Reina Wulandari,seorang gadis yang terpaksa harus menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sang nenek. Dia anak yang pintar namun sayang kepintarannya tidak dia manfaatkan dengan baik dan justru harus terjerumus ke dalam hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Bagaimana kisahnya mari ikuti ceritanya.
( Hanya cerita fiktif belaka jadi tolong jangan hina karyaku ya 🙏 tolong komentar dengan bijak dan ambil hal yang baik saja ).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KheyraPutri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memperhatikan
" Express ya mbk kok udah nyampek aja" ucap Shasa membuka pagar.
" Iya di suruh nenek jangan lama-lama...ya udah gue balik dulu ya" Pamit Reina yang naik lagi ke atas motornya setelah memberikan buku ke Shasa.
" Nggak mau mampir dulu ni ?" Tanya Shasa.
" Nggak gue terus balik ya...bye" Reina melambaikan tangannya dan meninggalkan rumah Shasa.
" Bye" Teriak Shasa.
Tidak sampai 10 menit Reina sudah sampai lagi di rumah.
" Assalamualaikum" Ucap Reina sambil masuk ke dalam rumah.
" Waalaikum salam...langsung mandi nduk." Suruh nenek Sri menyuruh Reina.
" Iya nek, " Ucap Reina berlalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sekitar 30 menit Reina pun sudah selesai dengan ritual mandinya. Ia menuju ke kamar untuk mencari ganti baju. Setelah memakai baju Reina menuju ke meja makan.
Di sana nenek Sri sedang menyiapkan makan malam.
" Biar Reina aja nek,nenek duduk aja" Suruh Reina sambil mengambil alih menata makanan di meja.
Selesai menata makanan Reina mengambilkan nasi dan lauk ke piring nenek Sri." Pakai sayur nek ?" Tanya Reina.
" Nggak usah nduk nenek ini aja...kamu aja yang banyak makan sayur biar sehat lusa kan kamu ulangan kenaikan kelas." Ucap nenek Sri sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
" Iya nek,doain ya moga lancar biar aku bisa naik kelas." Ucap Reina di sela-sela kunyahannya.
" iya...makan dulu ya nanti aja ngobrolnya." Ucap nenek Sri.
Mereka makan dengan hening. Setelah selesai Reina langsung membereskan meja makan dan mencuci piring kotor. Reina kembali ke meja makan sambil membawa camilan yang kemarin di kasih Bramasta.
" Emang belum kenyang nduk kok bawa camilan ?" Tanya nenek Sri heran.
" hehe...lagi pengen nyemil aja nek,besok nenek jadi jualan ?" Tanya Reina balik.
" jadi nduk,kenapa ?" Tanya nenek Sri yang melihat Reina sepertinya ingin mengatakan sesuatu.
" Mmmm tadi kak Bramasta kirim pesan ngundang kita buat makan malam kerumahnya nek." Jawab Reina ragu-ragu.
" Ada acara apa nduk kok mendadak ?" Tanya nenek Sri lagi.
" Katanya sih mamanya kak Bramasta nek yang minta sebagai ucapan terimakasih aja karena belum sempat ketemu aku langsung tadi karena aku pergi sebelum dia sadar." Jawab Reina.
" Oh, kalau itu terserah kamu nduk kalau kamu datang nenek juga datang." Jawab nenek Sri. " Terus gimana keadaan mamanya nak Bram ?" Tanya nenek Sri penasaran.
" Aku juga belum tau nek,katanya sih sudah jauh lebih baik makanya dia ngundang makan malam." Jawab Reina.
" Kalau gitu kita datang aja nduk,besok kamu cari buah ya sekalian kita jenguk." Ucap nenek Sri yang menyetujui untuk datang ke rumah Bramasta.
" Iya nek,katanya sih mau di jemput kak Bram nek kita nggak perlu naik motor atau naik taksi." Ucap Reina memberi tau.
" Ya udah kalau gitu nenek ke kamar dulu ya mau istirahat capek" Ucap nenek Sri menepuk pundak Reina dan berlalu pergi.
Reina meneruskan memakan camilannya, sepertinya dia enggan untuk ke kamar karena mager. Dia menghabiskan 1 bungkus camilan keripik kentang dan minum air putih, setelah itu dia pun menuju ke kamarnya.
Sampai di kamar Reina mengecek kembali ponselnya. Ada panggilan tidak terjawab dari kak Bramasta. Reina pun menghubungi kembali namun belum juga di angkat. Setelah panggilan ke 2 Bramasta baru menerimanya.
' ha-halo assalamualaikum kak. Ada apa ya tadi telfon ?' Tanya Reina terbata karena gugup.
' oh nggak kok tadi mau bilang besok jam 7 aku jemput ke rumah' Ucap Bramasta.
' iya kak,tadi aku juga habis bilang nenek katanya mau kok ' jawab Reina memberi tau.
' bagus dong kalau gitu rame ' Bramasta sangat senang mendengar jika nenek Reina juga setuju dan ikut pergi. Dia tersenyum mendengar suara Reina yang begitu lembut.
' mmm kak Bram masih di kantor ? ' Tanya Reina bingung mau ngomong apa dan ingin mengakhiri panggilan pun dia bingung.
' Iya ni masih ada kerjaan ' jawab Bramasta.
' Jangan capek-capek kak,jangan lupa makan ' Ucap Reina yang tidak sadar sudah menasehati Bramasta.
' Iya Rei,bentar lagi aku pulang kok. Makasih ya udah ngingetin.' Ucap Bramasta yang setia dengan senyumannya di sana. Jika saja ada Hendy mungkin dia akan di ledek.
Namun ternyata Hendy masih berada di depan Bramasta dia menatap heran karena Bramasta tersenyum-senyum sendiri namun dia tidak berani bertanya. Bramasta yang tau di perhatikan Hendy pun langsung memutuskan panggilan teleponnya.
' Sudah dulu ya Rei aku mau lanjutin kerjaanku' Ucap Bramasta lembut.
' Iya kak, assalamualaikum.' Ucap Reina.
' wa alaikum salam.' Bramasta buru-buru menutup panggilan teleponnya dan menatap Hendy tajam.
" Ngapain kamu liatin saya ?" Tanya Bramasta menatap Hendy sinis.
" Ah tidak tuan saya hanya heran saja tuan bisa tersenyum hanya karena dapat panggilan teleponnya seperti anak muda yang sedang jatuh cinta saja." Jawab Hendy yang langsung menepuk mulutnya berulang kali karena sudah keceplosan ngomong.
" Ma-maaf tuan mulut saya sangat lancang." Ucap Hendy gugup takut kena amukan tuannya.
" Hmmm mungkin kamu benar, sepertinya saya sedang jatuh cinta." Lirih Bramasta yang tertawa sambil berfikir.
Hendy pun bingung dengan tingkah bosnya yang sangat aneh,namun dia memilih diam dari pada keceplosan lagi dan ngomong kalau bosnya sepertinya gila. Bisa-bisa di pecat tanpa pesangon,atau lebih parahnya di taruh di planet mars lagi. Hendy bergidik membayangkan.
" Hen kita pulang saja yuk istirahat,di lanjut besok lagi saja." Tiba-tiba Bramasta beranjak dari duduknya dan langsung membereskan berkas-berkasnya.
" Baik tuan." Hendy hanya menurut perintah bosnya, jarang-jarang dia pulang sore karena selalu lembur. Tersenyum girang dan membereskan dengan hati gembira.
" Aku duluan ya hen." Ucap Bramasta yang berlalu dari dalam ruangannya membawa tas kerjanya.
" Iya tuan, hati-hati." Hendy berdiri lalu menundukkan kepalanya.
Setelah kepergian Bramasta Hendy pun keluar dari ruangan Bramasta dengan membawa berkas-berkas yang harus dia selesaikan untuk pertemuan besok dengan client.
" Kalau tiap hari kayak gini,mungkin saya tidak cepat tua gara-gara mikir kerjaan terus." Gumam Hendy sambil memasukan berkas itu ke dalam tasnya saat sudah sampai di ruangannya.
Lalu Hendy pun keluar dari ruangannya juga untuk pulang.
***
Di kamarnya Reina juga malu karena sadar kalau tadi dia sudah menasehati Bramasta secara tidak langsung.
" Bodoh-bodoh,ngapain pakek nasehatin segala sih,mau dia lembur atau nggak itu kan urusan dia." Reina pun berguling menutup kepalanya dengan guling karena malu mengingatnya.
" Besok kalau ketemu gimana ya,malu banget tau." Gerutu Reina yang masih menutup kepalanya dengan guling. " Terus jantung ini kenapa juga ya berdebar-debar cuma ngebayangin besok makan malam." Ucap Reina yang berbalik terlentang dan memegang dadanya yang tidak karuan rasanya.
" Waaahhh ada yang salah ni sama diriku." Gumam Reina lalu terduduk dan keluar untuk mencari air minum agar jantungnya agak mereda.
Nenek Sri yang kebetulan dari tadi sudah duduk di meja makan sambil minum teh memperhatikan Reina yang keluar dari kamar sambil memegang dadanya dan sampai tidak mengetahui neneknya.
" Kamu kenapa nduk ?" Tanya nenek Reina yang membuat dia terkejut dan tersedak air yang dia minum.
Byurrrr
Uhukkkk
Uhukkkk
--->>>