Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~24
Marni berusaha untuk tetap bersikap tenang agar Firman tak curiga tentang hubungannya dengan Rio. "Tadi mas Rio hanya izin cuci tangan saja kok mas lalu tak lama mas datang," ucapnya memberikan alasan saat pria itu meminta penjelasan ketika melihatnya bersama Rio di dapur rumahnya tadi.
"Cuci tangan?" Firman langsung mengernyit menatapnya.
"Hm," Marni pun mengangguk jika ia memang sedang tidak berbohong.
"Di dalam ada wastafel ngapain dia cuci tangan di dapur," Firman merasa aneh dengan tingkah pria itu seakan-akan hanya cari-cari alasan saja.
"Mungkin mas Rio tidak tahu jika ada wastafel di dalam," tukas Marni menanggapinya.
"Dia sudah beberapa kali datang ke rumah jadi tidak mungkin tidak tahu, letak dapur saja tahu masa wastafel di ruang makan tidak tahu." gerutu Firman terdengar sedikit kesal, ia sangat tahu bagaimana perangai temannya itu jadi ia khawatir jika pria itu sedang mencari perhatian wanita itu apalagi saat makan tadi sudah beberapa kali ia pergoki sedang memperhatikan wanita tersebut.
"Mungkin dia lupa mas, ngomong-ngomong perutku kram sejak tadi bisa tolong antarkan aku pulang sekarang." mohon Marni mengalihkan pembicaraan dan Firman pun mengangguk kecil lantas kembali mengemudikan mobilnya.
Sesampainya di rumah Marni langsung dicecar oleh sang ibu yang nampak penasaran, padahal seharusnya wanita paruh baya itu pergi taraweh malah tak jadi karena kedatangannya.
"Nak bagaimana acara buka bersamanya?" ucapnya dengan tak sabar setelah membuka pintunya.
Marni pun menyerahkan buah yang dibelikan oleh Firman tadi kepada ibunya tersebut. "Dari mas Firman," ucapnya dan tentu saja itu membuat wanita paruh baya itu nampak sangat senang karena jarang-jarang mereka bisa makan buah impor seperti ini mengingat harganya lumayan mahal.
"Jadi bagaimana acaranya nduk?" ucapnya lagi setelah menggigit sebutir anggur saat putrinya itu baru duduk di kursi kayu usangnya yang sebagian kakinya di makan oleh rayap.
"Berjalan dengan lancar bu, ada calonnya mas Firman juga disana." sahut Marni berharap ibunya tak lagi penasaran dengan hubungannya dengan Firman untuk ke depannya dan menganggap kedekatan mereka hanya sebuah pertemanan biasa sebagai sesama anggota di mushola kampungnya.
"Oh ada calonnya ya," ibunya pun terlihat kecewa lagipula apa yang bisa diharapkan dari putrinya itu untuk bisa mendapatkan anak pak lurah seperti Firman pikirnya.
"Ya sudah tidak apa-apa masih ada Sapri atau Insanul sepertinya mereka juga sangat tertarik padamu, ini tadi sore mereka mengirimkan makanan untuk kita." imbuhnya seraya menunjukkan sekotak martabak telur dan juga bolu pisang, sejak anak gadisnya itu pulang selalu saja ada rezeki jika tidak dari Firman ya pasti dari beberapa pria yang mencoba untuk mendekatinya.
Marni hanya menatapnya tak berminat. "Aku belum ingin menikah bu, aku masih ingin bekerja bukankah ibu ingin punya rumah bagus seperti tetangga yang lain?" ucapnya menanggapi.
"Ya juga sih tapi baiklah lebih baik kamu kembali ke kota saja cari uang yang banyak biar bisa bangun rumah dan biaya kuliah Marwan karena mengharapkan bapakmu sampai lebaran kuda juga takkan bisa punya rumah bagus." akhirnya ibunya pun mendukungnya untuk kembali ke kota sesuai tujuan awal mereka.
Marni hanya menggeleng kecil, sebenarnya ia selalu kasihan sama ayahnya karena selalu di pojokan oleh ibunya tentang kekurangannya. Mau bagaimana lagi ayahnya memang hanya pekerja kebun itu pun jika ada yang menyuruhnya jika tidak ya fokus dengan peliharaan ternaknya saja dan ia bertekad akan memutuskan rantai kemiskinan keluarganya meskipun harus mengorbankan diri.
Sebenarnya seandainya ibunya memiliki pemikiran sedikit terbuka jika memang keluarganya kurang mampu harusnya memiliki satu anak saja sudah cukup agar bisa fokus dengan pendidikan dan juga tabungan hari tua, tapi ibunya justru suka sekali hamil sampai empat kali dan untung yang terakhir keguguran jika tidak tanggung jawabnya sebagai anak pertama akan semakin berat.
Terkadang begitulah egoisnya orang tua, mereka hanya berpikir semakin banyak anak akan semakin banyak rezeki tapi mereka lupa jika kebutuhan anak tidak hanya tentang makan dan pakaian saja tapi juga pendidikan tinggi agar kelak dewasa tak lagi merepotkan orang tuanya karena bisa berdiri di kakinya sendiri.
Dan salahnya lagi terkadang orang tua enggan menjalankan kewajibannya memberikan pendidikan yang layak untuk anak-anaknya namun saat mereka dewasa di tuntut agar bisa memberikan ini dan itu kepada mereka, pada akhirnya jika sistem seperti itu tak di rubah maka rantai kemiskinan pun takkan terputus karena anak yang seharusnya bisa fokus dengan masa depannya harus menjadi generasi sandwich karena kurang tanggung jawabnya orang tuanya.
Setelah berbicara dengan ibunya, Marni segera masuk ke dalam kamarnya. Kamar sempit dengan kasur tipis seadanya yang diletakkan diatas dipan buatan sang ayah, meskipun ayahnya banyak kurangnya tapi ia sangat bersyukur memilikinya karena dari ayahnya ia belajar untuk selalu bersyukur di tengah kekurangan.
Mungkin jika hubungannya dengan Firman tak direstui oleh kedua orang tuanya, sepertinya ia akan memutuskan untuk tak menikah saja karena kasihan jika anaknya nanti harus menderita sepertinya. Masih ada panti jompo yang akan mengurusnya kelak jadi untuk apa ia harus memusingkan semuanya.
"Usir!"
"Usir!"
Tengah malam itu Marni langsung terbangun dengan keringat dingin ketika kembali bermimpi di arak oleh warga, entah kenapa akhir-akhir ini mimpi itu semakin sering datang.
Apa itu sebuah firasat? atau hanya rasa ketakutannya semata jika warga kampung ini mengetahui pekerjaannya di kota sebagai seorang LC yang di mata mereka adalah pekerjaan hina?
Keesokan harinya Marni kembali diajak oleh Firman pergi ke pasar besar membeli beras untuk di bagikan kepada warga kampungnya, sudah menjadi kegiatan rutin pak Lurah setiap tahun selalu berbagi beras pada mereka tanpa terkecuali sebagai zakat harta bendanya.
Saat baru keluar dari toko dan menuju mobilnya tiba-tiba seseorang mendekati mereka. "Maria," ucap seorang pria berusia mendekati kepala empat itu hingga membuat Marni dan Firman pun langsung menoleh.
"Maria siapa mas, itu Marni tetangganya Astuti masa lupa." ucap Lastri sang istri sekaligus saudara sepupu Astuti itu.
Paijo sang suami pun mengangguk kecil. "I-iya Marni kok malah Maria," ucapnya salah tingkah karena sebelumnya ia lupa jika sedang bersama istrinya jadi saat melihat wanita yang mirip dengan seorang LC yang bernama Maria langsung ia sapa mengingat ia sudah lama menginginkannya setiap kali berkunjung ke ibukota namun jadwal wanita itu selalu penuh.
Marni pun nampak menelan ludahnya, kenapa serba kebetulan seperti ini mungkinkah mimpinya semalam adalah firasat jika rahasianya sebentar lagi akan terbongkar?
Ngereog mulu 🤦...
aku juga orang kampung Lo bang qinan .aku anak ke 11 dari 18 bersaudara..tapi ga terlalu susah walaupun bapakku seorang petani . sekaligus pegawai pemerintah . karena walaupun petani tapi lahan punya sendiri
Penggemarmu gentayangan di mana -mana 😣...
sabar Marni fokus ibadah jangan dengarkan omongan seyton" di sekitar mu