NovelToon NovelToon
Long Hand

Long Hand

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Fantasi
Popularitas:254
Nilai: 5
Nama Author: Kaelits

Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.

​Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.

​Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.

​Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serang

"Kau sungguh berani, bocah," kata Lavernus, suaranya berat. Ia sedikit mengangkat pedang perak di tangannya, cahaya pagi yang masuk melalui jendela kedai menyambar bilah yang sudah terlihat usang oleh banyak pertempuran, meninggalkan bekas-bekas goresan di permukaannya. Posturnya bergeser, kaki kanan mundur selangkah, tubuhnya yang besar condong ke depan. "Namamu siapa?"

"Steve," jawab Otto.

Tanpa peringatan, Lavernus bergerak.

Kecepatannya mengejutkan untuk ukuran tubuhnya yang besar dan tampak lamban. Pedangnya menyambar horizontal, menebas udara dengan desisan tajam yang memekakkan telinga, mengarah tepat ke leher Otto. Tapi insting Otto lebih cepat. Ia menjatuhkan badan rendah, merunduk begitu dalam hingga punggungnya hampir menyentuh lantai. Dari posisi terhina itu, matanya yang biru di balik topeng menangkap celah: perut Lavernus yang terbuka lebar, tidak terlindungi oleh pedang atau perisai.

Otto melesat ke atas, belatinya yang hitam menyambar cepat mengarah ke titik lemah itu. Tapi Lavernus hanya berputar dengan anggun yang menakutkan, menghindar dengan mudah. Napas panas prajurit itu, bercampur bau alkohol dan daging, tercium dekat telinga Otto.

Melihat serangan pertama sia-sia, Otto bangkit cepat, kaki-kakinya berpijak kuat di meja-meja. Ia menerjang lagi. Benturan keras baja memenuhi udara di depan kedai.

CLANG! CLANG! CLANG!

Setiap benturan memercikkan bunga api kecil yang langsung padam di udara pagi. Teman-teman Lavernus tetap di tempat, bersandar santai di sebuah meja kayu yang pecah dan terbalik, meminum bir mereka dengan santai, sesekali bersorak memberi semangat. Mereka yakin, Lavernus akan mengakhiri ini dengan cepat, seperti biasa.

Pemilik kedai, pria gemuk dengan wajah yang biasanya tak mudah terkejut oleh keributan, kini pucat pasi. Keringat dingin membasahi pelipisnya yang botak. Keributan di Kuda Hitam adalah hal biasa, hampir seperti bumbu kehidupan sehari-hari. Tapi pertarungan melawan prajurit elit Gereja Cahaya? Dan si topeng kelinci ini bisa bertahan lebih dari beberapa detik? Itu bukan hal biasa.

Synel, yang masih terbaring di lantai kotor dengan tubuh memar dan pegal, melongo tak percaya. Matanya tak bisa mengikuti gerakan cepat mereka, hanya melihat kilatan-kilatan bayangan dan dengar suara logam beradu. "A-apa-apaan itu?" gumamnya, suaranya tenggelam dalam gemerincing senjata yang memekakkan.

Otto melompat dari atas meja kayu yang ringkih ke bangku panjang, menggunakan setiap perabotan sebagai pijakan dan perisai sementara. Gerakannya cair, tak terduga. Tapi Lavernus tak memberinya waktu untuk bernapas. Prajurit itu bergerak cepat lagi, kali ini mengincar kepala Otto dengan tebasan vertikal.

Otto menyilangkan kedua belatinya yang hitam di atas kepala, menangkis dengan seluruh kekuatan yang ia punya.

KLANG!

Suara logam beradu yang memekakkan, bergema di seluruh ruangan. Serangan itu diikuti tinju yang begitu dahsyat hingga Otto terlempar ke belakang hingga menghancurkan pintu kayu kedai. Kayu pecah berkeping-keping dengan suara gedebuk keras dan berderak, serpihan beterbangan. Otto mendarat di tanah berdebu di luar kedai, berguling beberapa kali di jalan berbatu sebelum akhirnya berhenti, terengah-engah.

Para pedagang kaki lima dengan gerobaknya, pelanggan kedai yang berlarian keluar, pejalan kaki yang kebetulan lewat, langsung berkerumun membentuk lingkaran. Jeritan, teriakan, dan bisikan panik menciptakan keriuhan yang cepat membesar. Lingkaran penonton terbentuk secara spontan, mengubah jalanan depan kedai menjadi arena dadakan yang tak terduga.

Lavernus melangkah keluar melalui puing-puing pintu yang hancur, sepatu botnya menginjak serpihan kayu tanpa peduli. Pedangnya masih terhunus, memantulkan cahaya matahari pagi dengan kilauan dingin yang mengancam. Senyuman puas dan sombong merekah di bibirnya. "Lumayan, bocah. Sungguh lumayan. Tak ada yang pernah bertahan lebih dari sepuluh detik dari seranganku, dan kau masih utuh. Kau membuatku terkesan."

Mendengar ucapan itu, Otto perlahan bangkit dari debu jalanan. Jubah cokelatnya kini belepotan debu dan kotoran, ada sobekan kecil di bahu kanan, dan lutut celananya robek. Topeng kelincinya mulai retak di sudutnya.

"Wah, masih bisa berdiri?" Lavernus mengembalikan pedangnya ke sarung lalu bertepuk tangan pelan. "Bagus, bagus. Tapi... aku bahkan belum menggunakan setengah dari kekuatanku, lho."

"Aku penasaran," kata Otto, sambil santai membersihkan debu di lengan jubahnya dengan gerakan halus, "apakah semua orang dari Gereja Cahaya seberisik kau?"

Publik yang sudah mengerumuni lokasi langsung bereaksi. Sorakan dan teriakan dukungan untuk Lavernus bergema di jalanan sempit. "Bunuh si topeng kelinci sialan!" teriak seorang pria dengan wajah merah padam, tinjunya terangkat.

"Hancurkan dia, Lavernus!"

Nama Lavernus dikumandangkan, diulang-ulang oleh kerumunan yang haus tontonan berdarah.

"Cih... ribut sekali," desis Lavernus pelan, meski ia tersenyum tipis.

Suara sorakan semakin keras. Area sekitar kedai telah berubah total dalam hitungan menit; pedagang cepat-cepat menarik gerobaknya menjauh, jendela-jendela rumah di lantai atas dibuka, wajah-wajah penuh ketakutan dan kegirangan muncul di balik kaca.

"Kau sudah tak punya tempat lagi untuk lari, Topeng Kelinci," Lavernus melanjutkan, suaranya kembali mengancam, senyuman menyeringai kembali merekah. "Ini konsekuensi dari perbuatan bodohmu." Ia berhenti sejenak, matanya menyapu penonton dengan puas, menikmati perhatian yang ia pancing. "Jangan kecewakan penonton. Kalau mau memohon ampun sekarang, aku mungkin akan berbaik hati. Tapi dengan syarat... kau harus kehilangan salah satu tanganmu sebagai ganti rugi. Bagaimana?"

"Aku sangat berharap," ucap Otto, "bahwa semua pasukan Gereja Cahaya sebodoh kau."

"Hah?" Lavernus menatapnya, bingung, lalu marah. Amarahnya yang sempat reda mulai mendidih lagi, memanaskan wajahnya. "Kau...!"

Dalam sekejap, Otto menghilang dari tempatnya berdiri. Hanya ada debu yang berhamburan ditiup angin pagi. Seketika, ia sudah berada di belakang seorang lelaki berambut cokelat di pinggir kerumunan—seorang tukang daging dengan apron penuh noda darah, yang sedari tadi menonton dengan mulut terbuka.

Belati Otto yang tersisa menekan tajam ke leher pria itu, tepat di atas urat leher yang berdenyut kencang karena ketakutan. "Jangan bergerak," bisik Otto.

Warga yang awalnya menonton antusias kini berteriak histeris. Jeritan panik memecah udara pagi yang tadinya riuh. Lingkaran penonton bubar dalam sekejap, orang-orang berlarian tak karuan, saling dorong, menjatuhkan barang-barang, menciptakan kekacauan baru yang lebih besar.

"Maksudmu apa?!" teriak Lavernus.

"Sudah jelas," jawab Otto, suaranya tetap tenang di tengah kepanikan di sekeliling mereka. "Aku mengambil sandera. Jangan harap bisa menghentikanku sekarang. Kau tahu seberapa cepat aku bergerak, kan?" Ia menekan belatinya sedikit lebih dalam, membuat setetes darah merah segar muncul dan mengalir pelan di leher si tukang daging, yang kini terisak-isak ketakutan, lututnya gemetar.

"Kau bermain api, Topeng Kelinci," ancam Lavernus, matanya menyala dengan kemarahan murni. "Apa maumu?!"

"Sederhana." Otto tak mengalihkan pandangan dari Lavernus. "Minta maaf pada pria tua tadi. Bayar semua kerusakan yang kau sebabkan. Lalu pergi dari sini."

Mendengar tuntutan itu, Lavernus tertawa. Tawanya terbahak-bahak, bergema hampa di jalan yang kini setengah sepi. Ia berjalan mendekat perlahan, langkahnya masih santai, penuh kepercayaan diri. "Apa kau sungguh berharap aku melakukan itu? Meminta maaf pada sampah masyarakat?"

"Kau mau dia mati, ya?" Otto menantang, suaranya kini lebih rendah. Belatinya menekan sedikit lagi.

Sandera berambut cokelat itu panik setengah mati. Air matanya bercucuran membasahi pipi, tubuhnya gemetar hebat. "Tuan Lavernus, tolong! Tolong jangan mendekat! Dia tidak main-main! Aku punya istri, anak yang masih kecil di rumah! Aku mohon!"

Dengan kecepatan yang hampir tak manusiawi, yang membuat Otto terkejut, Lavernus tiba-tiba sudah berada tepat di depan mereka berdua. Bukan berlari, hampir seperti teleportasi. Pedangnya yang masih tersarung—atau mungkin sudah terhunus lagi, terlalu cepat untuk dilihat mata—menyodok ke depan seperti kilat. Bukan ke Otto, tapi tepat ke perut si tukang daging yang tak bersalah.

Suara basah, tertahan, menjijikkan.

Sebelum bilah itu bisa menembus lebih dalam dan mencapai Otto di belakangnya, Otto sudah mendorong dirinya ke belakang dengan kuat, melepaskan sanderanya dengan loncatan mundur yang cepat, meninggalkan pria itu terhuyung.

"T-tuan Lavernus?" kata lelaki berambut cokelat itu, menatap Lavernus dengan mata membelalak. Tangannya yang gemetar meraba perutnya, di mana kain apronnya yang tebal sudah mulai basah oleh warna merah yang mengembang cepat.

Lavernus menarik pedangnya keluar dari tubuh pria itu dengan gerakan kasar dan tanpa emosi. Tubuh si tukang daging tak bersalah itu roboh ke tanah, matanya masih terbuka lebar menatap langit, sebelum akhirnya diam total. Bau besi anyir darah segar langsung menyebar ke udara pagi, tajam dan memualkan, bercampur dengan debu jalanan dan keringat ketakutan.

Beberapa orang yang sempat berhenti lari di kejauhan kini berteriak histeris lagi, suara mereka pecah oleh horor yang baru saja mereka saksikan dengan mata kepala sendiri.

"Kau..." kata Otto, tangannya menggenggam erat gagang belatinya hingga buku-buku jarinya memutih. "Kau... membunuhnya?"

"Lupakan hama seperti dia," ucap Lavernus. Ia mengibaskan darah di pedangnya ke tanah, membuat percikan merah di debu. "Pertarungan kita belum selesai, Topeng Kelinci."

Sreeet!

Sebuah belati melesat dari tangan Otto, bergerak berputar-putar di udara menuju mata Lavernus. Tapi sekali lagi, terlalu mudah bagi prajurit elit itu.

Dengan gerakan pergelangan tangan yang minimal, ia menangkis pisau itu dengan pinggiran pedangnya yang lebar, mengirimnya berputar tak berarah ke arah dinding bata di samping dan menancap di sana dengan getaran keras.

Mereka kembali saling menghadap di tengah jalan yang sepi, hanya berdua. Udara terasa penuh beban.

Lavernus memiliki keunggulan dengan jangkauan panjang mematikan pedangnya yang lebih unggul. Sementara belati-belati Otto yang tersisa sudah tumpul dan geripis dari benturan terus-menerus, memaksanya untuk terus bertahan, menghindar, mencari celah yang tak kunjung datang.

Tiba-tiba, tanpa peringatan, bukan dari salah satu dari mereka—sebuah tenaga berapi merah menyala menyambar dari arah samping, membelah udara dan tanah di antara mereka dengan suara mendesis yang mengerikan.

WHOOSH!

Energi itu meninggalkan bekas hangus membara di tanah aspal, sebuah garis hitam dan dalam yang mengeluarkan asap tipis dan bau belerang.

Keduanya melompat mundur secara refleks, terkejut, menghindari serangan yang tak terduga itu dengan jantung berdebar. Mereka menoleh ke arah yang sama, ke sumber serangan.

Seorang gadis berjalan mendekati mereka dengan langkah tenang. Rambut pirangnya tertata rapi, mata birunya seperti kristal es. Di belakangnya, berhenti sebuah kereta kuda hitam mewah dengan ukiran rumit dan lambang kerajaan Valemira—mahkota dan pedang bersilang.

Dua pengawal pribadi berotot dan bersenjata lengkap dengan seragam biru tua turun dan berdiri di belakangnya, tangan mereka di gagang pedang.

"Stella Valemira..." gumam Lavernus pelan, nadanya langsung berubah drastis. Kesombongannya hilang dalam sekejap, digantikan oleh gugup yang jelas terlihat di wajahnya.

"Lavernus Iclarus," ucap Stella. Suaranya tenang. "Apa pekerjaanmu sekarang? Menciptakan kekacauan di jalanan kota yang seharusnya kau lindungi? Menjadi penonton bagi warga yang haus darah dan tontonan murahan?"

"Ini... ini bukan urusan Yang Mulia," Lavernus cepat membela diri, suaranya sedikit bergetar, jarinya yang gemuk menunjuk ke arah Otto. "Lagipula, si Topeng Kelinci itu yang memulai duluan! Dia yang menyerangku tanpa sebab! Aku hanya membela diri!"

Stella menoleh ke Otto, memperhatikannya dengan saksama. Ia memiringkan kepalanya sedikit ke samping, matanya mengamati topeng kelinci putih porselen yang kini retak parah di satu sisi hingga memperlihatkan sedikit kulit di bawahnya, mantel cokelat yang kotor dan sobek, dan postur tubuhnya yang masih waspada namun terlihat kelelahan. "Siapa dia? Kenapa kau berkelahi dengannya?"

"Aku tak tahu siapa dia, Yang Mulia! Yang jelas, dia—"

"Izinkan aku memperkenalkan diri, Yang Mulia Putri Stella," suara Otto memotong dengan sopan.

Ia berlutut satu kaki di atas tanah berdebu, debu menempel di lututnya yang robek, satu tangan menempel di dada, yang lain lurus di belakang punggung. "Namaku Steve, seorang pengembara. Mohon maaf atas kekacauan yang terjadi."

Melihat Otto menyela dan bersikap begitu hormat, sempurna, tangan Lavernus mengepal erat pada gagang pedang hingga buku-buku jarinya memutih. Urat tipis berdenyut hebat di pelipisnya yang berkeringat.

"Steve," ulang Stella, nadanya masih datar tapi ada sedikit perubahan, sedikit rasa ingin tahu. "Jadi, apa sebenarnya yang terjadi di sini? Ceritakan versimu. Cepat dan jujur."

"Kami berkelahi karena Tuan Lavernus menyiksa seorang pria tua tak bersalah di dalam kedai tanpa alasan yang jelas," jawab Otto. "Hanya karena pria tua itu secara tidak sengaja menumpahkan minuman di jubahnya. Dan ia bahkan membunuh salah satu warga yang tak bersalah di sana." Ia menunjuk dengan gerakan dagu yang halus ke arah tubuh tak bernyawa si tukang daging.

Mata Stella langsung menyipit. Ia menoleh dengan gerakan cepat ke arah Lavernus, pandangannya penuh kecurigaan dan rasa jijik yang nyaris tak disembunyikan.

"T-tunggu, Yang Mulia Putri..." Lavernus mendekat selangkah, tangannya terangkat seperti ingin meraih, tapi lalu ditahannya di udara. "Dia berbohong! Apa Yang Mulia akan percaya pada orang asing misterius ini?"

"Tentu saja tidak," jawab Stella.

Bibir Lavernus mulai melengkung ke atas perlahan, sedikit lega tersembul di wajahnya yang tegang dan berkeringat. "Kalau begitu, percayalah padaku, Yang Mulia. Aku ini prajurit elit Gereja Cahaya, yang telah berjasa dan bertempur demi kota ini berkali-kali. Tolong beri dia hukuman yang setimpal atas fitnah kejinya dan penyerangannya terhadap petugas negara—"

"Apa kau benar-benar idiot, Lavernus?" Stella memotongnya.

Senyum Lavernus pudar seketika, lenyap tanpa jejak, diganti oleh ekspresi syok yang dalam dan terhina yang tak bisa ia sembunyikan. "A-apa, Yang Mulia?"

"Kenapa kau pikir aku tiba-tiba muncul di sini?" Stella melangkah lebih dekat. "Aku menerima surat dari pemilik kedai Kuda Hitam bahwa seorang pemuda sedang dalam bahaya besar. Diancam dan diserang oleh seorang prajurit berseragam Gereja yang mabuk." Ia berhenti sejenak. "Dan melihat situasinya sekarang, kau yang jelas unggul, Lavernus. Kau yang utuh, sementara dia berlumuran debu dan pakaiannya robek. Artinya, pemuda dalam bahaya yang dimaksud surat itu adalah si 'Topeng Kelinci' ini."

"L-lalu kenapa?!" Lavernus menjerit. "Aku memang lebih kuat darinya! Itu bukan alasan untuk mempercayai kebohongannya! Dan dia tetap harus mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya menyerangku!"

"Tapi kenapa," Stella melanjutkan, "kau tidak memberiku alasanmu yang jelas, Lavernus? Kenapa kau langsung membela diri dengan berteriak dan menuduh?"

Lavernus seketika terdiam, seperti patung. Mulutnya terbuka beberapa kali, tapi tak ada suara yang keluar. Wajahnya memerah, lalu pucat pasi. Tangannya gemetar tak terkendali di samping tubuhnya.

"Aku sebenarnya berniat menanyai pemilik kedai dan beberapa saksi lain yang kulihat di dalam," Stella melanjutkan, "tapi melihat tingkahmu sekarang, sepertinya tak perlu lagi repot-repot." Tatapannya beralih ke Otto yang masih berlutut dengan hormat. "Meski pemuda itu misterius, dia langsung memberi penghormatan dan penjelasannya." Stella menghela napas panjang, seolah lelah oleh kebodohan yang tak ada habisnya. "Kau selalu seperti ini, Lavernus. Selalu membuat kekacauan di mana pun kau berada, lalu berharap jabatanmu yang akan menyelamatkanmu dari konsekuensi."

Kesunyian mematikan menyelimuti jalanan yang tadinya ramai. Bahkan angin seolah berhenti berhembus, menahan napas. Semua mata yang tersisa—beberapa warga pemberani, para pengawal Stella—tertuju pada Lavernus.

"Lavernus Iclarus," ucap Stella, suaranya sekarang resmi, bergema di keheningan. "Atas nama Kerajaan Valemira, dan sebagai putri mahkota yang mewakili ayahandaku di distrik ini, kau akan segera ditahan dengan tuduhan penganiayaan, penciptaan kekacauan publik, dan pembunuhan seorang warga tak bersalah."

Lavernus terhuyung mundur selangkah, dua langkah, wajahnya hancur berkeping-keping. Mulutnya bergerak-gerak, ingin bicara, membela diri, tapi tak ada suara yang keluar. Dua pengawal pribadi Stella yang berotot sudah bergerak maju dengan cepat.

Pertunjukan telah berakhir.

1
Panda%Sya🐼
Benci? kerana apa itu, btw tadi aku bacanya Lego pas di baca lagi ternyata Lago 😭
Panda%Sya🐼: Astaga iyakah maaf ya Mungkin kerana huruf I L aku kira Lago /Pray//Facepalm/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!