NovelToon NovelToon
APA INI?

APA INI?

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 4.6
Nama Author: andee Rosalia

para readers tolong bijak ya dalam pemilih bacaan

wanita mana yang tidak merasa sedih ketika ditinggalkan suaminya, apalagi di hari pernikahan mereka setelah ijab kabul dan sumpah - sumpah pernikahan itu telah terucap

"Jika bagimu ini adalah candaan
Jelaskan padaku di mana letak rasa lucu itu...?? Biar aku bisa membantumu menertawai hidupku"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andee Rosalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Setelah kejadian itu, sudah seminggu aku masih dirumah orang tuaku. Katakana aku pengecut yang lari dari kenyataan, tapi memang seperti itu faktanya.

Aku meninggalkan semua pekerjaaan, gadgetku terus saja berdering entah itu telpon dari kantor, perusahaan lain, hingga teman - teman kantor yang terus saja menghubunggiku.

Semua bentuk simpati mereka tak satupun ku hiraukan. Sekarang ini, aku hanya ingin menepi dan menengkan diri sekejab aku membutuhkan tenaga ekstra untuk menghadapi kenyatan, yang terpikirkan kali ini hanya bagaimana aku bisa bersikap baik - baik saja dihadapan Dedi dan memberikan surat pengunduran diri dengan tenang.

Hanya itu tujuan dan keinginan terbesarku kali ini telah kutepis semua amarah dan egoku untuk melawan Dedi, ucapan dan petuah dari ayah sedikit menyadarkanku bahwa sekuat apapun aku melawan hanya akan meninggalkan luka pada diriku sendiri itu yang tertanam pada otakku kali ini dan menghindar darinya adalah cara terbaik untuk tidak terluka kembali.

Kupikir waktu seminggu akan mengguatkan aku kembali, pada kenyataannya tidak. Aku terus bersembunyi dan menenangkan diri dari kerasnya duniaku yang beradai cengkraman keluarga Brawijaya hingga cukup sebulan.

Walaupun aku tidak pernah lagi menggambangi kantor, tapi sosokk yang menjadi mentalku down selalu datang kekediaman orangtuaku. Dia selalu meminta agar aku menemuinya namun ku tolak teru, terus dan terus.

Di tempat persembunyianku, aku terus merenung. Hingga timbullah satu tekat yang membuatku bisa keluar lalu berdiri di depan gedung pencakar langit milik keluarga brawijaya.

Hari ini aku telah kubulatkan tekatku untuk mengakhiri permainan dengan bermodalkan surat pengunduran diri serta surat cerai yang telah kutanda tangani aku meyangkinkan diri akan mendapatkan apa yang ku mau.

Awalnya tekatku sudah bulat dan merasa sangat yakin bisa melakukannya namun semakin dekat langkahku menuju ruangannya seketika nyaliku ciut juga ketakutanku kehilangan mahkotaku semakin kuat.

Butuh beberapa menit aku melangkah untuk mendekati. Baru juga berdiri tepat di hadapan pintu yang sedikit terbuka hingga aku bisa melihat ke dalam, rasa ragu menghantuiku benar - benar kalah sebelum berperang, apa lagi kala ku lihat dia sedang membentak seorang wanita yang ada di hadapanya.

“Apa yang kamu kerjakan selama saya tidak ada?” bentak dedi dengan suara yang menggelegar.

“…” wanita itu hanya menuntuk tanpa menjawab. Dari auh bisa ku lihat jika tubuh wanita itu sudah bergetar sedari tadi.

Lelaki itu lalu memutari meja kerjanya lalu membuka laci dan menggambil map bewarna merah. Suasana ruangan yang hening serasa semakin hening saja.

“Periksa kembali berkas ini” katanya lagi dengan wajah dan suara yang datar.

Dedi melemparkan map itu hingga membuat wanita itu terkejut bahkan harus menunduk lalu memunggutnya semua berkas yang berceceran.

“Baru saya tinggal sebentar, kamu sudah membuat kesalahan fatal yang bisa membuat perusahaan saya rugi besar” desis dedi.

Sungguh aku merasa tidak tega dengan wanita itu. Aku membayangkan jika aku yang sedang menggalami posisi seperti itu. Ku hembuskan nafasku secara kuat lalu dengan setengah keberanian yang entah ku punggut dari mana, ku ketuk pintu untuk menggalihkan perhatian mereka.

Kini dedi menggarahkan pandangannya padaku. nyaliku kian ciut kala mata kami telah bertemu namun aku tetap melangkah untuk mendekati wanita yang masih sibuk memungguti berkas yang tadinya di lemparkan dedi.

Dedi tidak mencegat aksiku dia bahkan tidak mengganggap keberadaanku saat ini. Semua berkas sudah terkumpul, aku menuntun wanita itu pergi lalu kini tersisalah aku dan lelaki itu.

Kini dengan ketugahan hati, aku berdiri tepat di meja kerja dedi. dengan segala motivasi diri yang ku miliki, aku menyodorkan map yang ku bawa kepada dedi walaupun sebenarnya tanganku bergetar hebat.

Aku telah meletakkan surat resign beserta surat ceraiku di sana tapi dedi seolah tidak terusik dan tidak peduli akan aku. Didetik pertama Dedi sempat melirikku tapi di detik berikutnya, dia kembali mengerjakan pekerjaannya hingga tiga puluh menit berlalu.

Aku masih berdiri untuk menarik perhatiannya aku berdehem dengan cukup keras dan ternyata berhasil.

" Maaf mengganggu anda namun ini surat penggunduran diri saya" ucapku dengan pasti. Setelah mendengar penuturanku, kini dedi menatapku intens.

Mendapatkan kesempatan seperti itu, dengan hati - hati aku melanjutkan ucapanku "dan ini surat cerai yang harus anda tanda tangani tuan " ujarku tegas dengan sekali tarikan nafas.

seketika dia menghentikan aktivitasnya dan melemparkan leptop yang menjadi media untuk jarinya berdansa. tanpa kata dia berdiri dan melangkah mendekatiku menatapku dengan penuh amarah menyeretku menuju sofa dan membaringkanku di sana.

Di wajah dedi terlihat jelas amarah pada tatapanya, dia menyatukan bibirku dengan bibirnya. Dedi melumat bibirku dengan sangat kasar kali ini.

Tidak hanya sampai di situ, dedi bahkan menindihku lalu mencoba membuka kemejaku dengan paksa. Beberapa kanci telah terbuka hingga terlihatkan penutup gunung bewarna hitam berenda senada.

Dedi tidak melewatan sesi itu untuk mempermainkan dua gundukan tersebut. Kali ini tidak ada perlawan, aku benar - benar pasrah dengan mengikuti keinginannya yang membiarkan lelaki itu menjamah tubuhku sesuka hatinya.

Yang ku lakukan hanya menggigit bibir bawahku sekuat yang kubisa menahan desahan laknat itu terdengar dan membiarkan air mata membasahi wajahkku, jika kalian bertanya mengapa ? petuah dari ayah adalah jawabannya.

Kala aksi bunuh diriku gagal, ayah mengintrogasiku. Pada ayah lalu ku ceritakan semuanya keluh kesahku, luka dan air mataku menjadi saksi betapa aku menderita semenjak mengenal keluarga brawijaya. Tapi bukannya menggompori, ayah malah berkataa

"Mungkin benar dedi telah menuai luka untukmu, tapi beri dia kesempatan untuk menjelaskannya, beri dia waktu untuk memohon maaf padamu, dan bagaimana pun dia adalah suamimu dia berhak akan dirimu"

Kata - kata itu terus terniang dipikiranku aku akan membiarkannya untuk sekali, toh ini pertemuan terakhir kami setidaknya aku telah memberikan haknya jika itu yang dia inginkan selama ini.

Pikiranku melayang ke masa itu tapi dengan kasarnya dedi menepis. Dedi dengan paksa memasukkan tiga jarinya ke pusat intiku dan suksek menggundang perih sekaligus sensasi lain di bawah sana.

Aku sudah mendesah atau mungkin menjerit tapi dedi tetap sibuk dengan aksinya untuk memberikan banyak kissmark pada tubuhku. Tidak mendapatkan respon atau pun perlawanan lagi, dengan tiba - tiba Dedi menghentikan gerakannya lalu membatuku untuk duduk dedi menantapku dengan intens.

" Kenapa hanya diam?" Tanyanya dengan suara keras masih terlihat helas sisa-sisa amarahnya.

"..." aku memilih menutup rapat bibirku. kualihkan pandangan agar bersitatap dengannya.

"atau kau sedang membandingkan sentuhan mana yang yang lebih menggairahkanmu kan?" tuduhnya dengan wajah seramnya.

"..." aku masih dalam kebungkamanku

"apa selama ini kau sudah terbiasa dijamah oleh laki-laki? jadi lelaki keberapa aku ini?" tanyanya dengan sarkis dan diakhiri dengan tawa yang membahana.

Awalnya aku hanya akan pasrah mengikuti permainannya saja namun ketika mendengar ucapannya, aku murka dan ketika ditanganku melayang menghantam wajah dedi.

Ternyata tamparanku cukup kuat hingga meninggalkan bekas merah di wajahnya selain itu, rasa ngilu pada telapak tangganku sendiri air mata tentu saja masih setia menemaniku, aku harus bertahan, kuat untuk mengakhiri ini dan lepas dari permainan yang dibuat dedi pada hidupku.

" Sebenarnya apa yang kau inginkah hah' jika hanya tubuhku silahkan lakukan namun setelahnya biarkan aku pergi dan jangan pernah hiks.. jangan pernah muncul dihadapan keluargaku lagi hiks"

" Tidak, tidak seperti yang kau pikirkan " Ucapnya lirih namun masih terdengar jelas olehku

" Lalu apa hah ?" bentakku padanya

"..."

" Jika bagimu ini adalah candaan jelaskan padaku dimana letak rasa lucu itu ? biarku bantu kau menertawakan hidupku "

Tak ada kata yang terlontarkan olehnya namun dirinya membawaku dalam pelukannya, membiarkanku menangis dalam dekapannya, membiarkanku menumpahkan semua kesedihanku.

Tidak ada kata dan sikap dingin darinya entah kenapa, aku ingin beranjak meninggalkan ruangan ini aku menggap semuanya sudah berakhir baru saja kakiku mencoba melangkah namun di cegat lalu sekali lagi dia memelukku bahkan semakin erat dari sebelumnya.

Inginnya aku merontak atau membentak dedi tapi usapan di belakangku membuat nyali, dan kesedihanku rasanya kian bertambah. Dedi terus, terus dan terus menggusap belakangku, apa lagi kala dia menggecup keningku lama sambil melapalkan kalimat maaf secara berulang-ulang kali tepat di kupingku.

Tanggisku tak bisa ku tahan lagi, semua rasa yang selama ini dia berikan seolah menusukku dari belakang secara bersamaan hingga tetes demi tetes terjun bebas dari mataku.

Dedi masih setia memeluk bahkan tidak lupa menggecup jula seakan tidak bosan melapalkan kata maaf.

Kini entah berapa lama waktu telah berlalu membiarkan aku meresapi apa yang terjadi pada kami berdua. Hangatnya pelukan dedi seolah membuatku merasa jika inilah yang kubutuhkan selama ini, inilah yang ku inginkan darinya selama ini.

Kata maaf, dan sebuah pelukan. Walaupun kejelasan atau fakta kejadian itu belum ku ketahui tapi entah kenapa semakin penasaran, rasanya sakit semakin menyerangku hingga aku tidak ingin mendengar ucapannya yang bisa saja ku anggap sebuah kebohongan bela.

Aku masih dalam pelukannya kala sebuah ketukan terdengar dan menggintrupsi kegiatan kami. Untunglah aku sudah membuat jarak antara aku dan dedi saat wanita yang tadinya dedi bentak kini kembali memunculkan dirinya di hadapan kami berdua.

Wanita itu sudah berdiri tidak jauh dari pintu. Dia masih menundukkan kepala bahkan tubuhnya pun masih bergetar kala di tatapi intens oleh dedi. Masih jelas ketakutannya tapi dengan segala usaha dia tetap berusaha berkata

“ma maaf boss, ra rapat bersama se seluruh petinggi sebentar lagi di mulai” ujarnya dengan nada semakin kecil saja di akhir kalimat.

Sungguh aku tidak tahu siapa wanita itu dan apa yang telah dedi lakukan pada wanita itu selama aku tidak masuk kantor sebulan ini. Tentu menjadi sekertaris memerlukan kepercayaan yang tinggi, tapi entah aku sedari tadi tidak melihat kepercayaan diri wanita itu.

Dalam benakku sungguh di penuhi rasa tanya tapi tak kunjung ku lontarkan. Wanita itu dan dedi sudah holing di balik pintu. Melihat itu aku juga ikut melangkah tapi bukannya keluar ruangan itu, melainkan memasuki kamar mandi pribadi dedi.

Kubenahi riasan serta pakaianku, setelah merasa yakin barulah aku pergi dan menjadikan kantin sebagai tujuan awalku. Seperti biasanya kantin kantor adalah tempat yang paling ramai didatanggi oleh karyawan selain toilet, ku edarkan pandanganku hingga di sudut kantin terlihat para member gengku.

Setelah memesan dan menunggui pesananku, dengan membawa nampan makanan kulangkahkan kaki hingga bisa berada di meja yang sama dengan mereka

Aku jelas hanya duduk santai lalu menyantap makananku santai tanpa perlu berbasa-basi atau melapalkan kalimat saan pada mereka semua. Melihat tingkahku yang demikian, Lisa lebih dulu angkat suara dan berkata

“ini nih contoh manusia gak tahu diri banget” sindir lisa tanpa menatapku.

“….” Jujurnya aku mendengar sindiran lisa dengan jelas tapi aku memilih acuh dan tetap menikmati makananku.

“ngilang sebulan, sekali muncul langsung masuk kantin kayak ngak ada beban sama sekali ya?” sambung tika.

" Kenapa, ada yang salah? " kataku pada akhirnya.

" Wi, sumpah sampai saat ini gua heran sama lo" ucap andre sembari menatapku intens.

“gue kenapa?” tanyaku sok polos

“lu sadar ngak sih kelakuan lo ini di luar wajar tapi anehnya kantor ngak layangin SP, ataupun pemecatan sama lo padahal seminggu lo hilang dari kantor, ada PHK besar-besaran langsung dari boss” kata andre sambil mengidik di akhir kalimat.

“beneran?” kataku masih dalam kenpura-puraan.

“….” Lisa, andre, narend, tio dan tika mengganguk secara bersamaan.

“ooo” balasku acuh.

“wi” panggil andre kali ini

“mmm”

“lo baik-baik aja kan?” tanyanya hati-hati.

“mmm baik, egh rend gimana kisahmu ma nadia?” tanyaku sebenarnya hanya untuk menggalihkan pembicaraan.

“gue tau ucapan lo cuman akal-akalan biar kita semua ganti topic pembicaraan kan?” tebak tika.

“itu lo tau, jadi rend”

“lo udah ketinggalan gosip hotnya. Sekarang bilang lo habis dari mana?”

“kenapa?” tanyaku

"kita lagi bahas apa seih sebenarnya?" tanya lisa dengan intonasi lebih tinggi.

“maksud gue kenapa kalian penasaran gue kemana?”

“eghhh wewe gembel. Gara-gara lo hilang seminggu itu, boss dedi marah besar sampai-sampai ada penyeleksian karyawan terus PHK serempak goblok”

“ooo” balasku.

“lo cuman bilang oo padahal lo mutusin rezky orang lain contohnya aja pak dadang yang OB lantai dasar”

“kok bisa?”

“ighh please deh Wi. Semua faktornya tu di elu, lu ada masalah apa masa boss dedi sebenarnya?”

“….” Aku memilih diam kali ini dan terus menikmati makananku hingga tandas.

Jarum jam terus berputar hingga waktu istirahat sudah selesai.

Kantin telah sepi semua karyawan telah kembali ke ruangan mereka masing - masing namun masih menyisahkan satu meja yang dipenuhi kami semua.

aku yakin semua teman-temanku sudah tidak sabar menyomprotkan semua isi pikiran mereka, tapi masih menahannya agar bukan kata kata cerca dan hinaan yang keluar dari bibir indah mereka. Menyadari kantin sudah sepi dan layak untuk menggintrogasiku, Lisa lebih dulu berkata

" Wi jelaskan selengkap - lengkapnya" Ucap lisa dan mendapatkan anggukan dari yang lain

" Apa?" Ucapku berpura - pura bodoh

" Semuanya, kenapa kamu menghilang selama ini tapi tidak ada pemecatan atas namamu " Ucap tio geram ada kilatan amarah yang di pancarkan matanya.

" Oh, aku regsin. aku kekantor cuma mau minta cerai dari iblis itu" Katakuu acuh walaupun dalam pikiran aku mencaci diri sendiri mengapa kalimat laknat itu begitu mudah keluar dari mulutku

"Apa ? " Teriakan mereka serempak, dan teriakan Narend yang lebih mendominasi aku yakin mereka akan menggapku benar - benar gila kali ini.

mereka terus saja menatapku ingin mendengar kisah percintaanku lebih lengkap dan mendetail namun aku terus saja menjalankan aksi bungkam atas pertanyaan - pertanyaan mereka

" Wi oke kalau lo ngak pengen berbagi tapi beritahu kami intinya jangan cerita setengah - tengah gini dong nanggung banget sih " Protes Andre kesekian kalinya

Kulirik mereka satu persatu, namun pandanganku berhenti pada Narend. Narend juga bungkam sedari tadi, setelah mengetahui statusku narend sepertinya cukup tercengang namun memilih duduk dan tenang karena kuyakin dirinya penasaran akan cerita dan pengakuanku yang tidak pernah terbayangkan olehnya.

“bukannya kalian tahu kalo statusku saat masuk kantor ini sudah menikah?” uajrku menatapi mereka satu persatu.

“iya tapi apa hubungannya hilang sebulan ma pernikahanmu bulu idung?” kata Tika gemas.

" lari dari kenyataan mungkin” kataku santai.

“lari dari kenyataan sih masih bisa di menggerti tapi kenapa boss ngak mecat lo. Lo hubungan apa ma boss?”

“sekarang udah ngak ada”

“udah ngak ada gimana?”

“boss bukan, suami apa lagi?” kataku santai sambil berpangku dagu.

“tunggu-tunggu deh.” Ujar Lisa sambil mencerna setiap kalimat yang ku ucapkan.

“gue yang oon atau ni orang yang gak waras ngomongnya” ujarnya menunjukku.

“apanya yang ngak waras?” sanggahku.

“gue juga belum konek. Apa hubungannya boss sama laki lo. Ngak mungkin banget kalo lo istri boss kan? Lagian hahahaha lawakan lo ngak lucu. Boss setahu kita belum nikah” kata Tio sambil menatapku menuduh.

“terserah” kataku acuh sambil memperhatikan kuku tangan kananku.

“bisa kasih kami penjelasan yang rasional” kata Tika, dengan sudut bibir mencibir.

“sudah deh ngomong ma kalian, gue jujur kalian ngak perc….”

" Furtuna Dewi Brawijaya" kata seseorang dengan suara keras hingga memutus ucapanku.

Ketika aku berbalik dan menatap orang itu, mataku seketika memicing menatap dia semakin mendekat padaku.

1
Sondang Sartika Lumbanraja
yang paling aneh tuh orang tua Dewi bisa nya anak nya bolak balik dimasukkan ke kadang harimau udah tau anak nya disakiti dilecehkan dan dibuang tapi tetap aja disuruh balik ke suami nya yg gila
Irma Wati
kan judulnya apa ini.jadi cerita nya pun sm apa ini ko ngk jls
Allessha Nayyaka
pada akhirnya dewi bkl nyesel mpe mati
Kurniawati Adek
terlalu panjang alur nya,klu bisa inti nya ja supaya ga bosan membaca nya🙏
Siti Aisyah
secara agama dewi sdh bebas meskipun tdk ada ucapan ...wanita yg tidak di nafkahi lahir bathin selama 3 bulan berturut.turut itu sdh jatuh talak...jd dewi sdh wanita single lg...janda rasa perawan..krn gak pernah disentuh..🤣🤣🤣
Siti Aisyah
gak ada yg hrs dikomentarin yaa thor...prolog kepanjangan
Lestari Lestari
sumpah ini adalah novel terburuk yg pernah ku baca
Risa Istifa
🤗🤗🤗🤗🤗🤗
Risa Istifa
😭😭😭😭😭😭😭
Risa Istifa
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Jade Meamoure
cerita yg aneh tp aq tetep support agar di kesempatan lain bisa membuat karya yg lebih greget dan di sukai pembacanya
Jade Meamoure
kasih tendangan penghancur masa depan Napa...sebel aq koq teraniaya mulu
Jade Meamoure
nyimak Thor
RiStha Carvalho
ceritanya gak jelas,,, gimana kelanjutan rianti sama dedi??? menguap begitu saja. dgn mudahnya dewi balik lagi sama dedi setelah berulang kali di sakiti. bener" cerita in****ar
Nety
aku takan pernah sudi merendah kan harga dirinya.

ko aku sedikit bingung ya, sebenarnya yg ngomong ini siapa sih?? dewi yg menceritakan kisah nya apa orang lain yg menceritakan kisah dewi

hmmmm 🤔🤔??
Citra Esmi
sumpah deh geregetan aq.... pengin berhenti baca kasian dewi nya.... tapi penasaran .... huaaaaaaaa
Davina Jbg
sbnrnya msh bnyak pertanyaan yg blm terjawab sih.. spt hub rianti dan dedi, kmn dedi menghilang n jarang pulang, dan bagaiman hkdpan dedi stlah dewi menghilang.
Maritza Hanan
mumet aku bacanya 💣
Debora Tangke
capek ngikutin alurx gak jelas ,kirain saat dewi koma dan sadar utk brpamitan dan prgi utk slma2x kisahx sdh end ,kok malah jdi pux ank lagi kan janinx sdh diangkat dan mati krn kecelkaaan ?
Revalina
jujur aku belom paham alur ceritanya Keman? terus plakor nya hilang? kemana kecelakaannya kenapa? aku 😕😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!