NovelToon NovelToon
DUKA BARU LUKA LAMA

DUKA BARU LUKA LAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:824
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Rumah yang Bernyanyi

Enam bulan kemudian. September tiba dengan langit Jakarta yang cerah.

Pagi itu, Arsya berdiri di balkon lantai dua rumah Menteng, menikmati secangkir kopi sambil menatap halaman depan. Pohon beringin tua itu masih kokoh, dedaunannya hijau segar setelah musim hujan berlalu. Burung-burung berkicau riang, menambah semarak pagi yang tenang.

Ponselnya bergetar. Video call dari Nadia.

"Pagi, sayang," sapa Nadia dari layar. Di belakangnya, terlihat kanal-kanal Amsterdam dengan rumah-rumah khas Belanda.

"Pagi. Udah malem di sana, kan? Kok belum tidur?"

"Baru pulang dari kantor. Proyeknya mepet deadline." Nadia tersenyum lelah. "Kangen kamu."

"Aku juga kangen." Arsya tersenyum. "Sebentar lagi kamu pulang, 'kan? Tinggal dua minggu?"

"Iya. Nggak sabar." Nadia menatapnya lekat-lekat. "Kamu kurusan, Ars. Makan yang bener."

"Kara masak tiap hari. Tenang aja."

"Masakan Kara? Yang suka gosong itu?"

Arsya tertawa. "Dia sudah belajar. Sekarang lumayan."

"Syukurlah. Oh iya, aku punya kejutan buat kamu."

"Kejutan apa?"

"Nanti aja, pas pulang. Biar penasaran."

"Ya ampun, bikin penasaran."

"Emang sengaja." Nadia tertawa. "Udah dulu, ya. Aku mau tidur. Capek banget."

"Iya, tidur yang nyenyak. Love you."

"Love you too."

Sambungan terputus. Arsya tersenyum sendiri. Enam bulan berlalu cepat. Hubungan jarak jauh ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan. Mereka rutin video call, saling kirim pesan, dan sekali Arsya sempat mengunjungi Nadia di Belanda selama seminggu. Itu adalah perjalanan yang indah.

Dua minggu lagi. Nadia pulang.

Di lantai bawah, Kalara sibuk di dapur. Pagi-pagi sudah memasak—bukan sarapan, tapi kue untuk acara sore nanti.

"Kak!" teriaknya. "Turun! Bantu!"

Arsya turun dengan malas. "Bantu apa?"

"Aduk ini." Kalara menyerahkan mangkuk besar berisi adonan kue. "Gue capek."

"Kamu yang mau bikin kue, masa suruh aku?"

"Lo kan kakak. Tugas lo bantu adik."

Arsya menghela napas, tapi tetap mengambil mangkuk itu. Ia mengaduk adonan dengan malas-malasan.

"Ini untuk acara apa, sih, ribet banget?"

"Acara syukuran, Kak. Tiga bulan lagi rumah ini genap setahun jadi milik kita. Gue mau rayain."

"Setahun? Cepet banget."

"Iya. Dan banyak banget yang berubah." Kalara tersenyum. "Gue mau undang semua orang. Mama, ayah lo, Pak Willem, Raka, Nadia—oh iya Nadia udah pulang?"

"Dua minggu lagi."

"Berarti pas. Acaranya tiga minggu lagi, kan?"

"Iya."

"Perfect. Nanti kita bikin pesta kecil-kecilan. Tapi meriah."

Arsya tersenyum. Adiknya ini memang paling suka merayakan hal-hal kecil.

Tiga minggu kemudian, rumah Menteng bersiap untuk pesta.

Tenda putih dipasang di halaman belakang. Lampu-lampu hias digantung di pohon beringin. Meja-meja panjang ditata dengan taplak putih dan vas bunga segar. Katering datang dengan makanan berlimpah. Musik jazz mengalun pelan dari speaker.

Kalara mondar-mandir mengatur semuanya. Gaunnya hari ini biru muda, rambutnya digerai dengan jepit bunga kecil. Ia terlihat cantik dan berseri.

"Kara, santai dulu," kata Raka yang datang membantu. "Semua sudah beres."

"Bentar, gue cek meja tamu dulu."

"Udah gue cek. Semua oke."

"Benaran?"

"Benaran. Duduk sini." Raka menariknya duduk di kursi taman. "Lo cantik hari ini."

Kalara tersipu. "Makasih. Lo juga ganteng."

"Pasti. Kan mau ketemu calon mertua lagi."

"Calon mertua?" Kalara mengerutkan kening. "Maksud lo?"

Raka tersenyum misterius. "Nanti deh."

Sebelum Kalara sempat bertanya lebih lanjut, tamu pertama datang. Mama Kalara tiba dengan busana kebaya cantik, diikuti Ayah Arsya yang juga rapi dengan kemeja batik.

"Selamat, Nak," sapa Mama sambil memeluk Kalara. "Rumahnya makin bagus."

"Makasih, Ma. Masuk, yuk."

Ayah Arsya menjabat tangan Arsya. "Acaranya bagus, Nak."

"Makasih, Pa. Senang Pa bisa datang."

Pak Willem datang berikutnya, dengan setelan jas khasnya. Ia membawa sebotol wine tua.

"Ini buat kalian," katanya. "Anggur dari kebunku di Eropa. Khusus untuk acara istimewa."

"Wah, Pak Willem, repot-repot."

"Enggak. Kalian keluarga saya sekarang. Wajar."

Tamu-tamu lain berdatangan. Beberapa kolega Arsya dari kantor arsitek, beberapa teman Kalara dari dunia desain, dan tetangga sekitar yang sudah akrab.

Suasana semakin ramai. Tawa dan obrolan memenuhi halaman belakang. Anak-anak berlarian di antara tamu. Musik jazz berganti jadi lagu-lagu santai.

Dan saat matahari mulai condong ke barat, seorang tamu istimewa tiba.

Nadia.

Arsya melihatnya dari kejauhan. Gaun panjang berwarna merah marun, rambut tergerai indah, senyum lebar di wajahnya. Ia berjalan melewati pintu pagar, dan dunia seolah berhenti.

Arsya hampir berlari mendekat. Mereka bertemu di tengah halaman, lalu berpelukan erat.

"Kamu datang," bisik Arsya.

"Aku pulang." Nadia melepas pelukan, menatapnya. "Kangen banget."

"Aku juga. Kangen banget."

Mereka berciuman, tidak peduli dikelilingi banyak orang. Tepuk tangan riuh dari para tamu menyambut mereka.

"Wah, romantis!" teriak Kalara dari kejauhan.

Arsya dan Nadia tertawa, lalu berjalan bergandengan menuju tenda.

Acara berlangsung meriah. Makan malam disajikan, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan kecil.

Kalara naik ke panggung darurat yang dibuat di sudut halaman. Ia mengambil mikrofon, tersenyum lebar.

"Selamat malam semuanya. Makasih udah datang ke acara syukuran satu tahun rumah ini jadi milik saya dan kakak saya, Arsya."

Tepuk tangan mengiringi.

"Rumah ini punya sejarah panjang. Penuh luka, penuh air mata. Tapi sekarang, rumah ini penuh tawa, penuh cinta. Dan itu semua karena orang-orang di sini." Kalara menunjuk ke arah Mama, Ayah Arsya, Pak Willem, Raka, Nadia, dan akhirnya Arsya. "Makasih udah jadi keluarga. Makasih udah nggak pergi."

Matanya berkaca-kaca. Arsya naik ke panggung, memeluknya.

"Kakak adik cantik," goda seseorang dari kerumunan.

Mereka tertawa. Kalara menyeka air mata.

"Oke, sekarang kita potong tumpeng!"

Tumpeng raksasa dibawa keluar. Arsya dan Kalara memotongnya bersama, disaksikan semua tamu. Suasana semakin meriah dengan hidangan penutup dan kue-kue buatan Kalara (yang kali ini tidak gosong, bersyukur).

Saat malam semakin larut, tamu mulai pulang satu per satu.

Mama Kalara pamit lebih dulu, diantar sopir. Ayah Arsya menyusul, dengan janji akan main lagi lain waktu. Pak Willem mengobrol panjang dengan Arsya tentang rencana pengembangan galeri.

Raka dan Kalara duduk di bangku taman, agak menjauh dari keramaian yang tersisa.

"Kara," panggil Raka lembut.

"Hm?"

Raka mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Kotak beludru merah.

Kalara terkesiap. "Raka... itu..."

Raka berlutut di hadapannya, di tengah taman yang remang-remang diterangi lampu hias. Beberapa tamu yang masih tinggal mulai memperhatikan, berbisik-bisik.

"Kalara Asmara," suara Raka bergetar, "aku mencintaimu sejak pertama kali kau pesan kopi di kafe aku tiga tahun lalu. Aku sabar menunggu, sabar menemani, sabar melalui semua lukamu. Dan hari ini, di rumah yang penuh makna ini, aku ingin bertanya..."

Ia membuka kotak itu. Cincin berlian kecil berkilau di dalamnya.

"Kara, maukah kamu menjadi istriku?"

Udara membeku. Kalara menutup mulut dengan kedua tangan, matanya berkaca-kaca. Semua orang diam menanti.

"Kara?" suara Raka cemas. "Kamu nggak jawab?"

Kalara tertawa sambil menangis. "Iya! Iya, Raka! Aku mau!"

Tepuk tangan pecah. Raka bangkit, memeluk Kalara erat, lalu memakaikan cincin itu di jari manisnya. Mereka berciuman di tengah sorak-sorai tamu yang masih tersisa.

Arsya mendekat, tersenyum lebar. "Selamat, Dik."

Kalara menunjukkan cincinnya. "Kak! Gue tunangan!"

"Iya, aku lihat." Arsya memeluknya. "Selamat. Raka, jaga dia baik-baik."

"Pasti, Kak. Janji."

Nadia juga mendekat, memeluk Kalara. "Selamat, Kara. Bahagia ya."

"Makasih, Nad."

Malam itu, di rumah Menteng yang bersejarah, dua insan mengikat janji. Bukan pernikahan—tapi awal menuju pernikahan. Sebuah langkah baru dalam perjalanan cinta mereka.

Pesta usai. Tamu-tamu terakhir pulang. Hanya Arsya, Kalara, Nadia, dan Raka yang tersisa di halaman belakang.

Mereka duduk di kursi taman, menikmati sisa-sisa makanan dan minuman. Bintang-bintang bertaburan di langit Jakarta yang cerah.

"Gila, hari ini sempurna banget," kata Kalara sambil memandangi cincinnya. "Gue nggak nyangka."

"Lo pantas bahagia," kata Arsya.

"Lo juga, Kak. Nadia udah pulang. Sekarang giliran lo."

Nadia tersenyum. "Dia belum ngelamar aku, sih."

Arsya tersedak. "Apa?"

"Bercanda." Nadia tertawa. "Santai."

"Jangan bercanda gitu, jantungku."

Mereka tertawa bersama. Malam semakin larut, tapi tidak ada yang ingin pulang. Terlalu indah untuk diakhiri.

"Kak," kata Kalara tiba-tiba.

"Hm?"

"Gue mau minta tolong."

"Apa?"

"Jadi pendamping gue pas nikah nanti. Lo mau?"

Arsya terharu. "Tentu. Tapi bukan pendamping, kan? Itu kan buat cewek."

"Pendamping pria. Best man. Apalah istilahnya. Yang penting lo di samping gue."

"Aku mau. Pasti."

"Janji?"

"Janji."

Mereka berpelukan. Nadia dan Raka tersenyum melihatnya.

"Keluarga yang aneh," bisik Raka pada Nadia.

"Tapi indah," balas Nadia.

"Iya. Indah."

Pukul satu dini hari, mereka akhirnya masuk ke rumah.

Nadia dan Raka menginap di kamar tamu—rumah ini cukup besar untuk itu. Arsya dan Kalara duduk di ruang keluarga, enggan tidur.

"Kak, lo nggak capek?"

"Capek. Tapi bahagia."

"Gue juga." Kalara memandangi cincinnya. "Gue nggak nyangka bakal sampai di sini. Dulu gue takut banget sama komitmen. Takut ditinggal. Sekarang..."

"Sekarang lo berani."

"Iya. Berkat lo. Dan Raka. Dan semua orang."

Arsya mengangguk. "Kita sembuh, Dik. Pelan-pelan, tapi sembuh."

"Masih ada luka?"

"Mungkin. Tapi luka itu nggak sakit lagi. Hanya jadi bekas. Pengingat."

"Pengingat kalau kita kuat."

"Pengingat kalau kita bisa lewati apa pun."

Mereka diam, menikmati keheningan malam. Di luar, jangkrik bernyanyi. Di dalam, hati mereka bernyanyi.

Pagi datang dengan cerah.

Arsya bangun lebih dulu. Ia membuat kopi, lalu duduk di balkon seperti biasa. Tapi pagi ini, ada yang berbeda.

Nadia muncul di sampingnya, masih dengan rambut acak-acakan dan gamis tidur.

"Pagi."

Arsya tersenyum. "Pagi. Kok udah bangun?"

"Kangen kamu. Nggak sabar buat mulai hari."

Arsya meraih tangannya, menariknya duduk di samping.

"Nadia."

"Hm?"

"Aku juga mau tanya sesuatu."

Nadia menatapnya, jantungnya berdebar.

"Apa?"

Arsya menghela napas. "Ini mungkin terlalu cepat. Tapi setelah melihat Kara dan Raka kemarin, aku jadi mikir..."

Ia berhenti. Nadia menunggu.

"Aku nggak punya cincin. Nggak siap apa-apa. Tapi aku tahu aku nggak mau kehilangan kamu. Dan aku mau menghabiskan sisa hidupku denganmu."

Nadia tersenyum. "Ars..."

"Jadi, Nadia, maukah kamu... tinggal di sini? Bersama aku? Maksudku, bukan cuma tinggal, tapi... menjalani hidup bersama. Menikah suatu hari. Tapi kalau kamu belum siap, nggak apa-apa, kita bisa jalan pelan-pelan, aku cuma mau..."

Nadia menciumnya, menghentikan celotehannya yang gugup.

"Iya," bisiknya. "Iya, aku mau."

Arsya terkejut. "Benaran?"

"Benaran. Aku mau tinggal di sini, menjalani hidup bersama, menikah suatu hari. Aku mau semua itu dengan kamu."

Mereka berpelukan erat. Di balkon rumah Menteng, dengan pemandangan pohon beringin dan langit pagi yang cerah, dua hati bersatu dalam janji yang tak terucap.

Sarapan bersama di ruang makan.

Kalara dan Raka sudah turun. Nadia membantu Arsya menyiapkan meja. Suasananya hangat, seperti keluarga sungguhan.

"Kak, lo ngapain dari tadi senyam-senyum?" tanya Kalara curiga.

Arsya dan Nadia bertukar pandang.

"Kami... ngomong sesuatu," jawab Arsya.

"Ngomo ng apa?"

Nadia tersenyum. "Aku akan pindah ke sini. Tinggal sama Arsya."

Kalara membelalak. "Apa? Serius?"

"Iya. Tadi pagi kami putuskan."

Kalara berjingkrak. "Yess! Akhirnya! Kakakku nggak akan jomblo lagi!"

"Aku udah nggak jomblo dari dulu," protes Arsya.

"Iya tapi sekarang tinggal serumah. Beda level."

Raka tertawa. "Selamat, Kak. Semoga langgeng."

"Makasih." Arsya meraih tangan Nadia. "Ini baru awal. Tapi aku yakin."

Mereka sarapan dengan riang. Cerita-cerita ringan, tawa, dan rencana-rencana masa depan. Nadia akan memindahkan barang-barangnya dari Kemang minggu depan. Raka dan Kalara sudah mulai diskusi soal pernikahan—kapan, di mana, bagaimana.

Rumah Menteng yang dulu sunyi, kini ramai oleh suara-suara cinta.

Dua minggu kemudian, Nadia resmi pindah.

Barang-barangnya memenuhi satu kamar di lantai dua—kamar yang dulu kosong, kini berubah jadi ruang kerjanya. Ia dan Arsya sepakat untuk tidak tinggal satu kamar dulu, meskipun sudah pacaran serius. "Pelan-pelan," kata Nadia. Arsya setuju.

Malam pertama setelah semua barang rapi, mereka makan malam bertiga—Arsya, Kalara, Nadia—karena Raka ada acara keluarga.

"Serasa punya kakak lagi," kata Kalara. "Kakak cewek."

"Seru, 'kan?" Nadia tersenyum.

"Iya. Tapi lo jangan nakalin gue, ya. Gue punya Raka buat bela."

"Lho, saya yang nakal? Lihat kakak lo tuh."

Arsya mengangkat tangan. "Aku di tengah. Jangan libatin."

Mereka tertawa. Suasana hangat seperti ini yang dulu tidak pernah Arsya bayangkan.

Setelah makan, mereka nonton film di ruang keluarga. Kalara merebahkan diri di sofa panjang, Nadia duduk di samping Arsya dengan kepala bersandar di bahunya.

"Kak," bisik Nadia.

"Hm?"

"Aku bahagia."

Arsya mencium rambutnya. "Aku juga."

Di sofa seberang, Kalara pura-pura tidur, tapi tersenyum dalam gelap. Ia mendengar bisikan itu. Dan hatinya ikut bahagia.

Hari-hari berlalu. Rumah Menteng semakin hidup.

Pagi, Arsya dan Nadia sarapan bersama sebelum berangkat kerja. Siang, Kalara sibuk dengan proyek desainnya di ruang kerja lantai bawah. Sore, Raka sering mampir, kadang bawa makanan, kadang bantu-bantu. Malam, mereka berkumpul di ruang keluarga, nonton film atau sekadar ngobrol.

Pak Willem sesekali mampir, membawa oleh-oleh dari perjalanannya. Mama Kalara dan Ayah Arsya juga sering datang, menikmati waktu bersama anak-anak mereka.

Rumah ini, yang dulu sunyi dan penuh rahasia kelam, kini menjadi pusat kehangatan. Dinding-dindingnya yang dulu menyimpan tangis, kini menyimpan tawa. Lantai-lantainya yang dulu berderit misterius, kini berderit karena langkah-langkah ceria.

Rumah ini bernyanyi.

Bernyanyi dengan suara cinta.

Suatu malam, saat hujan turun deras, mereka berempat duduk di ruang keluarga—Arsya, Kalara, Nadia, Raka. Api unggun kecil di taman belakang tidak bisa dinyalakan karena hujan, jadi mereka menggantinya dengan lilin-lilin di dalam ruangan.

"Suasana romantis," kata Raka.

"Emang. Cocok buat lo ngelamar Kara lagi," goda Nadia.

"Udah lamar. Sekarang tinggal nentuin tanggal."

"Kapan?" tanya Arsya.

"Kita masih diskusi. Mungkin tahun depan. Biar persiapan matang."

Kalara mengangguk. "Gue mau yang sederhana aja. Di sini, di rumah ini."

"Di sini?" Raka terkejut.

"Iya. Rumah ini saksi sejarah kita. Cocok, 'kan?"

Raka tersenyum. "Tentu. Apa pun yang kamu mau."

"Lo mau, Kak?" tanya Kalara pada Arsya.

Arsya terharu. "Tentu. Rumah ini rumah kita. Aku seneng kalau kalian nikah di sini."

"Berarti kita bakal sibuk tahun depan. Persiapan pernikahan."

Nadia meraih tangan Arsya. "Kita juga harus mulai mikirin, ya."

Arsya menatapnya. "Maksud kamu?"

"Ya... masa depan. Setelah kamu minta aku pindah ke sini, apa cuma sampai di situ?"

Arsya mengerti. Ia tersenyum.

"Aku mau serius, Nad. Tapi aku juga mau pelan-pelan. Yang penting kita bersama dulu."

"Setuju. Yang penting bersama."

Di luar, hujan reda. Bulan muncul dari balik awan, menerangi halaman belakang dengan cahaya perak.

Mereka berempat duduk diam, menikmati kedamaian malam. Tidak perlu banyak kata. Cukup dengan kehadiran.

Pukul sebelas malam, Raka pamit pulang. Kalara mengantarnya sampai pintu.

"Hati-hati, ya."

"Iya. Kamu tidur yang nyenyak."

Mereka berciuman selamat malam, lalu Raka pergi.

Kalara kembali ke ruang keluarga. Arsya dan Nadia masih duduk, berbincang pelan.

"Kak, gue mau tanya sesuatu."

"Apa?"

"Lo bahagia?"

Arsya menatapnya. "Bahagia. Banget."

"Beneran?"

"Beneran. Setelah sekian lama, akhirnya aku merasa utuh. Punya kamu, punya Nadia, punya rumah ini, punya keluarga. Apa lagi yang kurang?"

Kalara tersenyum. "Iya. Gue juga bahagia."

Nadia meraih tangan Kalara. "Kita semua bahagia. Dan itu luar biasa."

Malam itu, mereka bertiga duduk bersama hingga larut. Bercerita tentang mimpi-mimpi kecil, tentang rencana-rencana sederhana, tentang hal-hal yang membuat hidup berarti.

Tidak ada drama. Tidak ada air mata. Hanya kehangatan.

Rumah Menteng, yang dulu menjadi saksi bisu luka dan air mata, kini menjadi saksi kebahagiaan mereka.

Rumah ini bernyanyi.

Bernyanyi dengan suara cinta.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!