NovelToon NovelToon
Hutang Yang Harus Kubayar

Hutang Yang Harus Kubayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:728
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

03

Wajah Arya memerah oleh amarah yang tak lagi bisa ia kendalikan. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menonjol saat teriakan itu meluncur kasar dari bibirnya, memecah keheningan rumah besar yang sejak tadi dipenuhi bau darah dan duka.

“Nadia!”

Nama itu bergema panjang, memantul di dinding-dinding, namun perempuan yang dipanggilnya sama sekali tak bergeming.

Nadia tengah bersimpuh di depan tubuh ayahnya yang terbujur kaku. Kain putih yang menutup dada lelaki tua itu telah ternodai darah, sebagian masih basah, sebagian mulai mengering kecokelatan. Dengan tangan gemetar namun penuh keteguhan, Nadia mengusap wajah ayahnya menggunakan kain kecil, membersihkan sisa darah di sudut bibir dan pelipis. Wajah ayahnya tampak tenang, seolah hanya tertidur panjang, dan justru ketenangan itulah yang membuat dada Nadia terasa semakin sesak.

Ia tahu ayahnya tak akan pernah membuka mata lagi.

Ketika teriakan Arya kembali menggema, Nadia hanya menoleh sekilas. Tatapannya kosong, dingin, sama sekali tak memancarkan rasa hormat atau takut pada pria yang kini berdiri beberapa langkah di belakangnya. Seolah Arya hanyalah bayangan tak penting di tengah lautan duka yang sedang ia arungi.

Sikap itulah yang membuat amarah Arya membuncah.

Tanpa peringatan, Arya melangkah cepat dan berdiri tepat di samping Nadia. Tangannya yang besar dan keras mencengkeram pergelangan tangan Nadia, menariknya dengan kasar hingga Nadia terpaksa berdiri. Kain kecil yang tadi ia pegang terjatuh ke lantai, tepat di dekat tangan ayahnya.

“Apa kau tuli, hah?” bentak Arya, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Nadia. “Aku memanggilmu sejak tadi!”

Nadia menahan napas. Rasa perih menjalar dari pergelangan tangannya akibat cengkeraman itu, namun ia sama sekali tak berteriak. Ia hanya menatap Arya dengan mata yang kini menyala oleh kemarahan yang sama besarnya.

“Lepaskan,” ucap Nadia singkat, dingin.

Arya tertawa sinis. “Kau masih berani bersikap seperti ini? Setelah semua yang terjadi?”

Ia mendorong Nadia sedikit ke belakang, cukup untuk membuat tubuh Nadia oleng. “Kau benar-benar tidak tahu diri. Aku sudah memberi jalan keluar, kontrak pernikahan itu adalah satu-satunya kesempatanmu, tapi kau menolaknya mentah-mentah.”

Nadia mengepalkan tangan. Dadanya naik turun menahan gejolak emosi yang bercampur antara sedih, marah, dan muak. Ia menatap wajah Arya, wajah laki-laki yang baginya adalah sumber dari semua malapetaka hari ini.

“Jaga mulut Anda,” ucap Nadia dengan suara tegas, bergetar namun penuh keberanian.

Arya menyeringai. “Oh? Sekarang kau berani mengaturku?”

“Dasar pria liar,” lanjut Nadia, suaranya kini lebih keras. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya, lahir dari amarah yang telah lama ia pendam.

Wajah Arya seketika berubah. Senyum sinis itu menghilang, digantikan ekspresi gelap yang membuat siapa pun merinding melihatnya. Matanya menyipit, penuh ancaman.

“Kau menyebut aku liar?” ucapnya pelan, namun justru nada itulah yang terdengar paling menakutkan. “Baik. Kita lihat seberapa liar pria sepertiku.”

Nadia menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang ketika Arya kembali menarik tangannya, kali ini lebih kasar, menyeretnya menjauh dari jasad ayahnya menuju lorong yang mengarah ke ruang istirahat. Sepatu Arya berderap keras di lantai, sementara Nadia berusaha sekuat tenaga memberontak.

“Lepaskan aku!” Nadia meronta, kukunya mencakar lengan Arya, namun laki-laki itu terlalu kuat. Tenaga Nadia sama sekali tak sebanding.

Panik mulai menguasai dirinya. Bayangan-bayangan buruk berkelebat di kepalanya, membuat tubuhnya semakin gemetar. Namun sebelum Arya sempat melangkah lebih jauh, sebuah tangan lain tiba-tiba menahan lengannya.

“Tuanku, cukup!”

Rio berdiri di hadapan mereka, wajahnya tegang namun berusaha tetap tenang. Asisten pribadi Arya itu menatap majikannya dengan sorot mata penuh kehati-hatian.

“Jangan ikut campur!” bentak Arya, mencoba melepaskan lengannya dari pegangan Rio. “Atau kau sekarang berpihak pada wanita ini?”

Rio segera menggeleng. “Tidak, Tuan. Saya tidak berpihak pada siapa pun. Saya hanya tidak ingin Tuan melakukan kesalahan.”

“Kau mengajariku sekarang?” suara Arya meninggi.

Rio menarik napas dalam-dalam. “Biarkan saya yang mengurusnya,” ujarnya pelan namun tegas. “Ini bukan waktu yang tepat untuk emosi.”

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam. Akhirnya, dengan dengusan kesal, Arya melepaskan cekalan tangannya dari pergelangan Nadia. Namun amarahnya belum reda. Ia menoleh ke samping dan dengan satu gerakan kasar, menendang guci besar yang berdiri tak jauh dari sana.

BRAK!

Guci itu jatuh dan pecah berkeping-keping. Pecahan tanah liat berhamburan ke segala arah, sebagian hampir mengenai kaki Nadia. Suara pecahan itu membuat Nadia terlonjak, tubuhnya refleks mundur beberapa langkah.

Ia menatap Arya dengan mata membesar. Baru kali ini ia melihat secara langsung betapa mengerikannya pria itu ketika amarah menguasainya. Ada sesuatu yang liar dan tak terkendali dalam diri Arya, sesuatu yang membuat Nadia yakin bahwa ancaman pria itu bukanlah omong kosong belaka.

Rio menoleh pada Nadia, lalu dengan isyarat halus mempersilahkannya duduk kembali. Nadia ragu sejenak, namun akhirnya menurut. Kakinya terasa lemas.

“Nona Nadia,” ucap Rio dengan nada lebih lembut. “Tolong dengarkan saya. Kontrak pernikahan itu adalah solusi terbaik untuk saat ini.”

Nadia menatapnya tajam. “Tidak,” jawabnya mantap. “Saya tidak akan menikah dengan laki-laki liar dan bertemperamen seperti dia.”

Rio menghela napas. “Saya mengerti perasaan Nona. Tapi Anda juga harus mengerti posisi Anda sekarang. Tanpa tanda tangan itu, proses pemakaman ayah Anda tidak bisa dilakukan.”

Kata-kata itu menghantam Nadia lebih keras dari tamparan. Tubuhnya menegang. “Apa maksudmu?”

Rio menunduk sedikit. “Semua biaya, izin, dan proses semuanya berada di bawah wewenang Tuan Arya.”

Nadia menggeleng keras. “Tidak. Ayah saya pantas mendapatkan pemakaman yang layak tanpa syarat kotor seperti ini.”

Namun sebelum Rio sempat menjawab, Arya yang sejak tadi mendengarkan tiba-tiba melangkah mendekati jasad ayah Nadia. Wajahnya dingin, langkahnya mantap.

Nadia terkejut. Tanpa berpikir panjang, ia segera berdiri dan berlari kecil, berdiri tepat di depan tubuh ayahnya, menjadikan dirinya sebagai tameng.

“Jangan sentuh ayahku!” teriaknya.

Arya berhenti tepat di hadapannya. Tanpa peringatan, kakinya terayun dan menghantam tubuh Nadia. Nadia terjatuh ke lantai dengan suara tertahan, rasa sakit menjalar dari perutnya hingga ke seluruh tubuh. Napasnya tercekat.

Rio segera bergerak. “Tuan, cukup!” serunya panik.

Sementara Nadia meringis menahan sakit, Rio berusaha menenangkan Arya dengan kata-kata yang selama ini menjadi senjata satu-satunya untuk menghadapi temperamen tuannya.

“Nyoya besar akan segera pulang,” ujar Rio cepat. “Beberapa hari lagi beliau kembali. Jika Tuan belum menikah, beliau pasti akan menjodohkan Tuan.”

Arya menegang. Ia menoleh tajam ke arah Rio. “Aku tidak mau dijodohkan dengan wanita pilihan ibu,” katanya penuh kebencian. “Aku tidak butuh perempuan yang hanya tahu soal harta dan kecantikan.”

Ia kembali menatap Nadia yang masih berusaha bangkit. Dengan satu gerakan cepat, Arya merendahkan tubuhnya dan mencengkeram dagu Nadia dengan kuat, memaksa wajah Nadia mendongak menatapnya.

“Cepat tanda tangani kontrak itu, Nadia,” ucap Arya dingin, matanya menatap lurus tanpa belas kasihan. “Atau aku akan buang mayat ayahmu ke hutan.”

Kata-kata itu membuat dunia Nadia seolah runtuh seketika. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, mengalir di pipinya. Namun di balik air mata itu, ada tekad yang tak mudah dipatahkan. Ia menatap Arya dengan kebencian yang membara, meski tubuhnya gemetar oleh rasa takut dan sakit.

Dalam hati, Nadia bersumpah, apa pun yang terjadi setelah ini, ia tidak akan pernah melupakan hari ketika hidupnya direnggut, ketika ayahnya pergi, dan ketika ia dipaksa berdiri di hadapan pria yang menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk menghancurkan siapa saja.

Dan di antara serpihan guci, darah, dan kontrak yang tergeletak dingin di meja, takdir Nadia perlahan mulai berubah ke arah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!