NovelToon NovelToon
Married By Accident

Married By Accident

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lisdaa Rustandy

"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terganggu

Di sisi lain kota, suasana kontras menyelimuti sebuah taman yang riuh oleh gemerlap lampu hias dan gelak tawa muda-mudi. Malam Minggu menjadikan tempat itu pusat romansa, di mana hembusan angin malam yang dingin seolah tak terasa bagi mereka yang tengah dimabuk asmara.

Kaisar berjalan santai di antara deretan bangku taman, tangannya menggenggam erat jemari Nana. Mereka berjalan perlahan, menikmati suasana malam yang hidup. Nana tampak begitu bahagia; ia menyandarkan kepalanya di bahu Kaisar dengan manja, sesekali menghirup aroma parfum maskulin yang menguar dari jaket kulit pemuda itu.

"Kai, makasih ya udah sempetin jalan malam ini. Aku kira kamu bakal sibuk banget di rumah," ucap Nana lembut, sambil mendongak menatap wajah Kaisar dari samping.

Kaisar tersenyum tipis, meski pikirannya sesekali melayang kembali ke rumah, membayangkan sosok Raline yang tadi ia tinggalkan sendirian di dapur. Namun, ia segera menepis bayangan itu dan mempererat genggamannya pada tangan Nana.

Kaisar ingin malam ini berjalan dengan baik. Kencan dengan Nana menjadi sebuah hal yang jarang ia lakukan lagi sejak menikahi Raline. Ia ingin, sekali saja malam bahagianya tak terganggu oleh apapun, termasuk Raline.

"Kan aku udah janji, Na. Mana mungkin aku batalin," jawab Kaisar berusaha terdengar meyakinkan.

"Habisnya tadi di sekolah kamu kelihatan agak beda. Tapi sekarang aku senang banget kita bisa berdua gini," Nana mengeratkan pelukannya pada lengan Kaisar, seolah tidak ingin ada jarak di antara mereka.

"Maaf ya," ucap Kaisar. "Akhir-akhir ini aku emang kurang fokus. Gak tau kenapa."

"Gapapa sih. Tapi aku agak aneh aja, soalnya kan dari awal kamu orangnya asik banget, jarang ngelamun kayak gitu. Aku jadi kepikiran sendiri kalo liat kamu begitu, khawatir juga."

"Aku gapapa kok, Sayang," jawab Kaisar meyakinkan. "Jadi, gak usah khawatir sama aku."

Nana tersenyum dan mengangguk. Percaya akan apa yang Kaisar katakan.

Di sekitar mereka, pasangan-pasangan lain sibuk dengan dunia masing-masing; ada yang duduk di bawah pohon besar yang dihiasi lampu tumblr, ada pula yang sibuk berfoto bersama. Bahkan ada yang tengah bermesraan tanpa malu-malu, merasa dunia milik berdua.

Kaisar terus melangkah, menuntun Nana menyusuri jalan setapak taman, mencoba fokus pada gadis di sampingnya dan mengabaikan perasaan mengganjal yang terus mengetuk nuraninya.

Terkadang ia merasa jahat karena berkencan dengan perempuan lain sementara dirinya telah beristri. Tapi perasaan itu selalu ia abaikan karena menurutnya tak salah jika dirinya tetap berhubungan dengan Nana.

Sebab, pernikahannya dengan Raline bukan sebuah pernikahan yang mereka inginkan bersama. Perpisahan antara mereka akan terjadi nantinya. Dan Kaisar juga berpikir untuk tak melarang Raline jika dikemudian hari gadis itu menyukai pria lain.

"Sayang, kita duduk di sana yuk!" ajak Nana sembari menarik lengan Kaisar menuju sebuah kursi taman yang menghadap langsung ke sebuah air mancur menari yang dihiasi lampu warna-warni. Gemericik airnya berpadu dengan alunan musik akustik dari kejauhan, menciptakan suasana yang kian romantis.

Mereka pun duduk berdampingan. Nana tidak membuang waktu untuk kembali merapatkan tubuhnya, melingkarkan lengannya di lengan Kaisar dan menyandarkan kepalanya dengan nyaman.

"Cantik banget ya, Kai? Aku udah lama pengen ke sini lagi sama kamu, tapi kita jadi susah kencan di sini sekarang," gumam Nana sambil menatap pantulan cahaya di permukaan air.

Kaisar mengangguk pelan, jemarinya mengusap lembut punggung tangan Nana. Ia tak menjawab, tapi tahu betul apa yang Nana rasakan karena waktu untuknya jadi lebih banyak berkurang belakangan ini.

Untuk sesaat, keduanya hanya diam menikmati keindahan air mancur. Tanpa banyak kata atau melakukan kemesraan yang berlebihan.

Kaisar juga selalu berusaha menjaga Nana agar tak ternoda olehnya, sebagai bukti cinta tulus pada gadis itu.

"Umm, Kai..." ucap Nana kemudian.

Kaisar sedikit menunduk, menatap wajah gadis itu. "Ya?"

"Aku jadi kepikiran deh."

"Soal?"

"Soal masa depan kita," jawab Nana sambil menarik kepalanya dari bahu Kaisar dan duduk tegak menatap air mancur. "Kalo kita berjodoh, aku jadi kepikiran buat ngadain resepsi dengan tema air mancurnya gini."

Kaisar tertegun. Ia menatap gadis itu tanpa berkedip. Tenggorokan Kaisar mendadak terasa kering. Pertanyaan Nana barusan seperti hantaman keras yang menyadarkannya dari lamunan romantis malam itu.

Masa depan.

Sebuah kata yang seharusnya terdengar indah, namun kini terasa seperti beban yang menghimpit dada Kaisar.

Di jarinya memang tidak melingkar cincin, namun di rumah sana, ada seorang gadis yang telah menjadi istrinya, dan kini tengah mengandung buah hatinya. Sebuah kenyataan yang membuat skenario masa depan bersama Nana menjadi sangat rumit.

"Kai? Kok diam?" Nana menyenggol lengan Kaisar, membuyarkan keterpakuannya. "Bagus, kan? Bayangin aja, kita dansa di tengah taman dengan air mancur yang nari-nari kayak gitu. Kamu pakai setelan tuksedo hitam, dan aku pakai gaun putih panjang. Sweet banget kayaknya."

Kaisar memaksakan sebuah senyum, meski sudut bibirnya terasa kaku. "Iya... bagus kok, Na. Tema yang unik dan jarang."

"Tapi, kamu kok kayak nggak semangat gitu dengerinnya?" Nana memicingkan mata, mencoba mencari kejujuran di mata kekasihnya. "Apa kamu... belum kepikiran buat serius sama aku?"

"Bukan gitu, Na," sela Kaisar cepat, ia meraih kedua tangan Nana dan menggenggamnya erat, mencoba meyakinkan gadis itu, sekaligus meyakinkan dirinya sendiri. "Aku serius sama kamu. Cuma ya... perjalanan kita masih panjang, kan? Kita masih sekolah, masih banyak yang harus dikejar. Kita gak perlu mikirin sesuatu yang masih jauh buat kita lakukan."

"Iya sih, aku tau. Tapi kan nggak ada salahnya berkhayal dulu," sahut Nana pelan, kepalanya kembali bersandar di bahu Kaisar, namun kali ini suaranya terdengar sedikit lebih sayu. "Kadang aku ngerasa takut, Kai. Takut tiba-tiba ada sesuatu yang misahin kita. Aku gak bakal sanggup. Kamu tau kan, aku sayang banget sama kamu?"

Kaisar terdiam, hanya bisa mengelus rambut Nana dengan gerakan kaku. Kata "sayang" itu kini terdengar seperti belati yang menusuk rasa bersalahnya. Ia ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, namun bayangan Raline yang sedang mengandung anaknya di rumah seolah meneriakkan kebenaran yang berbeda.

"Maafin aku, Na... Maaf..." batin Kaisar. Matanya terpejam, meresapi rasa bersalah dalam hatinya terhadap Nana.

Kaisar tak mampu berkata-kata lagi. Ia hanya diam mendengarkan setiap kata yang Nana ucapkan. Entah itu keluh kesahnya, ataupun cerita tentang banyak hal yang mengisi waktu kencan mereka.

Nana sesekali tertawa saat bercerita hal-hal yang lucu. Tapi tidak dengan kaisar. Ia tetap diam membisu dengan pikiran yang semakin kalut. Tawa Nana yang biasanya terdengar seperti melodi indah, kini hanya lewat begitu saja di telinga Kaisar. Pikirannya justru melompat jauh ke dapur di rumahnya.

Ia teringat bagaimana Raline tadi cuek dan fokus mengaduk-ngaduk masakannya, lalu menolak ia bawakan makanan. Ia ingat wajah pucat gadis itu dan bagaimana badannya terlihat sedikit lebih kurus karena terus-menerus mual.

Ia tiba-tiba merasa yakin kalau Raline kemungkinan tidak bisa makan malam ini karena mualnya bisa saja terjadi di saat dirinya pergi.

Rasa tidak tenang kembali mulai menggerogoti dadanya. Kaisar merasa seperti ada yang meremas jantungnya setiap kali ia membayangkan Raline kemungkinan pingsan atau membutuhkan bantuan di rumah sementara ia di sini sibuk berkencan dengan kekasihnya.

Tiba-tiba, Kaisar berdiri dari kursi taman itu dengan gerakan yang cukup sentak, mengejutkan Nana yang tengah asik bercerita.

"Na, ayo pulang sekarang," ajak Kaisar ketus, suaranya terdengar agak terburu-buru.

Nana mendongak, matanya mengerjap bingung. Ia melirik jam tangan peraknya yang baru menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit. "Loh, kenapa pulang sekarang? Ini masih sore banget, Kai. Katanya mau nemenin aku nonton live music di ujung sana nanti?"

Kaisar merogoh ponselnya sebentar, berpura-pura memeriksa pesan, lalu menatap Nana dengan raut wajah serius yang dibuat-buat. "Mama barusan chat aku, Na. Dia minta aku jemput di rumah Tante sekarang juga."

Kening Nana berkerut, rasa heran terpancar jelas di wajahnya. "Kok mendadak? Lagian, kan mama kamu sering bawa mobil sendiri atau pergi sama sopir?"

Kaisar berdehem, berusaha menetralkan kegugupannya agar tidak terlihat sedang berbohong. "I-iya... tapi kebetulan sopir lagi pulang kampung karena istrinya sakit. Tadi Mama pergi naik taksi, katanya lagi nggak mau bawa mobil sendiri. Terus sekarang dia minta aku yang jemput karena udah kemalaman."

"Tapi kan ini malam Minggu, Kai..." Nana berdiri dengan bahu yang merosot, tampak sangat kecewa. "Kita biasanya pulang jam sembilan malam. Kita bahkan belum beli es krim yang kamu janjiin tadi."

"Maaf banget, Na. Aku nggak enak kalo nolak permintaan Mama, apalagi dia sendirian di sana," ucap Kaisar sambil menarik lembut tangan Nana menuju tempat parkir. "Lain kali aku ganti ya? Aku janji bakal luangin waktu seharian buat kamu."

Nana hanya bisa mendesah pasrah. Meskipun hatinya merasa ada yang janggal, karena biasanya Kaisar akan memprioritaskannya. Ia tidak punya pilihan selain mengikuti langkah lebar Kaisar yang tampak sangat ingin segera sampai ke motor sport-nya.

Kaisar terus berjalan cepat, dalam hatinya ia hanya merutuk, berharap Raline baik-baik saja dan belum mengunci pintu kamar agar ia bisa memastikan keadaan gadis itu.

*****

1
Nurul Hilmi
ganteng amat visual kai Thor,,, 😍
Nurul Hilmi
mulai... mulai... kai... lama lama ❤😘
Nurul Hilmi
lanjut Thor.
bacanya Brebes mili
Yantie Narnoe
lanjut...👍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
double up Thor
bagus ini cerita😍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
lelaki juga kaisar. gentle dan bertanggung jawab
deeRa
Lepas Dari Kai, kamu & anakmu harus bahagia ya Lin... 😊
deeRa
no comment, ikut alur nya saja😊
next ya
falea sezi
cpet cerai kalo. abis lahiran. ortu. kaisar. toxic
Nurul Hilmi
jangan kasih cinta buat kaisar lin. biar die nyesel😄
Lisdaa Rustandy: cinta akan hadir saat waktu terus berjalan. bahkan saya yg menikah tanpa cinta aja sekarang jadi bucin🤣
total 1 replies
Nurul Hilmi
anak jangan dikasih orang lain, tetep raline yang rawat...
deeRa
Ganbatee Lin💪😊
falea sezi
jangan mau pergi jauh dr situ besarin anak sendiri ibunya egois cucu kandung mau di buang dajjal bgt ne orang
deeRa
Nyesek ya jd raline, 🥺
ROSULA DARWATI
kasihan Raline
Melinda Cen
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!