Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.
Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.
Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.
Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.
Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Gulungan dari Kegelapan
Desa Sinan tidur nyenyak malam itu.
Huang Shen berdiri di luar jendela rumah kepala desa, mendengarkan tawa yang mengalir dari dalam. Suara cawan beradu, suara wanita memarahi anak yang tidak mau tidur, suara lelaki paruh baya yang bicara terlalu keras karena sudah terlalu banyak minum.
Oleh karena itu dia tidak menunggu terlalu lama.
Pintu depan terbuka dalam satu tendangan. Kepala desa pun mendongak dari mejanya, wajahnya berubah dari heran ke panik dalam waktu yang lebih singkat dari yang diperlukan untuk berteriak. Sedangkan istrinya yang sedang menyulam di sudut ruangan langsung bangkit. Seorang anak perempuan berusia enam tahun bersembunyi di balik kaki ibunya.
Sudah jelas, Huang Shen tidak menatap mereka.
Matanya pada kepala desa. Lelaki itu mencoba bicara, mencoba mundur, mencoba meraih sesuatu di bawah meja. Akan tetapi Tinju Darah Penghancur Batu menghantam dadanya sebelum tangan itu sampai. Bunyi patahnya tulang memenuhi ruangan sampai sang Kepala desa ambruk ke belakang, meremukkan lemari beserta seluruh isinya.
Istri dan anak itu tidak berteriak. Mereka hanya membisu sambil berpelukan di sudut, mengawasi dengan mata yang sudah kehilangan kemampuan untuk memproses apa yang baru saja terjadi di depan mereka.
Darah kepala desa mengalir ke Gerbang perlahan, bersih, mengisi Inti Emas yang sudah mulai terasa penuh belakangan ini sebelum Huang Shen berbalik dan melangkah keluar.
Tidak ada yang menghalangi.
Dalam tiga tahun terakhir, ada nama-nama yang sudah tidak ada lagi di dunia ini lantaran Huang Shen melewati malam terakhir mereka. Pedagang pil palsu. Pemungut pajak yang mengambil lebih dari yang tertulis. Kultivator yang membunuh petani hanya karena sawah mereka berada di jalur perjalanan mereka. Preman-preman yang mengira kota adalah milik mereka karena tidak ada yang cukup kuat untuk berkata tidak. Orang-orang yang dulu menyengsarakan hidupnya.
Puluhan nama. Huang Shen tidak menghafal semuanya. Yang dia hafal hanya satu daftar, dan daftar itu tidak pernah berkurang karena tidak pernah dia sentuh.
Sekte Iblis Hitam.
Masih terlalu jauh. Masih terlalu kuat, bahkan untuk Inti Emas tingkat delapan yang bisa menewaskan Jiwa Baru dalam satu malam. Tapi itu hanya soal waktu. Dendam tidak pernah padam hanya karena dibiarkan menunggu.
Malam ini rumah kayu itu, atau kediamannya masih menyala manakala Huang Shen tiba jauh sebelum fajar.
Mu Qingxue duduk di meja dapur dengan cangkir teh di antara kedua tangannya. Dia tidak tidur. Sudah lama dia tidak bisa tidur ketika Huang Shen pergi bekerja, karena sesuatu yang tidak bisa dia beri nama, seperti tubuhnya sudah belajar untuk tetap terjaga saat bagian yang dibutuhkan rumah ini tidak ada.
Huang Shen meletakkan kantong di atas meja. Suara kepingan emas yang berdencing dan Mu Qingxue meraihnya tanpa bertanya. Tiga tahun lalu dia menolaknya, menganggap ini bukan haknya. Sekarang tangannya bergerak sendiri.
"Ini untuk kepentinganmu," tukas Mu Qingxue datar, jari-jarinya mengencangkan tali kantong itu. "Untuk kekuatanmu. Aku hanya menyimpannya."
Huang Shen tidak menjawab dan memilih untuk menuangkan air dari teko ke cangkir kosong, lalu meminumnya sambil berdiri.
Adapun rutinitas ini sudah sangat mereka hafal sehingga tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.
Kamar tidur itu setengah terang oleh cahaya bulan yang menyusup dari celah jendela tatkala Huang Shen duduk di tepi ranjang dan tubuhnya mendadak tidak mau diajak bekerja sama.
Inti Emasnya yang seharusnya berputar teratur tiba-tiba seperti roda yang satu as-nya bengkok. Sedangkan Qi di dalam tubuhnya mendorong ke segala arah sekaligus, membentur dinding pembuluh, mencari jalan keluar yang tidak ada.
Dia lantas mengerang pelan, tangannya mencengkeram tepi ranjang sebelum Mu Qingxue muncul di ambang pintu. Dia melihat posisi itu, melihat urat-urat di leher Huang Shen yang tegang, dan tidak panik. Wajahnya tidak berubah.
"Lagi?" tanyanya.
Huang Shen tidak menjawab.
Efek samping Gerbang memang selalu datang setelah menyerap terlalu banyak dalam waktu singkat. Inti Emas di perutnya bergerak tidak stabil seperti benda yang salah tempat. Qi berputar kacau, kadang terlalu panas, kadang dingin menjalar ke tulang.
Mu Qingxue melangkah masuk dan menutup pintu kamar di belakangnya, lalu berdiri di depan Huang Shen. Tangannya membuka tali pakaian atasnya. Gerakannya tenang, tanpa keraguan. Dia menarik tengkuk Huang Shen, merapatkan wajah pemuda itu ke dadanya.
“Kau harus segera pulih,” bisiknya, bibirnya hampir menyentuh telinga Huang Shen. “Inti Emasmu tidak stabil. Biarkan aku yang memperbaikinya.”
Huang Shen tidak menjawab dengan ucapan. Tangannya lebih dulu mencengkeram pinggang Mu Qingxue, membalikkan tubuh rampingnya ke tempat tidur. Tidak ada kelembutan apalagi cinta. Yang ada hanyalah kebutuhan yang sudah tiga tahun menjadi rutinitas.
Dia menggagahi wanita itu seperti binatang buas yang tidak kenal lelah. Gerakannya kasar, napasnya berat, dan Mu Qingxue menerima semuanya tanpa protes, justru menikmatinya. Ini adalah bagian dari kesepakatan yang tidak pernah diucapkan. Dia memberi tempat tinggal, makanan, dan tubuhnya. Sementara Huang Shen memberi jaminan perlindungan dan kekuatan yang terus bertambah.
Mereka bertarung di atas ranjang sampai tepat tengah malam. Ketika semuanya selesai, Qi Huang Shen mulai kembali stabil dan Inti Emas di perutnya berputar normal lagi. Mereka pun tertidur dalam kelelahan yang sama.
Sebelum suara benturan terdengar singkat dari jendela.
Keras, lalu diam, lalu keras lagi.
Huang Shen membuka matanya. Satu detik orientasi, lalu dia sudah duduk tegak. Di luar jendela kayu, sesuatu menabrak permukaan papan berulang kali, seperti ada yang sedang mencoba masuk dengan cara yang tidak efisien.
Oleh karena itu dia beranjak dari ranjang, tidak membangunkan Mu Qingxue, dan membuka jendela.
Seekor gagak jatuh ke bawah dan mati.
Dia melangkah ke luar pintu depan dan berdiri di halaman di mana ribuan gagak tengah mengitari rumah dalam lingkaran yang tidak beraturan, menabrak satu sama lain, menabrak dahan pohon, menabrak dinding rumah. Bulu mereka berhamburan. Paruh membentur kayu berulang kali. Di langit yang masih gelap, gerombolan itu memenuhi pandangan ke segala arah, hitam di atas hitam.
Huang Shen menatap semua itu tanpa ekspresi khusus.
Dia mengangkat satu tangan. Qi merah mengalir dari telapaknya, menyebar ke udara seperti jaring tak kasat mata yang melebar ke semua penjuru. Menyentuh setiap burung yang ada dalam jangkauannya hingga semua gagak jatuh ke tanah sekaligus.
Ribuan burung mati memenuhi halaman dan atap rumah kayu itu. Sayap-sayap terlipat di posisi yang tidak wajar. Keheningan pun kembali, kali ini terasa lebih berat dari sebelumnya.
Huang Shen berjalan di antara mayat-mayat itu, menatap satu per satu kakinya. Kendati sebagian besar hanya burung biasa, matanya menangkap sesuatu di kaki seekor gagak yang jatuh paling dekat dengan langkah pertamanya.
Gulungan kertas kecil yang diikat benang merah.
Dia mengambilnya, membuka ikatannya, dan membuka gulungan itu di bawah cahaya bulan yang sepucat nanah.
Tulisannya terlalu rapi untuk surat yang dikirim lewat kaki burung. Kalimat-kalimatnya singkat, tidak membuang kata, seperti ditulis oleh orang yang terbiasa bicara kepada orang yang tidak punya pilihan untuk menolak.
Di sudut bawah gulungan itu, sebuah lambang tertera.
Naga hitam memakan ekornya sendiri.
Jelas sekali itu berasal dari Sekte Iblis Hitam.
Huang Shen tidak bergerak selama beberapa saat. Angin lewat, mengangkat beberapa helai bulu gagak yang berserakan di sekitarnya. Di dalam dadanya, Gerbang menyala dengan cara yang berbeda dari biasanya karena sesuatu yang sudah tujuh tahun dia simpan baru saja mengetuk dari luar.
Matanya merah. Lebih pekat dari malam mana pun dalam tiga tahun terakhir.