Isya adalah anak yatim piatu yang hidup sederhana bersama nenek dan adiknya. Sejak kecil ia dibekali ilmu agama, dan ketika kehilangan datang, ia dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Ia sekolah sambil bekerja. Ia menjadi kakak, sekaligus ibu di rumah kecil yang penuh keterbatasan.
Banyak yang terpikat oleh wajahnya.
Namun yang membuat orang benar-benar jatuh hati adalah akhlaknya.
Ia tidak mudah didekati.
Bukan harta, bukan popularitas yang bisa mendapatkannya.
Hanya satu jalan.
Temukan dia dengan Bismillah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Namira Ahsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 — Di Bawah tiang bendera
Isya berlari sekuat tenaga.
Namun ketika ia sampai di depan sekolah—
Gerbang sudah tertutup.
Langkahnya terhenti.
Napasnya terengah. Bahunya turun perlahan.
Sepi.
Dan yang lebih menyedihkan… hanya dia yang berdiri di luar.
“Ya Allah…” gumamnya pelan.
Pak Satpam yang berdiri di dekat gerbang menoleh.
“Eh, Isya? Tumben telat, Nak.”
Isya tersenyum kaku sambil menunduk.
“Hehe… iya, Pak. Qadarullāhi wa mā syā’a fa‘ala. Mau bagaimana lagi…”
Pak Satpam tersenyum kecil.
“Iya, iya. Jarang-jarang kamu telat. Ya sudah, masuk dulu.”
Belum sempat Isya melangkah—
Terdengar suara tegas dari belakang.
“Wah, apa ini?”
Isya membeku.
Bu Wati.
Guru yang terkenal tegas di sekolah itu berjalan mendekat dengan wajah serius.
“Anak gadis telat sendiri pula. Kamu tidak malu apa?”
Isya menunduk.
“Iya, Bu… maaf…”
“No, no, no. Tidak ada maaf. Indonesia tidak akan maju hanya dengan kata maaf.”
Suasana mendadak hening.
“Sana berdiri di sana. Biar semua orang lihat. Supaya kamu tidak mengulanginya lagi.”
“Iya, Bu…”
Isya berdiri sendiri di pojok lapangan saat upacara hampir dimulai.
Tatapan mata siswa-siswi seperti mengarah padanya.
Dalam hati ia merintih.
Ihhh ya Allah… malunya. Mereka pasti bicara macam-macam tentang aku…
Namun apa yang ia pikirkan ternyata berbeda dari kenyataan.
Beberapa siswa justru merasa kasihan.
Sebagian lagi terdiam karena tidak biasa melihat Isya yang dikenal rajin dan baik hati justru dihukum.
Tak lama kemudian, suasana berubah.
Beberapa siswa laki-laki digiring oleh Guru BK, Pak Amar.
“Hei kalian! Anak-anak nakal, baris di sini! Mau jadi apa Indonesia kalau generasinya bolos begini?”
Mereka hanya menunduk.
“Nanti jam istirahat, catat nama kalian dan temui Bapak.”
“Iya, Pak…”
Pak Amar menoleh, lalu tersenyum kecil.
“Loh, Isya? Cantik-cantik kok telat?”
Isya tersenyum malu.
“Hehe… Qadarullāhi, Pak…”
Pak Amar tertawa ringan.
“Iya, iya. Bapak yakin kamu pasti ada alasan. Tidak seperti badung-badung ini.”
Anak-anak laki-laki itu saling melirik kesal.
Salah satu berbisik pelan, “Huu… giliran cewek dilembutin.”
Yang lain menyenggol bahunya. “Ya gimana nggak lembut. Itu kan Isya…”
Mereka terkekeh kecil.
Tiba-tiba—
“Diam!”
Semua langsung terdiam.
Zai.
Ketua geng anak-anak yang sering dianggap paling berani di sekolah itu berdiri tegak. Wajahnya serius.
Isya refleks menegang.
Ia memang selalu merasa sedikit takut pada Zai. Entah kenapa, aura laki-laki itu terasa keras di matanya.
Padahal sebenarnya—
Zai hanya ingin terlihat keren di depannya.
Upacara pun selesai.
Siswa lain kembali ke kelas masing-masing.
Tersisa enam orang di lapangan. Isya dan lima anak laki-laki yang dihukum hormat di tiang bendera.
Hening.
Angin pagi terasa lebih terasa dari biasanya.
Zai melirik pelan.
“Isya…”
Keempat temannya langsung saling lirik. Mereka tahu. Ketua mereka sedang mencoba berbicara.
Isya menelan ludah.
“I-iya?”
Zai membuka mulut, tapi tidak ada suara keluar.
“Isya…”
Keempat temannya memberi kode mata, menyemangati.
Isya justru makin tegang.
Ini orang mau marah atau bagaimana sih… pikirnya ketakutan.
Beberapa detik terasa seperti menit.
Tiba-tiba suara Pak Satpam memecah suasana.
“Hei! Sudah 30 menit. Kembali ke!”
Isya seperti mendapat penyelamatan besar.
“Iya, Pak!”
Tanpa menunggu lama, ia langsung mengambil tasnya dan berlari ke kelas.
Sementara lima anak laki-laki itu menghela napas panjang.
“Haaaah…”
Kesempatan yang terasa hilang begitu saja.
----------------------------------------------------------------------------------
Di depan kelas, seorang gadis sudah menunggu dengan wajah ceria.
“Isyaaaa!”
“Ayinnn!”
Mereka berpelukan hangat.
“Duh, pasti capek ya. Duduk dulu sana.”
“Iya, Yin.”
Isya menceritakan semuanya. Ayin mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka memang sudah berteman sejak kecil.
Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama.
Tiga siswi mendekat dengan wajah sinis.
“Kamu bikin malu kelas saja. Nggak malu berdiri sendiri di depan?”
Isya diam.
Ayin langsung berdiri.
“Namanya juga lagi musibah. Ngapain kamu yang repot?”
Ketua kelas buru-buru melerai.
“Sudah, sudah. Sebentar lagi Bu Guru masuk. Balik ke tempat masing-masing.”
“Huuu…” gumam salah satu dari mereka sebelum pergi.
Ayin mendesah kesal.
“Ih, tiap hari makin-makin saja.”
Isya tersenyum lembut.
“Sudahlah, Yin. Kita doakan saja. Barangkali hatinya melembut.”
Ayin mendengus pelan. “Keras seperti batu itu.”
Isya tersenyum kecil.
“Bahkan gunung yang keras pun, kalau diturunkan Al-Qur’an kepadanya, pasti akan hancur karena takut kepada Allah.”
Ia mengutip pelan maknanya dari
(QS. Al-Hasyr ayat 21.)
“Apalagi hati manusia. InsyaAllah bisa lembut kalau kita doakan.”
Ayin terdiam.
“Iya sih… tapi kalau dibalas mungkin mereka nggak akan macam-macam.”
Isya menggeleng pelan.
“Dalam Islam, membalas itu boleh setara. Tapi jangan zalim.”
Ia mengingat (QS. Asy-Syura ayat 40.)
“Tapi kalau kita memaafkan, ada pahala. Jadi lebih baik memaafkan.”
Ayin tersenyum kagum.
“Kenapa ya, wanita sebaik kamu ada yang musuhin?”
Isya langsung mengangkat tangan.
“Eh, nggak boleh muji.”
Ayin tertawa. “Iya, iya. Kamu memang nggak suka dipuji.”
“Pujian itu boleh sesekali. Tapi kalau sering, bisa bikin hati rusak.”
“Iya, ustazah Isya,” goda Ayin.
Mereka tertawa kecil.
“Nanti pulang ikut aku, ya. Kita jalan.”
Isya menggeleng.
“Nenek lagi nggak ada di rumah. Kalau Ba'daa nggak ada yang jaga, bisa-bisa rumah dibongkar.”
Ayin tertawa.
“Ya sudah, lain kali.”
“Oke.”
Tak lama kemudian bel pulang berbunyi.
Isya berjalan pulang sendirian, melewati gerbang sekolah yang tadi pagi menjadi saksi kepanikannya.
^^^---𝙉𝙖𝙢𝙞𝙧𝙖 𝙖𝙝𝙨𝙮𝙖__^^^
. 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚊𝚓𝚓 𝚛𝚞𝚙𝚊-𝙽𝚢𝚊𝚊 ,, 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚗𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚕𝚒𝚊𝚝 ,, 𝚙𝚛𝚎𝚎𝚎𝚝 .
. 𝑖𝑡𝑢-𝐿𝑎ℎℎ 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 ,, 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑎𝑗𝑗 𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢𝑢 𝑛𝑔𝑎𝑘𝑢𝑖𝑛 𝑎𝑝𝑎𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛𝑛 ..
𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎 𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑢𝑢 ..
. 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑛𝑑𝑢𝑘-𝐾𝑎𝑛𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎𝑎 ..
𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐥𝐦𝐮 ..
. 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑛𝑜𝑣𝑒𝑙-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 . 😘
. 𝑚𝑒𝑠𝑘𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ ,, 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑘𝑖𝑚𝑖 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑑𝑖 𝑎𝑗𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 ..
. 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑘𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑎𝑖𝑘𝑖 ..
. 𝐬𝐞𝐝𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚𝐚 ..
. 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚 𝐚𝐤𝐮𝐮𝐮 ,, 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐭-𝐊𝐮𝐮𝐮 ------ 𝐧𝐨𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 𝐭𝐲 .
. 𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐫𝐚𝐡 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐫𝐦 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩-𝐊𝐮𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐚𝐧-𝐍𝐲𝐚𝐚
. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚-𝐋𝐚𝐡𝐡𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐭-𝐛𝐚𝐢𝐭 𝐝𝐨'𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚-𝐊𝐮𝐮 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤-𝐌𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐍𝐚𝐦𝐢𝐫𝐚 𝐀𝐡𝐬𝐲𝐚 . 🤭😘