NovelToon NovelToon
Bukan Sistem Biasa

Bukan Sistem Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:175.9k
Nilai: 4.6
Nama Author: Sarif Hidayat

Beberapa bulan setelah ditinggalkan kedua orang tuanya, Rama harus menopang hidup di atas gubuk reot warisan, sambil terus dihantui utang yang ditinggalkan. Ia seorang yatim piatu yang bekerja keras, tetapi itu tidak berarti apa-apa bagi dunia yang kejam.
​Puncaknya datang saat Kohar, rentenir paling bengis di kampung, menagih utang dengan bunga mencekik. Dalam satu malam yang brutal, Rama kehilangan segalanya: rumahnya dibakar, tanah peninggalan orang tuanya direbut, dan pengkhianatan dingin Pamannya sendiri menjadi pukulan terakhir.
​Rama bukan hanya dipukuli hingga berdarah. Ia dihancurkan hingga ke titik terendah. Kehampaan dan dendam membakar jiwanya. Ia memutuskan untuk menyerah pada hidup.
​Namun, tepat di ambang keputusasaan, sebuah suara asing muncul di kepalanya.
​[PEMBERITAHUAN BUKAN SISTEM BIASA AKTIF UNTUK MEMBERIKAN BANTUAN KEPADA TUAN YANG SEDANG PUTUS ASA!
APAKAH ANDA INGIN MENERIMANYA? YA, ATAU TIDAK.
​Suara mekanis itu menawarkan kesepakatan mutlak: kekuatan, uang,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarif Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Kekhawatiran bela

Sherline memandang punggung Rama yang menjauh tanpa menoleh lagi, hingga pemuda itu menghilang di balik tikungan jalanan yang rimbun. Keheningan sesaat melingkupi jalanan sepi itu, hanya suara serangga hutan dan deru mesin mobil patroli yang masih menyala yang terdengar.

​Wajah Sherline, yang sebelumnya menampilkan senyum perhitungan, kini kembali kaku dan dingin.

​"Kapten, kenapa kita biarkan saja dia pergi?" tanya salah satu rekannya, seorang pria bertubuh kekar bernama Bima, suaranya terdengar tidak puas. "Dia jelas-jelas menantang otoritas kita."

​Sherline menoleh pada Bima, tatapannya tajam.

​"Menantang? Dia tidak melanggar hukum, Bima. Dia hanya tahu betul hak-haknya," jawab Sherline, suaranya sarat kejengkelan, namun juga mengakui. "Dia benar. Kita datang tanpa surat panggilan resmi, dan kita tidak bisa memaksakan interogasi di jalan umum seperti ini."

​"Tapi, Kapten," sambung rekan yang satunya, yang lebih muda dan tenang, bernama Arya. "Dia tidak terlihat seperti warga biasa. Aksinya di pasar—dan penolakannya barusan—terlalu tenang. Saya merasa aneh menyebutnya anak berusia belasan tahun."

​Sherline menghela napas, menyandarkan pinggulnya ke pintu mobil patroli. Rasa frustrasi terasa jelas di matanya. Baru kali ini ada orang biasa yang menolak perintahnya dengan alasan yang begitu logis dan sah.

​"Dia memiliki postur tubuh dan wajah yang terlihat dewasa. Jika saja aku tidak menyuruh Sersan Hadi untuk menyelidiki pemuda itu sebelumnya, aku juga tidak akan percaya jika dia masih seorang murid SMA Kelas XII," gumam Sherline.

​Ia membuka pintu mobil, gesturnya tegas. Ia harus menahan kekesalan itu demi menjaga sikapnya sebagai seorang Kapten, meski merasa diabaikan oleh pemuda belasan tahun tersebut.

​"Dia bilang akan menunggu di rumahnya? Bagus. Kita akan memberinya kunjungan resmi. Kali ini, kita akan datang dengan semua yang kita butuhkan. Aku ingin lihat bagaimana bocah itu akan menolaknya."

​Mereka semua masuk ke dalam mobil. Saat mobil patroli berbalik dan meninggalkan jalanan sepi, Sherline mengeluarkan ponselnya. Ia membuka video buram rekaman amatir di pasar, memutarnya berulang kali—menganalisis setiap gerakan Rama.

​Rama tiba di rumah Pak Suhardi dan langsung disambut oleh Bu Maya yang baru saja pulang dari sawah.

​"Loh, kamu sudah pulang, Nak?" ucap Bu Maya, melihat ke belakang Rama tidak menemukan Bela ikut dengannya.

​"Iya, Bu. Aku hanya mengurus surat pindahan saja, lalu setelah semuanya beres aku langsung pulang," Jawab Rama.

​"Ibu kira, kamu akan pulang bersama Bela," Kata Bu Maya kembali, lalu melanjutkan, "Ya sudah... kamu tidak akan ke mana-mana lagi, kan? Ibu kebetulan ada perlu dengan Bu Darmi sebentar."

​Rama mengangguk pelan. "Iya, Bu. Ibu pergi saja... aku akan tetap di rumah sembari menunggu Bela pulang."

​Bu Maya tersenyum hangat menyentuh pundak Rama dengan lembut.

​"Bapak juga pasti sebentar lagi akan pulang, dan Ibu juga tidak akan lama. Aku hanya ingin membayar utang pada Bu Darmi. Jika terlalu lama, Ibu merasa malu padanya," ucapnya. Rama hanya menganggukkan kepalanya.

​Lalu, Bu Maya pun langsung pergi menuju rumah Bu Darmi, salah satu tetangga jauhnya yang cukup memiliki hubungan baik dengannya.

​Setelah memastikan Bu Maya tak terlihat lagi, Rama pun langsung masuk menuju ruang tamu dan duduk di sana sembari berkata pada sistem di kepalanya.

​"Sistem, keluarkan surat izin pindah sekolah itu, aku ingin melihatnya," bisiknya pelan.

​[DING! Permintaan diterima. Menampilkan Item 'Surat Izin Pindah Sekolah SMA Bakti']

​Tiba-tiba, sebuah cahaya kebiruan yang sangat redup dan nyaris tidak terlihat melintas di udara di hadapan Rama, seolah menembus dimensi. Perlahan, cahaya itu memadat dan berubah wujud menjadi selembar kertas resmi.

​Di tangan Rama kini tergenggam selembar Surat Resmi berkop SMA Bakti. Kertas itu terasa nyata dan memiliki tekstur seperti dokumen penting.

​Rama membacanya dengan cepat.

​SURAT PERNYATAAN IZIN PINDAH SEKOLAH

​Nomor: S.P.P.S / 14 / II / 20XX

​Yang bertanda tangan di bawah ini, Kepala Sekolah SMA Bakti, dengan ini menyatakan bahwa siswa:

​Nama: Rama Setiawan

​Kelas: XII IPA 2

​NIS: XXXXXX

​DIZINKAN UNTUK PINDAH SEKOLAH ke institusi pendidikan lain atas permintaan pribadi/keluarga, terhitung sejak tanggal diterbitkannya surat ini.

​[Terdapat Tanda Tangan Kepala Sekolah dan Stempel Resmi SMA Bakti]

​Jantung Rama berdebar kencang. Ini adalah yang ia butuhkan. Bukan sekadar isapan jempol, melainkan dokumen sah yang didapatkan tanpa proses birokrasi yang rumit. Berkat Sistem miliknya, semua itu benar-benar bisa diatasi.

​"Terima kasih, Sistem. Aku benar-benar beruntung telah memilikimu. Kehadiranmu sungguh membawa berkah sekaligus mempermudah hidupku," Ungkap Rama dengan tulus.

​[SISTEM]: Terima kasih kembali, Tuan. Sistem akan selalu menyediakan semua kebutuhan Tuan, berikut dengan misi-misi yang harus Tuan selesaikan.]

Rama baru saja menyembunyikan Surat Izin Pindah Sekolah di dalam saku celananya ketika suara pintu depan terbuka dengan cepat terdengar. Itu bukan suara Bu Maya yang perlahan, melainkan suara langkah kaki yang tergesa-gesa.

​"Kak Rama!"

​Bela muncul dari balik pintu, wajahnya memerah karena kecemasan dan emosi yang campur aduk. Ia mengenakan seragamnya yang sedikit kusut dan basah oleh keringat.

​"Bela. Kamu sudah pulang?" sambut Rama, berusaha terdengar tenang sambil bangkit dari kursi tamu.

​Bela tidak menjawab sapaan Rama. Ia langsung menghampiri Rama, tangannya memegangi lengan Rama dengan cengkeraman kuat, matanya memancarkan kekhawatiran dan amarah kecil.

​"Kenapa Kakak tidak menungguku?" tuntut Bela, suaranya sedikit bergetar. "Aku mencarimu saat jam istirahat kedua dan kamu sudah tidak ada! Kenapa kamu pulang begitu saja tanpa bilang padaku?"

​"Aku hanya—"

​"Jangan bilang hanya mengurus surat pindahan!" potong Bela cepat, suaranya naik satu oktaf. "Kak, apa yang kalian bicarakan di ruang kepala sekolah? Apakah Pak Guntur memarahimu? Apakah dia mengeluarkanmu dari sekolah? Atau—jangan-jangan Kakak akan dilaporkan pada polisi karena telah membuat Deni terluka?"

​Beberapa pertanyaan langsung Bela lontarkan membuat Rama hanya bisa menatap mata gadis itu lekat. Hatinya menghangat ketika melihat kecemasan gadis itu.

​"Tenanglah, Bela. Jangan terlalu khawatir," Rama memegang kedua tangan Bela. "Kakak tidak dihukum. Pak Guntur melepaskanku begitu saja. Tidak ada laporan ke polisi, tidak ada masalah hukum. Aku sudah bilang, semuanya akan baik-baik saja."

​"Dilepaskan?" Bela mengerutkan kening, bingung. "Itu tidak mungkin. Pak Guntur tidak akan pernah melepaskan orang yang menyakiti Deni semudah itu, bahkan jika Kak Rama yang benar sekalipun. Lalu, surat pindahmu? Apa Pak Guntur memberikannya padamu?"

​Rama diam sejenak. Ia tidak mengatakan bahwa surat itu adalah hadiah dari Sistem. Agar tidak menimbulkan pertanyaan lebih lanjut, ia terpaksa berbohong dan membiarkan Bela berpikir bahwa ia mendapatkan surat itu langsung dari Pak Guntur.

​"Ya, aku sudah mendapatkannya," Jawab Rama.

​"Hah... Benarkah?" seru Bela, sedikit tidak mempercayainya. Setelah memukuli anak Kepala Sekolah itu, Rama bukan hanya tidak menerima hukuman, tetapi ia juga ternyata masih bisa mendapatkan surat izin pindah sekolah tersebut.

​Rama tersenyum samar, lalu merogoh saku celananya dan menyerahkan lembar kertas surat itu pada Bela. Bela yang tidak percaya pun langsung mengambil surat itu dengan cepat dan memeriksanya.

​Ada keterkejutan sekilas terpancar di wajah Bela ketika membaca surat itu, tetapi kemudian ia menghela napas lega. Semua kekhawatiran di dalam hatinya menghilang, digantikan dengan kelegaan.

​"Syukurlah... Aku benar-benar khawatir Kakak akan menerima hukuman berat dari Pak Guntur," Ucap Bela sembari mengembalikan kertas itu pada Rama.

​"Gadis bodoh, tidak ada yang perlu dikhawatirkan... Tidakkah kamu merasa bahwa aku sekarang bukan lagi seperti Rama yang dulu?" ucap Rama. Gadis itu langsung menatapnya tanpa berkedip. Pertanyaan tentang perbuatan Rama sudah ia ungkapkan sebelumnya, terutama tentang perubahan fisiknya.

​"Hmm... sejak kapan Kakak bisa melawan Deni dan teman-temannya? Bukankah dulu Kakak dibuat terluka oleh mereka? Apakah selama ini Kakak memang sengaja agar terlihat lemah, ataukah Kakak termasuk orang yang suka dipukuli tanpa melawan?"

​Jelas sekali itu membingungkannya, apalagi Bela menyaksikan sendiri bagaimana Rama mengalahkan Deni dan kawannya di sekolah tadi.

​"Ah... itu..." Rama merasa terjebak oleh ucapannya sendiri. Ia tidak tahu harus menjawab apa karena semua perubahan yang terjadi terhadap dirinya berkaitan dengan Sistem, yang jikapun dijelaskan tidak mungkin ada yang mempercayainya.

​"Humph... Lupakan. Aku masih kesal sama Kakak karena telah meninggalkanku," karena tak kunjung mendapat jawaban, Bela pun mengalihkan pembicaraan. Wajah cemberut itu justru terlihat lucu di mata Rama.

​Rama langsung tersenyum seketika, menyentuh kepala gadis itu mengusapnya dengan lembut dan berkata, "Pergilah berganti baju, Kakak akan memasak makanan kesukaanmu sebagai permintaan maaf karena telah meninggalkanmu."

​Bela langsung mendongak dengan senyum merekah di bibirnya. "Janji ya, pokoknya setelah Bela mengganti baju... Bela langsung mendatangi Kakak ke dapur!"

​Ucapnya dengan semangat, lalu langsung bergegas memasuki kamarnya.

​Rama hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah gadis itu, dan juga dirinya langsung menuju dapur untuk menyiapkan masakan kesukaan gadis itu.

1
Maz Shell
lanjutkan Thor 2 minimal
Dirman Ha
gc ckp
Dirman Ha
ig go
Zulterry Apsupi
yang ini masuk polisi pasti lewat koneksi atau melalui sogokan
Zulterry Apsupi
terlalu naif si mc
Dirman Ha
g book
Dirman Ha
I g nk
Zulterry Apsupi
MC idiot
Memyr 67
𝗋𝖺𝗇𝖽𝗒 𝗂𝗍𝗎 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗌𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖺𝗌𝗎𝗁𝖺𝗇 𝗒𝖺?
Memyr 67
𝗁𝖺𝗁? 𝗐𝗂𝖽𝗒𝖺? 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗒𝗀 𝖻𝗂𝖺𝗌𝖺 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗄𝖺𝗂 𝗉𝗋𝖾𝗆𝗉𝗎𝖺𝗇, 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄?
Memyr 67
𝗍𝗎 𝗄𝖺𝗇? 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍. 𝖻𝖺𝗀𝖺𝗂𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗒𝗀 𝗌𝗎𝗉𝖾𝗋𝗂𝗈𝗋 𝗆𝖺𝗎 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗌𝖺𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂, 𝗒𝗀 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 "𝗆𝖾𝗇𝗒𝖾𝗅𝖺𝗆𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇" 𝗋𝖺𝗆𝖺. 𝗋𝖺𝗆𝖺? 𝖽𝗂𝗌𝖾𝗅𝖺𝗆𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍? 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋𝖺𝗇 𝖺𝖻𝗌𝗎𝗋𝖽 𝗌𝗂𝗁 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺, 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗂𝗍𝗎
Memyr 67
𝗌𝖾𝗆𝗈𝗀𝖺 𝗁𝗎𝖻𝗎𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖺𝗇 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖾𝖻𝖺𝗍𝖺𝗌 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍, 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁. 𝗄𝖺𝗌𝗂𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖺𝗌𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗌𝖾𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗎𝗌𝖺𝗁𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗉𝖺𝖽𝖺𝗁𝖺𝗅 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗇𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗌𝖺𝗃𝖺 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗆𝗉𝗎.
Manusia Biasa
lucu gw suka interaksi bela x rama😁
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗂𝗇 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗃𝗎𝗀𝖺 𝗉𝖾𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖽𝗂𝖺 𝗌𝖺𝗃𝖺 𝖽𝗂𝗍𝗈𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗅𝗂𝗆𝖺 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗇𝖽𝖺𝗅𝖺𝗇. 𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝗆𝖾𝗆𝗉𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍𝗂 𝗋𝖺𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗅𝖺 𝗂𝗇𝖿𝗈𝗋𝗆𝖺𝗌𝗂 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝗌𝗁𝖾𝗋𝗅𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖾𝗉𝖺𝗋𝗈. 𝗉𝖾𝗇𝗀𝖺𝗐𝖺𝗌𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗁𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗒𝖺
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺 𝗋𝗂𝖼𝗈 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁𝗇𝗒𝖺 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗀𝗎𝗇𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗍𝗈𝗍 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖻𝖾𝗋𝗄𝗎𝖺𝗌𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋.
Dirman Ha
hv gi
Dirman Ha
yd dg
Dirman Ha
hv no
Dirman Ha
ig gi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!