Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
"Tuan, biar saya saja yang menggendongnya," tawar Gerry hati-hati, tangannya sudah terulur hendak mengambil Luna dari pelukan Xavier. Siapa sangka Xavier justru menatapnya dengan sorot mata setajam bilah pisau.
"Dia milikku. Jangan sentuh!" ucapnya dingin dan tegas.
Gerry langsung membeku di tempat. Rahangnya nyaris jatuh. Bukankah selama ini tuannya itu paling benci kucing? Setiap kali melihat hewan berbulu lewat di depan mansion saja, Xavier akan menyuruh pelayan mengusirnya. Bahkan dulu ia pernah berkata, kalau makhluk berbulu itu menjijikkan.
Lalu sekarang apa?
Kini pria itu justru menggendong seekor kucing kecil berwarna abu-abu pucat dengan hati-hati, seolah membawa benda paling rapuh di dunia. Lebih aneh lagi, kucing itu tidak memberontak. Luna malah menduselkan kepalanya ke dada Xavier, suaranya mendengkur pelan seperti sudah lama mengenal pria itu.
Pemandangan yang terlalu ganjil untuk diterima akal sehat Gerry.
"Kita akan pulang ke mansion ku," ucap Xavier sambil melangkah menuju mobil. "Kau akan tinggal bersamaku. Setidaknya sampai aku menemukan tempat yang cocok untukmu tinggali. Karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah menyukaimu, kucing jelek."
Nada suaranya tetap dingin, bahkan terdengar ketus.
Luna yang mengerti setiap kata itu hanya bisa menunduk murung di dalam pelukannya. Telinganya terkulai pelan. Ia sempat berpikir Xavier bahagia bertemu dengannya lagi. Namun ternyata, pria itu masih mengatakan hal yang sama. Tidak menyukainya.
Sementara itu, Gerry yang duduk di kursi pengemudi hanya bisa melirik lewat kaca spion. Ia memperhatikan bagaimana tangan tuannya secara refleks mengelus punggung Luna dengan lembut, gerakan yang sangat kontras dengan ucapannya barusan.
Tuan benar-benar berubah aneh setelah keluar dari hutan. Bahkan berbicara dengan makhluk berbulu menggemaskan itu. batin Gerry.
Ia bergidik sendiri. Jangan-jangan tuannya memang kesambet penghuni hutan.
Perjalanan terasa lebih lama dari biasanya. Mobil mewah itu akhirnya berhenti di halaman luas mansion tengah hutan. Lampu-lampu taman menyala terang, memantulkan cahaya ke badan mobil hitam yang elegan.
Namun Xavier tidak juga turun. Ia masih duduk diam, menatap Luna yang kini tertidur pulas di pangkuannya. Nafas kecil itu teratur, dadanya naik turun perlahan. Sesekali kumisnya bergerak halus.
"Sejak kapan aku mulai menyukai kucing? Dia binatang berbulu dan memuakkan." Xavier bergumam lirih.
Aneh.
Kalimat itu terdengar seperti upaya meyakinkan diri sendiri.
Tanpa disadarinya, sejak tadi Gerry sudah menoleh ke belakang, memperhatikan tingkah sang tuan dengan tatapan heran.
"Tuan," panggilnya sekali.
Tak ada jawaban.
"Tuan…" panggilnya lagi.
Tetap hening.
"Tuan, sudah satu jam kita sampai. Apa anda tidak berniat turun dan ingin tidur di mobil?" tanya Gerry sengaja mengeraskan suara untuk menyadarkan Xavier.
"Satu jam kau bilang?" Xavier tersentak, wajahnya langsung berubah. Ia menatap arloji di pergelangan tangannya.
Benar. Satu jam. Ia menatap seekor kucing tidur selama satu jam penuh?
"Apa aku sudah tidak waras?" gumamnya pelan.
Luna sedikit menggerakkan tubuhnya akibat suara keras tadi. Matanya hampir terbuka. Refleks, Xavier menepuk pelan kepala kecil itu.
"Shh, tidur saja," bisiknya tanpa sadar.
Gerry membelalak melihat itu.
"Lihat, gara-gara kau dia hampir bangun, Ger!" maki Xavier sambil menatap tajam asistennya.
"Kok jadi saya yang disalahkan? Kan Tuan sendiri yang teriak seperti di hutan," balas Gerry spontan.
"Kau berani menjawabku, hah?" suara Xavier berubah rendah dan berbahaya.
Gerry langsung menegakkan tubuhnya. "Tidak, Tuan. Saya tidak berani."
Keheningan kembali menyelimuti mobil. Hanya suara mesin yang masih menyala pelan.
"Kenapa diam saja, Ger? Turun!" perintah Xavier tiba-tiba.
Gerry memejamkan mata sesaat. Dia yang menyuruhku diam, sekarang marah karena aku diam?
Hubungan mereka memang selalu seperti itu. Selalu ada perdebatan kecil, selalu ada salah paham yang berujung ancaman setengah serius dari Xavier.
Akhirnya Xavier membuka pintu mobil sendiri. Dengan hati-hati ia turun, tetap menggendong Luna yang kini kembali terlelap nyaman di pelukannya.
Begitu kakinya menginjak halaman depan mansion, suara melengking langsung menyambutnya.
"Baby Vier!"
Xavier memutar bola mata dengan malas. Dari pintu utama, seorang wanita dengan gaun mahal berwarna krem berlari kecil menghampirinya. Rambutnya tersanggul rapi, wajahnya dipenuhi riasan sempurna.
Isabella.
Satu-satunya hal yang lebih melelahkan dari urusan bisnis bagi Xavier adalah ibunya sendiri.
"Baby Vier, Mama khawatir padamu!Kau dari mana saja? Lihat wajahmu, lesu sekali!" seru Isabella dramatis.
Xavier menghela napas panjang. "Inilah alasan aku enggan pulang," batinnya.
Wanita itu selalu memperlakukannya seperti anak kecil, padahal ia sudah dewasa dan bisa memimpin perusahaan keluarga.
Langkah Isabella terhenti ketika pandangannya jatuh pada sesuatu di pelukan Xavier.
"Itu, apa yang kamu bawa Baby?" tanyanya.
Xavier menunduk sedikit, lalu mendekap Luna lebih erat tanpa sadar.
"Kucing," jawabnya singkat.
Isabella membelalak. "Hah? Kucing? Bukankah kau benci kucing?!" pekiknya dengan nada tak percaya, putra keduanya yang sejak kecil alergi dengan kucing bisa memeluknya tanpa takut seperti ini.
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂
kan Xander jadi semakin dekat dengan Luna
hati hati Luna sama Xander itu
Masih gak menyangka Vier bisa semanis itu 🤭 Lun kamu bener bener ya berani kiss pipi Sapir , Luna hanya Sapir yang boleh kamu cium yang lain jangan🤭😂
Vier kondisikan perasaanmu 🤣 pelan pelan ajari Luna ya , guru terbaik❤️