Empat tahun lalu, Flaire Nathasha menghilang setelah melahirkan secara rahasia, meninggalkan Jaydane Shelby dengan luka pengkhianatan dan seorang putra balita bernama Jorden. Jaydane, sang penguasa bisnis sekaligus mafia, membesarkan Jorden dengan kebencian mendalam, mengira Flaire membuang anak mereka demi kebebasan dan karier.
Kini, Flaire kembali ke Jerman sebagai CEO Fernandez yang memukau dengan julukan "Queen of Lens". Kecantikannya yang tak tertandingi membuat Aurora, tunangan Jaydane, merasa terancam dan mulai menggali identitas ibu kandung Jorden yang misterius.
Jaydane yang dibutakan dendam mulai menghancurkan bisnis Flaire untuk memaksanya berlutut. Namun, di balik lensa kontak yang selalu menutupi warna mata aslinya, Flaire menyimpan luka trauma masa lalu difakta bahwa ia adalah korban pengasingan paksa keluarganya dan sama sekali tidak tahu bahwa bayinya masih hidup di tangan pria yang kini mencoba menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon caxhaaesthetic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GALERI OBSESI SANG MAFIA
Ia menyadari sesuatu. Selama empat tahun ia merasa kesepian dan dibuang, ternyata Jaydane tidak pernah benar-benar melepaskannya. Jaydane selalu ada di sana, di balik bayang-bayang, mengawasinya, melindunginya, dan merindukannya dengan cara yang sangat gelap namun mendalam.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kecil dengan satu buku harian kulit hitam. Flaire membukanya dan membaca tulisan tangan Jaydane yang tajam:
..."Hari ke-730. Dia terlihat semakin kurus di Paris. Aku ingin membawanya pulang, mencekiknya dengan cintaku, dan menuntut penjelasan mengapa dia membuang Jorden. Tapi melihatnya menangis setiap kali melihat pakaian bayi di etalase toko... membuatku ragu. Apakah dia benar-benar pelakunya, atau dia adalah korban yang sama hancurnya denganku?"...
"Kau seharusnya tidak melihat ini sekarang," suara berat Jaydane terdengar dari pintu rahasia.
Flaire berbalik dengan air mata yang menggenang di mata hijau zamrudnya. Jaydane berdiri di sana, memegang gelas, matanya menatap galeri itu dengan ekspresi yang sulit diartikan campuran antara malu dan posesif yang ekstrem.
"Kau menguntitku selama empat tahun, Jay?" tanya Flaire serak.
Jaydane meletakkan gelasnya dan mendekat, mengunci Flaire di antara tubuhnya dan dinding yang penuh foto. "Aku tidak bisa membiarkanmu pergi, Flaire. Meski aku mengira kau membunuh anak kita, aku tetap mengirimkan tim terbaik untuk memastikan tidak ada satu pun pria yang menyentuhmu di Eropa. Jika ada yang berani mendekatimu lebih dari satu meter, mereka menghilang keesokan harinya."
Flaire tertegun. Jadi itu sebabnya selama di Paris, setiap pria yang mencoba mendekatinya selalu tiba-tiba pindah kota atau mengalami kecelakaan kecil.
"Kau gila, Jaydane Shelby," ucap Flaire sambil memeluk leher suaminya erat.
"Aku gila karenamu," sahut Jaydane, suaranya parau. Ia mengangkat dagu Flaire agar menatapnya. "Galeri ini adalah bukti bahwa kau tidak pernah sedetik pun meninggalkan pikiranku. Dan sekarang setelah kau kembali di pelukanku, aku tidak akan pernah membiarkanmu menjadi sekadar foto lagi."
Jaydane kembali mencium Flaire, kali ini dengan kelembutan yang memuja, di tengah galeri yang menjadi saksi bisu cinta mereka yang berdarah-darah namun abadi.
Ciuman Jaydane yang semula lembut dan memuja di tengah galeri foto itu mulai berubah intensitasnya. Rasa haru Flaire setelah melihat bukti obsesi Jaydane selama empat tahun justru membangkitkan gairah yang lebih liar. Ia menyadari bahwa pria ini telah menjaganya dalam kegelapan, dan kini, ia ingin menyerahkan seluruh cahayanya untuk pria ini.
Tangan Jaydane yang besar kembali bekerja, meraba pinggul Flaire di balik kemeja putih yang tipis. Ia mengangkat tubuh Flaire, mendudukkannya di atas meja jati yang berada di tengah ruangan, tepat di samping buku harian yang terbuka.
"Jay... di sini?" desah Flaire, napasnya memburu saat jemari Jaydane mulai menelusup ke balik kain, membelai paha dalamnya yang masih sensitif akibat sesi sebelumnya di balkon.
"Di sini. Di hadapan semua bayanganmu yang ku kumpulkan selama empat tahun," bisik Jaydane serak. "Aku ingin kau merasakan bahwa pria yang ada di foto-foto ini sekarang benar-benar memilikimu."
Jaydane tidak membuang waktu. Ia membuka kancing celananya dengan cepat, membebaskan "piton jumbo" yang kembali menegang sempurna seolah tidak mengenal kata lelah. Urat-urat di permukaannya berdenyut, memancarkan aura dominasi yang membuat Flaire merinding sekaligus damba.
Flaire membuka kancing kemeja yang ia kenakan, membiarkan kain itu merosot jatuh ke bahunya, memamerkan keindahan tubuhnya yang diterangi lampu galeri yang remang. Jaydane menelan ludah, matanya yang kelabu menggelap saat melihat pupil Crush Green Flaire yang melebar karena nafsu.