NovelToon NovelToon
Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / CEO / Penyesalan Suami / Romantis / Romansa / Cintapertama
Popularitas:84.6k
Nilai: 5
Nama Author: Itz_zara

Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.

Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.

Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.

“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”

Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Movie

Malam itu mereka akhirnya kembali ke hotel setelah seharian penuh berkeliling. Lampu-lampu kota sudah menyala, memantul indah dari jendela mobil yang membawa mereka pulang.

Binar sudah tertidur pulas di pangkuan Samudra sejak di perjalanan pulang. Wajah kecil itu tampak lelah, tapi damai. Tangan mungilnya masih menggenggam ujung baju ayahnya, seolah takut terlepas meski dalam tidur.

Samira yang duduk di samping hanya sesekali melirik, tersenyum kecil melihat pemandangan itu.

Sesampainya di kamar hotel—

Samudra menggendong Binar dengan hati-hati. Langkahnya pelan, berusaha tidak membangunkan putrinya.

Ia membaringkan Binar di atas kasur, merapikan posisi tidurnya, lalu menarik selimut hingga menutupi tubuh kecil itu.

“Tidur yang nyenyak, sayang…” gumamnya pelan.

Ia menunduk sedikit, memberikan kecupan singkat di dahi Binar.

Beberapa detik Samudra hanya diam di sana… memperhatikan putrinya.

Lalu perlahan ia berdiri dan keluar dari kamar.

Di ruang tengah, Samira duduk di sofa sambil menatap ke arah jendela. Lampu kota terlihat berkelap-kelip dari kejauhan.

“Kok kamu belum tidur?” tanya Samudra sambil berjalan mendekat.

Samira menoleh.

“Belum ngantuk, Mas,” jawabnya pelan.

Samudra sedikit mengangguk. Entah kenapa… pertanyaan itu terasa berbeda dari biasanya. Lebih perhatian.

Samira sendiri sampai sedikit heran.

Tumben… pikirnya dalam hati.

“Kamu sudah ngantuk?” tanya Samira balik.

Samudra menggeleng.

“Belum.”

Hening sebentar.

Lalu Samudra duduk di sampingnya, tidak terlalu dekat… tapi juga tidak sejauh dulu.

“Gimana kalau kita nonton saja?” ujarnya santai.

Samira menoleh, sedikit terkejut.

“Nonton?”

“Iya. Mumpung Bibi sudah tidur.”

Ada jeda kecil.

“Jarang-jarang, kan…” tambahnya pelan.

Ia tersenyum kecil.

“Iya, boleh.”

@@@

Samudra mengambil remote TV, lalu menyalakan layar. Cahaya dari televisi langsung menerangi ruangan yang sebelumnya hanya ditemani lampu redup.

“Pilih yang ringan saja,” ucap Samudra.

Samira mengangguk.

“Iya, jangan yang berat-berat.”

Akhirnya mereka memilih film ringan, romantis dengan sedikit komedi. Bukan sesuatu yang biasanya ditonton Samudra.

Namun malam ini… ia tidak protes. Mereka duduk berdampingan. Awalnya masih ada jarak. Masih ada canggung.

Namun perlahan—

Suasana mulai mencair. Beberapa kali Samira tertawa kecil karena adegan lucu di film. Dan tanpa sadar, Samudra ikut tersenyum melihat reaksinya.

Bukan karena filmnya. Tapi karena Samira. Sesekali, bahu mereka bersentuhan.

Namun cukup untuk membuat keduanya sadar akan keberadaan satu sama lain.

Tidak ada yang menjauh.

Di tengah film—

Samira tanpa sadar mulai bersandar sedikit ke sofa, tubuhnya terasa lebih rileks.

Samudra melirik sekilas. Beberapa detik ia diam. Seolah berpikir. Lalu perlahan, tangannya bergerak.

Ia meletakkan tangannya di atas sandaran sofa… tepat di belakang Samira.

Dekat.

Sangat dekat.

Tanpa benar-benar menyentuh. Samira menyadari itu. Jantungnya berdebar pelan.

Namun ia tidak bergerak. Tidak menjauh. Tidak juga menegur. Justru… diam.

Dan menikmati.

Beberapa menit kemudian—

Entah sejak kapan— Kepala Samira sedikit condong ke samping. Menyentuh bahu Samudra.

Samudra menoleh sedikit untuk melihat Samira. Wanita itu masih fokus ke layar… seolah tidak sadar.

Atau mungkin…

Berpura-pura tidak sadar. Sudut bibir Samudra terangkat tipis. Ia tetap diam di posisinya. Membiarkan momen itu terjadi.

@@@

Film terus berjalan. Namun perhatian mereka… Tidak lagi sepenuhnya di layar. Melainkan pada keheningan di antara mereka. Yang kini… terasa hangat.

Beberapa saat kemudian—

Samira berbisik pelan,

“Mas…”

“Iya?”

“Enak ya… begini.”

Samudra tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap layar beberapa detik.

Lalu berkata pelan,

“Iya…”

Ada jeda.

“…harusnya dari dulu kita begini.”

Kalimat itu membuat Samira terdiam. Namun kali ini— Bukan karena sedih.

Melainkan karena…

Harapan.

Ia tidak menjawab.

Hanya tersenyum kecil.

Dan sedikit lebih nyaman menyandarkan kepalanya.

Malam semakin larut. Film hampir selesai. Namun mereka tidak benar-benar peduli dengan ending-nya.

Karena tanpa mereka sadari—Malam itu sudah memberikan sesuatu yang jauh lebih penting.

Bukan sekadar tontonan. Tapi waktu. Kebersamaan. Dan jarak yang… perlahan menghilang.

Saat film berakhir, layar perlahan menjadi gelap. Ruangan kembali sunyi. Namun kini… Sunyinya berbeda. Samudra menoleh sedikit.

“Tidur?”

Samira mengangguk pelan.

“Iya…”

Namun sebelum ia sempat benar-benar bangun— Samudra berkata pelan,

“Mir…”

Samira menoleh.

“Iya?”

Beberapa detik Samudra diam.

Lalu—

“Besok kita jalan-jalan lagi.”

Samira tersenyum.

“Iya.”

@@@

Malam semakin larut. Lampu ruang tengah dimatikan, menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur yang menyelinap keluar dari kamar.

Samira berdiri lebih dulu, merapikan sedikit bantal sofa yang tadi mereka pakai. Sementara Samudra mematikan televisi, lalu menoleh ke arahnya.

“Tidur, ya,” ucapnya pelan.

Samira mengangguk.

“Iya, Mas.”

Mereka berjalan masuk ke kamar dengan langkah pelan, menjaga agar tidak membangunkan Binar.

Di atas kasur, gadis kecil itu masih tertidur lelap dalam posisi yang sama. Selimutnya sedikit bergeser, memperlihatkan kaki kecilnya yang keluar.

Samira langsung mendekat, merapikan selimut itu dengan hati-hati.

Gerakan sederhana. Tapi penuh perhatian. Samudra berdiri tak jauh dari sana, memperhatikan.

Entah kenapa…

Pemandangan itu terasa menenangkan. Seperti sesuatu yang selama ini ia lewatkan.

“Sudah?” tanyanya pelan.

Samira mengangguk.

“Iya.”

Ia lalu berjalan ke sisi kasur, duduk sebentar sebelum akhirnya berbaring perlahan. Samudra mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang redup.

Ia ikut naik ke kasur.

Posisinya di sisi lain, berhadapan dengan Samira… dengan Binar di tengah.

Beberapa detik—

Hening.

Namun bukan hening yang canggung. Lebih seperti… jeda yang nyaman.

Samira memejamkan mata, mencoba tidur. Tapi entah kenapa, ia masih bisa merasakan keberadaan Samudra di seberangnya.

Dekat.

Sangat dekat.

“Mir…” suara itu kembali terdengar pelan di kegelapan.

Samira membuka mata.

“Iya, Mas?”

“Belum tidur?”

Samira tersenyum tipis, meski tidak terlihat jelas.

“Belum.”

Samudra diam sebentar. Lalu dengan suara yang lebih rendah, ia berkata,

“Makasih ya… hari ini.”

Samira sedikit terkejut.

“Makasih untuk apa?”

“Untuk… tetap di sini.”

Kalimat itu sederhana. Namun membuat dada Samira terasa hangat. Ia menatap samar ke arah Samudra.

“Mas juga,” jawabnya pelan.

Hening lagi.

Namun kali ini… terasa lebih dalam. Beberapa saat kemudian— Samudra bergerak sedikit.

Tangannya perlahan menyentuh tangan Samira… di atas kasur, melewati ruang kecil di antara mereka dan tubuh Binar.

Ragu.

Hati-hati.

Seolah takut ditolak.

Namun—

Samira tidak menarik tangannya.

Justru…

Jarinya sedikit bergerak. Membalas genggaman itu.

Pelan.

Hangat.

Tanpa kata.

Di tengah-tengah mereka, Binar tetap tertidur pulas.

Tidak tahu… Bahwa di kedua sisinya— Dua orang yang ia sebut Mama dan Papa. Sedang perlahan menemukan kembali satu sama lain.

@@@

Beberapa menit berlalu. Genggaman itu tidak dilepas. Samudra menatap langit-langit kamar. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Pikirannya tidak dipenuhi pekerjaan.

Tidak ada angka.

Tidak ada target.

Yang ada hanya…

Momen ini.

Dan tangan hangat yang ia genggam.

“Mir…” bisiknya lagi.

“Iya…”

“Besok… kita ajak Bibi main air lebih lama.”

Samira tersenyum kecil.

“Iya.”

@@@

Hai Semuanya!

Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!

Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.

Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!

Terima Kasih!

1
Inara Khimar
up dong Thor
Anonim
jgn lama2 up ny thor, suka lupa ceritanya jdi baca lg 2 bab ter
Itz_Zara: Besok up lagi
total 1 replies
Inara Khimar
up min
Itz_Zara: Besok up lagi ya
total 1 replies
rose lilian
baru nemu nyesak
MALIKHA SYAHRANI GAMING
alur cerita 👍👍
Itz_Zara: thank u🥰
total 1 replies
Utie Farra
lumayan bagus..
Inara Khimar
/Sob//Sob//Sob/
Inara Khimar
next min
Itz_Zara: Siap😆
total 1 replies
Anonim
akhirnya update juga.. lama menanti lanjutannya thor
Itz_Zara: Hehe sekarang 2 hari sekali ya🤭 soalnya bentar lagi tamat
total 3 replies
Red Blossom
Jangan sampe cerai ya thor
Itz_Zara: 🤭🤭🤫gimana ya
total 1 replies
Neza Neza
Makasih kak akhirnya update juga ditungguin lamaaaaaa bgt sehat selalu y kak biar bisa update rutin /Smirk/
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Anonim
di anuin ma😅
Anonim
klu samira bawa mobil, mestinya samudra bisa nemuinnya krn mobilnya terpasang gps kan
Inara Khimar
up min. please
Neza Neza: ini udahan gitu aja kak ceritanya padahal q nungguin
total 3 replies
Anonim
istri hanya sianggap pelacur sah aja buat samudra…jkasihan samira,semoga samira gak klamaan goblok’a dan cpt bercerai toh keluarganya ada menydkung juga abangnya membelanya..jadi tdk perlu takut,cowok modelan samudra jgn dipertahankan
Itz_Zara: betul itu🤭
total 1 replies
Kaknia
seruuuuuu
Uthie
Lanjutt Lagiiii 😘😘😘😘😘
Itz_Zara: aman, tungguin yak
total 1 replies
Uthie
Puasssss up nya... isi nya lumayan panjang dan banyak bacanya 👍👍👍😍😍😍
Itz_Zara: Nihh aku kasih bintang 5☆☆☆☆☆
total 3 replies
Sari Nilam
di nomor duakan bu lbh milih msntan daripada istri
Itz_Zara: waduh🙁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!