NovelToon NovelToon
DARI MAFIA JADI CEO

DARI MAFIA JADI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Persahabatan
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 22

Dermaga Astra Mawar menyambut kembalinya "Mawar Hitam" dengan kesunyian yang terasa berat namun lega. Pintu palka terbuka, mengeluarkan uap panas dari sistem pendingin yang bekerja melampaui batas. Laras melangkah keluar, kakinya terasa berat saat menyentuh lantai logam dermaga. Di sana, Sinta sudah menunggu, bukan dengan protokol militer, melainkan dengan dua botol air mineral dan handuk bersih.

"Kau terlihat seperti baru saja bertarung dengan badai matahari," ucap Sinta lembut, menyerahkan botol itu kepada Laras.

Laras meneguk airnya hingga tandas. "Hampir, Bu. Tapi badainya punya niat buruk."

Dio menyusul di belakang, wajahnya penuh noda hitam oli namun seringainya tak hilang. "Lar, sistem induksi magnetik kita perlu total overhaul. Kapal itu berteriak minta ampun di detik-detik terakhir. Tapi hey, setidaknya kita tahu cara membuat piring terbang musuh jadi rongsokan tanpa perlu menembakkan satu peluru pun."

Aan keluar paling akhir, masih sibuk dengan tablet di tangannya. "Laras, data resonansi yang kau hasilkan tadi... itu tidak masuk akal secara fisika konvensional. Kau tidak hanya mengirim sinyal, kau menciptakan harmoni yang memaksa materi di sekitar orbit untuk sinkron. Kita harus mempelajari ini sebelum 'tamu' berikutnya datang."

Laras mengangguk, namun perhatiannya teralih pada layar besar di aula utama dermaga. Layar itu menampilkan siaran langsung dari berbagai penjuru Bumi. Di Jakarta, Pandu terlihat sedang membantu warga memasang instalasi air bersih yang kini ditenagai oleh modul Arca. Di Paris, reruntuhan Menara Eiffel kini berpendar biru, menjadi antena pemancar bagi pemukiman di sekitarnya.

"Mereka belajar dengan cepat," bisik Laras.

"Karena mereka tidak punya pilihan lain," sela Sang Arsitek yang tiba-tiba muncul di samping mereka. Wujudnya kini stabil, memancarkan cahaya keemasan yang tenang. "Kalian telah memenangkan satu pertempuran, namun kalian telah memulai sesuatu yang jauh lebih berbahaya: harapan. Di alam semesta ini, harapan adalah suar yang sangat terang. Dan suar yang terang selalu mengundang predator."

Laras menoleh ke arah entitas itu. "Kalau begitu, kami akan membangun tembok yang lebih tinggi. Bukan tembok beton, tapi tembok frekuensi."

"Atau," Dio menimpuk pundak Aan dengan kunci pasnya yang sudah dibersihkan, "kita buat seluruh galaksi ini jadi bengkel raksasa. Kalau mereka mau energi kita, mereka harus belajar cara memperbaiki barang, bukan cuma menghisapnya."

Sinta tersenyum, menatap ketiga orang itu—generasi yang lahir dari sisa-sisa kehancuran namun kini memegang kunci masa depan. "Istirahatlah. Besok, tantangannya akan berbeda. Pandu mengirim pesan, ada beberapa titik di dasar laut yang mulai bereaksi terhadap sinyal Arca. Sepertinya Bumi punya rahasianya sendiri yang terkubur selama ini."

Laras berjalan menuju jendela besar, menatap ke arah Bumi yang kini tidak lagi gelap gulita. Titik-titik cahaya biru itu membentuk pola yang indah, mirip dengan rasi bintang yang turun ke permukaan. Ia meraba piston tua milik ayahnya yang ia kalungkan di leher.

"Kita belum selesai, Yah," gumamnya pelan. "Baru saja dimulai."

Di kejauhan, jauh melampaui sabuk asteroid, sebuah kapal pengintai tunggal milik faksi yang berbeda tetap diam, mencatat frekuensi putih yang tadi dipancarkan Laras. Mereka tidak menyerang. Mereka hanya menunggu, memperhatikan bagaimana "benih" yang ditanam di planet kecil itu mulai tumbuh menjadi sesuatu yang mungkin akan mengubah peta kekuatan galaksi selamanya.

Pesan dari Pandu sampai ke Astra Mawar melalui enkripsi frekuensi rendah agar tidak tertangkap oleh sisa-sisa radar The Void-Step. Di layar utama, koordinat yang dikirimkan Pandu menunjukkan titik di Palung Jawa, sebuah jurang samudra yang selama ini dianggap mati karena tekanan ekstrem dan kegelapan abadi.

"Laras, ini aneh," suara Pandu terdengar melalui gangguan statis air. "Begitu kami mengaktifkan pemancar di Jakarta, sensor gravitasi bawah laut kita menangkap resonansi balik. Bukan sinyal acak, tapi pola geometris. Sesuatu di bawah sana sedang... menjawab."

Laras mendekati layar, memperhatikan grafik sonar yang dikirimkan. Pola itu membentuk struktur melingkar yang sangat besar, terkubur di bawah sedimen laut selama ribuan tahun. "Paman Aan, cek Pustaka Ceres. Apakah ada catatan tentang deposit Arca alami di bawah kerak samudra?"

Aan mengerutkan kening, jemarinya bergerak cepat memilah data arsip. "Tidak ada secara spesifik, tapi Ayahmu pernah menulis sebuah catatan pinggir tentang 'Jantung yang Tertidur'. Dia berteori bahwa Arca bukan hanya teknologi luar angkasa yang dibawa ke Bumi, tapi ada sebagian yang memang sudah menjadi bagian dari inti planet ini sejak awal pembentukannya."

"Jadi maksudmu, Bumi bukan sekadar baterai?" Dio menyela, sambil menenggak kopi dingin di sudut ruangan. "Bumi itu sendiri adalah... modul Arca?"

Sang Arsitek dari Andromeda melayang mendekat, cahayanya berkedip redup seolah sedang berpikir. "Di galaksi asalku, ada planet-planet yang disebut 'Planet Benih'. Mereka bukan dunia mati yang menunggu untuk dihuni, melainkan entitas hidup yang menyimpan kode genetik alam semesta di dalam inti mereka. Jika apa yang ditemukan mekanikmu itu benar, maka Bumi jauh lebih berharga daripada yang kita duga. Itu menjelaskan mengapa Konsorsium dan The Void-Step begitu terobsesi."

Laras menatap koordinat itu dengan tajam. "Jika itu adalah 'Jantung', maka aktivasi yang dilakukan Pandu di permukaan bisa saja memicu proses bangunnya sistem itu secara tidak sengaja. Kita harus memastikannya sebelum pihak lain merasakannya."

"Kita butuh kapal selam," kata Dio, sudah mulai membayangkan skema desain di kepalanya. "Dan bukan sembarang kapal selam. Tekanan di Palung Jawa itu bisa meremas baja seperti kaleng kerupuk. Aku perlu memodifikasi beberapa kapsul penyelamat Astra Mawar dengan pelapis Arca agar bisa menahan tekanan."

"Lakukan, Dio. Paman Aan, tetap pantau orbit. Jika ada pergerakan sekecil apa pun dari Mars atau sabuk asteroid, beri tahu aku," perintah Laras.

Sinta menyentuh bahu Laras, matanya menunjukkan kekhawatiran yang terpendam. "Laras, kau baru saja kembali dari pertempuran ruang angkasa. Tubuhmu butuh istirahat. Biarkan Pandu yang melakukan pengintaian awal."

"Tidak, Bu," jawab Laras pelan namun tegas. "Resonansi tadi... aku masih merasakannya. Ada sesuatu yang memanggil dari bawah sana. Bukan suara, tapi perasaan seperti detak jantung yang tidak sinkron. Aku harus turun ke bawah."

Beberapa jam kemudian, di dermaga bawah Astra Mawar, sebuah kapsul berbentuk bola dengan lapisan tembaga dan kristal Arca sudah siap. Dio memberinya nama "Si Penyelam Mawar". Kapsul itu tidak memiliki baling-baling; ia bergerak dengan memanipulasi kepadatan air di sekitarnya menggunakan frekuensi.

Laras masuk ke dalam kokpit sempit itu sendirian. Saat kapsul itu dilepaskan dan meluncur menembus atmosfer menuju koordinat samudra, ia melihat bayangannya di kaca. Di bawah sana, di kedalaman ribuan meter, ia tidak akan berhadapan dengan kapal perang atau perompak ruang angkasa. Ia akan berhadapan dengan rahasia terdalam dari rumahnya sendiri.

Begitu kapsul menyentuh permukaan air dan mulai tenggelam, cahaya matahari perlahan menghilang, digantikan oleh kegelapan biru tua, lalu hitam pekat. Namun, saat sensor Arca dinyalakan, kegelapan itu berubah. Ribuan plankton dan makhluk laut dalam mulai berpendar, mengikuti irama kapsul Laras seolah-olah mereka sedang menuntunnya menuju gerbang yang telah lama terkunci.

"Aku sudah melewati batas lima ribu meter, Dio," lapor Laras. Suaranya bergema di ruang sempit itu.

"Hati-hati, Lar. Tekanan di luar sana sudah cukup untuk menghancurkan gunung," jawab Dio melalui radio.

Tiba-tiba, lampu sorot kapsul menangkap sesuatu. Bukan batu, bukan sedimen. Sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari material yang sama dengan kapal Sang Arsitek, namun tertutup oleh karang dan sejarah. Di tengah gerbang itu, terdapat sebuah lubang kunci yang bentuknya sangat familiar: persis dengan bentuk piston tua milik Aryo yang tergantung di leher Laras.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!