itu ... satu gerakan juga udah selesai.”
Lalu, ia keluar dari kamar. Mika membeku. Matanya melotot lebar. Ia menatap tubuhnya sendiri, lalu menatap kembali pintu yang sudah tertutup.
“Ja—jadi benar?!”
Mika langsung menjerit. Tangisan penyesalan kembali pecah setelah mendengar perkataan Arlan tadi.
Namun, beberapa detik kemudian, Mika tiba-tiba terdiam. “Tunggu dulu—” Ia mengusap wajahnya sendiri.
“Apa yang perlu aku tangisi?” Ia mengingat kejadian semalam. “Bahkan semalam aku sama dia ... ah!” Mika menggeleng kuat.
“Mika, lupakan! Aku harus segera ke sekolah!”
Ia segera masuk ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian Mika sudah berpakaian rapi dengan seragam sekolahnya.
Duk! Duk!
Dengan langkah pelan, Mika mencoba mengendap-endap menuju pintu keluar. Namun, langkahnya langsung berhenti. Arlan berdiri di ruang makan. Ia sudah melihat Mika.
“Duduk dan sarapan.” Nada suaranya terdengar seperti perintah. Mika mendesah pelan. Dengan terpaksa ia duduk di kursi makan.
Arlan sendiri sudah terlihat sangat rapi dengan pakaiannya. Beberapa saat kemudian, Arlan berbicara.
“Nanti aku antar kamu ke sekolah.”
“Nggak perlu. Aku bisa naik taksi atau bus,” sahut Mika cepat menolak.
Tetapi Arlan seolah tidak mendengar penolakan itu. Ia tetap makan dengan tenang. Keputusannya sudah jelas. Ia akan mengantar Mika.
Akhirnya, dengan terpaksa Mika menyetujuinya. Di tengah sarapan itu, Arlan tiba-tiba memandang Mika.
“Kenapa kamu bisa berada di klub itu?”
Deg!
Jantung Mika langsung berdetak keras. Matanya refleks melirik ke kiri dan ke kanan.
“Aduh, aku harus ngomong apa?” batinnya panik.
“Aku cari kerja tambahan buat beliin dia hadiah dan bayar utang, biar aku cepat bebas!”
“He’em.” Arlan berdeham pelan, menandakan ia sedang menunggu jawaban.
“Em ... anu—” Mika terlihat gelagapan. “Aku lagi butuh uang banyak. Ada keperluan yang harus aku beli,” katanya akhirnya. Ia menunduk kesal.
“Tapi malah kena jebakan kayak gitu.”
“Kenapa nggak minta sama aku?” katanya dingin.
Mika langsung menggeleng. “Mana mungkin. Utangku yang empat ratus juta aja belum lunas. Gimana aku bisa nambah yang baru?” jelasnya.
Arlan mendengarkan penjelasan itu sambil mengunyah salad sayurnya dengan tenang.
“Berikan ponselmu.”
Mika tanpa banyak tanya langsung menyerahkan ponselnya. Arlan memeriksa sebentar. Dari sana ia semakin yakin bahwa Mika sedang berbohong tentang alasannya berada di klub malam itu.
Beberapa saat kemudian ponsel itu dikembalikan. Namun, bersamaan dengan itu, Arlan juga meletakkan sebuah kartu di depan Mika. Sebuah ATM Platinum.
“Untuk apa ini?” tanya Mika heran.
“Pakai itu buat kebutuhanmu,” jawab Arlan datar. “Sekolah, atau kegiatan apa pun.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Pergi ke salon paling terkenal kalau perlu. Atau nanti aku antar kamu ke sana.” Nada bicaranya terdengar seolah ia sedang memanjakan Mika.
Mika yang masih penuh kecurigaan langsung menyipitkan mata. “Tuan Arlan, kamu nggak lagi ngebodohin aku ‘kan?”
Arlan menatapnya sebentar, lalu menjawab ketus.
“ATM platinum itu cuma keluargaku yang punya. Gimana aku bisa ngebodohin anak bodoh?”
Mika langsung mengerutkan kening kesal. Namun, sebelum ia sempat membalas, Arlan sudah berbicara lagi.
“Kamu sendiri yang bilang aku harus tanggung jawab.” Ia bersandar santai di kursinya. “Kurasa ini bentuk tanggung jawabku.”
Tatapan Arlan menjadi lebih tajam. “Sekarang ... mana tanggung jawabmu?”
Mika tidak menjawab. Ia hanya melirik jam tangannya. Matanya langsung membesar.
“Aku duluan, ya! Udah telat, nih!”
Tanpa menunggu jawaban, Mika langsung berdiri dan berlari keluar. Arlan hanya menatap punggungnya sampai gadis itu benar-benar menghilang dari pandangannya.
Beberapa saat kemudian ia berbicara pada asistennya. “Cari informasi tentang teman sekelas Mika.”
“Baik, Bos.”
Tak butuh waktu lama, asistennya kembali dengan laporan.
“Nama anak itu Angel, Bos.” Ia membuka tablet yang berisi data.
“Orang tuanya punya perusahaan kosmetik. Tapi beberapa tahun terakhir perusahaan itu sempat mengalami masalah produksi.” Asisten itu melanjutkan penjelasannya.
“Sekitar lima bulan lalu, kedua orang tuanya pernah mengajukan kerja sama dengan Gavriel Group.” Ia kembali membaca data yang ada.
“Dari laporan ini juga terlihat kalau sebelumnya Angel punya masalah pribadi dengan Mika.”
Arlan mengangkat sedikit alisnya. “Masalah apa?”
Asisten itu menjawab tanpa ragu. “Anak itu menyebarkan gosip di sekolah—” Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
“Katanya Mika sering menjual diri demi dapat nilai bagus supaya bisa mempertahankan beasiswanya.”
Seketika tangan Arlan mengepal kuat. Rahangnya mengeras. Tatapannya berubah dingin. Begitu semua informasi selesai disampaikan, Arlan langsung berdiri.
“Antarkan aku ke perusahaannya. Pastikan perusahaan itu jadi milikku!” Asisten itu langsung mengangguk.
“Siap, Tuan.”
Mobil melaju dengan cepat. Sekitar tiga puluh menit kemudian, Arlan sudah berada tepat di depan gedung perusahaan kosmetik milik keluarga Angel.
Ia turun dari mobil dengan langkah tegap. Aura dingin yang menyertainya membuat para karyawan yang melihat langsung menunduk hormat.
“Selamat datang, Pak!”
Arlan hanya mengangguk singkat. Namun, asistennya yang langsung berbicara.
“Mana pimpinanmu?” tanyanya tegas.
Karyawan itu tampak gugup, tetapi segera mengangguk. “Si—silakan ikut saya, Pak.”
Ia mengantar mereka menuju lantai paling atas. Tak lama kemudian mereka sampai di depan ruang pimpinan.
Duk!
Pintu diketuk sekali sebelum dibuka.
“Silakan duduk, Pak,” ujar sekretaris dengan sopan.
Setelah mempersilakan mereka masuk, sekretaris itu segera pergi. Arlan melangkah masuk tanpa ragu. Ia langsung duduk di kursi besar milik CEO perusahaan tersebut.
Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu kecil dari dalam ruangan. Pimpinan perusahaan baru saja keluar dari toilet pribadinya.
Saat melihat siapa yang duduk di kursinya—ia langsung terkejut.
“Tuan Arlan?!”
Seperti biasanya, Arlan tidak banyak bicara. Tatapannya dingin, dan tajam. Seolah mampu membelah siapa pun yang berani berdiri di hadapannya.
Sreak!
Asisten Arlan meletakkan sebuah map hijau di atas meja.
“Apa ini?” tanya pimpinan itu bingung.
Namun, baik Arlan maupun asistennya tidak menjawab. Pria itu akhirnya membuka map tersebut sendiri. Beberapa lembar dokumen terlihat di dalamnya.
Baru membaca halaman pertama—wajahnya langsung pucat. Tangannya gemetar. Ia bahkan memegang dadanya, seolah serangan jantung tiba-tiba menyerang.
“Apa-apaan ini?!”
Arlan akhirnya bersandar santai di kursinya. Tatapannya dingin penuh kemenangan.
“Mulai sekarang—” Ia berhenti sejenak. “Perusahaan ini milikku.”
Ekspresi pimpinan itu langsung berubah. Yang tadinya penuh keramahan kini berubah menjadi kemarahan.
“Apa maksudmu?!” Tangannya menghantam meja keras. “Kamu pikir bisa datang seenaknya dan merampas perusahaan orang lain?!”
Arlan hanya tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak terasa hangat. Justru terasa mengancam.
“Kamu sendiri yang menandatangani kontrak kerja sama dengan Gavriel Group lima bulan lalu.”
Ia mengetuk pelan dokumen di meja.
“Perusahaanmu gagal memenuhi semua syarat produksi.” Tatapannya kembali tajam. “Dalam kontrak itu tertulis jelas—” Ia berhenti sebentar. “Semua aset perusahaanmu otomatis menjadi milikku.”
Ruangan itu mendadak terasa sangat sunyi. Pimpinan perusahaan itu membeku di tempatnya.
“Beberapa kali melakukan korupsi diperusahaan sendiri. Tidak menggaji karyawan selama tiga bulan! Apa itu kurang cukup untuk memasukkanmu ke dalam penjara?” Ancam Arlan.