NovelToon NovelToon
Apocalypse Regression: Harem In The Zombie World

Apocalypse Regression: Harem In The Zombie World

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Anime
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

"Satu kesempatan lagi... dan kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh apa yang menjadi milikku."
​Yuuichi Shiro tahu persis bagaimana bau kematian. Sebagai korban eksperimen ilegal yang selamat hanya untuk melihat dunia hancur oleh virus Chimera, ia mati dengan penyesalan di ujung pedangnya. Namun, takdir berkata lain. Yuuichi terbangun enam hari sebelum hari kiamat dimulai—di ruang kelas yang tenang, dengan guru kesehatan yang cantik dan teman-teman yang seharusnya sudah mati di depan matanya.
​Dengan bantuan Apocalypse Ascension System dan kesadaran Miu yang sarkastik, Yuuichi memulai langkahnya. Bukan untuk menjadi pahlawan bagi dunia yang sudah busuk, melainkan untuk membangun singgasananya sendiri di atas puing-puing peradaban.
​Di tengah erangan mayat hidup dan pengkhianatan manusia, Yuuichi berdiri dengan elemen es di tangan dan barisan wanita luar biasa di belakangnya. Kiamat bukan lagi sebuah akhir, melainkan taman bermain bagi sang Regressor untuk membalas dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Masa Lalu

Dengung mesin dari sistem ventilasi baru di bunker Level 2 menciptakan irama yang stabil, mengiringi kesibukan di dalam markas bawah tanah yang kini terasa jauh lebih luas. Dinding-dinding beton yang tadinya lembap kini dilapisi panel komposit abu-abu gelap yang mampu meredam panas dan suara. Di ruang kendali utama, Rina Suzuki duduk di depan jajaran monitor LED yang menampilkan peta topografi Distrik 3 secara real-time. Jemarinya menari di atas papan ketik mekanik, menyisir frekuensi radio yang melintasi kota yang hancur itu.

Yuuichi berdiri di belakangnya, menyilangkan lengan di depan dada. Ia baru saja selesai melakukan latihan fisik ringan untuk menstabilkan aliran energi es hitam di nadinya.

"Miu, status pemindaian perimeter," batin Yuuichi.

"Pemindaian Perimeter: Bersih. Radius 500 meter tidak terdeteksi aktivitas mutan skala besar. Namun, sensor frekuensi tinggi menangkap gangguan pada pita gelombang pendek militer yang tidak terenkripsi."

Tepat saat Miu memberikan laporan, salah satu layar Rina berkedip merah. Suara statis yang tajam keluar dari pengeras suara, disusul oleh suara manusia yang terputus-putus.

"...tolong... siapa pun yang mendengar... kami terjebak... Supermarket 'Sunrise' blok 7... pintu belakang mulai jebol... jumlah mereka terlalu banyak..."

Suara itu terdengar muda, penuh ketakutan, dan sangat akrab di telinga Yuuichi. Ia menyipitkan mata, mencoba menggali ingatan dari garis waktu sebelum ia melakukan regresi.

"Rina, bersihkan suaranya," perintah Yuuichi.

Rina mengangguk, jemarinya bergerak cepat memanipulasi gelombang suara. Setelah beberapa detik, suara itu menjadi lebih jelas.

"...ini Takeshi! Kelas 3-B SMA Kita! Ada sekitar lima belas orang di sini... siswi-siswi kelas 2 juga... tolong! Mereka ada di atap!"

"Teman sekolah kita," bisik Sakura yang baru saja masuk ke ruangan sambil membawa pedang kayunya. Wajahnya yang tadi tenang kini menegang. "Takeshi... itu kapten klub sepak bola, bukan? Jika mereka ada di Supermarket Sunrise, itu berarti mereka hanya berjarak tiga blok dari pintu keluar darurat kita."

Chika Kudou yang mengikuti di belakang Sakura meletakkan tangannya di dada, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam sebagai seorang guru. "Anak-anak itu... mereka pasti kelaparan dan ketakutan. Yuuichi-kun, kita tidak bisa membiarkan mereka, kan?"

Yuuichi tetap diam selama beberapa saat. Sifat analitisnya mulai bekerja. Menyelamatkan lima belas orang berarti menambah beban logistik secara drastis. Bunker ini baru saja ditingkatkan ke Level 2, kapasitas makanan dan air memang mencukupi, tetapi keamanan akan menjadi lebih rumit dengan adanya orang-orang asing yang belum tentu bisa dipercaya.

Namun, sistem memberikan dorongan yang berbeda.

"Misi Darurat Terdeteksi: Penyelamatan Siswa Terkepung."

"Objektif: Amankan setidaknya 10 siswa SMA Kita dari Supermarket Sunrise."

"Hadiah: Poin Atribut Bebas +5, Peningkatan Reputasi Pemimpin, Pembukaan Modul 'Barak Pengungsi' di Base."

"Miu, analisis risiko jika aku membawa mereka ke sini," tanya Yuuichi dalam hati.

"Risiko Keamanan: Menengah. Siswa-siswa ini tidak memiliki kemampuan tempur, namun mereka bisa menjadi tenaga kerja untuk pemeliharaan Base. Peringatan: Ada tanda-tanda kehadiran Varian Chimera Tipe 'Screamer' di sekitar lokasi tersebut. Suara teriakan siswa memicu insting berburu mereka."

Yuuichi menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah Sakura dan Chika yang menatapnya dengan penuh harap. Bahkan Elisa yang sedang berdiri di ambang pintu laboratorium tampak tertarik dengan situasi ini.

"Siapkan perlengkapan tempur," ujar Yuuichi akhirnya. "Sakura, kau ikut denganku. Chika-sensei, siapkan ruang karantina dan peralatan medis ekstra. Kita tidak tahu apakah ada di antara mereka yang sudah tergigit atau terinfeksi."

"Aku akan ikut juga!" seru Akari, melangkah maju dengan penuh semangat. "Aku tahu denah supermarket itu, aku sering belanja di sana sebelum... sebelum semua ini terjadi."

Yuuichi menatap Akari sejenak, lalu mengangguk. "Baiklah. Tapi kau tetap di belakang Sakura. Rina, tetap di sini dan pandu kami lewat satelit. Berikan koordinat musuh langsung ke visorku."

"Mengerti, Yuuichi," jawab Rina singkat, matanya kembali fokus pada layar.

Yuuichi mengambil katananya dan mengenakan jaket taktis hitamnya. Sebelum keluar, ia melirik Elisa. "Elisa, tetaplah di lab. Jika terjadi sesuatu yang mencurigakan di dalam sistem saat kami pergi, kau punya otorisasi untuk mematikan pintu utama secara manual."

Elisa mengangguk, matanya yang ungu berkilat cerdas. "Jangan khawatir. Aku tidak ingin kehilangan tempat tidur yang nyaman ini hanya karena beberapa bocah sekolah."

Kelompok kecil itu bergerak menuju pintu keluar darurat yang tersembunyi di balik reruntuhan gedung apartemen. Udara luar yang dingin dan berdebu langsung menyambut mereka. Distrik 3 yang tadinya "bersih" dari Iron Order kini kembali sunyi, namun kesunyian itu justru terasa lebih berbahaya.

Di kejauhan, suara raungan melengking—suara Screamer—memecah keheningan, disusul oleh suara tembakan senjata api yang sporadis.

"Mereka sudah mulai menyerang," desis Yuuichi. "Lari dengan tempo stabil. Jangan buang energi kalian."

Mereka melesat menembus bayang-bayang gedung, dipimpin oleh Yuuichi yang bergerak seperti hantu di tengah badai salju abu-abu. Di pikirannya, ia sudah menyusun rencana: bukan hanya untuk menyelamatkan teman-temannya, tapi untuk mulai membangun tentara kecil yang akan membantunya menghancurkan Chimera di masa depan.

Lantai aspal yang retak di depan Supermarket 'Sunrise' bergetar hebat. Ribuan sosok mayat hidup, yang tadinya hanya berkeliaran tanpa arah, kini berkumpul menjadi satu massa daging yang membusuk, didorong oleh satu frekuensi suara yang menyakitkan telinga. Di atas papan reklame raksasa yang sudah miring, sosok Screamer berdiri tegak. Tubuhnya kurus kering dengan leher yang memanjang secara tidak wajar, dan setiap kali ia membuka rahangnya yang robek, gelombang ultrasonik terpancar, mengendalikan gerombolan di bawahnya seperti konduktor memimpin orkestra kematian.

Yuuichi, Sakura, dan Akari berhenti di atap gedung apotek yang berseberangan dengan supermarket. Dari posisi ini, mereka bisa melihat pintu kaca depan supermarket yang sudah retak seribu, ditahan hanya oleh tumpukan rak besi dan meja kasir dari dalam.

"Terlalu banyak... Yuuichi-kun, jumlah mereka ribuan," bisik Akari, wajahnya pucat pasi saat melihat lautan kepala yang bergerak-gerak di bawah sana.

"Jumlah bukan masalah jika kita memenggal kepalanya," jawab Yuuichi dingin. Matanya merah menyala, menyisir setiap sudut area parkir yang penuh dengan bangkai mobil.

"Analisis Target: Screamer Varian Alpha. Kemampuan: Kontrol Mental Kolektif pada Varian Kelas C (Zombie Biasa). Titik Lemah: Kantung Suara di pangkal leher. Peringatan: Jika Screamer berteriak dalam jarak 5 meter, pelindung gendang telingamu akan hancur, Kakak."

"Rina, kau dengar?" batin Yuuichi melalui perangkat komunikasi di telinganya.

"Aku mendengarnya melalui frekuensi sistemmu, Yuuichi," suara Rina terdengar tenang dari bunker. "Aku sedang menyiapkan gangguan sinyal radio untuk sedikit mengacaukan transmisi ultrasonik makhluk itu. Tapi aku butuh kau mendekat sekitar sepuluh meter dari posisinya."

Yuuichi menoleh ke arah Sakura. "Sakura, ambil posisi di balkon lantai dua gedung ini. Gunakan busur taktis yang kita ambil dari pelabuhan. Begitu aku bergerak, kau harus mengalihkan perhatian gerombolan di pintu depan agar teman-teman kita tidak panik dan membuka barikade terlalu cepat."

Sakura mengangguk, ia segera memasang anak panah yang ujungnya telah dibalut kain berminyak. "Hati-hati, Yuuichi-kun. Jangan biarkan dirimu terkepung."

Yuuichi tidak membalas. Ia melompat dari tepian atap, namun bukannya jatuh ke bawah, ia menciptakan jalur es hitam yang tipis dan miring, meluncur turun dengan kecepatan tinggi menuju tengah-tengah kerumunan.

Syuuuut!

Kedatangan Yuuichi tidak disadari sampai ia mendarat di atas kap sebuah bus sekolah yang terbalik. Begitu kakinya menyentuh logam, hawa dingin yang luar biasa meledak keluar.

[ KETERAMPILAN AKTIF: ES KRISTAL HITAM - DOMAIN PEMBEKUAN ]

Dalam radius sepuluh meter, kaki-kaki para zombie yang berada di sekitar bus membeku secara instan dan menyatu dengan aspal. Yuuichi menarik katananya, bilah hitamnya mengeluarkan uap dingin yang pekat.

Screeeeeeaaaaammm!

Makhluk di atas papan reklame itu menyadari kehadiran Yuuichi. Ia memutar lehernya 180 derajat dan mengeluarkan teriakan melengking yang membuat kaca-kaca jendela di sekitar jalanan pecah berkeping-keping.

"Miu, sinkronisasi energi es ke telinga!" perintah Yuuichi.

[ SINKRONISASI BERHASIL. PERLINDUNGAN AKUSTIK AKTIF ]

Yuuichi melesat maju. Setiap ayunan pedangnya membelah zombie layaknya pisau panas memotong mentega. Ia tidak hanya menebas; ia bergerak dengan teknik Taekwondo Jin Mori, menggunakan tendangan berputar untuk melempar beberapa zombie sekaligus, menciptakan ruang kosong di tengah lautan musuh.

Di supermarket, Takeshi dan siswa lainnya mengintip dari balik celah barikade. "Lihat! Ada seseorang di luar! Dia... dia sendirian?"

"Itu Shiro! Yuuichi Shiro dari kelas 3-A!" teriak salah satu siswi dengan nada tidak percaya. "Lihat es itu! Dia monster atau pahlawan?!"

Yuuichi kini sudah berada tepat di bawah papan reklame. Screamer itu bersiap untuk melompat ke arahnya, namun Yuuichi lebih cepat. Ia menghantamkan telapak tangannya ke tiang besi papan reklame tersebut.

[ TEKNIK PERNAPASAN MATAHARI - VARIASI ES: POHON KRISTAL HITAM ]

Es hitam merambat naik ke tiang besi dengan kecepatan kilat, membekukan seluruh struktur papan reklame. Screamer itu mencoba terbang, namun kakinya sudah terperangkap dalam es yang tumbuh layaknya duri-duri tajam.

"Selesai," desis Yuuichi.

Yuuichi melompat tinggi, berputar di udara, dan melepaskan satu tebasan horizontal yang membawa seluruh sisa energi esnya. Bilah pedangnya memotong leher Screamer dengan presisi mutlak. Kepala makhluk itu terbang ke udara, membeku sebelum menyentuh tanah.

Seketika, ribuan zombie di bawah sana kehilangan arah. Tanpa kendali ultrasonik dari Screamer, mereka kembali menjadi mayat hidup yang bodoh dan lamban.

"Sakura! Sekarang!" teriak Yuuichi.

Sakura melepaskan anak panah apinya ke arah tumpukan tangki bensin yang sengaja dijatuhkan Akari sebelumnya. BOOOMM! Ledakan besar tercipta di depan gerbang supermarket, menciptakan dinding api yang memisahkan zombie dari pintu masuk.

Yuuichi mendarat di depan pintu kaca supermarket yang hancur. Ia mengetuk pintu itu dengan gagang katananya. "Buka pintunya. Kita pergi sekarang sebelum gerombolan lain datang."

Barikade digeser dengan terburu-buru. Takeshi muncul pertama kali, wajahnya penuh debu dan air mata. Ia menatap Yuuichi dengan rasa takut sekaligus kagum yang luar biasa. "Shiro... kau... kau benar-benar datang?"

Yuuichi menatap Takeshi dengan datar. "Simpan ucapan terima kasihmu nanti. Akari, pimpin mereka lewat jalur belakang yang sudah dibersihkan Sakura. Kita kembali ke Base."

Saat para siswa mulai keluar dengan gemetar, Yuuichi berdiri di paling belakang, menghadap lautan zombie yang mulai mencoba menembus dinding api. Ia tahu, dengan menyelamatkan mereka, ia baru saja membangun fondasi pertama untuk kelompok pengikutnya. Namun di antara para siswa itu, ada satu siswi yang menatap Yuuichi dengan pandangan yang berbeda—seorang gadis berkacamata yang memegang buku catatan dengan erat.

"Pemberitahuan: Deteksi Individu dengan Potensi Awakening INT Tinggi. Nama: Miho Nishimura. Status: Terobsesi dengan Analisis Kekuatanmu, Kakak."

Yuuichi hanya mendengus. "Satu lagi masalah potensial. Tapi setidaknya Base akan lebih ramai."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!